The Athena Code

The Athena Code
44. Lala, Call me Papa.


__ADS_3

Ahmad Rizal Munaf membuat panggilan Video via aplikasi kepada saudaranya Ibrahim Saleh Munaf Bapak Menteri Pertahanan Indonesia.


‘’Haloooo…..abang Ibra, Assalamualaykum.”


“Halo, halo,…..waalaykumsalam. Rizal bagaimana kabarmu?.’’


“Alhamdulillah baik bang. Bang Rizal saya mau tanya , apakah abang kenal pria ini?” Tanya Ayah Heilen sembari mendekatkan kamera ke wajah Arthur.


“Masyaa Allah…..Tuan Geon Arthur Yildiz!! tentu saja aku kenal pemuda hebat ini.Dia seorang neuro robotic engineer dan ahli persenjataan canggih dunia. Bagaimana bisa pemuda hebat itu ada bersamamu, Rizal?’’


“Oh, ini Bang….dia ada sedikit keperluan dan mampir di rumah kami.” Jawab Ahmad Rizal Munaf kikuk seraya bertukar pandang dengan sang istri Antonia Jhonson. Antonia mulai melunak dan menurunkan pistol revolvernya dari dada Arthur. Arthur menarik nafas lega.


‘’Jamu dia dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kecewakan dia dan tolong sampaikan salamku atas nama kementerian pertahanan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padanya.’’ Ujar Ibrahim Saleh Munaf, membuat Arthur merasa terselamatkan.


‘’Baiklah , bang Ibra. Terimakasih wejangannya bang Ibra, sampai di sini dulu karena kami harus menjamu tamu kami. Assalamualaykum.”


‘’Waalaykum salam.”


Panggilan video itu berakhir.


Lalu....


“Maafkan kami anak muda. "


"OSSHH.....!!!”


Tanpa aba-aba kedua pasangan itu langsung membuat formasi berbaris dua lajur dan melakukan gerakan OSH. OSH berasal dari kata Oshinobu dalam Bahasa Jepang dan biasa digunakan dalam dunia karate untuk memberikan penghormatan. Ketika mengucapkan Osh harus sambil membungkukkan badan.


Arthur merasa tidak nyaman mendapat perlakuan seperti itu dari orang tua Heilen.


“Tidak apa-apa Om, tante. Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah mengganggu ketenangan kalian.” Sahut Arthur kembali kalem.


“Eee…..Siapa namamu tadi? Mari kita duduk-duduk sambil mengobrol.’’ Ayah Heilen tak bisa menutupi rasa bersalahnya atas apa yang terjadi sebelumnya.


"Sayang buatkan teh. " Pintanya pada sang istri.


‘’Tentu saja, tunggulah sebentar.”Tukas Antonia.


“Namaku Geon Arthur Yildiz, panggil saja Arthur Om.”Jawab Arthur sembari mengikuti langkah Om Rizal menuju ke sebuah meja taman yang lumayan luas di halaman belakang ditemani lima kursi kayu yang cantik.


Dan Alexus terus mengekor kemanapun langkah Arthur sehingga membuat Om Rizal dan istrinya takjub.


Taman yang ditata sederhana, cukup luas dan sejuk. Membuat Arthur nyaman berada di situ.


"Aku secara pribadi , juga mewakili istriku sekali lagi meminta maaf atas kejadian yang kurang menyenangkan tadi. Bukannya tanpa alasan, ini semua karena kami sering di datangi orang-orang jahat yang sebenarnya mengincar putri kami." Cerita Om Rizal sepertinya mulai percaya kepada Arthur karena telah mendengar penjelasan Ibrahim Saleh Munaf.


"Oh iya om aku mengerti hal itu. Ekhem.. hem.. Om memiliki seorang putri? Tapi aku tak melihatnya." Tanya Arthur sekedar ingin membahas tentang Heilen.


"Putri kami sedang di luar negeri, kapan-kapan kalau dia pulang kalian bisa berkenalan. " Sela tante Antonia kini berubah sangat ramah sembari menyuguhkan dua gelas teh di atas meja.


Om Rizal mengerutkan kening seolah tak setuju mendengar kalimat sang istri. Ia tak suka kalau mereka bersikap terkesan murahan mengenai putri kesayangannya.

__ADS_1


"Oh , ee.... iya... tentu saja tante aku akan sangat senang sekali karena aku juga seorang lajang. " Sahut Arthur tak bisa mengendalikan apa yang diucapkannya. Oopps...!! Pekiknya dalam hati menyesali ucapannya yang seolah-olah mempromosikan diri.


"Hahhahaha... !! Mungkinkah pria sesukses anda ini masih menjomblo atau melajang. Sulit dipercaya. " Om Rizal menertawakan Arthur tak percaya sembari menyeruput tehnya.


"Begitulah Om, aku terlalu sibuk di meja kerja. " Jawab Arthur apa adanya.


"Bagaimana tentang kerjasama yang kamu katakan sebelumnya, apakah itu akan sangat menguntungkan kami?" Tanya Antonia.


