The Athena Code

The Athena Code
56. Army Mommy day


__ADS_3

Bulan Februari adalah penghujung musim dingin di wilayah Amerika, termasuk San Diego. Bahkan dikala siang hari, masih juga terasa dingin di sini.


rumah keluarga Munaf di San Diego terlihat sunyi, tak ada kegiatan latihan karate academy seperti hari-hari biasanya. Akademi diliburkan untuk menyambut kepulangan Heilen Putri Munaf.


Heilen sedang membuatkan makan siang untuk baby lala dengan sangat kerepotan. Ia menghangatkan bubur sayur mix daging merah sekitar satu menit dan membiarkan Lala bermain sendiri di atas rafsur lantai dengan pengawasan Darren.


Belum satu menit si baby sudah menjauh dari alas rafsur yang disediakan Heilen. Ia melanglang buana ke seluruh bagian ruang tengah menghamburkan barang apa saja yang membuatnya tertarik. Baby Lala dalam pengawasan Darren yang lebih banyak fokus pada layar ponselnya.


Heilen tiba di ruang tengah dengan semangkuk kecil bubur bayi di tangan. "Ooo... my god, Darreeen... bisakah melepas ponselmu sebentar saja bantu aku menjaga Lala, lihat semuanya berantakan. Sekarang juga kamu rapikan lagi semuanya! Aku akan menyuapi makan siang untuk Lala dulu." Gerutu Heilen melihat kekacauan kecil yang dibuat baby Lala.


Mendengar suara Heilen Baby Lala menoleh dan melemparkan senyum polos tak berdosa miliknya yang sangup membuyarkan segala kekesalan Heilen.


Suara Heilen juga menyadarkan Darren. "Oooh.., eh iya...aku benar-benar terlupa." Sahut Darren dengan wajah tak berdosa persis wajah polos baby Lala."Oke, oke.. aku akan membereskan semua ini sekarang. Belum sehari sudah mengeluh, aku bahkan tiap hari harus membantu mama merawat bayimu ini. Jadilah ibu yang bertanggung jawab. "Lanjut Darren dengan kalimat yang sok dewasa.


" Apa yang kamu tahu tentang tanggung jawab, Darren! Ingat kamu tidak boleh keluar sebelum semua PR mu selesai atau aku akan menghajarmu. ".Sahut Heilen bengis.


"Iya, tentu saja aku akan mengerjakan semua PR-ku terlebih dahulu." Jawab Darren tak berkutik. Ia tak mau jadi sasaran kemarahan kakak perempuannya yang terkadang barbar ini.


Darren memang tak bisa mengingkari kasih sayang sang kakak padanya, namun dikala Darren berbuat kesalahan yang keterlaluan dan membuat repot kedua orang tua mereka, maka Heilen tak segan-segan menghajarnya sebagai hukuman.


Setelah selesai makan siang dan lelah bermain, baby Lala tertidur lagi. Heilen baru merasakan sensasi kelegaan yang didapatkan seorang ibu ketika bayinya sudah tertidur. Rasanya ploong bisa melakukan aktifitas yang lain.


Heilen buru-buru mengisi perutnya yang sudah keroncongan kemudian bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Heilen berendam di bathub dan untuk pertama kalinya menyadari betapa berharganya me time bagi seorang ibu yang mempunyai bayi atau anak kecil. Terbayang wajah sang ibu di pelupuk matanya, membuat Heilen rindu.


Seusai mandi Heilen langsung mengenakan busana favoritnya. Rencananya ia akan membawa baby Lala berjalan-jalan santai di sekitar lingkungan tempat tinggalnya agar rasa bosannya bisa berkurang.


Begitu Lala terbangun dari tidurnya Heilen bergegas ke kamar bayi mungil itu untuk menyambutnya. Heilen membawa sebotol susu formula yang sudah ia siapkan. Ia melihat dicatatan yang ditinggalkan sang mama kalau saat ini waktunya baby Lala minum susu.


"Halo baby angel... kamu sudah bangun...? hmmm.... sini sama momi ya..., ayo pegang tangan momi sini.. " Ucap Heilen lembut.


"hayo .. mmmiii.... mmmiii........ " Racau baby Lala membalas ucapan Heilen. Heilen sangat senang melihat respon Lala yang sangat baik.


Heilen membawa bayi satu setengah tahun itu keluar untuk menikmati kesegaran udara ditaman belakang sembari menyodorkan botol susu formula karena baby lala lebih suka memegang botolnya sendiri.


Baby Lala menyambut botol susu dari tangan Heilen sambil berjingkat-jingkat kegirangan dan berjalan berputar-putar di rerumputan. Heilen mengamatinya dari bangku taman.

__ADS_1


Sebuah lagu dari the cranberries mengagetkan Heilen, ia menoleh layar ponselnya dan mendapati sebuah panggilan Video dari Arthur. Spontan irama jantungnya menjadi tak beraturan.


Terbayang kembali ciuman hangat mereka di Swiss, membuat Heilen menegang. Ia ragu mengangkat panggilan itu, namun kerinduannya pada aroma tubuh Arthur yang khas membuatnya tak terkendali.


"Darreeen. ., tolong jagain baby Lala sebentar, aku sedang menelpon. " Teriak Heilen sebelum mengangkat panggilan Arthur.


"Aku sedang mengerjakan PR!! " Sahut Darren dari dalam namun Heilen tak mendengarnya.


