The Athena Code

The Athena Code
45. Home SWISS Home (Part 1)


__ADS_3

Cologny, Canton of Geneva,


Switzerland (SWISS) , 11 Februari 2022


Bentang alam Swiss menawarkan panorama spektakuler, dari puncak gunung yang indah hingga lembah gunung bersalju.


Pegunungan Alpen mungkin adalah yang paling popular dan menakjubkan. Padang rumput Alpen yang hijau, jurang yang dalam, hutan, air terjun, ngarai, danau dan atraksi alam lainnya adalah sambutan hangat bagi para pendatang.



Tak heran jika banyak orang bilang, "Tuhan sedang bahagia saat menciptakan Swiss."


Kedua Orang tua Arthur dan Kamila , Alexander Yildiz dan Stefanie Yildiz hampir lima tahun sudah berada di Swiss. Semenjak Alexander Yildiz ditugaskan pemerintah Turki sebagai Duta Besar Turki untuk Swiss.


Sebelumnya Alexander Yildiz ditugaskan di Inggris selama lima belas tahun berturut-turut.


Rumah dinas Alexander Yildiz ada di kota Bern, sedangkan rumah pribadi yang di khususkan untuk keluarganya terletak di Kota Cologny, Canton of Geneva. Disinilah Anniversary pernikahan mereka akan dirayakan.



Untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke-30 , Alexander dan Stefanie secara khusus mengundang keluarga dan kerabat dekat mereka, termasuk Reyhan dan Ayana Sinaga. juga tak ketinggalan si keponakan ganteng, Adam Sinaga.


Anniversary pernikahan mereka kali ini adalah yang paling spesial. Dikarenakan akan dilanjutkan dengan acara pertunangan antara Aisyah kamila Yildiz dan Adam Sinaga.


Dalam ruang keluarga yang luas tampak hampir semua anggota telah berkumpul kecuali Geon Arthur Yildiz.


"Kamila , apakah ada kabar terbaru dari abangmu?" Tanya Stefanie Yildiz dengan wajahnya yang selalu teduh. Gaun terusan sutra polos lengan panjang berwarna hijau pupus yang menjadi pilihannya hari ini, semakin memancarkan aura keanggunannya.


"Hhhh... belum ma, dia selalu sibuk." Keluh Kamila yang duduk disebelah sang ayah.


Sementara Reyhan, Ayana , dan Adam Sinaga duduk berseberangan dari Alexander, Stefanie, dan Aisyah Kamila Yildiz.


"Terakhir kali papa telpon , abangmu bilang ia sudah aktif kembali di ASTROGUN. Dengan begitu sudah pasti ia sangat sibuk. Waktu itu papa tak sempat memberitahunya tentang acara pertunangan kalian. Seharusnya kamu atau Adam sudah memberitahunya." Ujar Alexander Yildiz dengan suaranya yang tenang dan kharismatik bagai seorang raja yang sedang bersabda.


Kamila dan Adam saling berpandangan. Jantung mereka sama-sama berdegup kencang.


Adam tak kuasa menahan senyum melihat garis wajah Kamila yang menegang dengan pipi yang mudah sekali memerah tiap kali ia menatapnya.


Semuanya memang tak lagi seperti dulu, kini semua terasa lebih indah. Adam menggigit bibirnya sendiri agar senyumnya tidak terlalu merekah.


"Papa, pasti abang Arthur tidak percaya dan akan meledekku kalau aku yang memberitahunya." Tukas Kamila akhirnya. Ia benar-benar malu untuk memberitahu abangnya. Sudah pasti Arthur akan menggodanya dengan kata-kata yang tajam.


"Aku yang akan memberitahu Arthur segera. " Sahut Adam Sinaga tegas. Menurutnya bagaimanapun Arthur harus tau mengenai pertunangannya dengan Kamila dan Arthur harus hadir.


"Adam memang luar biasa, kamila kamu gadis yang beruntung bisa mendampingi uda-mu." Ucap Alexander Yildiz yang sejak lama memang membanggakan Adam Sinaga. Namun ia tak pernah mengira akan ada percikan cinta diantara Adam dan Kamila. Ini benar-benar kejutan dalam keluarga besar mereka. Tugasnya sebagai orang tua adalah merestui dan membimbing hubungan mereka ke arah yang lebih baik.


