The Athena Code

The Athena Code
25. One hug for life


__ADS_3

"Mengenai proyek kerjasama dengan kementerian pertahanan Malaysia, kita sudah mengantongi kontraknya sebanyak 35.000 unit senjata genggam jenis revolver sperti yang biasa kita produksi. Mereka sangat antusias dan mereka juga menanyakanmu, yah tentu saja banyak orang menanyakan anda Mr. G , anda sangat populer seperti seorang rockstar." Tutur Chen bangga atas pencapaian Astrogun dengan gaya bicara yang tak pernah berubah , selalu kocak bahkan kadang di saat serius.


"Hmm, anda luar biasa, anda benar-benar hebat brother dan. .. "


"....dapat diandalkan. " Potong Chen sebelum Arthur menyelesaiakan pujiannya. "Hahhaha...." Arthur hanya terkekeh kecil melihat kelakuan tengil sahabatnya.


"Apakah kalian akan bermalam di Jakarta atau melanjutkan penerbangan kalian ke Berlin malam nanti? " Tanya Arthur.


"Yap, waktu kami sangat terbatas jadi aku tak bisa mengurus anda lama-lama di sini tuan Ceo. Disamping itu aku juga merasa kurang cocok dengan udara panas dan polusi jakarta. Bagaimana bisa kau begitu betah di sini.sungguh membuatku gila " Umpat Chen dengan wajah kesal, kemudian bangkit dari kursi kerja Arthur. "See you again brother".Lanjutnya lagi sembari beranjak untuk keluar dari kamar.


Arthur menahan tubuh Chen , merangkulnya sesaat dan berkata lirih sambil menepuk pundak Chen. " Sekali lagi, thank you brother. Akan aku usahakan kembali secepat mungkin. Sampaikan salamku untuk yang lainnya di Astrogun. "


"Oke, Jaga diri baik-baik. Bila perlu aku akan menambah personel untuk menjagamu di sini. "Tawar Chen Yuan


"No, tidak perlu. Bend dan anak buahnya sudah menjagaku dengan baik"Tolak Arthur sambil membuka pintu yang tadi ia kunci secara manual. Saat Daun pintu terbuka Arthur dan Chen sama-sama terkejut. Ada Kamila dan Irina yang sedang berusaha menjauhi pintu sambil salah tingkah serta bibi Farah yang berdiri mematung dengan wajah aneh.


" Kamila?? Oh tuhan, aku nyaris tak mengenalimu. " Pekik Chen takjub. Terakhir kali ia melihat gadis cantik ini sekitar lima tahun lalu.


"Koko..??! Haah... Koko Chen?? Benarkah ini koko Chen, kenapa semakin tua semakin tampan saja koko. Koko jahat lama tak pernah mengunjungiku. " Pekik Kamila histeris. "Mari makan dan minum dulu ,kami sedang menyiapkan menu spesial." Lanjut Kamila lagi sembari meraih lengan Chen tanpa canggung.


Bibi Farah dan Irina terdiam dan juga bingung melihat Kamila bertingkah tak sesuai skenario yang telah mereka sepakati.


"Sebenarnya koko harus cepat pergi, hmm .. tapi karena koko sangat merindukan mu gadis kecil ,baiklah kita mengobrol dul𝚞 πš‹πšŠπš›πšŠπš—πš 𝚜𝚎𝚜𝚊𝚊𝚝 . " Ucap Chen sambil menepuk - nepuk pundak Kamila yang berjalan menuruni tangga di sisinya. π™°πš›πšπš‘πšžπš› πš–πšŽπš—πšπš’πš”πšžπšπš’ πšπš’ πš‹πšŽπš•πšŠπš”πšŠπš—πš πšœπšŠπš–πš‹πš’πš• 𝚜𝚊tu tangannya masuk ke saku casualpants selutut yang ia kenakan.


"Halo semuanya, datanglah ke meja makan! Makanan sudah siap. " Teriak tante Tuty dari meja makan.


Dapur di rumah keluarga Yildiz mengusung konsep terbuka dimana tak ada sekat antara kitchen set dan meja makan, ruang yang luas dan penataan yang rapi membuat siapapun akan merasa nyaman makan disitu.


