The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Satu Nama Untuk Diberi Karma


__ADS_3

Tengah malamnya, lebih tepatnya menjelang subuh, Daehyun yang tak bisa mengendalikan kesedihan hatinya, menyelinap keluar dari kamarnya yang terkunci, nekat melompat dari jendela kamarnya di lantai dua rumah mewah keluarga Kim itu. Selama menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri, Daehyun bertahan di kamarnya berpura-pura tidur, meski kedua matanya tak kunjung mau terpejam karena memikirkan keadaanku dan cara menemuiku di rumah sakit. Sekarang pun, Tuan muda Kim itu masih harus bersembunyi di malam gelap, meskipun harus menunggu sampai fajar hampir terbit, saat di mana para penjaga akan berganti tugas dan lengah.


Sedangkan di rumah sakit, tanpa melihat keputus-asaanku yang hanya tertidur sepanjang waktu karena obat penenang tadi, Yongju dan Junghwa setia menemaniku tidur di ruanganku. Sampai pagi yang menyongsong, mau tak mau membangunkan Yongju. Yongju membangunkannya Junghwa dengan pelan, tanpa ingin membangunkan aku. "Hei, bangunlah sebentar!" pinta Yongju pelan. "Ada apa, hyung?" tanya Junghwa. "Aku akan pulang lebih dulu. Kau tunggu di sini sampai eomma dan appa datang. Jaga Hana, mengerti! Dengar, tidak?" kata Yongju seperti berbisik. Junghwa yang masih sangat mengantuk, hanya mengangguk dengan mata terpejam. "Pulanglah! Biar noona aku yang jaga," balasnya. "Ya sudah, aku pulang!" kata Yongju seraya meninggalkan aku dan Junghwa.


Tak lupa, di depan ruangan Yongju juga membangunkan Hyunwo untuk mengatakan hal yang sama. Hyunwo pun memaksa dirinya bangun dan beralih masuk ke ruanganku. "Junghwa?" panggilnya membangunkan Junghwa. "Hmm?" sahut Junghwa, tanpa membuka matanya. "Aku mau membeli kopi di depan. Kau mau?" tanya Hyuwon. Junghwa mengangguk masih dengan matanya yang tertutup. Setelah mendapat jawaban, Hyunwo mencuci mukanya di kamar mandi, lalu melenggang meninggalkan aku dan Junghwa berdua, tanpa pengawal yang menjaga karena kemarin malam, Junghwa merasa cukup mereka bertiga yang menjagaku.


Junghwa kembali terlelap dalam tidurnya. Tanpa ia tahu, Daehyun yang sejak tadi mengintai situasi, melihat Yongju yang pergi dan langsung masuk setelah Hyunwo juga keluar dari kamar itu. Dalam diam, Daehyun mengamati aku dan Junghwa yang sangat lelap dan tak terusik. Perlahan, ia mendekatiku, mencium keningku sekilas, lalu melirik sebentar ke arah Junghwa yang tidur di sofa. Dengan sangat hati-hati, Daehyun menghentikan aliran infus yang terhubung di tanganku, melepaskan botolnya dari tiangnya dan meletakannya di atas perutku. Kemudian, Daehyun mulai menggendongku, berniat membawaku kabur entah ke mana.


Deg! Aku membuka mataku saat indera penciumanku menangkap aroma familiar milik Daehyun saat ia menggendongku. Aku hafal betul harum tubuhnya yang selama ini memberikan kehangatan untukku. Aku menatap wajahnya, memastikan kalau dia memang Daehyun. Anehnya, saat sudah menyadari kenyataanya kalau itu memang Daehyun, aku langsung berontak hingga hampir terjatuh dari gendongannya. Kali ini, Junghwa yang ikut terbangun saat Daehyun yang terkejut memanggilku "sayang!" saat aku hampir terjatuh. Junghwa yang sempat mengerjapkan matanya untuk mencerna situasi yang terjadi, akhirnya terkejut melihat Daehyun.


