
Situasi memang kacau di Venue B, namun sebagian tamu tak ingin beranjak. Mereka menganggap ini momen yang sangat langka. Sebab itu banyak dari mereka yang mengabadikannya.
"Teknologi persenjataan macam apa lagi itu?" desis salah satu dari mereka.
Gerald cs memendam amarah yang begitu dalam melihat keadaan Louis. Aaron kakak Louis menghambur tanpa sepatah kata, menghampiri Louis dan menegakkan tubuhnya perlahan.
Bersamaan dengan itu Arthur muncul di dampingi Heilen, Bend Akiro dan timnya. Para pria berseragam jas safari hitam yang semuanya memiliki aura pembantai. Heilen melangkah anggun di samping Arthur. Semua mata tertuju pada mereka dengan nyali yang ciut.
"Orang kepercayaannya saja sedemikian ganasnya, Bagaimana lagi jika ia Astrogun King-nya," orang-orang berceloteh.
Chen berdiri tegar menunggu reaksi musuh-musuhnya dengan tubuh lemah Melinda yang bersandar di dadanya. Ia tak menyadari kehadiran Arthur.
"Apa yang sudah aku lewatkan?" celetuk Arthur memecah ketegangan yang ada.
Chen langsung menoleh ke sumber suara sesaat, selanjutnya ia mematung tak menjawab Arthur. Sehingga Arthur tahu kalau Chen benar-dalam kemarahan yang besar.
"Geon Arthur Yildiz, orangmu membantai anak buahku dan menghancurkan alat kelamin Louis. Seperti ini kah cara Astrogun menyelesaikan permasalahannya?" Gerald berupaya mempengaruhi Arthur. Namun sungguh ia tak bernyali untuk sekedar mencuri pandang ke wajah gadis yang kini tengah menggelayut manja di lengan kokoh Arthur.
"Bend, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arthur dengan merendahkan volume suaranya.
"Louise mencoba menculik Melinda dan hampir memperdayanya, beruntung Chen segera datang. Begitu yang kudengar dari Drake," jelas Bend.
__ADS_1
"Gerald Gremio! kami melindungi diri dari pembuat onar seperti kalian. Apakah kamu mau ini berlanjut??Jika iya, mari kita lanjutkan, jika tidak maka katakanlah hal yang seharusnya kalian katakan kepada NYPD, untuk mencegah terjadinya hal yang lebih mengerikan,"ancam Arthur.
"Oke, kali ini kalian boleh senang," gumam Gerald nyaris tak terdengar.
Benar saja seperti dugaan Arthur polisi dari New York Police Departemen mulai berdatangan di halaman Javits Center.
"Ingat, katakan apa yang harus kalian katakan!" ancam Arthur lagi pada Gerald Cs.
Diam-diam Chen merasa lega dan berterimakasih , Arthur berada di pihaknya.
"Chen kita pergi sekarang," Perintah Arthur.
Chen tidak menjawab, hanya membopong tubuh Melinda lalu berjalan mengikuti Arthur dan yang lainnya. Meninggalkan Gerald dan Aaron dalam dendam. Urusan polisi NYPD adalah hal yang gampang bagi Gerald dan Aaron. Rasa sakit karena dipermalukan Chen dan Arthur, itulah hal yang paling sulit mereka terima saat ini, membuat mereka memupuk dendam di dalam hati.
"Hai, Danver Edison. Senang bertemu denganmu. Kami harus pulang segera, tolong uruslah masalah ini dengan baik. Tangani Gerald dan yang lainnya," perintah Arthur bossy. Seolah dia adalah pimpinan tertinggi di NYPD.
Anehnya, Danver begitu menghormat kepada seorang Geon Arthur Yildiz.
"Mr G, kami akan lakukan sesuai permintaan anda. Maaf telah mengganggu waktu anda," sahut Danver sungkan dan penuh hormat.
"Hmm, okay. Laksanakan tugasmu dengan baik," pesan Arthur sebelum beranjak dari Venue B, diikuti Chen dan yang lainnya.
__ADS_1
...*...
...*...
...*...
Mansion Arthur,
Heilen menemani Melinda di kamarnya dan memantau kondisinya.
"Baby tinggalkan dia, biar Chen yang menemaninya," titah Arthur dari pintu kamar.
"Oh, iya baiklah. Tampaknya dia sangat lelap," sahut Heilen dengan suara parau karena kantuk.
Heilen keluar dari kamar Melinda, ia terpana melihat bulu-bulu halus yang membayang dari piyama tidur Arthur. Piyama itu sedikit terbuka di bagian dadanya.
"Aku ingin ditemani tidur malam ini sayang, tidurlah di kamarku,"gumam Arthur dengan suara baritonnya yang seksyeh.
Tanpa menunggu jawaban Heilen, Arthur langsung menggendong tubuh Heilen dalam dekapannya, seperti menggendong bayi kecil. Heilen masih tergugu dengan hati berdebar tak karuan.
"I want you baby," bisiknya di telinga Heilen.
__ADS_1
#bersambung