
Dua puluh satu tahun yang lalu, "Apa kita tidak bisa mempertahankannya? Kau yakin ingin bercerai dariku?" tanya Jeon Sungjin pada Jeon Youra, istrinya dan eomma dari Kim Seojun, putra pertamanya. "Iya, keputusanku tidak akan pernah berubah dan Seojun akan memakai nama keluargaku!" jawab Youra yang sudah terlanjur sakit hati pada pengkhianatan suaminya, walaupun berulang kali Sungjin mengatakan bahwa itu hanya kesalahan yang tidak disengaja. "Ketidak-sengajaanmu itu tetap saja menghancurkan kita dan aku tidak akan pernah bisa melupakannya!" lanjut Youra di sela isak tangisnya yang semakin membuat Sungjin merasa bersalah dengan perbuatannya.
Andai saja malam itu, Sungjin tidak mabuk berat dan tidak meniduri seorang wanita yang tidak ia kenal, ia yakin, rumah tangganya akan baik-baik saja, meski hanya berawal dari perjodohan orang tua karena ia sudah mulai belajar mencintai Youra yang sudah memberikannya seorang putra. "Maafkan aku..." hanya kata itu yang bisa Sungjin katakan berulang kali. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena sudah menyakiti wanita yang berstatus istrinya. Di sisi yang lain, Sungjin juga merasa bersalah pada wanita yang bahkan namanya ia tidak ketahui. Terlebih saat Sungjin terbangun pagi harinya, wanita asing yang sudah menghabiskan malam pertamanya bersamanya itu, sudah tidak ada di kamar hotelnya dan hanya meninggalkan tanda tanya dan rasa penasaran di hati seorang Jeon Sungjin.
Pertemuan pertama dan tidak terduga yang tidak hanya meninggalkan bekas di hati Jeon Sungjin, tapi juga di hidup Min Mirae, gadis cantik sederhana yang datang ke Pulau Jeju untuk menghadiri pernikahan adiknya yang seorang artis ibukota. Hari itu adalah hari pernikahan Lee Daeshim dan Min Miyoung, kedua orang tuaku, yang diadakan di Pulau Jeju secara tertutup. Jeon Sungjin yang merupakan atasan sekaligus sahabat appa-ku terpaksa datang seorang diri karena istrinya tengah merawat putra mereka yang sakit. Sungjin yang malam itu terlalu banyak minum sampai salah masuk kamar hotel yang jadi tempat para tamu menginap. Sungjin masuk ke kamar Mirae, bibiku, yang saat itu tengah mandi sebelum berniat istirahat setelah acara pernikahan selesai.
Tidak ada pengenalan sebelumnya di antara mereka berdua dan pertemuan keduanya hanya berawal dari ketidaksengajaan dan berakhir pemaksaan yang dilakukan Sungjin yang kehilangan akal sehatnya saat melihat tubuh indah Mirae. Mirae yang bertubuh mungil dan tidak kuasa melawan kekuatan dari Sungjin yang memiliki postur tinggi besar, hanya bisa menangis pasrah tanpa suara. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mirae mengutuk kebisuan yang ia derita sejak lahir. Hanya dalam hitungan menit, hidup gadis polos itu hancur seketika oleh pria yang tidak ia kenal. Ketakutan serta pikiran yang kacau, membuat Mirae memutuskan pergi berlari meninggalkan Sungjin yang tertidur setelah menanamkan benihnya pada Mirae.
Sejak itu, Mirae yang bisu, semakin membisu dengan tatapan kosongnya. Miyoung, eomma-ku yang menyadari senyum manis kakaknya tiba-tiba menghilang sejak hari pernikahannya, hanya bisa pasrah karena tidak mendapat jawaban apapun dari Mirae. Hari berganti bulan, pertanyaan Miyoung terjawab dengan perut Mirae yang membesar. Susah payah Miyoung meminta Mirae untuk membuka mulutnya, tapi percuma karena Mirae pun tidak tahu siapa pria itu dan kemana harus meminta pertanggungjawabannya.
__ADS_1
Daeshim, appa-ku turut membantu dengan mencari rekaman kamera pengawas di hotel tempat kejadian, tapi appa terlambat karena rekaman itu sudah dihapus oleh seseorang yang appa tidak tahu dan seseorang itu adalah Jeon Youra, istri sahabatnya sendiri. Setelah kejadian itu, Sungjin pulang dalam keadaan kacau. Youra yang curiga menemukan bekas lipstik di kemeja Sungjin yang sudah robek, serta beberapa bekas cakaran kuku di tubuh suaminya. Youra pun mengamuk dan mencari tahu dengan melihat rekaman kamera pengawas di hotel itu.
Melihat seorang wanita keluar dengan keadaan berantakan dari kamar yang 1 jam sebelumnya dimasuki sang suami, Youra semakin hancur dan langsung meminta bercerai dengan Sungjin, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Sungjin sama sekali. Sungjin yang merasa bersalah, meminta ampun pada Youra dan membujuknya agar mempertahankan rumah tangga demi Seojun, putra mereka, tapi usahanya tidak pernah berhasil, hingga perceraian itu pun tidak bisa ia hindari.
