
13 Desember 2019
Pusat DARPA, Virginia, AmerikaSerikat
Pertemuan Rahasia Para petinggi yang membahas tentang penggunaan Robot Humanoid dengan Hyper Artificial Intelegence (HAI) atau kecerdasan buatan tingkat tinggi.
Para petinggi DARPA, PENTAGON dan pihak Pemerintahan dari Gedung Putih, juga tak ketinggalan wakil dari para ilmuwan hadir dalam pertemuan tersebut. Geon Arthur Yildiz datang sebagai salah satu wakil dari ilmuwan neurorobotics engineer.
Hasil Pertemuan :
Penggunaan robot humanoid dengan Hyper Artificial Intelegence sebagai robot perang (robot warrior) untuk sementara ini adalah di larang dengan alasan kemanusiaan. Adapun pengembangannya masih diizinkan dengan catatan pengembangan tersebut dibawah pengawasan Lembaga pemerintah yang berwenang.
Sebagian besar peserta pertemuan telah menyepakati hasil yang telah diputuskan, namun selalu saja ada pro dan kontra dalam setiap perkara di dunia ini.
Barbara Clarkson , salah satu wakil dari DARPA menentang keras larangan tersebut. Ia berargumen bahwa penggunaan robot warrior dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi di daerah konflik tertentu sangat dibutuhkan. Hal itu untuk mengurangi kerugian finansial dan kehilangan personil militer yang sangat besar seperti yang saat ini Amerika alami di Afghanistan. Invasi itu menimbulkan financial cost dan human cost yang sangat besar, dimana sepanjang 2001 hingga 2019 AS telah mengeluarkan US$ 2 triliun.
Dan banyaknya pasukan AS yang gugur menjadi polemik tersendiri di level domestik karena berdampak pada krisis jumlah pasukan. Sebab itu dibutuhkan sebuah pasukan non-human yang lebih tangguh dan canggih untuk untuk mempertahankan hegemoni AS di dunia dengan tidak menghambur-hamburkan terlalu banyak finansial cost dan human cost , serta untuk menghindari kehilangan banyak personil militer yang sangat menyedihkan menurut Barbara.
Sayangnya, forum belum sependapat dan tidak menerima pendapat Barbara. Barbara Clarkson pulang dengan amarah dan kekecewaan yang mendalam. Ia tak akan pernah lupa bagaimana adik kesayangannya Jimmy Clarkson , salah seorang paman dan juga seorang keponakannya adalah personil marinir AS yang menjadi korban di Afghanistan.
Sementara itu Arthur dan sebagian besar rekan ilmuwan lainnya pro terhadap hasil keputusan, sedangkan sebagian kecil sisanya berada di pihak Barbara Clarkson.
......................
29 Desember 2019
DARPA ROBOTICS LABORATORY
Arthur masih menikmati kesibukan di meja riset laboratorium Robotik milik DARPA.
Suasana begitu hening karena hanya tinggal ia seorang diri. Biasanya selalu ada pekerja lain, kecuali malam ini yang memang tampak aneh menurut Arthur, Ia hanya sendirian di sini.
Pukul 02.00 dini hari tak membuatnya patah semangat. Ia sedang mencoba meningkatkan fungsi sistem mekanika, sensorik motorik dan sistem neuron pada robot buatannya agar dapat menghasilkan gerakan robot yang lebih lembut dan luwes, tidak kaku seperti robot kebanyakan.
Tiba-tiba….
BLEEP!!
Semuanya gelap. Jaringan penerangan di laboratorium mati total.
Arthur panik dan merasakan adanya bahaya karena tidak mungkin salah satu tempat terpenting di DARPA mengalami hal ini. Belum sempat ia berpikir lebih jauh, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya kaku dan nafasnya melemah, namun otaknya masih sempat membuat kesimpulan bahwa ini adalah kerja senjata kimia ringan hasil penemuannya sendiri. Lalu perlahan semuanya menjadi hilang dalam pandangan Arthur dan akhirnya ia tak sadarkan diri.
Dalam gelap bermunculan sosok-sosok hitam yang langsung membawa tubuh Arthur. Gerakan mereka begitu cepat , tepat dan tampak sangat mengenal seluk beluk ruangan di dalam laboratorium itu. Bahkan mereka membopong tubuh Arthur melewati sebuah lorong menuju pintu keluar rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang dalam DARPA.