Melihat Daehyun yang juga terkejut melihat Junghwa bangun, aku langsung turun dari gendongannya. Aku berniat menjauh dari Daehyun, tapi Daehyun langsung menahanku dengan menangkap salah satu tanganku. "Sayang!" panggilnya. "Lepaskan!" kataku seraya menarik tanganku sekuat tenaga. "Daehyun, kau!" bentak Junghwa yang bergegas menghampiri kami. "Sayang, dengarkan aku dulu!" pinta Daehyun dengan sangat seraya menarik tanganku, lalu dilanjutkannya dengan menarik pinggangku. "Lepaskan! Jangan panggil aku sayang lagi! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa!" ucapku seraya beralih memukuli dadanya dengan satu tanganku karena nyatanya, Daehyun masih tak ingin melepaskan tanganku yang digenggamnya.


"Tidak, aku tidak mau kita berpisah. Tetaplah tinggal di sampingku. Tetaplah denganku. Jangan lepaskan aku yang menggenggam tanganmu," ucap Daehyun seraya melepaskan tanganku untuk memelukku. Saat itulah, aku mendorongnya dengan keras, hingga pelukannya terlepas. Aku memundurkan langkahku, tapi Daehyun mengikutiku. "Daehyun, berhenti kau!" kata Junghwa seraya menarik tangan Daehyun. Hampir saja, Junghwa melayangkan tinju pada Daehyun lagi, jika saja Junghwa tidak melihat aku menggelengkan kepala dengan tatapan memohon padanya. "Ck!" decih Junghwa kesal seraya melepaskan Daehyun dengan kasar.


Merasa diberi kesempatan, Daehyun kembali menghampiriku, tapi aku kembali memundurkan langkahku. Daehyun tertegun, lalu tersenyum sakit melihat aku yang menghindarinya dengan espresi ketakutan. "Kau ingat, dulu sebelum kita bertunangan, setiap kali kau pergi selangkah menjauh seperti ini, menghindariku seperti ini, aku hanya bisa mengambil selangkah lagi untuk mengejarmu dan itu sudahlah cukupĀ untuk mengambil hatimu," kata Daehyun dengan matanya yang mulai berair.

__ADS_1


Melihat Daehyun yang tampak hancur di depanku, membuat mataku turut berair. "Dan ribuan kali dalam satu hari, yang aku ulangi hanya mengingat wajah tampanmu yang sudah membuatku jatuh cinta, tapi semua yang kau lakukan padaku tetap sudah tak termaafkan," balasku dengan air mata yang jatuh. "Kau membuatku bahagia dengan cintamu, tapi kau juga menyakitiku dengan cintamu itu. Bahkan aku harus kehilangan bayiku. Aku tidak tahu, kehilangannya baik atau tidak, tapi tetap saja hatiku sakit, Daehyun. Kau puas? Apa kau puas sudah menghancurkanku sehancur ini?" ucapku pelan dengan linangan air mata.


"Tidak, kau salah. Aku tidak pernah berniat menyakitimu atau menghancurkanmu seperti ini. Aku bersumpah, aku dijebak! Aku tidak pernah mengkhianatimu!" kata Daehyun. Sedangkan Junghwa yang menonton kami berdua, tak sedetik pun melepaskan tatapannya dariku. "Berhentilah mengulanginya. Semua alasan itu sudah tidak ada artinya. Sekarang, pergilah. Aku sudah tidak ingin menemuimu. Terima kasih sudah memberikan rasa sakit ini dan membuatku trauma!" ucapku seraya berlalu melewati Daehyun dan berjalan ke arah Junghwa.


"Sudah aku katakan, aku tidak ingin berpisah!" kata Daehyun keras kepala seraya menghalangi langkahku dengan berdiri di depanku. "Tuhan, aku punya satu nama untukku kau beri karma, Kim Daehyun. Sekarang aku tahu, aku membencimu!" kataku dengan tatapan dan ekspresi yang dingin langsung di hadapannya. Daehyun tertegun mendengarnya, tapi sesaat kemudian dia kembali tersenyum pahit, "bahkan kau tetap luar biasa cantik meski sedang menyumpahiku! Jangan seperti ini padaku. Kau mengenalku dengan baik, aku tidak bisa tanpamu. Jangan mengatakan benci semudah ini, seolah hubungan kita semudah itu berakhir," katanya pilu.


Dari pada berujung goyah dengan wajahnya, aku memilih berlalu meninggalkannya. Aku sengaja berdiri di belakang Junghwa untuk meminta perlindungan. "Kau yakin ingin seperti ini?" tanya Daehyun tanpa membalikan badannya ke arah kami. "Kau yakin bisa tanpa aku? Yakin kau bisa sendirian?" tanya Daehyun lagi. Aku hanya diam tak menjawabnya. "Yakin bisa melupakan aku?" lanjut Daehyun. Aku yang tidak menjawabnya, malah meremas ujung baju Junghwa dengan wajah tertunduk.