"Tentu saja tante, untuk selanjutnya orang kepercayaanku yang akan menghubungi Om Rizal mengenai kerjasama ini." Jelas Arthur.


"Dan karena ini dikatagorikan proyek rahasia, semua hal harus disembunyikan dari pihak luar , termasuki identitas dan kedatanganku hari ini, bahkan putrimu tidak boleh tahu. " Lanjut Arthur lagi untuk memastikan jangan sampai Heilen tahu akan kunjungannya ini.


"Tenang saja, kami sudah terbiasa hidup dengan menjaga rahasia. Sebenarnya keberadaan putri kami, bahkan kehidupannya adalah rahasia besar yang harus kami simpan. Kamu adalah salah satu orang yang kami beritahukan kalau dia masih hidup. " Sahut Antonia dengan mimik wajah yang berubah sedih.


"Kalian sangat beruntung memiliki putri seperti dia." Gumam Arthur turut merasakan kesedihan Antonia.


"Selamat sore, apakah aku mengganggu? "Sela seorang pria tampan berkostum dokter warna hijau yang tiba -tiba muncul bersama balita mungil nan cantik dalam gendongannya. Sebuah stetoskop masih menggantung di lehernya.


Ia adalah Fransisco Cardoso.


"Nanni nannni...... " Racau balita perempuan lucu itu sembari memainkan stetoskop yang menggantung di leher Frans.


"Selamat sore Frans, kamu sama sekali tidak mengganggu. Oh iya Arthur, kenalkan ini Fransisco Cardoso , sahabat putri kami sewaktu masih kuliah di fakultas kedokteran." Seru Antonia yang dibarengi senyum oleh sang suami.


Antonia tak pernah menyebut tentang Heilen didepan sembarang orang. Siapa sebenarnya pria ini? Sepertinya dia bukan orang sembarangan. Batin Frans penuh kecurigaan.


Mendengar nama Fransisco Cardoso, darah Arthur berdesir, terngiang-ngiang kembali suara Athena yang sedang mabuk memanggilnya sebagai Frans, bahkan menciumnya karena mengira Arthur adalah Frans. Kecemburuan seketika mendera dan mendominasinya. Seperti ribuan pisau yang menusuk - nusuk hatinya.


" Dia menangis saat aku meninggalkan stetoskop ini di meja, jadi aku mengalungkan stetoskop ini di leherku untuk membuatnya tenang."Jelas Frans kepada Antonia.


"Lala, mau jadi dokter ya?"Bisik Antonia di telinga si kecil lucu itu.


" Hihihihii... Hihihii... " Si kecil hanya tertawa girang.


Frans menyerahkan si balita cantik kepada Antonia. Kemudian ia menuju meja taman dan mengulurkan tangannya kepada Arthur " Aku Frans tunangan Heilen, senang berkenalan denganmu."Ucapnya seolah-olah ingin menegaskan statusnya di dalam keluarga Munaf.


"Arthur." Desis Arthur singkat dengan garis wajah mengeras. Hanya dia yang mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Raganya diam tapi pikirannya berisik. Bayi siapakah itu, apakah bayi Heilen dan Frans? Mengapa Frans masih mengatakan dirinya tunangan Heilen sementara Arthur mendengar Heilen mengatakan kalau pertunangannya telah putus. Jadi awalnya Heilen adalah seorang dokter lalu menyeberang ke navy seals sebagai tentara medis? Pikiran Arthur berkecamuk saling sahut menyahut satu sama lain.


"Duduklah , Frans." Sapa om Rizal.


"Trimakasih om, aku duduk di sini saja di pelataran." Jawab Frans dengan wajah galau. Ia memiliki firasat kurang baik tentang pria yang baru dikenalnya itu.



"Frans, sudah berulang kali aku bilang kalau kamu jangan mengharapkan Heilen lagi, pertunangan kalian sudah berakhir karena kesalahanmu. " Ketus Antonia dengan kejam. Ia tak kan pernah lupa bagaimana Frans pernah menghancurkan hati putrinya.


Arthur bagaikan dibuai angin segar menyaksikan sikap sinis Antonia terhadap Frans.


"Aku akan memperbaikinya, kami saling mencintai dan akan selalu begitu. " Sahut Frans penuh percaya diri.


"Hhhh... Iya, namanya manusia ada saja kalanya berbuat khilaf. Antonia janganlah terlalu keras kepada Frans." Sela Om Rizal bijaksana.

__ADS_1


"Ekhem.. hem.. , baby lucu siapa namamu? Kamu sangat cantik pasti mamamu juga sangat cantik." Tanya Arthur. Dia jengah dan berupaya mengalihkan pembicaraan sambil memainkan tangan mungil balita lucu di pangkuan Antonia yang duduk pada kursi taman, tepat diantara Arthur dan Om Rizal.


"Namanya Larmina, ia biasa dipanggil Lala. Putri kami......."


"Mengadopsinya??" Gumam Arthur memotong ucapan Antonia dengan wajah terkejut. Arthur mulai ingat ini adalah bayi kecil yang ada pada bingkai foto di dalam kamar Heilen. Saat itu ia menggeledah kamar Heilen di hari-hari awal ia menginjakkan kaki di Jakarta.


