
Kensington Gardens, London
Lima belas tahun yang lalu,
tepatnya januari 2007
Anastasya Stanford sangat bahagia hari ini. Menerima lukisan bunga yang indah dari Arthur. Tak sia -sia ia lama menunggu Arthur sejak pagi di tempat biasa mereka bertemu , di salah satu sudut kensington palace gardens.
Anastasya telah lama menyadari kalau perasaannya pada Arthur berkembang lebih dalam. Ia tak lagi menganggap Arthur sebatas sahabatnya. Sudah setahun belakangan ini dia secara diam-diam memutuskan bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Rasa nyaman dan kerinduan yang tercipta sudah cukup bagi Ana untuk memastikan perasaannya. Banyak teman-teman pria satu sekolah yang mendekatinya dengan intens, namun Ana hanya menginginkan Arthur.
Setelah berfikir keras sepanjang malam tadi, Ana akhirnya bertekad untuk jujur kepada Arthur atas semua yang dirasakannya selama ini.
“Nanti malam pesta ulang tahunku. Aku akan memberitahumu sebuah rahasia terbesarku, jadi kau harus datang tepat waktu.’’ Ucap Anastasya manja sembari memilin rambut merahnya yang indah.
‘’Kenapa tidak katakan saja sekarang supaya aku tidak penasaran. ‘’ Sahut Arthur lembut.
“Haruskah begitu?’’ Goda Anastasya , mengambil kuas dan menambahkan sentuhan warna yang lebih mencolok pada lukisan bunga yang dibuat Arthur.
“Tentu saja aku ingin tahu apakah rahasia terbesarmu itu bisa membuatku terinspirasi untuk menciptakan sebuah teknologi senjata baru paling canggih sepanjang sejarah umat manusia.”Canda Arthur.
“Selalu saja yang kau pikirkan itu persenjataan dan teknologi canggih. Kepalaku pusing mendengarnya. Bisakah sekali saja bacakan sebuah puisi atau cerita romantis untukku.’’ Tukas Anastasya bersungut-sungut dengan bibir imutnya.
“Hahahaha….itu terdengar konyol, tapi aku akan mencobanya. Aku ini penerus Leonardo Da Vinci , Seorang ilmuwan, ahli teknologi juga seorang seniman pelukis terkenal, tentunya hal yang mudah untuk membuat puisi. “Kicau Arthur bersemangat.
“Berjanjilah membuat puisi romantis sebagai kado ulang tahunku nanti malam. Aku juga ingin mempersembahkan sesuatu yang sangat spesial untukmu.”Sahut Anastasya dengan pipinya yang tiba-tiba memerah. Bagaimana tidak, karena nanti malam tepat di pesta ulang tahunnya ia berencana mengungkapkan perasaannya sekaligus mepersembahkan ciuman pertamanya untuk Arthur.
‘’oke. Potongan kue pertama mungkin untukku?’’tebak Arthur.
“No!bukan itu. Jangan menebak.”Tukas Anastasya berpura-pura kesal. “Arthur , apa kau tahu orang-orang bilang kita sangat serasi?” Lanjut Anastasya memancing.
“Mmm…benarkah. Tapi kenapa aku tidak mempercayainya.Aku seorang mahasiswa Oxford sedangkan kau anak SMA. Beruntung kamu sangat cantik, tapi mungkinkah itu serasi?”Goda Arthur dengan wajah tak berdosa.
__ADS_1
“Sombong sekali anda Tuan Yildiz!Aku tak mau jadi model lukisanmu lagi.’’Balas Anastasya. Ia begitu mengagumi kejeniusan Arthur. Bahkan kini Arthur adalah mahasiswa termuda Oxford berkat kejeniusannya , ia mendapatkannya melalui jalur akselerasi.
“Hei, jangan merajuk. Aku hanya bercanda.” Arthur merayu.
“Oke, baiklah. asal jangan lupa kenakan outfit yang kubeli kemarin buatmu.”Anastasya mengingatkan Arthur. Hatinya berbunga-bunga membayangkan mereka akan memakai busana yang senada malam nanti.
Namun belum sempat Arthur menjawab pertanyaan Ana, tiba – tiba Chen Yuan datang dengan sepedanya. Chen Yuan terlihat sangat tergesa-gesa sepertinya ada hal penting yang hendak ia sampaikan.
“Arthur, Arthur…hufh , haah…, huft…, haah!” Ujar Chen sambil ngos-ngosan.
“Ada apa?tenanglah dulu, Tarik nafas pelan-pelan ,terus minum.”Titah Ana sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Chen Yuan. Dengan cepat Chen mengambilnya lalu meminum air mineral itu .
