The Athena Code

The Athena Code
88. Baby Sitter


__ADS_3

Pagi yang hangat di musim semi.


Arthur dan Chen duduk berhadapan di bar room. Sebuah meja besar memisahkan mereka. Di atas meja itu teronggok selembar kertas berstempel resmi Kementerian Pertahanan Amerika (Pentagon).


"Menteri Pertahanan meminta waktumu. Ia ingin berkunjung langsung ke Astrogun atau kamu sendiri yang datang ke kantornya, tentukan waktumu," Chen membuka suara memecah keheningan di antara mereka.


Arthur meraih lembaran kertas di atas meja itu lalu meremasnya hingga tak berbentuk, "Aku akan menghadiri pernikahan Kamila dan Adam, aku tak bisa di ganggu," Ketus Arthur tak bersemangat. Pasti hal yang sangat penting, tapi ia tak perduli dan suntuk.


"Anda terlihat tak bersemangat Mr Yildiz. Apakah ada aral dan rintangan yang menghadang perhelatan semalam?" celetuk Chen usil. Ia melihat saat Arthur membopong Heilen ke kamarnya semalam, seharusnya hari ini Arthur berbahagia, pikirnya.


Arthur terdiam dan melu*mat bibirnya sendiri, sedikit kesal mendengar celoteh Chen. Terbayang kembali akhir gairahnya yang berujung meninabobokkan Heilen.


...*...


...*...


Semalam,


Arthur meletakkan tubuh Heilen diranjangnya perlahan.


"Aaaahh, ini empuk sekali, thank you," racau Heilen diantara rasa kantuknya.


"Sayang, kamu terlihat ngantuk," gumam Arthur di telinga Heilen untuk membuatnya bergairah.


Heilen tak menjawab, ranjang Arthur terasa berbeda. Seumur hidup baru pertama kali ia merasakan ranjang senyaman ini, begitu empuk dan lembut membungkus tubuhnya dengan tepat dan hangat, membuatnya semakin terbuai rasa kantuk. Ditambah semerbak parfum aroma therapy di ruangan ini sangat merelaksasi dan melenakan.


"Hissh..," desis Arthur kesal. Ia ingin melangkah ke hubungan yang lebih jauh dengan Heilen, tapi Heilen seolah mengabaikannya.


Arthur perlahan naik ke ranjang mendekati tubuh Heilen yang tergeletak pasrah dengan pupil mata timbul tenggelam seperti orang mabuk.


Arthur melepas piyamanya perlahan, menyisakan tubuh sixpack dengan otot-otot indah yang menggairahkan. Namun Heilen tak menyadarinya.


Dengan gairah dan perasaan yang dalam Arthur menelungkupkan tubuhnya di atas tubuh Heilen yang berbaring melengkung seperti bayi, ia hendak menyusuri tengkuk Heilen untuk membangkitkan gairahnya.


Tiba-tiba..,


"Aakh...! Awh! Sayang, itu sakiit..," pekik Heilen lemah.


"Baby, aku belum melakukannya," Arthur kaget dan bingung mendengar Heilen melenguh lemah kesakitan.


"Kaki kiriku sakit, kamu menindihnya. Aku terkilir saat memukul pria yang menyerangmu tadi, dan aku juga tidak terbiasa mengenakan high heels. Sepertinya kakiku keseleo," gumam Heilen nyaris berbisik.

__ADS_1


"Kenapa tak memberitahuku, kalau begitu sini aku periksa kakimu," sahut Arthur merasa iba, gadis yang dicintainya cidera karena melindunginya. Meskipun sebenarnya ia tak perlu dilindungi namun itu adalah cara Heilen menunjukkan cintanya, Arthur bahagia.


Arthur sedikit menyingkap dress yang dikenakan Heilen, ia mendapati pergelangan kaki gadisnya sedikit membiru. Ini pasti sangat sakit, batin Arthur. Bergegas ia bangkit dari ranjang untuk mengambil sebotol minyak esensial.


Arthur menghampiri Heilen kembali di ranjang, meraih kaki Heilen yang terkilir, lalu mulai memijit-mijitnya lembut dengan minyak esensials.