"Paman, akulah yang beruntung karena Kamila bersedia menerimaku. Kalau tidak entah bagaimana jadinya aku." Sahut Adam Sinaga lugas.


"Hahahhahahaha......"


Tawa bahagia menggema dari semua yang ada di ruang keluarga itu menyambut pernyataan jujur Adam Sinaga. Kembali menciptakan semburat rona merah di pipi Kamila.


Hari beranjak siang namun suhu masih saja dingin. Di Swiss Musim sangat dingin berlangsung selama tiga bulan setengah , dari 16 November sampai 3 Maret, dengan suhu tertinggi harian rata-rata di bawah 7°C. Bulan terdingin dalam setahun di Swiss adalah Januari, dengan rata-rata terendah -2°C dan tertinggi 3°C.

__ADS_1


Kamila baru saja masuk kamarnya untuk beristirahat siang namun ponselnya bergetar dan mengambil perhatiannya.


Drrrrrt.....


"Aaah...!! Apa-apaan.. ??! " Kamila menjerit kecil setelah membaca pesan dari Arthur.


"Seratus Ribu US dolar itu hampir satu setengah milyar rupiah !" Pekik Kamila lagi sembari mengerucutkan bibir indahnya.


Ia mengetik pada layar ponselnya. Lalu tak lama kemudian Ponselnya bergetar lagi.


Drrrrrt.....


"Oke , abang. Ok! " Desisnya sembari mengetik pada layar ponselnya.


Kamila mengurungkan niatnya untuk istirahat siang, ia keluar kamar mencari Heilen. Setahunya Heilen dan Irina baru saja kembali dari melancong.


Heilen dan Irina juga turut ke Swiss mendampingi Kamila. Irina yang pertama kalinya ke Swiss menjadi sangat heboh dan ingin berkeliling sepuas-puasnya. Ia memaksa Heilen menemaninya naik kereta wisata mengelilingi lembah dan gunung Alpen.


Sedangkan Heilen di masa lalu sudah sering kali berwisata ke Swiss. Beberapa kali dengan keluarganya dan pernah juga bersama teman-teman kuliahnya di fakultas kedokteran University of California. Heilen teringat kembali pada Fransisco Cardoso bersama kenangan manis dan pahit di dalamnya.



Kamila tak menemukan Heilen di kamarnya. Samar-samar ia mendengar suara dua orang cekikikan dari taman belakang.


Kamila bergegas mencari sumber suara dan menemukan Heilen sedang menjepret Irina dalam berbagai pose. Irina bergaya tak jemu-jemu seolah-olah menemukan alam baru yang berbeda yang harus diabadikan di dalam ponselnya.


"Hai besties, kemari sebentar , ada urusan penting! " Teriak Kamila kesal.


Heilen dan Irina seketika membeku dan berbalik ke arah datangnya suara. Heilen langsung mengembalikan ponsel Irina. Akhirnya aku bisa bebas dari semua tingkah absurd Irina, bisiknya dalam hati.


"Buatku mana?" Tanya Irina polos.


"Ishh...., pijit aku saja nanti aku upah gopek." Sahut Kamila sekenanya membuat Irina spontan memanyunkan bibirnya.


Heilen mengeluarkan ponsel dari slingbagnya dan membaca pesan dari Kamila.


Model sehari


- pekerjaan berpose sebagai model


- mengenakan busana yang sudah ditentukan


- Dilarang berisik, rewel dan mengeluh


- Dilarang banyak tanya


- Boleh sambil ngemil


- Boleh sambil main ponsel


Honor US$ 100.000


Mulut Heilen menganga tak percaya. "Ini bukan penipuan kan?" Pekiknya. Seratus ribu dolar dengan pekerjaan yang tidak melelahkan hanya dalam waktu sehari. "Ah tidak, tidak. Aku tidak mau! Sudah pasti ini penipuan. " Pekiknya lagi.

__ADS_1


"Beneran, aku yang jamin, aku temenin deh. Ayo berangkat sekarang." Tukas Kamila meyakinkan Heilen.


"Terus aku gimana? " Tanya Irina berlagak pilon.


"Udah, tunggu disini aja." Sahut Kamila sambil menarik lengan Heilen agar mengikutinya. Irina kembali manyun sambil memandang Heilen yang sempat menoleh, tersenyum manis sambil melambaikan tangan padanya.


