
Akhir musim dingin di Virginia mempersembahkan pagi yang cukup cerah di bulan februari 2022.
Chen Yuan sudah stand by di ruang kerjanya ditemani si robot AI cantik Anastasya.
Pada awal berdirinya ASTROGUN, Chen dan Arthur tak kenal lelah melakukan peningkatan kualitas dan kuantitas produksi. Mereka hanya fokus pada kedua hal itu karena dengan adanya Arthur di ASTROGUN para customer berdatangan dengan sendirinya tanpa perlu promosi besar-besaran. Awalnya mereka hanya mendesain dan menjual rancangan , kemudian berkembang membuat dan menjual produk sendiri.
Nama Mr G sudah sangat familiar ditelinga para petinggi militer dunia sebagai seorang perancang senjata jenius dengan inovasi teknologi terdepan. Itu adalah human branding yang setara dengan iklan besar-besaran.
Kini ASTROGUN adalah sebuah perusahaan multinasional yang tidak hanya merancang dan memproduksi persenjataan mainstream seperti senapan laras panjang, pistol revolver, mobil tempur, rudal , anti rudal dan sejenisnya. Namun juga menjalin kerjasama dengan DARPA dalam proyek Artificial Intelegency dan Robotic semenjak Arthur direkrut menjadi salah satu ilmuwan oleh DARPA. Proyek kerjasama mereka berupa penelitian juga perancangan robot warrior sebagai senjata perang masa depan.
Kesibukan Arthur membuatnya tak bisa fokus di ASTROGUN sehingga hampir 85% pengaturan perusahaan ada di tangan Chen. Sejauh yang Arthur ketahui, selama ini Chen telah menjalankan tugasnya dengan baik.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini lalu lalang karyawan ASTROGUN berjalan padat dan sibuk. Bekerja cerdas, tepat, cepat dan akurat adalah selogan mereka.
Pukul 09.00 , Chen Yuan tak juga mendapati kehadiran Arthur di ruang kerjanya. Chen sudah menghubungi nomor Arthur namun tak ada jawaban, lalu Ia menelpon Bend Akiro.
"Bend, tak biasanya si bos telat tanpa pemberitahuan. Apa yang terjadi? "
"Dia masih terlelap, aku tak berani membangunkannya, sebab sepertinya dia hampir tak tidur semalaman."
"Hmm, ada masalah apa? "
"Entahlah. Dia agak aneh semalam. Oh, itu dia sudah muncul, baik sudahi dulu karena kami akan melakukan pengawalan. "
"Ok." Tutup Chen.
Arthur turun dari lantai tujuh. Ada yang beda dengan penampilannya hari ini sehingga semua mata tertuju padanya.
Beberapa karyawan dan staf yang kebetulan berpapasan dengannya merasa janggal melihat Arthur melengkapi penampilannya hari ini dengan sling bag mini, tentu saja untuk menjaga kedua ponselnya agar tetap dekat dari jangkauan.
Biasanya kedua ponsel itu diletakkan dalam tas kerja bersama barang-barang lainnya yang ditenteng oleh Bend Akiro. Hal kecil memang, namun cukup membuat heboh Karyawan ASTROGUN.
"Hmm, hari ini dia memang tampak aneh." Gumam Chen saat menyambut Arthur yang baru tiba.
"DARPA sudah menghubungiku, mereka ingin penandatanganan kerjasama segera. Sama seperti yang diinginkan Navy Seals , sebuah proyek untuk mengimbangi FWFP milik Barbara." Ujar Chen mengabarkan langsung hal yang dirasa sangat urgent pada Arthur.
"Kita tawarkan semua type dan model robotwarrior yang ada , kecuali 'God of Beast'." Sahut Arthur sambil berjalan cepat menuju ruangannya.
"Barusan DARPA juga mengabarkan kalau Barbara Clarkson telah melarikan diri dengan bantuan The Shadows. Mereka diyakini bersembunyi ke Palmyra Atol. " Lanjut Chen.