"Daehyun, hentikan!" ucap Junghwa saat ia menyadari reaksiku di belakangnya. "Pergilah, sebelum aku melakukan sesuatu padamu!" ancam Junghwa. Tanpa diduga dan tanpa perlawanan, Daehyun melangkahkan kaki keluar dari ruanganku tanpa sepatah kata pun. Brukk! Aku merosot terduduk di lantai. Tiba-tiba aku merasa sendirian setelah menyaksikan punggung Daehyun yang menghilang di balik pintu. Aku membiarkannya pergi, tanpa tahu bahwa tidak "terbiasa sendirian" lebih menakutkan dari apapun. Aku tak tahu, hati Daehyun tulus mencintaiku atau tidak. Yang aku tahu, hatiku sakit dengan semua ini dan aku ingin mengakhirinya, hingga akhirnya kami berpisah tanpa mengucapkan selamat tinggal dengan penuh penyesalan.


Junghwa berjongkok di depanku, menatap dalam aku yang menangis di depannya. Dengan pelan, Junghwa meraih kedua tanganku yang menutupi wajahku. Aku mengangkat wajahku menatapnya pilu dari kebodohanku dan hatiku yang lemah. "Kenapa noona menangis seperti ini? Rasanya, aku ingin bertanggung jawab atas semua air mata noona ini," katanya lembut. Aku tertegun sambil mengerjapkan mataku menatapnya. Tuk! Junghwa menyentil dahiku, "tapi aku tidak mau jika wanitanya sejelek ini! Cuci muka sana!" katanya. Setelah melakukannya, Junghwa langsung berdiri dan meninggalkanku keluar dari ruanganku. Aku ternganga dengan sikap anehnya itu sambil mengelus dahiku yang sakit. Setidaknya, Junghwa berhasil membuatku berhenti menangis. Tanpa aku tahu, di balik pintu kamarku, Junghwa tengah menutupi wajahnya yang memerah karena tidak sadar mengatakan perkataan konyolnya yang ingin bertanggung jawab atas air mataku.


***


Di sudut ruangan yang lain, Daehyun terduduk lesu di sebuah kursi tunggu. Ia memandang lurus lorong panjang yang baru saja ia lalui dengan langkah gontai. Ruang tunggu yang masih sepi karena terlalu pagi terasa menjadi lebih besar dengan kesendiriannya. "Sial, aku masih mengingat jelas semua kenangan indah kita, bahkan setiap waktu yang aku lalui bersama tubuhmu! Bagaimana bisa aku tanpamu! Apa semua yang kita lalui, sudah tidak ada artinya? Apa semuanya harus menjadi kenangan dan kesepian?" kata Daehyun dalam hati.

__ADS_1


"Andai aku bisa melihatmu lagi, andai kau memaafkanku, andai kau mengejarku, aku ingin menunjukan segala yang aku punya, bahkan aku rela kehilangan semuanya untukmu," kata Daehyun lagi seraya masih menatap ujung lorong itu, berharap aku muncul di sana. "Apa kau tidak tahu, hatiku semakin berdetak untuk memegangmu dengan erat. Aku ingin menyampaikan semuanya padamu, aku sungguh tidak ingin kehilanganmu. Aku berharap, kau mau menerima ketulasan ini di dalam pelukanmu sekali lagi," lirih Daehyun dalam hati.


"Berlarilah padaku, Lee Hana! Aku mencintaimu..." ucap Daehyun seraya memejamkan kedua matanya. Daehyun menunggu keajaiban munculnya diriku dengan perasaan hati yang kesepian dan penuh keresahan dalam keheningan yang panjang sampai sebuah suara datang mengejutkannya. "Kim Daehyun! Apa yang kau lakukan di sini, hah!" kata Tuan Kim yang akhirnya berhasil menemukan putranya yang kabur diam-diam. Alhasil, Daehyun pun kembali digiring pulang ke rumahnya dengan pasrah.