Sebuah mobil SUV mewah besutan Volkswagen tiba di halaman rumah Alexander Yildiz. Kamila menarik tangan Heilen untuk masuk ke dalamnya. Hanya ada seorang supir yang tidak mereka kenal di sana.


Heilen duduk tenang meskipun dibenaknya berkecamuk segudang pertanyaan. Ia percaya Kamila tak mungkin akan melakukan sesuatu yang merugikan mereka berdua.


Sepertinya abang Arthur benar-benar jatuh cinta pada Heilen. Tapi haruskah dengan cara seperti ini menunjukkan perasaannya. Dasar konyol. Gerutu Kamila dalam hati.


Setelah 25 menit akhirnya mereka sampai di sebuah Villa yang terletak di kawasan bukit berbunga.



Batin Kamila terus berkecamuk. Entah apa yang ada dipikiran Arthur sehingga tiba-tiba saja ia mengabarkan kalau ia sudaah ada di Cologny padahal sebelumnya ia terdengar enggan datang ke Swiss. Lalu sekarang ia bukannya datang ke rumah mereka melainkan memilih stay dulu di Vila mewah miliknya. Dan tentang Heilen... Akhh... Aku bingung..! Pekik Kamila di dalam hatinya.


Suasana Vila sepi. Kamila membuka Ponselnya yang bergetar. Arthur menyuruh mereka masuk ke kamar rias dimana dua orang make-up artist telah menunggu dengan ramah.


Heilen hanya pasrah di dandani. Toh juga kalau ada orang yang ingin mencelakai mereka ia akan melumpuhkannya dalam beberapa gebrakan, pikirnya penuh percaya diri.


Heilen diminta mengenakan gaun putih yang sangat feminin namun simpel. Rambutnya dihias bunga-bunga putih yang indah. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti seorang putri.


"Wow, Heilen sudah ku duga kamu terlalu cantik. Hanya saja kamu tak pandai berdandan." Pekik Kamila memuji kecantikan Heilen.


Setelah selesai di ruang rias, Kamila membawa Heilen ke sebuah ruangan berdinding full kaca tebal dengan tirai berwarna putih. Ruangan dengan nuansa serba putih yang menyejukkan. Dari ruangan itu pemandangan bukit berbunga masih dapat dinikmati dengan leluasa.


Di sisi lain ruangan terdapat sebuah kanvas yang sudah menempel pada easel (alat penegak kanvas saat melukis), cat minyak beraneka warna dan perlengkapan melukis lainnya.


Di sisi tempat duduk yang disediakan untuk Heilen telah disiapkan beraneka makanan ringan dan buah-buahan, juga air mineral. Bahkan alat standing Handphone yang bisa dipakai untuk meletakkan ponsel sembari berkegiatan.


Kamila mengajari Heilen berpose sebelum ia berpamitan.


"Tetaplah pada posisi ini, jangan berubah. Hmmm.... Perfect." Puji Kamila lagi. Heilen tersenyum simpul mendengarnya. Ada rasa jengah yang muncul karena ia tak pernah berdandan seperti ini.


"Apakah aku akan di lukis?" Tanya Heilen dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan.


"Dilarang bertanya. Bukankah kamu sudah membaca aturannya. Aku segera mengirim honormu, tunggu saja. Sekarang aku mau beristirahat di kamar sebelah." Tukas Kamila sembari meninggalkan Heilen dalam pose yang sudah diaturnya.



Heilen diam tak menyahut. Ia sangat percaya Kamila, Ia sudah mengenalnya dengan baik selama satu tahun terakhir ini.


Karena posisi duduknya yang menyamping Heilen tak menyadari kehadiran sosok pria tampan bertubuh tinggi atletis dengan sorot mata yang tajam dan tak berkedip memandangnya.


Nafas Arthur seketika terasa berat oleh hasrat yang tiba-tiba muncul. Ingin rasanya ia berlari menuju wanita dihadapannya dan mencumbunya.


Namun Arthur mengabaikan hasratnya.


Ia justru meraih kuas dan palet di sisi easel, kemudian ia duduk dan mulai menuang cat minyak.


"Ekhem... " Arthur sengaja berdehem untuk mendapatkan perhatian.

__ADS_1


Seketika Heilen menoleh ke arah suara. Mata indahnya terbelalak dan bibirnya ternganga tak percaya.


Bersambung#


__ADS_2