“Haah, thankyou Ana. Aku harus bicara dengan Arthur sebentar”Ucap Chen sembari menarik lengan Arthur menjauhi Anastasya yang hanya tersenyum manis melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
“Aku berhasil mendapatkan akses masuknya. Pamanku yang membantu kita. Waktu kita Cuma lima belas menit untuk sampai ke pameran dan talkshow Freddy Branson itu.Sekarang juga kita berangkat jika kamu tak mau ketinggalan informasi teknologi persenjataan paling mutakhir abad ini.” Kicau Chen menggebu-gebu tepat di wajah Arthur.
“Oke. Aku siap , kita berangkat sekarang juga.” Arthur begitu antusias mendapat kabar dari Chen, Freddy Branson adalah ilmuwan idolanya. ‘’Ana kami pergi dulu, nanti aku kabari.’’Pamit Arthur buru-buru sembari menaiki sepedanya dan berlalu bersama Chen Yuan tanpa sempat menjelaskan lebih jauh kepada Anastasya.
Anastasya menatap kepergian Arthur dan Chen dengan kecewa. “Arthur, ingat datang nanti malam!!’’Teriaknya sekuat tenaga untuk mengingatkan Arthur. Namun Arthur sudah jauh dan sepertinya tak mendengarnya.
Kensington Palace Gardens adalah salah satu jalan yang melalui sebuah pemukiman paling mahal di dunia, dan telah lama dikenal karena kekayaan besar dari para penghuninya.
Walaupun sebenarnya mayoritas penghuninya saat ini adalah kedutaan nasional atau tempat tinggal duta besar. Sebab itu, disinilah keluarga Arthur tinggal. Menumpang dirumah kakeknya, Mustafa Yildiz yang kembali ditugaskan oleh pemerintah Turki sebagai Duta Besar untuk negara Inggris. Dan rumah mereka secara kebetulan berdampingan dengan rumah mewah bangsawan Dave Stanford ayah Anastasya.
Anastasya Stanford gadis belia empat belas tahunan yang ceria. Sayangnya kehidupan Anastasya Stanford menjadi suram sejak kematian ayahnya yang mengenaskan. Ibunya , Alicia Stanford menjadi sangat sibuk menggantikan sang suami mengurus perusahaan keluarga. Demikian juga sang kakak Roland Stanford sangat sibuk dengan kehidupan masa mudanya.
Hanya Arthur yang selalu ada menemani hari-harinya. Arthur yang tak pandai bergaul, tak punya teman selain Anastasya dan Chen Yuan.
Perayaan Ulang tahun Anastasya di selenggarakan dengan meriah. Bahkan sang Ratu Inggris Queen Elizabeth yang sangat sibuk menyempatkan diri hadir beberapa menit untuk mengucapkan selamat dan memberi hadiah spesial pada Anastasya.
Malam ini kecantikan Anastasya terpancar maksimal. Gadis remaja belia tercantik di Kensington. Terlihat sempurna dan memiliki segalanya. Namun, tak ada yang tahu betapa rapuh jiwa di dalam dirinya. Betapa ia merasa kesepian dan ditinggalkan, terlebih lagi sejak kepergian sang ayah yang sangat membuatnya terpukul. Baginya saat ini hanya Arthur yang ia miliki dan bisa membuatnya tersenyum kembali.
Seharusnya Anastasya berbahagia malam ini, sayang ketidakhadiran Roland Stanford sang kakak yang dipertanyakan beberapa tamu yang datang menggores luka di hati Ana. Bahkan ibunya Alicia hanya menampakkan diri saat kehadiran Queen Elizabeth.
__ADS_1
Awalnya Alicia sudah memberitahu Ana kalau ia tak bisa hadir karena pekerjaan yang sangat penting. Ia hanya mengirim sebuah kado mewah sebagai penghibur untuk Anastasya. Namun Staf istana memberitahukan kehadiran Ratu secara mendadak dan Alicia menyempatkan diri untuk menyambut sang Ratu, lalu selepas itu ia kembali ke kantornya tanpa sepatah katapun untuk putrinya. Anastasya menangis dalam diam, melihat sang ratu begitu penting bagi alicia sedangkan dia sama sekali tak terlihat dimata ibunya itu. Hati Anastasya remuk redam.