"Nah , ternyata jamuannya sudah siap. Mari kita langsung santap bersama, semoga koko chen suka masakan khas indonesia. " Ucap Kamila sembari menuntun Chen ke dapur diikuti yang lainnya.


"Bagaimana dengan Uda Adam, kenapa belum datang juga ? Bukannya kamu sudah menghubunginya Mila? " Sela Irina mengingatkan Kamila karena biasanya acara makan-makan mereka tak kan lengkap tanpa kehadiran Adam.


"Eng, anu tadi.., eee Uda sedang sibuk katanya. " Kilah Kamila berdusta , karena ia sama sekali tidak menghubungi Adam. Ia menggigit bibirnya dengan gelisah.


Sesampainya di meja makan Arthur dan Chen memilih kursi yang berdekatan.


"Wah ada tamu ganteng rupanya. " Celoteh tante Tuty ramah. Chen tersenyum dan merapatkan kedua telapak tangan di depan dadanya lalu sedikit membungkukkan badan kepada tante Tuty sebagai penghormatan ala china kepada yang lebih tua.


Chen mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Netranya membentur sosok gadis cantik yang sedang menata makanan di meja. Rambut sang gadis yang dikuncir kuda tak terikat sempurna, menyisakan beberapa helai yang tergerai dileher jenjangnya nan mulus. Membuat kecantikan alami si gadis semakin terpancar indah. Upps, wajah dari ras campuran , tapi aku tak bisa mengidentifikasinya, bisik Chen dalam hati.


"Brother , dia membuatku membayangkan sebuah rumah tangga harmonis. Dimana setiap aku pulang kerja ia akan menyambutku dengan manja dari dapur dengan apronnya dan masakan yang enak. I am falling in love at the first sight. " Pekik Chen seenaknya sambil menepuk bahu Arthur.


Arthur yang memperhatikan gelagat Chen sejak awal dimana Chen terus memelototi Heilen tanpa berkedip, langsung saja menimpali dengan kesal. "Yap, Kau selalu jatuh cinta pada pandangan pertama hampir pada semua gadis di dunia "


Kamila yang mendengar percakapan sepasang sahabat itu pun tersenyum simpul. "Hai semuanya, kenalkan ini Koko Chen, sahabat dekat abang Arthur , dia sangat baik dan punya banyak pacar wanita cantik. " Tukas Kamila dengan maksud menjelaskan kalau Chen adalah pria normal tidak seperti yang mereka sangkakan sebelumnya.


"Kamila no, no! Koko sekarang tidak seperti itu. Koko sudah serius ingin mencari calon istri yang pandai memasak. " Sahut Chen cepat sambil melirik Heilen yang masih menuangkan kuah sayur dari panci ke mangkok keramik diatas meja makan.


"Dia benar-benar type-ku. Wajahnya cantik penuh kelembutan, pandai memasak membuatnya terlihat sangat keibuan" Bisik Chen lagi ditelinga Arthur.


Oh, ****! Pekik Arthur dalam hati. Namun ia tetap tenang karena ia tau Chen memang begitu. Buaya ini bisa jatuh cinta berkali-kali dalam sehari pada wanita yang berbeda-beda dan selalu jatuh cinta pada pandangan pertama, gumam Arthur lagi dalam hati. Tapi kali ini Heilen, entah mengapa ingin rasanya Arthur merontokkan gigi Chen.


Akhirnya semua menu sudah tersaji lengkap di meja. Bibi Tuty adalah yang paling sibuk , namun kini juga sudah duduk manis di kursinya.

__ADS_1


"Koko Chen, bagaimana menurutmu kota Jakarta ini. Apakah kamu menyukainya? " Tanya Irina ramah sembari mulai menyendok hidangan di piringnya.


"Hmm, tentu saja aku suka sekali di sini, aku suka Jakarta. Sangat luar biasa dan menginspirasi. " Jawab Chen meyakinkan.


"Ekhemm, benarkah?! " Arthur berdehem. Semakin dongkol mendengar jawaban Chen yang bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya.


Sementara Chen tampak tak perduli dengan sindiran Arthur."Nah, kalian sudah tahu namaku. Aku hanya tahu Kamila dan Arthur. Mengapa yang lainnya tidak memperkenalkan diri supaya lebih akrab. " Tutur Chen lagi tak lupa sebuah senyum manis bertengger di wajahnya.