"Hei, itu rasanya enak sekali," lirih Heilen sembari menahan rasa kantuknya.


Aneh, ini saja dibilang enak,batin Arthur.


Arthur masih mengoleskan minyak esensials sambil terus memijit-mijit pergelangan kaki Heilen dengan lembut.


"Iya itu, terus, dibagian itu nikmat sekali, sepertinya darahku menggumpal di situ.., pijitanmu lumayan juga," racau Heilen lagi. Ia tak sadar lantunan kalimatnya semakin membuat Arthur terbakar birahi.


"Iya, sayang. Aku senang kamu menyukai sentuhanku," balas Arthur sembari menahan gejolaknya yang kian membara. Arthur jadi semakin semangat memijit-mijit kaki Heilen. Ia juga memijit-mijit area yang tak seharusnya di pijit. Bahkan Ia juga memijit kaki Heilen sepanjang betis, berpindah ke kaki kiri Heilen yang tak sakit. Ada sensasi tersendiri di dalam dirinya saat Heilen bilang pijitannya nikmat. Sampai akhirnya Heilen tak bereaksi lagi. Gadis itu hanya diam saja dalam waktu yang cukup lama.


"Apakah ini sudah cukup? Bagaimana rasanya sekarang?" tanya Arthur menghentikan pijitannya.


Tak ada jawaban.


"Baby, I'm talking to you (Sayang, aku sedang bicara padamu)," bisik Arthur di telinga Heilen. Namun tak sedikitpun gadisnya bereaksi. Kemudian Arthur menyentuh wajah Heilen dan menatapnya dengan intens. Wajah cantik tak berdosa dengan lenguhannya yang kadang lemah itu telah tertidur pulas. Ingin rasanya Arthur menghisap dan merasakan bibir sensualnya kembali, namun rasa iba dan cinta kasihnya lebih besar dari dorongan seksis itu.


Akhirnya Arthur meraih selimut besar di pinggir ranjang dan membaringkan tubuhnya di sisi Heilen. Menghamparkan selimut itu di atas tubuh mereka berdua. Ia membiarkan tubuh Heilen larut dan tertidur pulas dalam pelukannya hingga pagi menjelang. Membuatnya merasa tak ubahnya seperti baby sitter sepanjang malam, beruntung gadis ini adalah satu-satunya gadis yang diinginkannya. kalau tidak, mungkin ia sudah melemparnya ke luar halaman.


"Berhentilah meracau," tukas Arthur ,"Kamu menggunakan microbot dan nano bomb dengan amarah tak terkontrol hingga menghancurkan masa depan orang lain. Aku yakin kamu sedang cemburu berat pada Louis.Sok player ternyata bucin juga, it's so funny, hahahaha.." Arthur balik menyerang Chen.


"Diam-diam kamu memendam rasa pada Mel G, ini kejutan," Lanjut Arthur lagi sebelum Chen sempat berkata apapun.


"Kau salah, aku hanya menganggapnya sebatas te.._, "Chen tak melanjutkan kata-katanya karena kemunculan Melinda yang tiba-tiba di bar room.


" Aku lapar sekali, apakah tak ada sesuatu yang bisa dimakan di sini," cicit Melinda seraya mengambil posisi duduk di sisi Chen.


"Tunggu sebentar Mel, Chef Victor dan timnya sedang menyiapkan sarapan, atau kau makan saja dia karena dia kelihatan menggemaskan saat sedang bucin dan malu-malu kucing," sindir Arthur.


Harga diri Chen sebagai pria anti bucin benar-benar tertohok pagi ini. Sementara dia sudah tak punya nyali lagi untuk mengabaikan Melinda. Rasa cemburu dan sakit hatinya atas apa yang menimpa Melinda semalam, cukup memberinya banyak pelajaran.


"Sepertinya semalam dia telah melewati malam yang ganjil, jadi biarkan saja dia mengoceh, tutup telingamu," gumam Chen di dekat telinga Mel G.


"Oh, Ok," jawab Melinda patuh. Ia sangat senang pagi ini Chen bicara sangat manis padanya.