Malam beranjak semakin larut. Para tamu mulai pamit pulang. Anastasya masih berharap Arthur akan datang.Berharap mewujudkan semua rencana yang telah ia susun berbulan-bulan lamanya. Mengungkapkan perasaannya pada Arthur dan mulai berkencan seperti teman-teman mereka yang lain. Selama ini ia sangat yakin Arthur juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ia yakin itu karena sebagian besar waktu Arthur dihabiskan bersamanya.
Pukul sebelas malam Anastasya mulai bimbang dan gelisah. Para tamu sudah tak bersisa dan rumahnya telah sepi, namun ia masih saja berjalan mondar-mandir dari aula pesta ke kamarnya. Kembali lagi ke aula , lalu ke kamarnya lagi. Berulang-ulang seperti orang linglung.
Berulang kali ia menghubungi ponsel Arthur , namun tak ada jawaban. Tiba-tiba ia merasa hampa, tiada tempat berpijak dan bersandar. Tiba-tiba ia tersadar kalau selama ini ia hanya berfantasi. Selama ini ia hanya mencinta dan mendamba seorang diri. Kepada Arthur, kepada Roland , kepada ibunya.
Ia berhenti didepan cermin besar dekat ranjangnya. Menatap wajah sendiri dengan gamang. "Tak ada yang mencintaiku, Ayahku sendiri meninggalkanku, ibu dan kakakku mengabaikanku, bahkan Arthur tak menganggapku berarti." Gumamnya. Bulir-bulir bening berjatuhan dari kelopak matanya yang indah dan sayu. "Hahahahhaa... bodohnya engkau, kau pikir dirimu berharga! Tapi kau hanya bodoh dan tak berarti. " Pekik Anastasya pada bayangannya sendiri di cermin. Sejenak kemudian ia terlihat tenang.
Perlahan Anastasya meraih bolpoin yang tergeletak di meja belajarnya. Mulai menulis sesuatu diatas selembar kertas untuk sebuah kekecewaan terbesarnya , Arthur.
Lalu ia berbaring dengan tenang diatas ranjang. Ia masih menggengam selembar kertas yang tadi ditulisnya. Perlahan tangannya menyusup ke balik bantal besar yang bersandar di ujung ranjang , meraih sebuah pisau buah yang sangat tajam yang selalu ia simpan. Sudah beberapa kali ia berniat mengakhiri hidupnya dengan pisau ini, namun niat itu seketika padam manakala mengingat Arthur. Kali ini berbeda, tak ada lagi yang bisa menghalanginya. Tak ada lagi harapan yang bersisa dihatinya sedikitpun.
Anastasya menggores nadi kanannya , menekankan mata pisau dengan kuat bersama kehampaan yang utuh.
Crasssh!!
Ia menahan sakitnya. Ini hanya sekejap dan tak seberapa , sebentar lagi semua kesedihan dan kerisauan akan sirna. Gumamnya dalam hati.
Darah merah mulai membanjiri bedcover dan terus menetes ke lantai. Bersama kesadaran dan kenangan Anastasya yang perlahan-lahan memudar. Sekilas terlintas saa-saat ia dan Arthur berlarian di bukit, sebelum semuanya mulai gelap.
Keesokan harinya seluruh Kensington menjadi gempar dengan berita kepergian Anastasya Stanford yang mengenaskan.
Jiwa Arthur terguncang dahsyat. Ia benar-benar merasa bersalah tak sempat datang pada pesta ulang tahun Anastasya semalam.
Acara pameran teknologi persenjataan mutakhir bersama ahli senjata kenamaan Freddy Branson yang ia hadiri bersama Chen, berakhir pukul sepuluh malam. Arthur benar-benar lelah setelah mengayuh sepeda cukup jauh. Sesampainya di rumah ia langsung tertidur lelap. Besok aku akan menemui Anastasya secara khusus, janjinya semalam pada diri sendiri.
Alicia Stanford terus menyalahkan Arthur karena surat yang ada ditangan Anastasya hanya menyebut nama Arthur. Membuat jiwa remaja Arthur semakin terguncang. Sejak saat itu ia tak pernah lagi dekat dengan seorang wanitapun baik di kampus maupun di lingkungan rumahnya. Dari sinilah mulai muncul desas-desus kalau dia seorang penyuka sesama jenis.
Setiap kali ada wanita yang berusaha mendekatinya trauma itu selalu muncul, membawa sensasi baru kepada fisiknya. Jantungnya berdetak kencang seakan terlepas dari tempatnya , seluruh tubuhnya tremor, bahkan nafasnya menjadi sesak. Sebab itu ia menjauhi kontak dengan wanita. Ia melihat wanita seperti melihat hantu Anastasya.
#bersambung
__ADS_1