"Aku Irina , sahabat sekaligus asisten Kamila. " Jawab Irina lugas


"Senang bisa mengenalmu Irina. Bagaimana denganmu si cantik berkaos putih, kamu sangat pendiam dan pemalu. Siapakah namamu. " Goda Chen pada Heilen yang sejak awal tak pernah sekalipun bersuara.


"Panggil saja Heilen dan aku bekerja disini. " Jawab Heilen singkat.


"Hei... len??" Desis Chen tiba-tiba ia menjadi gagap. Ia tak menyangka gadis dihadapannya ini juga adalah gadis bermasker dalam video-video dan foto yang dikirim Arthur. "She is hot as hell. Pantas saja kau sangat betah di Jakarta. "Gumam Chen yang hanya terdengar oleh Arthur. " Kenapa tak bilang kalau dia Heilen, tentu aku tak akan membuatmu cemburu. "Gumam Chen lagi namun tak ada jawaban dari Arthur. Chen tau Arthur kesal tapi itu takkan lama.


Menjelang waktu magrib mereka telah selesai menyantap semua makanan tanpa sisa. Chen berpamitan dan menyampaikan terimakasih atas sambutan yang hangat kepada semua penghuni rumah . Melinda terus menerus menghubunginya untuk melanjutkan perjalanan sesuai jadwal. Dari Virginia ke Kuala Lumpur lalu ke Jakarta dan selanjutnya menuju Berlin.


"Sampai jumpa lagi koko Chen. " Ucap Kamila, Heilen dan Irina bersamaan.


"Sampai, jumpa para gadis. Senang mengenal kalian.


Arthur melepas kepergian Chen dan mengantarnya hingga ke pintu mobil.


" Oh iya aku hampir lupa, ini rekaman percakapanku dengan Laksamana Spencer dari Navy Seal. Dengarlah sendiri nanti. "Ujar Chen sambil menyodorkan sebuah flashdisk hitam kecil kepada Arthur.


Arthur memasukkan flashdisk ke saku celana , menatap mobil yang membawa Chen hingga menghilang di kejauhan.


Arthur melirik arloji, pukul 20.23 malam. Ia sudah menyalin isi flasdisk dari Chen ke dalam smartphone-nya. Mengambil posisi berbaring pada sofabed di teras belakang, memasang headphone lalu mulai mendengarkan percakapan antara Laksamana Spencer dan Chen Yuan.


Laksamana Spencer :"Kami mencurigai Barbara Clarkson yang menculik Mr. G, hampir semua bukti mengarah kepadanya. "


Chen :"Mengapa kalian tidak menangkapnya? "


Laksamana Spencer : "Bukti belum sepenuhnya kuat.FBI dan CIA masih menyelidikinya. "


Chen :"Untuk apa ia menculik Mr. G?


Laksamana Spencer :" Untuk mendapatkan semua desain teknologi persenjataan terutama Robot warrior. Mr. G pernah menolak untuk menyuntikkan artificial Intelegence (kecerdasan buatan) ke dalam robot warrior karena alasan kemanusiaan, jadi sepertinya Barbara ingin membuat proyeknya sendiri di pulau hantu Palmyra Atoll. "


Chen :"Tentu saja kami menolak hal itu. Kecerdasan buatan terkadang bisa mengalami kegagalan system dan error in order yang bisa membahayakan, terlebih lagi penggunaannya pada robot perang. Bayangkan sebuah robot warrior yang di tempatkan di daerah konflik tiba-tiba mengalami kerusakan sistem order maka bisa saja robot tersebut menembaki semua orang tanpa bisa mengidentifikasi apakah itu musuh, penjahat, hewan, orang tua, anak-anak atau bayi. Lalu bagaimana dengan proyek di Palmyra Atoll itu, apakah pemerintah sudah menanganinya? "


Laksamana Spencer :"Kami tidak tinggal diam. Sudah banyak agen yang dikirim ke sana namun semua kembali tanpa nyawa bahkan beberapa menghilang tanpa jejak. Sebab itu kami terpaksa mengutus salah satu Tim terbaik kami Seal Tim 6 untuk menyelidiki sekaligus menyelesaikan misi gelap tanpa data lengkap tersebut. "


Chen : "Maaf Laksamana, aku ingin tahu apakah Athena-1609 masih anggota SEAL TIM 6 dan apakah ia turut serta ke Palmira Atoll saat itu. "


