The Athena Code

The Athena Code
49. Back to Lovely Family


__ADS_3

Bukit berbunga menjadi saksi kepergian Heilen.


Kamila dan Irina masih tak bisa menemukan jawaban atas kepergian Heilen yang tiba-tiba dengan dijemput oleh sekelompok tentara asing. Dimana Heilen terlihat sangat akrab dengan para tentara itu.


“Mereka bagian dari Navy Seal Amerika.” Ucap Adam Sinaga. Akhirnya terjawab sudah semua hal misterius tentang Heilen yang ia rasakan selama ini.


Saat dulu mencarikan bodyguard wanita untuk Kamila, Adam mengirim empat bodyguard terbaiknya untuk menguji kemampuan beladiri Heilen. Tanpa ampun keempat bodyguardnya dibuat babak belur. Bagaimana Heilen bisa begitu lama di Indonesia itu masih menjadi tanya baginya.


‘’Aku dengar identitas mereka tidak boleh diketahui, apakah Heilen bagian dari mereka?’’ Tanya Kamila pada Adam.


‘’Hmmm, sepertinya. Hanya Arthur yang tahu.” Balas Adam Sinaga.


“’Selama bersamanya aku tak pernah mendengar dia menceritakan apapun tentang dirinya sendiri. Selalu aku yang banyak bercerita dan dia hanya pendengar setia yang menertawakanku. . Aaaaaah….Heilen ternyata kamu sangat keren, pasti sebenarnya aku tampak konyol dimatamu.” Racau Irina sembari menepuk keningnya sendiri dengan mimik wajah mengkerut.


“Sudahlah, pada saatnya nanti Arthur pasti akan menceritakan semua kebenaran pada kita. Kalian tau kan dia seperti apa. Dia makhluk bumi paling pelit bicara yang pernah ku temui. Mari kita kembali ke Vila.” Ujar Adam sembari menggandeng tangan kamila untuk berjalan bersamanya.


Sesampainya mereka bertiga di ruang tengah sudah tak ada Arthur disana. Kamila nekad mencari Arthur ke kamarnya, karena ia harus mengingatkan Arthur untuk segera bertemu kedua orang tua mereka yang sudah sangat merindukan anak laki-laki satu-satunya.


Kamila menekan bel di pintu kamar Arthur. Tak berselang lama pintu terbuka dan Arthur muncul dengan tampilan yang sudah rapi. Tentu saja ia ingin terlihat istimewa saat bertemu ayah dan ibunya.


Kamila tersenyum senang melihat abangnya sudah berpakaian rapi dan tampan. Terlihat lebih bersemangat dan berbeda dari biasanya.


“ Gadis manja, mari kita berangkat.’’ Ucap Arthur seraya merangkul Pundak Kamila.


“Hmmmm…abangku ganteng sekali dengan kemeja toska ini.’’ Sanjung Kamila saking senangnya melihat perubahan sang kakak.


‘’Apakah ini sanjungan tulus atau modus?” Kelakar Arthur.


‘’Tulus dong.’’ Sahut Kamila dengan bibir mengerucut.


‘’Oke,oke. Hahahaha…” Kamila selalu berhasil membuat Arthur tertawa dengan sifat childishnya itu.


...----------------...


Rumah keluarga Alexander Yildiz .


Stefanie dan Alexander Yildiz meluangkan waktu khusus untuk melepas kerinduan dengan putra pertama mereka dan satu-satunya. Putra mahkota yang mereka banggakan. Di ruang keluarga mereka duduk santai hanya bertiga.


“’Mama, Papa, maafkan aku baru muncul.’’ Ucap Arthur dengan merendahkan suaranya. Ada rasa bersalah terselip di sana. Genap setahun ia tak mengunjungi mamanya.


Tahun lalu terakhir, juga saat perayaan anniversary pernikahan papa dan mamanya. Video call pun hanya bisa di hitung dengan jari karena kesibukan Arthur yang padat.


