The Athena Code

The Athena Code
78. Enough!


__ADS_3

Setelah rapat terbatas dengan personil Senior Seal Team Five, Zeus memutuskan untuk melakukan penyerangan pembuka.


Pertempuran di siang hari akan lebih menguntungkan bagi Seals, sebaliknya pertempuran di malam hari akan sangat menguntungkan bagi kubu Barbara.


"Mengapa kita tidak minta mereka di-torpedo saja, aku kesal harus mengurus Barbara terus -menerus," gerutu Hercules.


"Benar, kita bisa saja meminta kapal induk USS Gerald R. Ford untuk meluncurkan torpedo mark-46, tapi itu melanggar Hak Asasi Manusia. Petinggi meminta kita untuk menangkap mereka dalam keadaan hidup," sanggah Zeus.


"Sesuai Rencana kita akan mengepung mereka dari delapan penjuru. Kita berangkat sekarang!" Zeus memberi komando.


"Siap, kapten!!"


Dua puluh personil bergerak cepat ke atas tank tempur , sebagiannya siap dengan machinegun, yang lainnya sedang mengendalikan Astrodrone.


Sepuluh personil berdiam di posko yang terletak tidak jauh dari pantai , bersama tim medis.


Mereka berencana mengaktifkan Robot warrior Spartan.


Mereka mulai memasang gelang remot control, menyalakan terminal monitor command agar bisa melihat dengan leluasa pergerakan Spartan.


Heilen dan Reene mengamati dengan seksama.


"Justin, ini gila. Bukannya penggunaan robot warrior di larang dalam perang?" gumam Mike sedikit nerveous.


"Sampai saat ini masih dilarang, entah dimasa depan kita tidak tahu. Kita bisa menggunakannya sekarang karena kita berhadapan dengan sepasukan pasukan robot milik Barbara Clarkson. Berbanggalah mendapat kesempatan ini Mike," Balas Justin.


Bip.. Bip... Bip... Bip... Bip... Bip.


Sepasukan Robot Warrior bangkit dari kotak-kotak baja yang berjejer di hadapan para Sealsman itu.


"Fan... tas.. tic..! Huuuuu....!! " Seru mereka nyaris berbarengan.


"Aku akan coba menerbangkan robot warriorku," pekik Yoan.


Yoan mengaktifkan Astrojet.


"Hooaaah.... ini benar-benar mudah seperti bermain game saja, amazing!"teriaknya.


Sementara itu Robert Kanumba masih mengamati video kiriman dari kamera pengintai yang telah ia pasang diberbagai penjuru pulau pada bagian-bagian pohon yang tinggi.


" Mereka sudah bergerak dan membuat ancaman. Brengs*k! Kita kehilangan banyak kamera. Tiga buah drone kita telah jatuh. Mereka sudah memulai. Brian buka gerbang! Saatnya keluar sarang,"perintah Robert.


"Baik, segera Shadow."


Diseberang Arthur menikmati pemandangan pada layar monitornya. Melihat Astrodrone-X21 menemukan dan menghancurkan hampir tiga puluh kamera pengintai milik The Shadows. Ditambah lagi tiga drone the Shadows yang hancur berkeping-keping dihajar robot machine gun yang dibawa astrodrone X-21. Setelah sasaran dikunci maka senjata automatik itu bisa berputar tiga ratus enam puluh derajat mencari sendiri sasarannya dengan tepat.


"Aku penasaran dengan makhluk yang bernama petagion itu," ucap Chen.


"Konon, mereka pandai berkamuflase sehingga manusia sulit melihat dan menemukannya," sahut Arthur sesuai informasi yang ia baca.


"Waaaah.. Wah.. tidak kah ini terlalu cepat, aku mendengar suara baku tembak, Leslie arahkan kamera ke area baku tembak. Ingat tetap jaga jarak aman," perintah Chen.


"Okay Mr Yuan," sahut Leslie.


Dan apa yang terpampang di layar monitor benar-benar membuat netra Arthur dan Chen terbelalak lebar.


Sulit dipercaya namun itulah kenyataan yang terjadi, para personil Seals sedang saling menembak satu sama lain.


"Dennis, Leslie, cari gadis yang sudah aku insert posisinya di layar monitor," pinta Arthur.


