
Chen meraih selimut dan menutup tubuh polos Melinda yang tak berdaya di ranjangnya.
"Maafkan aku, Mel," Chen berkata dengan raut wajah penuh penyesalan.
"kamu tidak bersalah, bukankah kita bersenang-senang." jawab Melinda datar.
"Mengapa tak bilang kalau ini yang pertama buatmu,"
"Apa itu penting?"
Chen terdiam, tak tahu apa yang harus di katakan atau dilakukannya. Untuk pertama kalinya ia meniduri seorang gadis virgin, sensasinya sangat berbeda, seperti ada sesuatu yang mengikatnya pada gadis ini. Ditambah lagi rasa bersalah yang menderanya.
"Bisa minta tolong ambilkan pakaianku, aku mau kembali ke kamarku," pinta Melinda tegar, berakting seolah-olah tak pernah terjadi apapun.
"Apa ini yang kamu bilang pakaian?" tanya Chen ketus sembari mengangkat crop top dan mini skirt yang tadi dikenakan Melinda."harusnya ini ada di bak sampah," lanjutnya seraya melempar dua helai kain itu ke lantai begitu saja.
"Hei, itu brand terkenal dan mahal,"pekik Melinda.
" I don't give a f*u*c*k!" (Aku tidak perduli)
Melinda tak berani menjawab, ia melihat kemarahan di wajah Chen.
Chen membuka lemarinya dan mengambil sehelai T-shirt cotton lengan pendek warna hitam, juga sebuah jogger pants."Pakailah ini," ucapnya sembari meletakkan pakaian itu di sisi ranjang.
"Huufhh...baiklah, tapi keluarlah sebentar dulu ,"
"Haaah...? Hahahaha ada-ada saja..., aku sudah melihat semuanya. Kenakannya saja di depanku."
"Tidak mau,"
"Oke, oke. Aku akan menghadap ke tembok, aku tak akan menolehmu."
Dasar Nerd, gerutu Chen dalam hati.
Chen harus menghadap ke tembok beberapa saat lamanya sampai Melinda selesai mengenakan pakaian.
"Aku sudah selesai. Hemm...pakaian ini kebesaran di tubuhku," gumam Melinda."Sebenarnya ada hal penting yang harus ku sampaikan mengenai perusahaan,"lanjutnya.
"Sudahlah, besok saja. Kamu membuatku kelelahan malam ini."
Ucapan Chen sontak membuat pipi Melinda memerah.
Melinda bergegas melangkah menuju pintu."Chen, aku pamit,"gumamnya ragu, seperti ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.
" Oke, Jangan lupa besok pukul tujuh pagi aku tunggu di ruang kerjaku, siapkan laporanmu," ucap Chen lirih, ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi antara mereka barusan.
"Hmm, iya.. " Melinda melanjutkan lagi langkahnya untuk keluar.
"Mel..," panggil Chen parau. Tiba-tiba ia merasa berat melihat gadis itu pergi.
"Apa lagi?" tanya Melinda sembari menoleh kaku, karena sebenarnya ia sangat malu dengan apa yang telah terjadi antara mereka. Terlebih lagi mengingat kalau dia sendiri yang menggoda pria di hadapannya ini habis-habisan.
Chen menghampiri Melinda dan memeluknya, Ia hanya mengikuti kata hatinya untuk memeluk gadis ini erat-erat. Semuanya begitu tiba-tiba dan membingungkan baginya.
Semuanya berbeda, aku sangat menikmatinya,gumam Chen di dalam hati.
Mereka terdiam beberapa saat dalam sebuah pelukan yang hangat, lalu perlahan mereka saling melepaskan dengan enggan.
Selanjutnya, sisa malam ini menjadi malam yang panjang dan menggelisahkan bagi keduanya.
......................
Pagi hari yang cerah di Arlington, Virginia
Melinda sudah menyelesaikan sarapannya, sementara chef Park Jung Seok menyiapkan sarapan untuk Chen.
Ponsel Melinda berdering keras, segera ia mengangkat ponselnya begitu melihat panggilan dari Arthur.
__ADS_1
"Selamat pagi Mr. G."
"Selamat pagi, Mel.. "
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
"Aku sudah menghubungi atasanmu dari semalam, tapi mungkin dia sedang bersenang-senang bersama para gadis seperti biasanya, dia tak meresponku. Beritahu dia untuk menghubungiku segera."