Stefanie Yildiz menyambut pelukan Arthur dengan hangat. Membelai rambut Arthur begitu lembut sambil mendaratkan ciuman penuh cinta di kepala Arthur.


Ia adalah seorang ibu yang selalu ingin menunjukkan kasih sayangnya yang besar meskipun anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Ia memang mendidik anak-anaknya untuk mandiri namun dalam hal sentuhan cintanya kepada Arthur dan Kamila, Stefanie tak bisa mengendalikan diri. Kedua anaknya akan diperlakukan kadang berlebihan seperti bayi.


‘’My baby, kamu akhirnya muncul juga. Mama rindu sekali.’’ Sahut Stefanie Yildiz dengan bulir bening membasahi pipinya.


Arthur bukan pria yang pandai menyusun banyak kata, sehingga ia memilih lebih banyak diam. Melihat kerinduan sang ibu yang begitu dalam ia hanya bisa memeluk sang ibu berlama-lama.

__ADS_1


“Geon Arthur Yildiz, putra kebanggan Alexander Yildiz, kemarilah.” Titah sang ayah yang juga sangat merindukan putranya.


Stefanie Yildiz melepaskan pelukan sang putra, kemudian Arthur berpindah kehadapan papanya yang duduk berdampingan dengan sang ibu.


‘’Maafkan aku, baru bisa mengunjungi papa dan mama.” Ucap Arthur untuk yang kedua kalinya sambil merangkulkan lengan di tubuh sang ayah , mencurahkan semua kerinduannya.


‘’Hmm.., kasih sayang dan do’a kami selalu membersamaimu walaupun kamu jauh dari jangkauan kami, nak. Bagaimana kabar Astrogun, bukankah kamu bilang kamu sudah kembali aktif mengurusnya?’’ Sapa Alexander Yildiz kepada si anak pulang.


‘’Berkat do’a papa dan mama semuanya urusanku berjalan baik.” Sahut Arthur seraya memeluk sang ayah.


Kebahagiaannya terasa lengkap meskipun belum sempurna. Dan memang tak ada yang sempurna di dunia ini kecuali kita melengkapi setiap keadaan dengan kesyukuran yang besar.


Dia menemukan belahan jiwanya setelah hampir dua tahun dalam pencarian yang cukup melelahkan. Pencarian yang membutuhkan kesabaran yang besar. Heilen, bagaikan obat atas penyakitnya selama ini. Sebelumnya ia adalah seorang yang mengidap traumatis syndrom akan kontak apapun dengan seorang wanita, namun dengan Heilen sebaliknya ia merasa candu. Ikatan antara mereka adalah kontrak jiwa yang melampaui segala kenampakan dan keindahan fisik.


Di Swiss ia berkesempatan mencurahkan kerinduan pada gadisnya namun entah mengapa itu terasa tidak cukup dan terasa bagai satu kedipan mata saja. Waktu selalu mempermainkan manusia sesukanya. Di Swis juga, kini ia bisa memeluk kembali sumber mata air kehidupannya, sang ayah dan ibunya tercinta.


‘’Nak, besok setelah perayaan anniversary pernikahan papa dan mama, saudara sepupumu Adam Sinaga dan adikmu Aisyah Kamila Yildiz akan melangsungkan acara pertunangan mereka. Papa dan mama melihat mereka sudah begitu saling menyayangi jadi papa dan mama hanya bisa mendukung dan merestui. Papa akan sangat bersyukur dan berterimakasih jika kamu bisa tetap di sini sampai semua acara itu selesai.” Ucap Alexander yildiz mengingatkan Arthur yang tak pernah bisa lama hadir diantara mereka.


"Tentu saja, papa. Aku akan tetap di sini hingga semua acara selesai.”Janji Arthur.


“Papa dan mama berharap suatu hari di usia kami yang mulai senja ini, kami bisa melihat calon ibu dari anak-anakmu. Sebagai orang tua kami kira itu adalah harapan yang wajar, bagaimana ma?’’ Lanjut Alexander Yildiz.