"Mmm... Haloo..., apakah aku tidak mengganggu?" Tanya Arthur sungkan. Ia bak anak remaja yang baru mengenal wanita. Merasa aneh dan tak percaya diri, rasanya lebih baik berada dihadapan Heilen secara langsung.


"Iya, haloo, bagaimana kabarmu? Aku sedikit sibuk tapi tidak apa-apa, eee... aku memang menunggu teleponmu. " Jawab Heilen dengan pipi yang memerah. Keterkejutan selalu membuat isi hatinya mengalir keluar begitu saja.


"Aku merindukanmu. Bisakah kita mengatur waktu untuk bertemu secepatnya?" Tanya Arthur langsung ke intinya. Sungguh ia sangat payah dalam hal berbasa-basi.


Heilen terdiam sesaat, mengatur ritme jantungnya. Ia menggigit bibirnya menahan gejolak kerinduan yang sama. Ia tak mengerti bagaimana semua rasa diantara mereka menjadi begitu dalam dan sulit ia selami.


"Untuk saat ini mungkin agak sulit dan aku..., hei baby Lala stop!! Itu kain kotor, lepaskan sayang, aduuuhh... " Teriak Heilen spontan saat sudut matanya menangkap si mungil sedang mempemainkan secarik kain lap yang tergeletak dipinggiran teras belakang.


Heilen berlari ke pinggiran teras menarik tubuh mungil baby Lala ke dalam dekapannya. Ia membersihkan tangan mungil itu dengan tissu basah anti bakteri yang diperuntukkan khusus untuk bayi.


"Maafkan aku, aku sedang di rumah mengasuh bayi, jadi memang sedikit sibuk." Lanjut Heilen menjelaskan situasinya pada Arthur. Baby Lala ada di pangkuannya dan ia bisa melihat penampakan Arthur pada layar ponsel.


"Pa... pa..., Pappappaaapa....hihihi..." Celoteh baby Lala sembari menatap layar ponsel dengan antusias.


"Hai , sayang... senang melihatmu. " Sapa Arthur dengan senyum manisnya dan melambaikan kelima jarinya menyapa baby Lala.


"Papapapa... papaa.. hihihihi... " Seru baby Lala sembari menjulurkan jari telunjuknya menyentuh layar tepat di hidung Arthur. Membuat Arthur dan Heilen tertawa bersamaan dalam waktu yang cukup lama. Selanjutnya mereka hanya tertawa melihat kepolosan tingkah baby Lala yang lucu.


"Dia memanggilmu papa.. , hihihihi...dia putriku, aku mengadopsinya " Tutur Heilen mulai terbuka pada Arthur.


"Oh my god, dia lucu sekali.... " Gumam Arthur masih menikmati tawa ceria Heilen.


Kamu tak perlu menjelaskan apapun, aku sudah tahu semuanya. Si cantik berhati malaikat, dua tahun pencarianku sudah terbayarkan dengan melihat kebahagiaan kita hari ini. Setiap kepingan waktu yang kita lewati selalu berharga. Gumam Arthur dalam hati.


"Arthur, aku harus memandikan baby Lala, ini waktunya dia untuk mandi." Tukas Heilen membuyarkan perenungan Arthur.

__ADS_1


"Oke, momy army. Hubungi aku segera disaat luangmu."


"Iya, akan ku usahakan." Jawab Heilen menutup percakapan itu.


Selepas percakapan telepon itu hatinya masih dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Ia selalu ragu akan perasaannya pada Arthur namun jalinan yang tercipta diantara mereka begitu kuat.


Heilen memandikan baby Lala dengan semangat yang baru.


"Darren.., dimana baby stroller?!" Teriak Heilen dari teras belakang. Ia baru saja selesai membersihkan tubuh baby lala, juga memilihkan dress mungil yang paling lucu dan cantik. Rencananya ia akan mengajak sikecil Lala berjalan-jalan santai.


"mammi....hayo....mam....mi... mbuuuu..." Celoteh baby Lala tak jelas.


"Cari sendiri dong, aku sedang mengerjakan PR nih.." Sahut Darren dari dalam rumah."


Uch.. beginikah repotnya mengasuh bayi? Benar yang pernah kubaca 'Seorang ibu harus bisa multi tasking', batin Heilen.


Menjadi seorang ibu bukan hanya butuh kekuatan tapi yang paling utama adalah kasih sayang dan kesabaran. Heilen masih bermonolog.


"Jalan-jalan sama momy yuk sayang.., mmwaah... mmwaah.. " Cecar Heilen gemas menciumi lagi pipi si mungil. Ia menggendong baby Lala dan menemukan baby stroller di balik pintu belakang. Ia meletakkan baby Lala ke dalam stroller, siap untuk berjalan-jalan santai sore ini.


"kakak, aku keluar sekarang. Ada acara dengan teman-temanku. Mungkin aku pulang agak larut." Pamit Darren yang tiba-tiba muncul dengan tampilan trendy-nya.


"Baik, pergilah. Ingat jangan berbuat onar dan membahayakan diri sendiri. Juga jangan sampai lupa waktu. " Sahut Heilen.


"Oke big Sista. Ngomong-ngomong trimakasih transferrannya. I love you. " Teriak Darren sambil berlalu meninggalkan Heilen yang kelelahan dan menguap menahan kantuk.



Heilen memutar bola matanya kesal melihat tingkah Darren.


Heilen mendorong stroller perlahan menuju pintu keluar, melewati lorong yang memisahkan dua buah kelas karate academy.


Sesampainya di halaman depan ia mendapati Fransisco Cardoso sedang keluar dari mobilnya dengan sebuah buket bunga mawar merah.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2