
"Hanya itukah rahasiamu?" Tanya Arthur kesal. Ia tak menyangka Heilen akan dijemput secepat ini.
"Aku menyukaimu meski aku belum yakin sepenuhnya, tapi mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi jadi aku memberitahumu." Tukas Heilen dengan bibir sedikit bergetar karena nervous.
Setelah mengatakan itu Heilen meletakkan ponselnya di atas meja makan. Ia lalu bangkit dengan perasaan galau.
"Aku akan menunggumu dan kamu pasti kembali." Sahut Arthur sembari turut bangkit mengikuti Heilen yang kini bersandar di sudut tembok ruang makan.
"Dalam peperangan, pekerjaan kami adalah menentang maut setiap saat dan melihat kematian setiap hari. Kami harus siap mati kapan saja. Aku ingin seperti ini lebih lama jika ada kesempatan di lain waktu." Lanjut Heilen sembari memainkan jarinya masih dengan perasaan yang tak menentu. Ia tak berani menatap Arthur yang kini semakin mendekatinya.
Arthur tak ingin banyak bicara lagi. Ia mengambil kedua tangan Heilen, merentangkan dan menempelkan lengan mereka ke tembok bersamaan. Sehingga tak ada penghalang antara tubuhnya dan tubuh Heilen.
Heilen mengangkat wajahnya dengan bibir yang merekah merah alami seperti mawar. Arthur mengerti apa yang diinginkan gadisnya, sebuah penyatuan. Arthur menundukkan wajahnya menyesuaikan diri dengan tinggi badan Heilen.
Heilen menangkap bibir Arthur dengan bibir indahnya, berpagut dalam sebuah penyatuan yang panjang. Mengulanginya lagi dan lagi sampai nafas mereka memburu, seolah tak ingin saling melepaskan satu sama lain.
"Abaang......!! Heilen...!! Dimana sih....??! " Ketus sebuah suara yang sangat familiar.
Sial. Seharusnya aku tak memberikan kunci cadangan untuk Kamila. Sesal Arthur dalam hati sembari perlahan melepaskan Heilen. Kemudian Ia menyeka bibir Heilen yang basah dengan jemarinya.
Heilen buru-buru menata dirinya senormal mungkin dan kembali duduk di kursi.
Arthur hendak melangkah keluar dari ruang makan untuk menyambut Kamila namun yang di cari sudah muncul di hadapannya bersama Adam Sinaga dan Irina.
"Heilen are you okay?" Pekik Irina lebay sambil menghambur ke arah Heilen.
"Hehehe, aku baik-baik saja. " Heilen terkekeh melihat kelakuan Irina yang berlebihan.
Adam Sinaga dengan gaya bossy-nya memandang Arthur penuh selidik.
"Hmmm, apakah aku melewatkan sesuatu? " Desis Adam Sinaga sangat satir.
Arthur memainkan lidah di dalam mulutnya sambil menggembungkan sebelah pipinya. Ia masih menahan kesal.
"Kenapa abang dan Heilen belum juga bersiap untuk ke rumah? Kami cemas memikirkan Heilen." Sungut Kamila.
"Aku dan Heilen baru saja selesai sarapan." Jawab Arthur singkat. Dia belum tahu apa yang harus dikatakannya pada Kamila, Adam dan Irina mengenai Heilen yang akan pergi.
"Eee..aku baik-baik saja." Sela Heilen menyembunyikan kegugupannya. Ia merasa seperti pencuri yang hampir tertangkap basah.
"Syukurlah..., beritahu aku kalau abang macam-macam biar aku laporkan pada papa dan mama. Papa paling tidak suka kalau ada laki-laki yang tidak bisa menghormati wanita." Cicit Kamila sembari menggandeng lengan Heilen. Ia takkan pernah lupa bagaimana Heilen sering membantunya. "Disini kurang leluasa , kita ke ruang tengah saja." Lanjut Kamila menarik Heilen ke ruang tengah.
Arthur membiarkan Kamila bersikap protective terhadap Heilen. Awal yang baik menurutnya. Ia pun melangkah mengikuti Kamila, Heilen dan Irina ke ruang tengah di susul Adam Sinaga yang bergegas berjalan di samping Arthur.
"Bro, seluruh keluarga pasti senang kalau kalian terbuka mengenai hubungan kalian. Terutama papa dan mama.Perlakukanlah Heilen dengan layak, perkenalkan pada papa dan mama." Ucap Adam Sinaga serius sembari menepuk pundak Arthur.