"Wah, kalian sudah berkumpul di sini. Maaf aku telat bangun," pekik Heilen yang baru muncul dengan busana kasual favoritnya.Jelas dari wajah dan nada suaranya ia dalam suasana hati yang berbahagia pagi ini.

__ADS_1


"Morning Heilen," sambut Chen dan Melinda bersamaan, sementara itu Arthur hanya diam. Ia masih sedikit kesal karena hasratnya yang tak tergapai semalam.


Heilen menghampiri kursi Arthur dengan antusias, dari belakang punggung kursi itu ia menunduk dan mendekatkan wajahnya ke pipi Arthur, "Mmuah!Baby, thank you untuk semuanya," sebuah ciuman hangat mendarat dipipi Arthur. Spontan membuat Arthur tak bisa menahan senyum, ia antara malu, bahagia dan bingung. Bingung Heilen berterima kasih atas apa.


Arthur belum memberikan respon apapun.


Kemudian Heilen mengambil posisi duduk di sisi Arthur. Ia merasa diperlakukan dengan sangat manja semalam, membuat perasaannya kepada Arthur semakin menjadi-jadi.


"Ekhem..! Heilen bagaimana semalam?" tanya Chen frontal. Ia sangat penasaran melihat perbedaan Heilen dan Arthur yang sangat kontras, Arthur-bad mood, Heilen-happy.


"Sangat luar biasa, tidurku sangat nyenyak. Ranjangnya empuk dan lembut, rasanya seperti sedang tidur dipelukan mama sepanjang malam," jawab Heilen riang.


Arthur terkesiap dan nyaris tersedak oleh jus lemonnya mendengar jawaban Heilen.


"Heg..heg..! Tak mungkin mamamu yang memelukmu kan? Aku rasa itu baby sitter tertampan yang pernah ada," Chen menahan tawanya sekuat tenaga demi tak menyudutkan Arthur lebih jauh lagi. Ia yakin Arthur gagal dengan perhelatannya semalam, terlihat dari wajah suntuknya yang terpampang sedari pagi.


Arthur memainkan lidahnya sendiri di dalam mulutnya berulang-ulang. Membuat pipinya kadang menggembung tak tentu.


"Sayang, bicaralah dalam hati saja," sungut Arthur kesal.Itu adalah kalimat ciri khasnya saat ia sedang kesal dan malas berdebat.


"Hish! Bagaimana kamu bisa mendengarku kalau seperti itu?!" Ketus Heilen.


Aku memang tak ingin mendengarmu saat ini, sahut Arthur dalam hati.


...----------------...


Departemen of Defense Amerika (Gedung PENTAGON)


Menteri Pertahanan Amerika berada di meeting room terbatas. Di ruangan itu hanya ada beberapa staf utama Menteri dan para petinggi Militer dari berbagai korps dan kesatuan yang bernaung di bawah Departemen Pertahanan.


"Astrogun sudah melampau batas, aku rasa saatnya mereke diberi pelajaran," ucap Cindy Jacob salah seorang staf utama.


"Terlalu banyak pelanggaran dari Astrogun yang masuk dalam catatan kami," sambut Justin Webber kepala korps angkatan Darat.


Sang Menteri belum memberikan statemen apapun. Ia masih menampung semua masukan dari para bawahannya.


"Ku rasa kalian terlalu serius dan tegang, mereka hanya anak muda yang sedang gemar bereksplorasi dan berekspresi. Kalau kita pandai mengarahkannya maka banyak manfaat yang akan kita peroleh dari mereka," Salah satu Staf utama Regina Watson memberikan pandangan yang berbeda.


"Aku setuju dengan pendapatmu Nyonya Regina, menekan mereka bisa saja membuat kita semakin jauh dari mereka . Sementara kita sangat membutuhkan Astrogun. Jangan sampai mereka membelot ke negara lain, hanya karena sikap kita yang tak bersahabat.


" Data terbaru yang sampai di meja kami, Astrogun kembali berulah mengeluarkan senjata canggih berupa HPM, rudal mini nuklir dan senjata pemusnah yang belum teridentifikasi," sela Elon Gilbert salah satu petinggi DARPA.

__ADS_1


#bersambung


__ADS_2