Tanpa ada yang tahu, sejak kejadian itu, diam-diam karena rasa bersalahnya yang dalam, Sungjin bersikeras mencari Mirae dengan petunjuk seadanya, meski usahanya itu juga tidak pernah membuahkan hasil sama sekali karena petunjuk satu-satunya yakni rekaman kamera pengawas sudah dihapus oleh istrinya. Pencarian dari kedua belah pihak yang sebenarnya saling terpaut ini tidak pernah membuahkan hasil karena masing-masing dari mereka melakukannya diam-diam demi nama baik keluarga yang tidak ingin dicemarkan.
"Ayo, bahagia!" ucap Miyoung juga yang saat itu menemani Mirae di rumahnya. "Berhentilah seperti ini! Bahkan jika ini berat, eonni harus bertahan demi anak yang eonni kandung. Anak ini tidak salah apa-apa. Dia hanya ingin hidup, eonni," lanjut Miyoung. Sejujurnya, Miyoung sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan, jika anak yang Mirae kandung akhirnya terlahir tanpa seorang appa. "Setidaknya, kalau dia lahir, eonni tidak akan kesepian lagi," lirih Miyoung seraya memeluk Mirae yang depresi sejak kejadian itu. Semangat hidup perempuan bisu itu hilang setelah ia mengetahui kehamilannya, bahkan perlahan menggerogoti fisiknya yang sudah terlahir lemah dan Mirae pun akhirnya hanya mampu bertahan sampai anak yang ia lahirkan berusia 6 tahun.
***
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku tahu, semua sudah tidak berguna lagi. Semua sudah terlambat. Sangat terlambat, bahkan aku baru tahu namamu hari ini, Mirae..." ucap Tuan Jeon di depan makam wanita yang akhirnya berhasil ia temukan setelah puluhan tahun ia cari. "Jika bukan Junghwa yang menunjukan foto Yongju dan mengatakan bahwa idolanya itu mirip denganku saat muda, mungkin aku tidak akan pernah menemukan kalian seumur hidupku," lanjutnya seraya meletakan sebuah dupa di depan foto cantik Mirae.
"Sejak malam itu, aku kehilangan istri dan anakku karena perceraian. Tapi aku tidak tahu, apakah pertemuan kita itu, membuatku kehilangan jalan atau apakah sejak awal aku memang tersesat karena perjodohan itu," katanya kembali mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. "Aku rasa aneh jika aku mengatakan kalau aku jatuh cinta denganmu pada pandangan pertama, padahal kita hanya bertemu sekali. itu pun dalam situasi yang salah. Sedangkan dengan wanita yang berstatus istriku selama dua tahun, aku tidak merasakan apa itu cinta," lanjutnya.
"Tapi anehnya, aku tetap ingin mencarimu sampai dapat. Bahkan saat aku sudah bersama dan menikahi wanita lain, salah satu sudut hatiku tetap ingin mencari keberadaanmu. Bukankah ini lebih aneh?" katanya seraya tersenyum pahit. "Iya, semua ini seperti takdir yang aneh. Bagaimana bisa selama ini, aku tidak berhasil menemukan kalian berdua, padahal kenyataannya kita saling terpaut sangat dekat seperti ini?" sesal Tuan Jeon yang baru mengetahui kebenarannya bahwa wanita yang ia cari adalah kakak ipar dari sahabatnya sendiri. "Aku menyesal. Sungguh menyesal karena membuat putra kita terlahir dengan masa kecil yang menakutkan seperti itu. Pasti putra kita kesepian tanpa kita berdua. Maafkan aku, Mirae. Maafkan aku..." ucap Tuan Jeon yang berkali-kali membungkukan kepalanya di depan makam Mirae.
Yongju terdiam saat melihat dan mendengarkan semua kebenaran yang dikatakan Tuan Jeon itu. Bukan hanya Yongju seorang, tapi juga ada Junghwa dan Seojun yang berdiri di samping Yongju. Tiga kakak beradik itu bersembunyi di balik dinding ruangan itu seraya menyandarkan kepala mereka di dinding, bahkan Junghwa sampai berlinang air mata mendengar cerita appa-nya itu. Sedangkan Seojun sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh. Seojun menatap ke arah Yongju dengan tatapan yang sulit diartikan. "Walau eomma-mu tetaplah penyebab perceraian appa dan eomma-ku, tapi aku bahagia melihat appa yang bahagia karena akhirnya menemukanmu," kata Seojun dalam hati.
Beberapa menit yang lalu, Seojun yang kesal dengan sikap kurang ajar Yongju, mendatangai mobil Yongju dan memaksa adiknya itu untuk kembali menemui appa mereka dengan menyeretnya ke dalam dengan kasar. Junghwa, si bungsu hanya bisa mencoba melerai keributan dua hyung-nya itu sambil mengikuti mereka di belakang dan sesampainya mereka kembali di depan makam, ketiganya hanya terdiam mendengarkan cerita masa lalu appa mereka itu.
__ADS_1