"Baik, tuan."

__ADS_1


Lalu muncul scene yang lebih gila lagi, para personil Seals terlihat sedang baku hantam dengan tangan kosong, bahkan mulai mengaktifkan senapan laras panjang m4-custom mereka.


Arthur melihat Heilen dan temannya berlari bersama roboguard Athena, sepertinya sedang mencari tempat berlindung.


"Chen, aku baru percaya kalau semua yang ditulis Dokter gila Fransisco Cardoso itu benar. Semestinya aku berterima kasih padanya," desis Arthur.


Disisi lain ia lega karena Heilen mengikuti sarannya untuk membawa roboguard Athena.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya dokter Morgan.


"Semakin lama kita bertindak, akan semakin banyak jatuh korban. Ini mengerikan. Makhluk itu adalah sumber mithos dan cerita-cerita seram yang selama ini beredar mengenai Palmyra Atoll, " desis Arthur.


"Halo Clint eastwood, apakah kamu bersiap di sana?" tanya Arthur.


"Halo tuan, aku dan timku selalu siap menunggu komando anda, " jawab Clint.


"Aktifkan Mega HPM container weapon.Sapu seluruh Palmyra Atoll. Tak perduli apapun, aku ingin seluruh Palmyra Atoll mendapatkan sentuhan gelombang micro, baru setelah itu aku masuk dan mendarat di sana," tegas Arthur.


"Segera tuan,"


"Laporkan jika sudah selesai,"


"Baik, tuan."


"Chen, apa kamu ikut ?"


"Haruskah bertanya, meremehkan sekali. Tentu saja aku ikut,"sahut Chen.


"Berhati-hatilah, "nasihat dokter Morgan.


" Trimakasih, dokter, "jawab Arthur singkat.


Di dalam bunker milik Barbara Clarkson.


" Hmm, so sweet. Melihat mayat mereka sebentar lagi bergelimpangan karena saling menembak sesama mereka sendiri.Ini akan menjadi kisah yang menambah daftar kengerian di pulau ini, sehingga mereka akan semakin takut mendekat kemari. Para petagion itu memang sangat bisa dipercaya," ucap Barbara Clarkson riang.


"Lady, anda memang terbaik," puji Robert Kanumba.


Tiba-tiba sunyi...


Tak ada suara tembakan apapun.


Layar monitor dihadapan mereka menjadi gelap.


Semua alat elektronik tak berfungsi, kecuali sumber listrik dan barang elektronik yang ada di dalam bunker.


"Ada apa ini?" tanya Vivian yang kehilangan akses dengan tim the Shadows yang ada di luar bunker.


"Robert, apa yang terjadi?" Barbara Clarkson panik.


Duaaar!!


Duaarr!!


"Aaaakkkh...!" Barbara dan Vivian berteriak kencang terkejut dengan goncangan yang diakibatkan dua ledakan dahsyat di atas bunker.


"Vivian bawa lady ke tempat yang aman, Aku akan bawa semua robot warrior untuk menghadapi mereka,"ujar Robert berusaha tenang.


" Tidak, Robert! Aku ikut denganmu bertempur. Hannah bawa lady ke tempat aman," tukas Vivian.


"Brengs*k mereka telah menghancurkan gerbang atas bunker," umpat robert begitu melihat reruntuhan di ruang menuju tangga yang menuju ke gerbang keluar taelah porak poranda.

__ADS_1


"Aktifkan semua type robot Warrior tanpa terkecuali," perintah robert Kanumba kepada semua personil the Shadows.


Robert belum menemukan jawaban mengapa para personil Seals bisa tersadar kembali dan mengapa semua robot warrior yang ia keluarkan lebih dulu kini mengalami malfungsi. Begitu juga drone, kamera pengintai dan alat-alat listrik milik mereka lainnya, kecuali yang masih di dalam bunker, tetap aman.


Robert Kanumba di dampingi sekitar lima puluh personil The Shadows yang telah mengenakan armor baja lengkap dan senjata api laras panjang keluar dari bunker berbarengan. Tak ketinggalan Vivian yang setia disampingnya.


Sebagai tameng terdepan, Robert menempatkan sekitar dua puluh robot warrior type fantastic beast, yakni robot warrior humanoid yang bisa bekerja secara otonom (tanpa kendali kontrol langsung manusia).