***


Beberapa jam kemudian, Junghwa memasuki ruanganku. Dengan perlahan, Junghwa duduk di sampingku. Dalam diam, ia memandang wajahku yang kembali terlelap dengan damai setelah meminum obat. "Kasihan..." gumam nya sangat pelan. Tanpa sadar, tangan Junghwa menyentuh salah satu ujung mataku, sekedar menyeka sisa air mataku tergenang di sana dan secara tiba-tiba terlintas di benaknya senyumanku yang cantik. "Seharusnya, aku tidak menyepelekan perkataan hyung untuk menjaga noona!" gumamnya lagi.


"Sepertinya, Daehyun benar-benar tidak bisa melepaskan noona. Tapi aku janji akan melindungi noona. Aku tidak akan membiarkan Daehyun mengganggu noona lagi. Tidak akan! Jadi, tidurlah dengan tenang, noona..." lanjutnya yang tiba-tiba tersentak saat sadar tangannya menyentuh lembut pipiku. Aku yang merasakan sentuhannya, membuka mataku perlahan. "Noona? Maaf, apa aku membangunkan noona?" ucap Junghwa merasa bersalah sudah mengusikku.


Melihat aku mengangkat tanganku yang aku arahkan padanya, Junghwa mendekatkan wajahnya, mengira aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi ternyata, ia salah. Kedua tanganku meraih lengannya. Menyadari aku yang ingin bangun, Junghwa membantuku dengan meraih punggungku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. "Noona mau apa? Apa noona mau minum?" tanyanya lembut, tapi aku hanya diam sambil mengerjapkan mataku. "Apa ini mimpi?" tanyaku dengan suara parau. "Bukan," jawab Junghwa singkat.


Perlahan, aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Junghwa tertegun saat aku memeluknya. Bahkan ia tidak bergerak saat merasakan hembusan nafasku yang hangat di lehernya. Aku merebahkan kepalaku di bahunya, membenamkan wajahku di ceruk lehernya dan memejamkan mataku di sana. "Apa noona tertidur?" tanya Junghwa dalam hati saat menyadari tidak ada pergerakan sama sekali yang aku lakukan. Perlahan dan dengan sangat hati-hati, Junghwa ingin merebahkan tubuhku, tapi punggungnya yang sudah semakin menurun, terhenti saat aku bergumam pelan, "kau jahat!"


"Hah? Aku jahat?" tanya Junghwa bingung. "Kenapa kau mengkhianatiku?" lirihku pelan. Deg! Junghwa tertegun sejenak sampai ia menyadari, "Apa noona mengira aku Daehyun?" pikirnya. Junghwa pun menepuk-nepuk punggungku dengan lembut, berusaha menenangkanku. "Maafkan aku. Sekarang, tidurlah!" ucapnya berpura-pura menjadi Daehyun. "Tidak mau! Jika aku tidur, kau pasti meninggalkanku!" sahutku mulai terisak. "Tidak. Aku janji, akan tetap disini menemanimu sampai kau bangun, oke?" lanjutnya seraya membelai lembut rambutku.

__ADS_1


"Pembohong! Peluklah aku! Peluk aku sebentar saja! Jangan berkata apapun lagi!" ucapku lagi seraya langsung mengeratkan pelukanku hingga Junghwa tersentak karena dadaku yang menempel dengan dadanya. "Aduh, sekarang aku harus apa? Apa aku bangunkan saja?" pikirnya, gelisah. "Ternyata, Yongju hyung benar, membuat pria tidak bisa berkutik itu memang ahlimu! Bahkan saat kau memelukku seerat ini, aku tidak bisa menolaknya. Tapi aku begini bukan karena aku menyukaimu! Aku hanya takut membangunkanmu," katanya dalam hatinya seraya memilih diam.


Beberapa saat kemudian, "Noona?" panggil Junghwa sedikit ragu karena merasa tidak ada lagi pergerakan yang aku lakukan. "Sayang?" ucapnya pelan untuk memastikan bahwa aku sudah tidak mengigau lagi. Melihat aku yang tidak bereaksi apapun, ia merebahkanku dengan perlahan. Setelah berhasil melepaskan dirinya, Junghwa bukannya pergi malah tetap memandangi wajahku. "Aneh, kenapa aku semakin suka memandangi noona! Dulu, aku tidak suka saat noona meninggalkan Yongju hyung demi Daehyun. Tapi sekarang, aku juga tidak suka kalau memikirkan, mungkin saja noona kembali pada Yongju hyung!" pikirnya.


__ADS_2