"Breng*s*k!! " Umpat Arthur kesal. Ia teringat perkataan Laksamana Spencer yang akan mengirim Athena bersama The team ke Palmyra Atol.
"Oopss!!" Pekik Chen terkejut karena tak pernah mendengar Arthur mengumpat sekasar ini sebelumnya.
"Apakah kamu sudah mengatur jadwalku ke California hari ini?" Tanya Arthur setelah sampai di ruangannya. Kemudian ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
"Sudah. Ada urusan apa mendadak ke California?" Tanya Chen penasaran.
"Pada saatnya nanti kamu akan tahu." Jawab Arthur misterius.
"Oh, begitu? Aku akan mencari tahu sendiri dalam lima menit." Oceh Chen.
"Jangan sok keras, ini untukmu." Ucap Arthur sembari menyodorkan sebuah hard drive kepada Chen.
__ADS_1
"Hwoaaaa ..., benarkah?!! " Sahut Chen tak percaya Arthur memberikannya sesuatu yang paling diinginkannya selama ini "hyper humanoid robotic program".Sebuah program yang bisa membuat robot humanoid nyaris sempurna sebagai replika manusia.
" Jangan terlalu gembira, itu sudah di atur untuk satu robot humanoid saja. Tidak bisa digandakan."Ketus Arthur.
"Hmm, Ok! Ini cukup. Astro-airbus sudah siap untuk pemberangkatan pukul sebelas. Semuanya sudah beres sesuai pesanan anda Tuan CEO." Ujar Chen sembari berseloroh.
Arthur berangkat ke California dengan kawalan ketat Bend Akiro dan timnya , serta roboguard Alexus yang baru diremake dan diprogram ulang. Semua personil tim pengamanan diminta mengenakan pakaian casual untuk menghindari perhatian publik yang berlebihan.
Jarak dari Virginia ke California sekitar 3.600 Kilometer atau sekitar 2.400 mil dan dapat ditempuh dalam waktu lima jam menggunakan pesawat.
Astro-airbus mendarat mulus di bandar udara Internasional San Diego, California tepat sore hari pukul 16.31.
Arthur dengan mudah menemukan RA Karate Academy milik keluarga Munaf di San Diego. Tempat itu juga adalah rumah bagi keluarga Munaf.
Arthur tidak mau gegabah, ia dan tim pengamanannya memarkir kendaraan di tempat yang sedikit jauh agar bisa memantau situasi rumah keluarga Munaf terlebih dahulu.
Setelah dirasa aman ia meminta para pengawalnya menunggu di kejauhan di tempat mereka memarkir mobil. Lalu Arthur berjalan seorang diri ke rumah dua lantai dengan halaman yang cukup luas itu.Ia sudah bertekad kuat untuk berkenalan dan berusaha mendekatkan diri dengan keluarga Heilen. Ia telah menyiapkan mentalnya sejak semalam dan ia yakin kedua orang tua Heilen akan menerimanya dengan ramah.
Arthur disambut anak-anak kecil berseragam karate warna putih lengkap dengan ikat pinggang aneka warna yang sebagiannya sedang berlatih bersama seorang master karate muda dan sebagiannya lagi hanya berlarian di halaman.
"Hai, paman tinggi apakah kau akan berlatih bersama kami?" Tanya seorang bocah laki-laki kecil limatahunan dengan memperlihatkan gigi ompongnya.
"Hai, juga . Iya aku ingin berlatih bersama kalian. " Jawab Arthur sekenanya.
"Selamat sore, saudara ada keperluan apa? Apakah ada hal yang bisa saya bantu? Perkenalkan saya Franda salah satu staf di sini. " Sapa seorang wanita dari salah satu pintu utama.
"Selamat sore, aku Geon Arthur Yildiz, bisakah bertemu dengan pemilik tempat ini? Aku ada sedikit keperluan. " Jawab Arthur.