Baku tembak pun tak terelakkan lagi karena semua personil seals telah pulih dari hipnotis makhluk petagion. Makhkuk itu kini mengalami kesakitan luar biasa akibat tembakan HPM weapon. Benar dugaan Arthur kalo makhluk itu akan takluk dengan tembakan High Power Microwave.


Di kejauhan, tampak melayang di udara dua benda merah dan biru yang kian mendekati Robert dan timnya.


Robert tersadar kalau itu adalah dua giant robot warrior yang tidak ia kenal, "Shadows, tembak dua pendatang baru itu!!" perintah Robert.


Arthur menekan icon HPM pada layar kontrol, kemudian memilih level maksimum. Ia menarik tuas kendali dengan tak sabar.


Tanpa suara yang berarti, semua robot warrior di hadapan Robert terdiam tak bergerak bahkan sebagiannya oleng bergedebukan di tanah.


Robert Kanumba panik, sekarang ia baru memahami siapa dibalik semua kekacauan ini. Jelas tertulis Mr G dibagian dada giant robot warrior itu.


Arthur menyeringai tajam. Ada dendam masih tersisa di dadanya kepada Robert Kanumba. Terlintas kembali bagaimana Robert menculiknya malam itu di laboratorium DARPA kemudian menjualnya kepada kelompok gelap di Afghanistan."Sudah cukup, Robert!" desisnya.


Mesin astrojet masih aktif di kedua kaki GOB merah.


"Big bos, what's next??"sapa Chen dari alat komunikasi nirkabelnya.


" Aku akan menghabisi pria ini dan anak buahnya, kau lepaskan Hpm pada robot warrior mereka yang masih bersisa," desis Arthur geram.


Tanpa ragu ia Arthur menekan ikon rudal thermobarik pada layar kontrol.


Duaaaaarr!!!!


Duaaaaarrr!!


Zeus dan timnya tak bisa berbuat banyak untuk menghalangi kedua giant robot yang mengamuk itu.


Suara runtuhan sebagian bunker yang terkena hantaman rudal thermobarik itu bergemuruh memecah kesunyian Palmyra Atoll. Tubuh-tubuh personil the shadow terpelanting ke segala arah, termasuk tubuh Robert Kanumba dan Vivian. Beruntung armor yang baik masih bisa mengurangi efek ledakan bagi tubuh mereka.


"Ayo, tangkap mereka. Cari Barbara , borgol dan kita pulang!" teriak Zeus.


"Ini memalukan, kita kemari hanya untuk menonton," komentar Hercules sembari mengikuti langkah Zeus untuk melucuti para personil The Shadows yang masih bisa diselamatkan.


"Apa kau belum sadar, kita hampir saja pulang tanpa nama karena tak sadar dan saling membunuh sesama kita sendiri. Pulau ini benar-benar pulau hantu. Beruntung para pria Astrogun ini membantu kita," sahut Zeus.


"Aku rasa ia hanya sedang menjaga pacarnya, kelihatan sekali kalau ia sedang jatuh cinta berat pada Heilen. Wanita memang senjata penakluk yang paling lembut, hahahhaha.. ," lanjut Hercules sembari menarik tangan seorang personil The Shadows dari reruntuhan.


"Brengs*k kalian semuanya!!" pekik seorang wanita berwajah keras yang tak lain adalah Barbara Clarkson yang lengannya telah diborgol.


Begitu juga seluruh personil The Shadows yang terluka telah diborgol semuanya.


Di bawah sebuah pohon yang tak jauh dari bunker itu sedari tadi Heilen berdiri dengan Reene memperhatikan God of beast berwarna merah yang bertuliskan Mr G. Reene sudah tahu hubungan Heilen dengan Arthur, ia juga turut menonton dari kejauhan hari itu saat Arthur mencium Heilen di koridor.


"Heilen, pacarmu apakah dia di dalam robot raksasa itu atau dia mengendalikannya dari kejauhan?" tanya Reene penasaran.


"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Heilen.


"Robot itu kemari, dia menuju ke arah kita," bisik Reene.


"Heilen," panggil Arthur dengan mengaktifkan pengeras suara.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2