"Oh, eh..., mmm... iya secepatnya akan kusampaikan."
"Oke, Selamat pagi."
"Selamat pagi,"
"Huufhh...," Melinda menghembuskan nafas berat. Kalimat Arthur seakan-akan ditujukan kepadanya.
Bergegas ia meraih netbook-nya, lalu menuju ruang kerja Chen.
"Selamat pagi Mr. Chen," sapa Melinda seformal mungkin. Selalu ia ingat kalimat Chen tentang apa yang terjadi semalam hanyalah bersenang-senang dan tanpa rasa cinta. Meskipun di dalam hatinya ia sangatlah rapuh, tapi setidaknya ia harus bisa terlihat tegar.
"Selamat pagi," sahut Chen kaku, tak seheboh hari-hari biasanya.
Chen menatap Melinda tak berkedip, untuk pertama kalinya ia tak bisa berpaling.
Melinda mengenakan blouse casual warna putih, tanpa make-up dan rambutnya pun cuma dicepol seperti hari-hari sebelumnya. Melinda belum sempat mengenakan outfit formalnya.
Gadis liar semalam telah hilang, kembali ke wujudnya semula.
Ia mulai melaporkan semua perkembangan perusahaan secara mendetail kepada Chen disertai dengan dokumen-dokumen pendukungnya. Dan yang terakhir ia melaporkan masalah peretasan dan penyusup yang membobol data rahasia perusahaan secara misterius.
"Bicaralah dengan Jeff, pasti dia akan menemuimu nanti. Aku kurang memahami masalah ini,"
"Ini sangat ganjil, Cyber security System kita salah satu yang terbaik. Bahkan lebih baik dari milik Google dan Tesla.Hmm... oke, cukup. Kita harus segera ke Astrogun untuk menyelesaikan semua ini. Lekaslah berkemas."
"Iya, baik.Tunggu aku sebentar," Melinda bergegas merapikan semua berkas dan meraih netbooknya. Tak ia sadari Chen telah berdiri dibelakang kursi, melingkarkan lengannya ke leher dan pundaknya. Seketika Melinda menghentikan aktifitas.
"Mel.. " panggil Chen.
" Aku tak bisa melupakan hal semalam, sangat memuaskan," bisiknya ditelinga Melinda, membuat gadis itu seketika merinding.
"Berikan aku satu alasan, mengapa kamu melakukan semua itu, maksudku tiba-tiba menggodaku?"
"Sudahlah, aku tak punya alasan. Semua itu karena aku wanita bodoh, itu saja," gumam Melinda kecewa karena ketidakpekaan Chen atas satu-satunya alasan yang dimiliki wanita naif seperti dirinya, apalagi kalau bukan cinta.Dan pria ini tak memiliki itu!
Ia melepaskan diri dari rangkulan Chen, lalu hendak melangkah keluar dari ruang kerja.
Chen menarik lengannya dengan kuat, sehingga tubuhnya berbalik menghadap Chen tepat di dada bidangnya.
Lalu...
SLURRRRRPP!!
Chen menunduk dan menghisap lidah gadis itu dengan ganasnya. Melinda tak mampu melepaskan diri, ini adalah pria yang selalu diinginkannya.
Chen melepaskannya setelah benar-benar puas.
"Mel, mulai sekarang kamu harus ada setiap aku menginginkanmu. Kamu harus bertanggung jawab."
"Aku..? Bertanggung jawab..? Aku tak mengerti!"
"Kamu yang memulainya,sayang..,"
Melinda tak tersanjung, kata sayang itu sudah biasa Chen obral dimana-mana.
"Maniak," tukas Melinda kesal.
"Kamu sudah berkata tak kan pernah menyesalinya, apa kamu tak mengingatnya?"
__ADS_1
"Lepaskan, aku harus berkemas."
Chen masih menahan lengan Melinda,"Ingat kata-kataku,kapanpun aku menginginkanmu, kamu harus bersedia," tegas Chen arogan, baru kemudian ia melepaskan pegangannya.
"Mr G, memintamu untuk menghubunginya segera, " ucap Melinda sembari berlalu.
......................