"Tunggulah sebentar, aku akan menghubungi mereka terlebih dahulu. " Ujar Franda.
"Silakan." Jawab Franda singkat.
Sementara itu di dalam rumahnya Antonia Jhonson ibunda Heilen sedang berada didepan sebuah layar pengintai. Ia mengamati wajah pria asing yang bertamu ke rumahnya. Antonia memicingkan mata penuh kecurigaan.
Teleponnya berdering, ia tahu itu sebuah panggilan dari Franda.
"Antonia, seseorang bernama Geon Arthur Yildiz ingin bertemu anda dan Mr. Munaf."
"Bawa dia ke ruang tengah, dia mencurigakan, lakukan prosedur keamanan tingkat satu." Perintah Antonia.
"Baik." Jawab Franda menutup panggilan.
Arthur sedang melihat-lihat foto-foto kegiatan yang terpampang di dinding ruang latihan utama . Selain karate, ternyata RA Karate academy juga menerima kelas Tinju, Jiu-jitsu dan kick boxing, yang terdiri dari adult Classes (kelas dewasa), Advanced Class (kelas lanjutan/ahli), Basic training (kelas untuk pemula/anak-anak), dan private class.
"Geon Arthur Yildiz, silakan anda menunggu di ruang tengah. Mari aku antar. " Seru Franda.
"Baik." Jawab Arthur singkat. Rasanya ia sedikit gugup membayangkan pertemuan dengan kedua orang tua dari wanita yang selama dua tahun ini mengisi hatinya.
Arthur mengikuti langkah Franda ke ruang tengah dengan polos dan penuh harap .Tanpa ia sadari dua pemuda tinggi besar berseragam karate lengkap dengan ikat pinggang warna hitam datang dari pintu ruangan sebelah kanan ruang pelatihan utama.
Kedua pemuda tinggi besar itu bergerak cepat menarik lengan Arthur dari belakang dan melumpuhkan Arthur dalam sekejap menggunakan teknik kuncian Heel hook. Jelas Arthur langsung tak berdaya dibuatnya.
"Awwwh... aaaaakhhhhh! Lepaskan. Lepaskan! Hei apa-apaan ini? Aaaaakhh.... . " Pekik Arthur. Tak kan ada bodyguardnya yang mendengar karena ia telah menonaktifkan semua gadget keamanan yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Kedua pemuda itu kemudian mengangkat tubuh Arthur begitu mudahnya ke sebuah ruangan tertutup dan memborgol kedua lengan Arthur dengan rantai. Tampak seorang wanita paruh baya bertubuh sedikit gemuk, rambut pendek sebahu dengan sebuah pistol revolver di tangan yang langsung ditodongkan ke arah Arthur.
Sepertinya aku terlalu naif kali ini. Oh, kesialan macam apa ini? Pekik Arthur dalam hati.
"Katakan apa tujuanmu ke rumah kami dan siapa yang mengutusmu? Apakah kamu berniat mencelakai kami untuk menekan putri kami? Jangan mimpi semudah itu pemuda bodoh! " Hardik wanita paruh baya dihadapan Arthur sambil mempermainkan pistol revolver di tangannya.
"Maafkan aku tante, aku bukan orang seperti itu. Aku kemari ingin menawarkan kerjasama. " Jawab Arthur buru-buru menyampaikan tujuan utama dari kedatangannya. Dia sudah merasa yakin kalau dihadapannya ini pastilah ibunya Heilen. Benar kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, batin Arthur.
"Ada apa ini Antonia? Siapa pemuda itu?. " Tiba-tiba ayah Heilen muncul dan sepertinya ia baru saja tiba di rumah.
"Dia sangat mencurigakan, tadi untung saja aku sedang melakukan pemantauan berkala. Aku lihat di monitor dia datang dengan dua buah mobil yang penuh para pengawal. Tapi kemudian dia datang ke rumah kita hanya sendirian saja. Mencurigakan bukan? Sepertinya ada hal yang ia sembunyikan. " Ketus Antonia.