Arthur terlonjak kaget saat wajahnya terasa segar oleh bulir-bulir air yang dipercikkan seseorang pada wajahnya.
Dia tak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri. kini lengannya terbelenggu plat baja kuat yang menempel pada sebuah kursi khusus juga terbuat dari baja. Kursi itu terpatri pada logam yang menempel dilantai beton. Tak ada jalan untuk Arthur melepaskan diri.
Dua pria berseragam dan bertopeng hitam berdiri dihadapan Arthur.
"Mr.G , kita langsung saja ke inti pembicaraan. Serahkan semua dokumen prototype hasil penemuanmu maka kamu akan dibebaskan. " Ujar salah satu dari dua pria itu datar.
"Untuk siapa kalian bekerja, katakan?!" Ketus Arthur.
"Itu tak penting, jawablah pertanyaan kami sebelum kami berubah pikiran. " Lanjut pria itu lagi.
Arthur diam saja tak ada keinginan untuk melanjutkan pembicaraan dengan pria tersebut.
__ADS_1
"Shadow, beri dia sedikit pelajaran! Perintah pria yang tampaknya adalah Robert Kanumba , pemimpin the Shadows.
" Hmm... "Jawabnya sembari mendengus.
Lalu..
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
Pukulan demi pukulan mendera tubuh dan wajah Arthur. Menciptakan luka dan lebam yang cukup perih. Arthur yang sudah lemah sejak awal karena kehausan dan kelaparan tampak tak berdaya untuk menahan sakitnya setiap pukulan yang dilayangkan ke tubuhnya.
"Ok,Stop! Beri dia makan dan minum dulu. Hampir dua hari ia tak sadarkan diri, sesuai pesan Lady dia harus tetap hidup. " Perintah Robert Kanumba dibalik topeng hitamnya lalu meninggalkan Arthur seorang diri di ruangan kedap suara dengan sistem pengamanan yang sangat ketat dan canggih itu.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita berseragam serba putih dengan membawa baki berisi hidangan yang cukup untuk satu orang.
"Mr.G , anda harus makan. Tenanglah aku akan menyuapi anda. "Ujar wanita itu dengan ramahnya seolah-olah dia sudah begitu mengenal Arthur.
" Tidak perlu, aku tidak mengenalmu, silakan keluar! "Perintah Arthur.
" Tapi aku mengenal anda dengan baik, Mr. G. Jika anda tidak penurut bisa jadi banyak hal buruk akan terjadi pada anda.Anda begitu tampan, dingin dan penuh tantangan, sayang jika harus banyak terluka."Ujar wanita itu genit.
Lalu ia memaksa untuk menyuapi Arthur, namun bagaimanapun Arthur menyemburkan semua makanan itu kembali. Ia hanya menelan beberapa teguk air yang disodorkan wanita itu.
Robert Kanumba beserta dua orangnya datang kembali. Ia menarik kerah kemeja Arthur dengan kasar." Mr.G, sebaiknya anda bekerja sama , jika ingin selamat. "Geramnya.Ia tak cukup sabar menghadapi Arthur yang susah untuk dipengaruhi. Ia pun mendorong dada Arthur kearah kursi dengan keras. Arthur tak bergeming sedikitpun.
Robert menjentikkan jarinya memberi kode, lalu dua orangnya bergerak kembali untuk memberikan beberapa pukulan pada wajah dan tubuh Arthur. Begitu terus menerus yang terjadi berulang-ulang dalam beberapa hari selanjutnya. Sehingga Arthur benar-benar melemah .
Arthur sudah tak ingat lagi berapa hari ia sudah disandra. Sebuah cahaya terang benderang diarahkan ke wajahnya , membuatnya tersadar. Namun ia tak mampu membuka mata. Ia memicingkan mata cukup lama sampai akhirnya cahaya itu menghilang.
Perlahan ia dapat melihat dengan jelas sekitar 10 orang bertopeng, berpakaian serba hitam, dan bersenjata militer lengkap berdiri mengitarinya
Sebuah monitor besar yang menempel pada dinding dihadapan Arthur tiba-tiba menyala dan langsung menampilkan wajah-wajah yang sangat mempengaruhi kejiwaan Arthur. Itu adalah gambar Alexander Yildiz dan Stefanie Yildiz , kedua orang tuanya. Satunya lagi gambar Aisyah Kamila Yildiz, adiknya tersayang dan satu-satunya.