Arthur justru mengurut keningnya dengan jari telunjuk dan ibu jari yang menyatu lalu ia menghempaskan tubuhnya di sofa. Mengambil ponselnya dan mengabari Bend Akiro yang berjaga diluar bersama timnya kalau sebentar lagi akan ada pasukan Navy Seal datang dan meminta Bend memberi mereka jalan.
Ucapan Adam Sinaga berlalu begitu saja dari indranya. Bola matanya mencari sosok Heilen yang kini duduk berseberangan dengannya.
Arthur melihat tatapan Heilen yang berubah sendu dan bibirnya yang merekah seolah memangil-manggilnya untuk merasakannya kembali.
"Hffhhh.... " Arthur menarik nafas berat.
...****************...
__ADS_1
UNITED STATES DEFENSE ATTACHE OFFICE
BERN, SWISS
Atase Pertahanan United States adalah penasihat militer utama untuk Duta Besar dan korps pertahanan Amerika di Swiss.
Selain itu Atase ini bekerja mewakili Departemen Pertahanan Amerika (Departemen of Defense) di Swiss.
Tugasnya adalah merencanakan dan mengoordinasikan kegiatan militer Amerika Serikat dengan Angkatan Bersenjata Swiss di seluruh wilayah Swiss. Mereka juga melakukan koordinasi dengan Departemen Pertahanan Swiss, Menjalankan program Pasukan Gabungan antara Militer Amerika dan Swiss.
Selain dipimpin oleh seorang Ambassador Atase ini memiliki seorang Kolonel Angkatan Udara dan beberapa komandan tempur dari berbagai korps angkatan bersenjata Amerika yang berada dalam satu pangkalan di kota Bern.
Disini di pangkalan militer inilah beberapa hari ini Seal team five yang dipimpin ZEUS-001 sedang singgah. Selain melakukan latihan gabungan dengan The Swiss armed forces , Seal Team Five juga dalam misi menjemput salah seorang Seal Woman yang sedang berada di Swiss yakni Athena-1609.
"Zeus biarkan aku membawa kalian kali ini. " Pekik Matilda yang punya nama kode Azura-055. Ia adalah salah satu angkatan pertama pilot wanita di Navy Seal dan merupakan senior dari Galea.
"Kita semua merindukan gadis kecil licik itu. Aku juga ikut." Teriak Phoenix-663.
"Oke, bersiaplah kalian. Matilda apakah kamu sudah menyesuaikan diri dengan beberapa fitur baru yang dibeli dari ASTROGUN." Tanya Zeus untuk memastikan bahwa Matilda telah mengupgrade kemampuannya.
"Tentu saja. Aku paling suka barang canggih dan aku dapat menyesuaikan diri dengan cepat. Meskipun Astrogun sangat gila, semua senjata dan alat navigasi dari sana berbasis Artifisial Intelegensi dan robotics tingkat tinggi." Jawab Matilda sambil masuk ke dalam kokpit.
"Hampir semua personil masih gagap menggunakan suplay senjata baru dari ASTROGUN. Aku harus mengundang teknisi mereka sesering mungkin sebelum kita ke Palmyra Atol. Astrogun penuh dengan para pemuda yang gila teknologi." Gerutu Zeus.
"Kalau kau gagap teknologi terbaru itu menandakan kau sudah tua , Zeus.Hahaha..." Hercules-993 menimpali.
"THE GREEN FACES, fokus!! Ingat, Satu-satunya hari yang mudah hanyalah hari kemarin!!!" Teriak Zeus membahana untuk mengembalikan konsentrasi the team.
"SIAAAAAAAAAP, KOMANDAN!!!!!" Sahut the team serentak.
Kurang lebih dalam empat puluh lima menit mereka akan sampai di titik koordinat dimana Heilen berada.
Seharian kemarin Hercules dan Zeus melakukan pengintaian melalui udara. Mereka dengan mudah menemukan posisi Heilen melalui GPS pada ponsel Heilen. Sayangnya Zeus dan Hercules hanya bisa melakukan pengintaian jarak jauh karena Vila tempat ia menemukan Heilen bersama seorang pria itu terdeteksi memiliki instalasi sistem keamanan yang super canggih. Bahkan mereka melihat beberapa pria bersenjata modern di sekeliling vila itu berjaga dengan siaga.
Zeus diam-diam memantau Heilen melalui teropong sedang berpose manis di depan seorang pria dalam sebuah ruangan berdinding kaca . Itu sebabnya Zeus dan Hercules dapat melihat Heilen dengan jelas. Sungguh pemandangan hari itu membuat mereka tertawa tak henti. "Gadis bandel itu memanfaatkan liburannya dengan baik."Pekik Zeus saat itu.
Mendapati Athena-1609 yang mereka kenal ganas menggunakan gaun dan hiasan rambut bak seorang putri adalah seperti melihat lelucon gratis buat Zeus dan Hercules.