Laksamana Spencer : "Sebenarnya dia bukan anggota SEAL TIM 6, karena kecerdasan dan ketangguhan taktisnya serta keahlian medisnya , kami selalu menyisipkan ke dalam tim terbaik kami. "


Chen :"Kami berharap bisa mengenal gadis tentara itu lebih jauh karena dia pernah membantu CEO kami Mr.G di Afganistan. Kalau boleh tau dimana dia saat ini ditugaskan? "


Laksamana Spencer :" Emmm.., Sayang sekali dia juga menjadi korban di Palmyra atoll. Bahkan didakwa sebagai pelaku pembunuhan semua mayat yang bergelimpangan di pulau itu. Karena setelah ledakan dahsyat hanya dia yang tersisa utuh bersama picu ledak di tangannya. "


Sampai di sini Arthur melepas headphone dari kepalanya lalu melemparkan begitu saja ke lantai. Seluruh tubuhnya menggigil, wajahnya pucat dan rasanya ia tak bisa menghela nafas . Dadanya terasa berat. Sensasi yang bertahun-tahun hilang , muncul lagi menyapanya. Kepalanya mulai pening dan pandangannya suram. Tiba-tiba, tubuh Anastassya Stanford yang penuh darah seakan - akan terbaring dihadapannya, di iringi πš›πšŠπšžπš—πšπšŠπš— Alicia Stanford ." Secara tidak langsung kau yang membunuh Anatasya, Kau yang membunuh anakku.!! Kau membunuhnya!!"Suara itu terus bergema di telinga Arthur semakin membuat jiwanya terguncang.

__ADS_1


Ting! Sebuah pesan masuk dari nomor Chen.Dengan jari bergetar Arthur meraih posnselnya dan menyentuh kotak pesan.


...Penerbangan kami ditunda karena kendala teknis. Staf kami inapkan di hotel , aku menginap di rumahmu saja bersama para pengawal tapi mereka akan tetap di mobil berjaga-jaga....


Ya.


Balas Arthur singkat.


Jarinya sudah tak mampu lagi menggengam sehingga ponselnya terjatuh ke sofabed. Ia Menggigil dengan nafas tersengal-sengal, hanya seorang diri di teras belakang. Saat penghuni rumah yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing.


Sementara itu Chen telah sampai di rumah keluarga Yildiz. Beruntung satpam Agus sudah mengenalnya jadi ia langsung diberi izin masuk. Berulang kali ia menelpon Arthur namun tak ada tanggapan. Akhirnya ia putuskan untuk langsung masuk sebab pintu utama rumah itu masih terbuka.


"Permisi. Apakah ada orang di dalam? " Ucap Chen sedikit berteriak.


"Chen..., help me, help....me....! "Teriakan Arthur lirih dan langsung dikenali oleh Chen. Bergegas Chen mencari sumber suara. Betapa terkejutnya ia mendapati Arthur sedang berjuang menahan sensasinya. Sudah bertahun lamanya ia tak pernah melihat Arthur seperti ini. Ia pikir Arthur telah benar - benar bebas dari "psikosomatik" yang dideritanya sejak kematian Anastasya.


"Arthur tenanglah , ini aku Chen. Aku akan panggilkan dokter terbaik di sini. Tenanglah .. " Ucap Chen khawatir sembari memeriksa beberapa bagian tubuh Arthur. Namun ia tak mengerti apa yang harus dilakukannya.


"Kamila, toloong...., semuaanyaaa toloooong...!!! " Raung Chen akhirnya. Ia panik melihat kondisi Arthur yang sangat lemah dan kesusahan bernafas.


"Ada apa, ada apa, ada apa ini?? "Bibi Farah, Kamila dan Irina muncul di teras belakang dan langsung histeris melihat keadaan Arthur.


" Koko Chen bukannya sudah pamitan tadi? Ada apa dengan abangku , koko?? Tanya Kamila sambil memijit-mijit kaki Arthur. Bulir-bulir bening mulai berjatuhan dipipi Kamila."Irina telponkan dokter Hisyam segera. "Pekik Kamila panik.


" Ba..baik."Jawab Irina langsung bergegas mencari ponselnya.


"Nanti aku ceritakan." Sahut Chen membalas pertanyaan Kamila singkat.