‘’Iya, nak. Kami tidak memaksakan jika kamu sangat sibuk dan tak ada waktu untuk menemukan seorang wanita. Banyak orang tua dari sahabat-sahabat papamu yang menawarkan anak gadisnya untuk kami jadikan menantu. Kalau kamu mau kamu bisa coba berkenalan dahulu dengan salah satunya yang mendekati kriteriamu. Mereka gadis-gadis yang mama kenal terpelajar, cantik serta dari keluarga baik-baik.” Stefanie menambahkan.


‘’Benar sekali nak, tapi semua itu kembali lagi padamu. Kami tidak akan memaksakan sesuatu yang memang tidak baik untuk dipaksakan.” Jelas Alexander Yildiz bijaksana.


‘’Aku sudah memiliki gadis pilihan. Kuharap mama dan papa kelak bisa memberikan restu kepada kami. Hanya saja untuk saat ini kami belum bisa bersama.” Jawab Arthur apa adanya.


Orang bijak bilang, cinta tidak hanya sebatas ungkapan dengan perkataan dan buaian. Karena cinta sejati tak sesederhana itu. Dalam diam, kesabaran, penerimaan dan pengampunan disanalah tersimpan sebuah cinta yang besar.


Sepasang suami istri itu saling berpandangan dengan tatapan takjub. Bahkan mereka nyaris percaya tentang gosip murahan yang mengatakan kalau putra mereka seorang gay. Semua bermula karena orang-orang tak pernah melihat Arthur dekat dengan seorang wanita. Meskipun Stefanie tak pernah mengungkit masalah itu di hadapan Arthur, jauh dilubuk hatinya ia memiliki kekhawatiran.


Dan hari ini benar-benar sebuah keberkahan yang besar bagi mereka mendengar pengakuan sang putra. Alexander dan Stefanie saling melempar senyum kebahagiaan dimana hanya mereka berdua saja yang mengerti.


‘’Hahahaha…papa benar-benar bahagia sekali hari ini, bagaimana ma?”


“Iya pa, benar sekali. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan calon menantu kita.’’


Arthur tertegun melihat respon bahagia kedua orang tuanya. Ingin rasanya segera membawa Heilen kehadapan mereka. Namun ia sendiri belum mengungkapkan semua kebenaran pada gadisnya. Melindungi Heilen di Palmyra Atol adalah prioritasnya saat ini. Setelah itu ia akan membiarkan Heilen mengetahui semuanya.


Kerinduan mulai bermain-main di lubuk hatinya saat ini, ingin rasanya ia segera menyusul ke Amerika. Namun adalah hal yang jelas sangat sulit untuk bisa bertemu Heilen setelah masuk ke NAVAL AMPHIBIOUS BASE CORONADO, CALIFORNIA, markas Navy Seals.


Setelah quality time dengan papa dan mamanya Arthur tak lupa menghubungi Chen Yuan. Memintanya melaporkan perkembangan perusahaan.


"Pengiriman supplay ke semua area berjalan lancar, hanya satu yang tertunda yaitu pengiriman ke Arizona dikarenakan terhalang badai tornado. Riset untuk pengembangan Dr. Robo sudah mendekati enam puluh persen, permintaan alat tempur berbasis AI terus mengalami peningkatan. Kita harus meningkatkan produksi dan otomatis kita juga butuh peningkatan sumber daya. Yang terakhir para Komandan Seals sepertinya agak rewel, mereka meminta kunjungan teknisi tiga atau empat kali sepekan untuk pelatihan penggunaan body armor, head armor, senjata dan semua fitur produk kita.” Papar Chen Yuan panjang lebar.


‘’Benarkah, jadwalkan aku!” Pekik Arthur.


“Hei , what..!! Kau akan sibuk di lab sampai proyek SPARTAN selesai. Benar-benar membingungkan.” Gerutu Chen.