" Jika kalian berani menyentuh salah satu dari mereka maka kalian tidak akan mendapatkan apapun dariku walau secuil. Dan aku tidak akan pernah memaafkan kalian. "Sahut Arthur tegas. Kekuatannya yang nyaris hilang bagai di upgrade kembali.
" Wow, anda masih punya nyali mengancam kami!? Mr. G, dengar!!kali ini kami tidak main-main. Serahkan dokumen prototype semua hasil penemuan anda atau ketiga orang yang ada dilayar itu harus meregang nyawa karena kebodohan anda! Putuskan sekarang juga! Kami tidak sedang bercanda, camkan itu!! "Semprot Robert Kanumba geram, kesabarannya benar-benar terkikis oleh sikap Arthur yang tak juga luluh walau telah mengalami beragam penyiksaan. " Shadows bersiaplah untuk menghabisi ketiga orang itu. "Lanjut Robert sambil menunjuk layar monitor.
" Baiklah, aku berikan apa yang kalian minta. "Ucap Arthur akhirnya. Dia tak berani bertaruh apa lagi bermain-main jika menyangkut keselamatan orang tua dan adiknya.
Salah satu dari pria berpakaian hitam memasang dilengan Arthur sebuah mini bom dalam plat baja tebal berbentuk gelang yang kemudian secara otomatis terkunci dan tak bisa dilepaskan. " Kalau anda berani macam-macam kami ledakkan mini bom ini. "Ujar pria itu memperingatkan Arthur. Ironisnya mini bom itu adalah salah satu senjata untuk menekan tawanan yang dirancang oleh Arthur sendiri, sehingga Arthur yakin dibalik penculikannya ada orang dalam DARPA yang terlibat.
Bukan hanya harus menyerahkan semua dokumen prototype-nya, Arthur juga dipaksa bekerja di laboratorium robotik milik kelompok yang belum bisa ia identifikasi ini.
Tiga minggu sudah Arthur bekerja dibawah tekanan dalam laboratorium dengan dijaga ketat oleh orang-orang bertopeng dan berpakaian serba hitam yang tak dikenalnya.
"Thankyou Mr. G , pekerjaanmu sudah lebih dari cukup. Saatnya anda untuk dibebaskan. " Ucap Shadow dengan kesan mencemooh.
Dua anggota shadow lainnya menodongkan pistol Ruger super Hawk ke kening dan leher Arthur.Kemudian salah seorang shadow memasang penutup kepala tebal yang hanya memiliki satu lubang di hidung untuk bernafas. Sehingga Arthur tak dapat melihat apapun yang ada di sekelilingnya sama sekali.
"Jalan!" Bentak Robert pada Arthur.
Dengan tangan diborgol plat baja tebal yang disisipi peledak Arthur berjalan dituntun dua anggota the shadow.
Mereka menaiki lift untuk menuju ke permukaan karena sebenarnya tempat mereka adalah sebuah bangunan bawah tanah yang sangat luas dan terdiri dari tiga lantai.
Pemandangan di permukaan sungguh luar biasa indahnya. Jelas terlihat mereka sedang berada di sebuah pulau kecil paling terpencil di dunia. Palmyra atol atau si pulau hantu adalah pulau kecil dengan pemandangan surga pantai yang memanjakan sejauh mata memandang. Sayangnya Arthur tak dapat menikmatinya.
__ADS_1
Arthur hanya pasrah.Tubuhnya semakin kurus dan melemah karena tak selera makan dan merasa sangat tertekan oleh keadaan.
Secara psikis ia benar-benar lelah namun mau tak mau ia harus terus berjalan mengikuti kemauan para penculiknya. Menempuh perjalanan sekitar tiga hari dengan dua kali naik pesawat, kemudian kapal laut lalu kendaraan darat dan helikopter. Entah dimana aku sekarang? Pikirnya linglung.