"Hei, ada apa ini ribut sekali. "Tanya Heilen baru muncul di teras belakang. Saat melihat kondisi Arthur spontan ia memberi perintah. " Beri ruang gerak, jangan menumpuk di dekat pasien. "


"Ini bibi bawakan minyak kayu putih, pakaikan dipunggungnya. Siapa tau tuan Arthur masuk angin. "Sela bibi Farah yang tadi bela-belain masuk ke dalam untuk mengambil minyak kayu putih.


" No! Pasien tidak butuh itu. Dia hanya butuh pelukan. Kau peluk dia. "Tunjuk Heilen pada Chen.


" A.. apa? A.. aku tidak pandai memeluk pria. Ayo Kamila. "Ujar Chen meminta Kamila untuk memeluk Arthur.


" Hiks.. Hikss, abaang..... "Tangis Kamila seraya mulai memeluk Arthur.


" Tangismu akan membuatnya semakin panik sehingga sensasinya akan semakin parah. Kamila sebaiknya kau jangan disini! Kalian semua jangan disini! biar aku yang tangani. "Perintah Heilen tenang seperti seorang dokter yang sudah terbiasa menangani pasiennya. " Bibi Farah siapkan teh chamomile hangat dengan perasan lemon. "Lanjut Heilen.


Chen, Kamila dan bibi Farah manut saja pada perintah Heilen, mereka masuk dan berkumpul di ruang tamu. Meninggalkan Arthur yang masih menahan sensasinya di atas sofabed dengan ditemani Heilen.


Heilen menggenggam tangan Arthur,mengusap-usap telapak tangan itu dengan lembut. Ia membaringkan tubuhnya di sisi Arthur yang berbaring dalam posisi miring. Ia mulai memeluk tubuh menggigil Arthur. " Tidurlah, ada aku disini. Terimakasih sudah menjalani hidupmu dengan baik. Kamu sudah berjalan sejauh ini karena kamu kuat. Tidurlah jika jiwamu sedang lelah. "Bisik Heilen dengan kata-kata motivasi terbaik yang dia punya. Sambil terus memeluk dan mengelus-elus tubuh Arthur seperti memperlakukan tubuh seorang bayi mungil.


Akhirnya Arthur mulai tenang dan perlahan terlelap. Tubuhnya tak lagi menggigil dan nafasnya perlahan mulai teratur.


Heilen mulai terbawa suasana. Memorynya kembali ke masa-masa di medan pertempuran. Tugas utamanya adalah melindungi dan mengobati personil Tim khusus atau tawanan perang yang terluka. Menenangkan mereka dalam kesakitan yang teramat saat harus meregang nyawa. Tugasnya tak akan berjalan baik jika ia tak pandai mengontrol emosinya. Entah sudah berapa prajurit yang melepaskan nafas terakhir di dalam pelukan Heilen. Saat itu pekerjaannya hanya harus tetap tenang apapun yang terjadi.


Aroma tubuh Arthur yang harum membuat Heilen ingin berlama-lama di sisinya. Heilen tau Arthur sudah tenang dan tertidur lelap.


Oh iya Mr. G nama pria itu! Pekik Heilen dalam hati. Ia memiliki gejala yang sama persis dengan Arthur. Hemm, bagaimana kabar pria kurus dan bau itu. Katanya suatu saat ia akan menemuiku. Hmm, tidak tahu balas budi , umpat Heilen merasa kesal juga mengingat pria itu. Pria yang ia temukan dalam keadaan yang sangat buruk, persis seperti kondisi Arthur tadi. Tiba-tiba sosok mr. G yang kurus , kotor dan bau melintas dibenaknya. Aku akan mencari nomor ponsel yang diberikannya waktu itu, menagih janjinya untuk memberikanku senjata yang bagus. Tapi entah dimana aku meletakkan kertas itu? Bukankah ia seorang desainer senjata canggih yang terkenal, tapi janji tinggal janji. Ujar Heilen terus bergumul dengan pikirannya sendiri.


Ia kembali fokus pada Arthur. Hish, ternyata ini kelemahanmu , selama ini kau tampak begitu sempurna. Gumam Heilen tak menyadari kalau ia pun mulai mengantuk dan akhirnya ia turut terlelap di sisi Arthur.

__ADS_1


__ADS_2