"Benar tebakanmu, ia mengadopsinya. Tapi, sayang sekali keadaan membuat putriku harus jauh dari bayi ini dalam waktu yang lama. Itulah sebabnya Lala lebih dekat dekat dengan Uncle Coco, maksudku Fransisco Cardoso." Antonia menjelaskan pada Arthur.


Setidaknya Arthur bisa menarik nafas lega mengetahui bayi ini bukan bayi kandung Heilen dan Frans.


"Uncle Coco akan selalu ada untukmu. Kita bersama-sama menunggu mamamu sampai Uncle menemukannya. Karena tidak ada yang mau memberitahuku dimana mamamu sekarang. " Sahut Frans dengan maksud menyindir Antonia dan Suaminya yang merahasiakan keberadaan Heilen darinya.


Arthur berdiri dan menawarkan kedua lengannya pada baby Lala. Entah apa yang terjadi pada Larmina sehingga Heilen mengambil bayinya. Arthur menepis firasat buruk yang muncul tiba-tiba. Heilen pasti tau jawaban semua ini dan ia akan menanyakan secepatnya.


"Lala, panggil aku Papa. Pa.... pa..., ok. " Gumam Arthur sembari menangkap tubuh Lala yang disodorkan Antonia.



"Hihihihihi... Hihihi... Pa...pa..., hihihi.... " Gelak tawa Lala begitu bahagia mengikuti ucapan Arthur. Ia memainkan hidung Arthur yang mancung dengan jarinya. Arthur memeluk tubuh mungil Lala dengan erat sembari membelai rambutnya. Wajahmu sama persis seperti ibu kandungmu "Larmina". Bisik Arthur di dalam hati.


kegetiran menggores batin Arthur saat ia memandang mata bening dan polos milik sikecil Lala.Semoga ibu kandungmu baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk padanya seperti yang aku duga. Do'a Arthur dalam hati.


" Pa.. pa.. hihihi... "Canda Lala lagi sambil memainkan kancing baju Arthur. Mereka begitu cepat akrab seolah-olah telah terikat satu sama lain. Arthur menggendongnya mengitari halaman. Dan Alexus tak kenal bosan mengikuti kemana sja langkah Arthur. Tante Antonia dan Om Rizal memandang mereka dengan senyum penuh makna.


Fransisco Cardoso memalingkan muka ke arah lain. Ia benci sikap Arthur yang sok akrab kepada si kecil Lala. Ditambah lagi kehadiran roboguard yang mengawal Arthur, itu membuatnya makin insecure. Ia tahu hanya segelintir orang terkemuka yang bisa memiliki fasilitas roboguard.


Tak terasa waktu berlalu ternyata Arthur telah cukup lama bermain dengan si kecil Lala. Sementara itu Frans terus memperhatikannya sambil sesekali Frans mengobrol dengan tante Antonia dan Om Rizal. la merasa Arthur telah bersikap berlebihan sebagai seorang tamu.


Ponsel Arthur berdering, Antonia segera berlari mengambil si kecil Lala dari tangan Arthur.


Arthur mengangkat ponselnya dan memeriksa, ternyata Chen yang memanggil.


"Tak ada waktu untuk menunda-nunda lagi, proyek Spartan harus segera dimulai. Bukankah ini keinginanmu untuk memimpin proyek ini secara langsung. Spartan tidak bisa berjalan jika kamu tidak ada di Astrogun." Kicau Chen Yuan


"Heummm...., beri aku waktu dua hari saja. Aku harus ke Swiss menghadiri aniversary kedua orang tuaku." Pinta Arthur.


"Aku hanya mengingatkanmu. Semua keputusan kembali padamu Mr. G sang CEO ASTROGUN!" Ujar Chen penuh penekanan.


"Ok.Malam ini juga aku berangkat ke Swiss. " Balas Arthur dingin, kemudian menutup sambungan itu.


Arthur pun berpamitan kepada kedua orang tua Heilen. Ia memberikan kartu namanya dan berjanji akan mengirimkan perwakilan Astrogun untuk menindak lanjuti kerjasama yang Arthur maksud. Arthur juga berjanji akan mengirimkan barang-barang keperluan si kecil Lala secepatnya.


Arthur mencium kening dan pipi baby Lala dengan penuh cinta. "Tunggu papa kembali." Bisiknya.


Tak lupa Arthur berpamitan pada Frans.


"Ku harap anda tidak akan pernah kembali lagi kemari, karena itu membuat baby Lala mencampakkanku." Ucap Frans menyembunyikan ketidaksukaannya dibalik kelakarnya.


"Sayangnya, aku pasti akan kembali karena aku sangat menyukai tempat ini serta semua yang ada disini dan urusan kita belum selesai." Desis Arthur dingin. Sungguh ia begitu cemburu pada pria dihadapannya ini.


Fransisco Cardoso memandang kepergian Arthur dengan rahang mengeras.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2