The Athena Code

The Athena Code
75. Let's Play


__ADS_3

ASTROGUN CORP


Menjelang sore


Suasana keseluruhan gedung tampak sibuk. Hanya ada beberapa pegawai yang terlihat tengah berbicara satu sama lain. Lalu lalang pekerja tingkat atas dan level grass root masih ramai.


Berbeda dengan suasana di dalam Laboratorium DIVISI PROYEK RAHASIA , benar benar lengang. Hanya ada dua pekerja Lab yang sangat dipercaya oleh Dokter Morgan sedang melakukan kaji ulang beberapa sistem AI yang akan digunakan dalam proyek Sangat-sangat rahasia antara NASA, ASTROGUN dan DARPA. Sean dan Phillips masih berkutat dengan pekerjaan mereka.


Proyek yang diberi nama "New Hope" ini benar-benar merancang robot dengan kecerdasan buatan hyper.


Rencananya robot-robot terbaik ini akan diterbangkan NASA untuk memulai kehidupan baru di planet lain sebelum manusia bisa menempatinya.


Jadi, tugas para robot dengan hyper AI ini adalah menyiapkan tempat yang layak dan bersahabat di planet lain untuk tempat tinggal manusia yang baru. Berjaga-jaga kalau-kalau tiba masanya bumi tidak layak huni lagi. Proyek yang tak pernah dipublikasikan dimanapun.


BIIIIIPPP!! Smartdoor di ruangan tempat Sean dan Phillips bekerja terbuka. Sean dan Phillips terkejut, karena tak ada seorangpun selain mereka yang bertugas di DIVISI RAHASIA hari ini.


Belum sempat mereka menoleh ke arah smartdoor, tiba-tiba perasaan lemah menyerang mereka dan mereka sadar telah menghirup zat sarin dan ricin senjata soft killer milik Astrogun sendiri. Namun terlambat untuk menyadari itu, mereka terkulai pingsan.


Selanjutnya muncul sosok yang terbungkus kain serba hitam dari ujung kepala sampai kakinya. Sosok itu mencolokkan sebuah flashdisk ke super komputer yang barusan digunakan Sean dan Phillips.


...----------------...


Bikini Atoll, Sore hari


Arthur dan Chen telah mengenakan Costum pilot Humanbotnya, bersiap untuk memasuki bagian kokpit "God Of Beast".


Mereka menunggu Leslie membuka pintu robotic room.


" Are you ready?" tanya Leslie yang berperan sebagai operator robotic room bersama Dennis dan empat kru lainnya.


"Yeaah," jawab Arthur dan Chen bersamaan sembari mengusung jempol mereka ke arah kamera di depan pintu robotic room itu.


Leslie yang berada di compartemennya tersenyum menatap mereka pada layar monitor.


“SPLAASH!’’


Pintu robotic room terbuka dengan cepat menampakkan dua Robot Warrior biru dan merah hasil keisengan dua pemuda Jenius itu.


God of Beast memiliki tinggi empat meter dan lebar hampir dua meter.


“Aku sedikit Nervous, Sh*it! Ini rasanya seperti kencan pertama saja,’’tukas Chen Yuan sembari mengangkat dan mendekatkan lengan kirinya ke dada, kemudian ia menekan sebuah tombol merah pada gelang remot control yang melingkar di sana.


‘’Jangan ciut, ini baru dimulai. Lakukan dengan tenang dan nikmati seperti sedang bermain-main,’’ balas Arthur, kemudian mengikuti apa yang dilakukan Chen, menekan remot kontrol dipergelangan tangannya untuk membuka smartdoor God Of Beast.

__ADS_1


“SPLAASH!’’


“SPLAASH!’’


Sistem smartdoor pada pada bagian punggung kedua robot itu membuka dengan bergeser kedua arah berlawanan. Sebuah tangga kecil terjulur otomatis dari sisi bawah smart door. Tampaklah ruang kokpit yang ukurannya telah disesuakan dengan tubuh Arthur dan Chen. Pada bagian dada god of beast sebagian kecilnya dibuat dengan material tembus pandang agar pilot dapat memandang keluar dengan bebas.


Perlahan Arthur dan Chen Yuan masuk ke dalam tubuh God of Beast.Kini mereka telah duduk pada kursi di dalam ruang kokpit masing-masing menghadap kokpit deck. Suatu hal yang lama mereka mereka impikan, mengemudikan God Of Beast di alam terbuka.



‘’Ingat, saat mengudara perhatikan kecepatan dan altitude agar posisi tetap stabil,’’ seru Arthur kepada Chen melalui alat komunikasi nirkabel yang menempel di helm Pilotnya.


“Ok, diterima,” jawab Chen singkat.