__ADS_1


“Tidak perduli apapun, jadwalkan aku satu hari saja!’’ Tegas Arthur.


“Oke,oke,baik. Dan apa kau tau liburmu sudah bertambah dari dua hari menjadi tiga hari‘’ Jawab Chen dan tak lupa mengingatkan Arthur akan tugasnya.


Seperti kebiasaannya Arthur tak memberi sahutan dan menutup sambungannya.


"Kebiasaan buruk tak pernah berubah. " Gerutu Chen lagi.


...****************...


San Diego, California, 13 Februari 2022


Keluarga Heilen dan Arthur adalah keluarga dengan dua latar belakang yang berbeda. Sama-sama keluarga yang penuh cinta, namun bedanya kedua orang tua Heilen lebih santai dan merakyat. Sedangkan keluarga Arthur cenderung ekslusif dan mewah.


Malam ini Antonia dan Ahmad Rizal Munaf merayakan kehadiran sang putri dengan pesta makan bersama semua siswa Karate Academy.



Heilen terlihat sangat cantik dengan t-shirt rajut warna putihnya.


Salah satu hal yang paling istimewa yang susah Heilen dapatkan di usia dewasa ini adalah quality time bersama keluarganya. Ada si kecil Larmina yang menggemaskan. Heilen memberi nama Larmina kepada bayi cantik ini untuk mengenang sang ibu. Ada juga si kocak Darren Yusuf Putra Munaf, adik laki-lakinya.


“Heilen, papa dan mama berharap kamu bisa lebih lama di sini.” Ucap Ayah Heilen diantara riuh rendah suara para siswa yang berkumpul gembira.



‘’Papa aku hanya mendapat izin cuti dua hari, maafkan aku.” Jawab Heilen dengan raut wajah tak enak.


“Hehehe, tak apa nak. Papamu memang begitu." Sela Antonia .


Tampak juga Fransisco Cardoso yang langsung datang begitu tau Heilen telah pulang. Darren yang memberitahunya.


Heilen sangat tidak acuh padanya. Berulang kali ia mencoba lebih akrab dan kembali seperti dulu namun Heilen tak memberinya kesempatan sama sekali.


Ia sadar kesalahannya begitu besar di masalalu namun salahkah jika ia ingin memperbaikinya. Wajah tampan Frans tampak begitu murung. Ia tahu Heilen bukan wanita yang dapat dipaksa dan kini ia hanya bisa menyesali dan berdo'a Heilen akan memaafkannya suatu saat nanti.


"Heilen ada sebuah paket untukmu." Pekik Antonia diantara kegaduhan acara pesta makan sederhana itu.


"Baik mom, aku akan mengeceknya. " Jawab Heilen.


"Dokter Frans, apakah anda kekurangan pasien? Pergilah jangan ganggu Heilen. " Ketus Antonia garang.


Frans benar-benar membeku dibuatnya dengan kata-kata itu.


"Hei, Dokter kemarilah temani aku minum." Panggil Ahmad Rizal Munaf yang kasihan melihat Frans terabaikan.


"Oh my God, hahahahahah.... dia benar-benar mengirimiku head armor. Dia benar-benar memegang kata-katanya. Papa-mama, dia juga memberiku roboguard sungguhan! Dia benar-benar gila. Hahahaha...!!'' Teriak Heilen histeris sembari memeluk dan mencium kotak paket berukuran jumbo yang baru saja diterimanya dari Mr. G. Ia meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil. Tak pernah terbayangkan olehnya akan memiliki roboguard canggih yang sangat mahal.


Kedua orang tuanya dan frans hanya ternganga bingung, mereka tak pernah melihat Heilen sebahagia itu. Frans menarik nafas berat dengan tatapan penuh kecurigaan. Mungkinkah Heilen telah menemukan orang lain, batinnya.

__ADS_1


#bersambung.


__ADS_2