Sang Athena-1609 juga dalam kondisi baik-baik saja dengan beraneka cemilan, buah-buahan dan ponsel ditangan sehingga Zeus dan Hercules memutuskan kembali ke pangkalan dan memberikan Heilen kesempatan satu hari lagi untuk bersenang-senang.
Di Vila Arthur...
Kamila duduk di antara Adam dan Heilen. Irina duduk disamping Heilen. Sedangkan Arthur duduk menyendiri berseberangan dari mereka. Dan Arthur lebih banyak diam, hanya berbicara dengan pikirannya sendiri.
Para wanita selalu saja punya cerita saat mereka berkumpul, tak terkecuali Heilen yang langsung ikut terhanyut dalam cerita dan obrolan dari Irina juga Kamila. Di tengah canda dan tawa mereka itulah kembali ponsel Heilen berdering.
(Sebuah potongan lagu dari The Cranberries)
Heilen mengangkat panggilan dari Zeus dan mengambil posisi agak jauh dari yang lain. Arthur mengikutinya dari belakang. Sementara Adam, Kamila dan Irina hanya menatap bingung tingkah keduanya.
"Halo Komandan."
"Halo kid, kami sudah di luar Vila. Tolong beritahu pacarmu untuk menjinakkan bodyguardnya."
__ADS_1
"Siap, komandan."
Heilen menjeda panggilan Zeus sebentar.
"Aku sudah memberitahu mereka, aman untuk melintas atau landing. " Sahut Arthur sebelum Heilen sempat bertanya.
"Sudah aman, komandan. " Sambung Heilen pada Zeus.
"Oke. Kami menunggumu "
"Beri aku beberapa menit, aku ingin berpamitan pada teman-temanku.
" 15 menit."
"Siap Komandan!"
Arthur menggigit bibirnya resah.
"Aku harus berpamitan pada Kamila, Adam dan Irina." Ucap Heilen lirih dan melangkah kembali ke ruang tengah. Arthur terus mengikutinya.
"Teman-teman maafkan aku, aku harus pergi sekarang juga, jemputanku sudah datang di luar. Aku akan kembali ke Virginia atau California. Aku tak punya waktu lagi untuk menjelaskan apapun." Tukas Heilen lalu memeluk Kamila dan Irina bergantian.
Kamila, Irina dan Adam melihat keluar melalui dinding kaca yang lebar. Vila ini memang di dominasi dinding kaca tebal. Benar saja mereka melihat sebuah helikopter sedang landing di sekitar bukit berbunga yang mengelilingi Vila tempat mereka berada.
"Hei, hei... apaan ini... ?!" Tukas Kamila.
"Jangan becanda , bestie.. "Sambung Irina.
" Heilen , apakah ini gara-gara Arthur?! Katakan apa yang dia lakukan biar aku menghajarnya." Sela Adam Sinaga masih mencurigai Arthur.
Mereka benar-benar kebingungan dengan semua yang dikatakan Heilen.
Sementara Arthur hanya menampakkan wajah dingin tepat dibelakang punggung Heilen.
" Adam jaga Kamila.Nanti aku pasti menelpon setelah sampai di Amerika." Pesan Heilen pada Adam Sinaga sembari memasang slingbagnya.
"Arthur, aku pergi. " Ucapnya lirih dengan suara nyaris tak terdengar. Kemudian ia ingin melangkah tanpa ragu. Ia tak ingin menoleh ke belakang karena itu bisa membuatnya bimbang.
Namun Arthur menahan lengan Heilen begitu cepat , memegang dagunya lalu menghisap bibir indah itu dengan lembut dan penuh cinta, berulang-ulang seolah tak ingin berhenti.
Adam Sinaga langsung menutup mata Kamila dengan kedua tangannya.
Irina terbelalak nyaris terjatuh dari kursinya.
Akhirnya Heilen menarik tubuhnya kebelakang menyudahi ciuman Arthur yang intens, "Aku pergi." Ucapnya sekali lagi sambil melepaskan genggaman Arthur perlahan.
Heilen melangkah keluar diikuti Adam, Kamila dan Irina yang masih shock dengan apa yang terjadi barusan. Sementara itu Arthur kembali ke ruang tengah.
Heilen mendatangi Zeus yang telah menunggunya dengan seragam lengkap.
"Come on , baby let's go! "Teriak Zeus.
" Yes, captain."
Sementara itu di ruang tengah Arthur mengirim sebuah pesan suara ke salah seorang Staf Astrogun.
__ADS_1
"Denzel, kirimkan paket itu segera ke alamat yang sudah ku kirimkan tadi"