Arthur sama sekali tak tahu kalau saat ini ia berada ditengah gurun Afghanistan. Musim dingin membuat sekujur tubuhnya menggigil dan kesadarannya mulai hilang timbul tenggelam. Ia juga tidak tahu kalau Robert sedang menjualnya dengan harga sangat tinggi pada sebuah kelompok bersenjata gelap di Afghanistan.
Robert Kanumba bersama lima pengikutnya menggeret paksa tubuh Arthur untuk turun dari Helicopter.
Diantara salju yang berjatuhan mereka melakukan sebuah transaksi human trafficking.
"Kalian bisa manfaatkan orang ini untuk mengembangkan sistem persenjataan kalian. " Terdengar suara Robert Kanumba memecah kesunyian.
Seorang pria lokal berwajah garang dengan kumis dan janggutnya yang cukup panjang bersama sekitar dua puluh prajuritnya sedang bersiap siaga untuk segala kemungkinan yang terjadi. Mereka bersenjata senapan M4 dan M16, sistem senapan sniper M24, dan senapan mesin kaliber M2 .50 yang merupakan senjata rampasan dari para infantri Amerika .
"Hmmm,Kardaar...!! Periksa apakah benar dia adalah ahli teknologi alat tempur itu? " Perintah Khan Zada sang pemimpin kelompok.
Kardaar membuka penutup kepala Arthur sehingga tampaklah wajah kuyu ditumbuhi janggut dan brewok yang mulai melebat. Giginya bergemeletuk menahan dingin, bibirnya membiru.
Kardaar menyentuh dagu Arthur dan memperhatikan dengan seksama. " Khan, benar dia orangnya. " Sahut Kardaar tegas dan yakin.
......................
...****************...
Lembah Panjshir , Afghanistan
18 Februari 2020
Malam yang sunyi dan dingin. Butiran salju yang berjatuhan seakan-akan mengamuk ingin menghentikan peperangan yang tak pernah usai di lembah ini.
Lima belas personil Seal team 5 ( Five) bersiap melakukan pendaratan senyap dari Helikopter angkut cangih Boeing V-22 Ospray. Operasi penyergapan khusus kali ini adalah pembebasan seorang tawanan penting.
Masing-masing personil tim memiliki nama inisial tersendiri.
Sebagai suatu kelompok kesatuan khusus, nama asli dan tim mereka dilarang untuk diketahui publik, bahkan tidak dibenarkan dan tidak diakui oleh Pentagon.
Mereka terlindungi dari rasa ingin tahu karena berada di bawah pengawasan Joint Special Operations Command (JSOC).
Tim sangat terlatih, mereka bergerak senyap, cepat dan tangkas menuju target. Kini target di sandra dalam sebuah rumah penduduk lokal yang telah dijadikan markas oleh kelompok gelap pimpinan Khan Zaada yang terkenal bengis dan kejam.
"Zeus-001 masuk, Athena-1609 bagaimana posisimu? ganti! "Suara komandan tim menghubungi juru medis yang disisipkan ke dalam Seal Team 5 untuk operasi penyergapan kali ini.
" Athena - 1609 masuk, Kami dalam posisi siap tinggal landas kapanpun diperintahkan, ganti! "Sahut seorang wanita berwajah hijau sama seperti para personil Seal tim 5 lainnya.
" Zeus-001 masuk, kode target MR. G,catat!! jarak tim dari target tiga ratus meter. Tim bergerak sekarang, sambungan ditutup!
"Ditutup, siap!! " Sahut Athena kemudian memutus panggilan dari alat komunikasi nirkabelnya.
Lima belas personil Seal team 5 melakukan pendaratan dengan tangkas menggunakan fast rope dari helikopter pertama.
Adapun Helikopter kedua yaitu yang kini membawa Athena-1609 dengan sang pilot Galea-521. Pesawat tersebut masih parkir di sisi lembah yang tersembunyi. Helikopter itu adalah helikopter khusus medis yang biasa digunakan oleh Athena dan Galea saat beroperasi.
Misi mereka kali ini adalah mengangkat tubuh seorang ilmuwan dengan inisial kode MR. G ke helikopter, jika tim sudah berhasil membebaskan ilmuwan yang ditawan tersebut. Athena sudah memasang fast rope (tali untuk terjun) , dia siap terjun dari helikopter kapanpun diperintahkan.
__ADS_1
#bersambung