‘’Saat lepas landas, tarik tuas dan pertahankan altitude dibawah angka sepuluh!”ucap Arthur lagi.


“aku tidak mau pusing, aku akan aktifkan mode “fusion” saja,’’ pekik Chen.


Dengan mode fusion jutaan sensor yang menempel pada body God of Beast yang akan bekerja, membaca dan mengikuti gerakan pilot, kecuali penggunaan senjata mini rudal nuklir dan HPM tetap menggunakan konfirmasi sidik jari pada layar deck control. Jadi Pilot tak perlu menghafalkan banyak symbol yang ada pada monitor pilot deck.


‘’Leslie, buka rooftop gate!" Komando Chen.


"Ok, segera. Bersiaplah, rooftop gate akan terbuka dalam tiga hitungan dari sekarang. Three, Two..., one... "


"Ok!" sahut Chen sambil turut bersiap-siap mengaktifkan astrojet engine pada God of Beast-nya.


WUUUUSSHH!


"Yeaah!"


Arthur merasakan sensasi kebebasan dan kepuasan yang luar biasa manakala God of Beast yang ditumpanginya bergerak menaik dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arthur masih menahan kecepatan God of Beast-nya, ia ingin menikmati hamparan laut dan pemandangan karang-karang sisa keindahan bikini Atoll.


God of Beast berwarna merah yang dikemudikannya melayang diatas perairan Bikini Atoll dengan kecepatan rendah. Diikuti oleh dua drone yang sedang merecord semua momen yang akan dilewati Arthur dan Chen dalam uji coba God Of Beast.


"Yuhuu!" suara Chen memekakkan telinga Arthur, bersamaan dengan munculnya God of Beast biru yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Turunkan kecepatanmu, perhatikan light indicator pada kecepatan dan Altitude!" Arthur memberi peringatan.


"Dennis, Leslie, Kami akan menembakkan HPM. Beri kami sasaran!" perintah Arthur.


"Siap, segera," sahut Dennis dan Leslie berbarengan.


Kedua giant robot itu semakin dekat ke daratan Bikini Atoll. Arthur dan Chen sedang mencari tempat yang landai untuk mendarat.

__ADS_1


"Sasaran kalian telah tiba, arah pukul tiga dan pukul enam!" lapor Dennis.


Dennis dan Leslie telah menerbangkan dua drone stok lama yang sudah tak digunakan. Drone lama yang disiapkan untuk sasaran uji coba HPM weapon God of beast.


Bersamaan, Arthur dan Chen menekan sebuah ikon sinar mengkerucut pada layar control di kokpit deck. Sunyi tanpa suara sedikitpun.


BLAAAASTT!


BLAAAASTT!


Sunyi tanpa suara yang berarti, kedua drone yang menjadi sasaran Arthur dan Chen itu langsung terjun bebas karena mengalami kegagalan fungsi mesin.


Braaaakk! Kedua drone dengan ukuran cukup besar itu jatuh bergedebukan.


"Yuhuuu, the best! Aku hanya menggunakan sedikit listrik untuk bisa menguasai peradaban umat manusia," seloroh Chen.


"Jangan banyak bicara, bersiaplah menerima hujan peluru, aku akan menguji kekuatan armor God Of Beast. Aku akan menguji tameng dan armor GOB sekarang dengan astromachine gun berkemampuan sepuluh ribu tembakan permenit ini," cetus Arthur.


BLUURB...!


God of Beast biru milik Chen mendarat lebih dulu dipermukaan pulau Bikini Atol.


BLURB..!


Disusul God of Beast merah yang dikemudikan Arthur.


"Ambil posisimu!"Arthur mengarahkan Chen.


" Hei tunggu dulu, bisakah aku saja yang menembak dan anda yang jadi sasaran, ini tidak adil," sanggah Chen.


"Heh, Pengecut!" sindir Arthur," Ayo lakukan!" tantang Arthur seraya mengatur posisi God of Beastnya berada dibelakang tameng bundar yang tadi ia kembangkan dari sisi kiri lengan God of Beast.


"Oh, hehehehhe... haruskah seperti ini, aku takut terjadi kesalahan. Bagaimana kalau armornya tembus dan peluru mengenaimu?" tanya Chen bodoh. Karena ia sudah pernah mencobanya beberapa kali di bunker Astrogun, sama sekali tak ada kesalahan apapun.


"Lakukan!" perintah Arthur serius dengan penuh penekanan.


"Hehehe.. Baiklah," jawab Chen meragu, namun mau tak mau ia tetap menjalankan perintah Arthur.


"Aku akan mulai menembakmu dalam tiga hitungan, three... two... One... "


DordorDordorDordorDordorDordorDordorDordorDordor....!!!


Suara tembakan tak henti mulai memekakkan tel

__ADS_1


inga.


__ADS_2