"Iya benar itu para pengawalku, aku seorang CEO perusahaan yang ingin menawarkan kerjasama dengan kalian. " Seru Arthur berupaya jujur agar kedua orang tua Heilen tidak terus-menerus salah faham.
Ibunya mengerikan begini, pantas saja putrinya sangat barbar. Gerutu Arthur dalam hati.
"Hmmm, benarkah yang kamu katakan anak muda. Perusahaan apa yang kamu punya sehingga ingin bekerja sama dengan kami para ahli bela diri." Ucap ayah Heilen lebih bijak.
"Aku pembuat robot humanoid, aku ingin mengadopsi semua gerakan beladiri kalian ke dalam program yang akan ku tanamkan dalam sistem otak robot humanoid, sehingga mereka bisa memiliki kemampuan bela diri yang setara dengan kalian." Jawab Arthur serius.
"Omong kosong macam apa itu. Kamu kira kita sedang berakting di film science fiction. Jangan kira bisa membohongi kami anak muda. Katakan yang sebenarnya kalau tidak aku tidak segan akan menembakmu." Pekik Antonia lagi.
"Tunggu, kalau kalian tidak percaya aku akan memanggil robotku kemari." Bujuk Arthur. "Tolong lepaskan tanganku dari rantai ini. " Ucapnya dengan setenang mungkin agar tidak memancing suasana lebih runyam lagi.
Ahmad Rizal Munaf membuka borgol rantai dari kedua lengan Arthur sementara Antonia tetap mengarahkan pistol revolvernya kepada Arthur.
Arthur menyingsingkan sdikit lengan kemejanya, lalu menekan gelang remot kontrol yang melingkar di lengannya. Ia memilih mode friendly kemudian berbicara kepada Alexus melalui gelang kontrol itu.
"Alexus kemarilah ke tempatku dengan damai, aku di sini aman dan baik-baik saja. Beritahu Bend untuk tetap di sana. " Perintah Arthur pada Alexus.
Tak lama kemudian terdengar suara gaduh anak-anak diluar begitu melihat sebuah robot berjalan dihadapan mereka. Mereka sangat gembira karena mereka pikir itu robot sirkus kejutan dari Mr. Munaf.
"Alexus, fokus , teruslah ketempatku." Perintah Arthur lagi.
Alexus pun muncul dihadapan mereka. Beberapa orang anak menangis ingin tetap mengikuti Alexus namun dihalangi oleh Franda di luar.
Antonia Jhonson dan suaminya ternganga dengan apa yang ada dihadapan mereka, benar-benar sebuah robot humanoid.
"Katakan halo pada Nyonya dan Tuan Munaf. " Perintah Arthur pada Alexus.
"Halo Tuan dan Nyonya Munaf, senang bertemu dengan kalian. " Ucap Alexus ramah dan bersahabat layaknya manusia.
"Ha....looo." Jawab kedua pasangan suami istri itu spontan.
"Tapi aku belum mempercayaimu sepenuhnya anak muda. Darimana kamu tahu tentang kami dan aku ingin satu orang yang kami kenal bisa meyakinkan kami bahwa benar kamu bukan orang jahat yang sering menipu.Maaf kami harus berhati-hati karena ada hal yang harus kami lindungi." Ayah Heilen menjelaskan lagi.
Arthur tak kehilangan akal.
"Telponlah om Ibrahim saleh Munaf, kirimkan beliau fotoku dan tanyakan padanya apakah aku berbohong. " Ucap Arthur mengeluarkan jurus pamungkasnya agar kedua orang tua Heilen bisa mempercayainya.
"Hah..., kamu mengenal saudaraku Ibrahim? Baik aku akan menelponnya. " Tukas ayah Heilen seraya menelpon menteri pertahanan Indonesia yang merupakan saudara kandungnya.
__ADS_1
#Bersambung