Astrogun Corp
Chen berkutat seharian bersama tim Cyber security Astrogun, ia turut terjun langsung mencari jejak penyusup dan pelaku peretasan yang membuat seluruh sistem keamanan dan cctv tak berfungsi selama delapan menit.
Karena melacak seorang hacker mumpuni akan sulit jika dilakukan sendiri.
"Akankah kita bisa mengungkap siapa sosok misterius di balik semua ini dengan cepat?"tanya Jeff
" Tidak, ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan tak bisa dikerjakan sendiri, pelakunya bukan orang sembarangan. Sistem keamanan kita setara bahkan di atas Google dan Tesla, namun hacker ini dengan mudah mengubah dan mempermainkan semua kode pada algoritma sistem kita, aku sangat terkesan dan ingin sekali berjumpa langsung dengan orang ini," racau Chen sambil jarinya terus bergerak diatas laserboard.
"Yap, sebentar lagi Jeff. Kita akan mendapatkan alamat IP berikut data-data personalnya, ia telah memanipulasi dan memalsukan alamat IP-nya dengan profesional, brengse*k," maki Chen.
" Benar-benar Peretas Profesional, baru kali ini aku kesulitan seperti ini!" keluh Jeff.
"Oke, team. Apakah kalian sudah memeriksa dengan teliti sistem Honeypot?" tanya Chen.
"Kami tak tidur untuk memeriksa semuanya dengan detail, tool back track juga sudah dalam siaga satu" jawab Jeff.
"Prince Yuan, kita sedang membongkar identitas seseorang secara besar-besaran, bukankah itu juga termasuk peretasan, ingatlah untuk mendapatkan lampu hijau dari pihak-pihak terkait," ujar Jeff lagi mengingatkan Chen
"Aku lebih senang melakukannya secara anonymous,"
Chen mengambil alih sistem Astrocyber Honeypot yang hanya dipunya Astrogun. Dengan bantuan team Cyber security pimpinan Jeffrey pekerjaan Chen menjadi lebih mudah.
Sementara itu Melinda menunggu dengan tak sabar. Waktu sudah menjelang senja, ia ingin pulang. Namun ia tak berani pulang karena belum meminta izin pada Chen yang sangat sibuk dan tak beranjak dari depan layar super komputer di ruang Cyber Security Sistem.
Melinda tak tahan lagi, ia benar-benar bosan dan ingin pulang. Bahkan tak ada Smartrobot Anastasya yang biasa menyapanya. Sejak kemarin siang Melinda tak melihat keberadaan Ana , sepertinya Chen menonaktifkannya.
Akhirnya Melinda berjalan menuju ruang Cyber Security System.
"Hai Mel G, masuklah," sapa Jeff ramah begitu melihat sosok Melinda tepat di depan pintu yang terbuka.
Konsentrasi Chen sedikit terganggu dengan kehadiran Melinda.
"Mr. COO , aku izin pulang duluan," cicit Melinda buru-buru, ia takut Chen merasa terganggu.
"Pulang kemana?"tanya Chen.
"Ke rumahku sendiri," jawab Melinda
"Pulanglah ke rumahku," perintah Chen.
"Sudah dua hari aku di rumahmu, aku harus pulang,"
"No! tunggu aku selesai, tunggulah di luar!!" pekik Chen kesal karena merasa terganggu.
"Baiklah," sahut Melinda lemah, tak punya pilihan.
"Chen kita berhasil, sistem kita sedang mendownload data pribadi pelaku peretasan itu, anda memang hebat Prince Yuan! Bravo!" pekik Jeff tiba-tiba.
"Kalian yang hebat, aku tidak terlalu banyak berperan," ucap Chen merendah.
Dengan tak sabar seluruh tim itu menunggu proses download ,ini terasa begitu lama bagi mereka.
"Haaah....???!!" pekik seluruh personil dengan manik mata nyaris meloncat keluar.
Terlebih lagi Chen, mulutnya sampai melebar maksimal menatap layar monitor yang menunjukkan data si peretas yang berhasil mereka dapatkan dengan susah payah.
"_Prince Yuan_@****.com, " gumam mereka berbarengan.
__ADS_1
"Oh sial, ini gila! tunggu..tunggu! Kita akan menyelesaikan ini, tak mungkin aku melacak diriku sendiri!"
#bersambung