The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Secarik Surat Untukmu


__ADS_3

Setelah yakin aku sudah tertidur pulas, perlahan Junghwa merebahkan aku di tempat tidur. Dengan perlahan pula, ia beringsut pergi. Diam-diam pemuda Jeon itu pergi ke apartemen Yongju. Dari sudut ingatannya, ia pernah melihat piano kecil yang sama seperti yang ada di video tadi, di studio kakaknya yang ada di apartemen ini. Benar saja, sebuah piano berwarna coklat terpajang di satu sisi ruangan yang baru saja ia buka ini. Junghwa pun berjalan ke arah piano kecil yang sudah lama tak dipakai itu. Junghwa membuka kain penutupnya dan sempat memainkan piano itu yang ternyata masih berfungsi dengan baik meski di atas keyboard giok putihnya, debu menumpuk diatasnya. Sungguh, penampilan yang telah terabaikan.


Tiba-tiba atensi Junghwa beralih ke layar besar yang dikelilingi sistem audio yang terpasang di dinding studio bergaya minimalis modern itu. Junghwa ingat, Yongju pernah memberitahunya password komputernya saat mengajarinya membuat lagu. Junghwa pun iseng membuka-buka komputer sang hyung. Tanpa terduga, ia malah juga menemukan file dengan namanya tertulis di atasnya. Junghwa membukanya, lalu mulai menangis sendirian. Bahkan sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ternyata, di dalam file bertajuk "Untuk Junghwa" itu, Yongju sudah membuatkan beberapa lagu baru untuk sang adik. Terlebih ada sebuah note pendek yang terselip di antaranya, yang mengatakan betapa bangganya ia memiliki seorang adik seperti Junghwa, meski baru saja mengenalnya.


Tak kuasa menahan sesak di dadanya, Junghwa muda berniat pergi dari ruangan itu. Sambil melangkah keluar, tangannya merogoh saku jaketnya untuk mencari kunci motornya. Tuk! Sebuah benda terjatuh dari saku yang sama saat ia menarik keluar kunci motornya itu. Junghwa memungutnya, lalu teringat saat di rumah sakit semalam, ia menemukan kertas di saku jaket yang Yongju kenakan saat kecelakaan. Sebelumnya, karena sibuk ia tak sempat memeriksanya. Sekarang, rasa penasaran membuatnya membuka lipatan kertas di tangannya itu. Baru dua baris pertama tulisan di dalamnya yang terbaca olehnya, Junghwa kembali melipatnya dan kembali memasukannya ke dalam saku jaketnya.


Sempat bimbang berdiri di tengah-tengah apartemen itu, Junghwa akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana, kembali ke rumahku. Rencananya, ia ingin menemuiku besok. Namun, saat motor sportnya itu memasuki halaman rumahku, ia mengubah rencananya itu saat melihat sosokku berdiri di beranda kamarku. "Apa yang dilakukannya di sana?" ucapnya seraya memarkirkan motornya. Lalu melirik jam tangannya, "astaga, sudah jam 4 subuh!" serunya, lalu kembali melihatku. "Ya Tuhan, jangan katakan dia mau melompat dari sana!" katanya sambil melepaskan helmnya dan mulai berlari ke kamarku.


Cekrek! Junghwa membuka pintu kamarku dengan nafasnya yang memburu. Kemudian, ia langsung bernafas lega setelah melihat aku yang juga sudah kembali masuk ke dalam kamar. "Ada apa denganmu?" tanyaku, terkejut melihatnya. Sambil mengatur nafasnya, "Tidak apa-apa. Tidak usah, hiraukan aku," sahut Junghwa. "Dari mana? Aku melihat kau baru datang tadi," tanyaku. "Oh, dari..." sahutnya terhenti saat tak ingin menyebutkan nama Yongju di depanku. "Aku tadi hanya jalan-jalan saja," lanjutnya, berbohong. "Sampai subuh hari?" ucapku dengan nada curiga. "Noona sendiri, apa yang noona lakukan berdiri di beranda di subuh buta seperti ini?" balasnya. "Tidak ada. Aku hanya terbangun, lalu keluar mencari angin segar, seperti katamu tadi. Ternyata, di luar sangat dingin," jawabku seraya tersenyum kecil.

__ADS_1


Aku kembali merebahkan diriku, "sekarang, aku mau tidur lagi. Jadi, pergilah ke kamarmu dan tidurlah juga!" usirku. "Baiklah," sahut Junghwa seraya berbalik dan berniat keluar dari kamarku. Namun, di depan pintu, ia kembali membukanya. "Apa sekarang perasaan noona sudah membaik?" tanyanya ragu. Aku diam tak menjawab, hanya menatapnya. "Sebenarnya, ada yang ingin aku berikan," katanya, kembali menghampiriku. "Maaf, tadi aku sempat membukanya karena ingin tahu itu apa. Tapi saat aku membaca tulisannya "untuk Hana", aku tidak jadi membacanya," lanjutnya seraya meletakkan secarik kertas itu di atas meja nakasku. Kemudian, Junghwa pun pamit sambil berkata, "Silahkan, membacanya dengan tenang. Aku akan menunggu di luar. Jika noona membutuhkanku, panggil saja aku."


Hanya dengan rasa penasaran saja, tanganku mulai membuka lipatan kertas berwarna putih itu. Namun, saat kedua mataku mengenali pemilik tulisan di dalamnya, perlahan jantungku mulai berdegup tak karuan. "Untuk Hanaku..." tertulis di bagian pojok secarik surat di tanganku itu, sama seperti yang dikatakan oleh Junghwa tadi. Tertulis pula tanggal yang tertera hari kemarin. Air mataku pun tak ayal kembali menetes, jatuh ke atas surat terakhir Yongju itu. Dengan tangan gemetar, aku membuka habis lembaran kertas surat itu dan mulai membacanya.


"Untuk Hanaku... Hari ini, aku tiba-tiba saja ingin menulis sebuah surat yang panjang untukmu, hanya karena bulan malam ini bersinar terang. Sebenarnya bagiku, jika dibandingkan dengan sinar kecantikanmu, bulan tidak akan lebih terang darimu. Sayangnya, beberapa hari ini, Hanaku tak bersinar. Sampai-sampai rasanya, aku harus menyalakan lilin kecil untuk sekedar melihat wajah cantikmu. Kau benar-benar terlihat suram, Hana!"


"Aku ingat, waktu itu adalah hari kematian eomma-ku. Malam harinya, aku yang masih berusia 6 tahun, menangis seorang diri di taman yang gelap. Tiba-tiba aku mendengar suara burung jelek bernyanyi, menggangguku menangis. Di dalam rumah, kau menangis keras, mencariku. Tanpa dipanggil, aku datang dan langsung menggendongmu, menenangkanmu. "Oh, kau, Hana. Kenapa kau menangis? Tenanglah, kau tak sendiri. Ada oppa di sini. Kau dan oppa akan selalu bersama dan oppa tidak akan pernah meninggalkanmu selamanya," kataku saat itu sambil menepuk-nepuk punggung mungilmu. Padahal aku sendiri mengatakannya dengan menangis."


"Aku sedikit lupa, mungkin ketika itu umurku masih sekitar 14 tahun, saat aku mulai menyadari, aku menyukaimu bukan hanya sebagai adikku. Saat itu, aku terbakar oleh masa remaja. Ya, hari-hari ketika aku tidak bisa melihat satu inci saja sosokmu di hadapanku, aku berdebar. Sungguh, itu perasaan yang membuatku canggung, Hana. Apalagi, aku tahu, seorang kakak tidak boleh menyukai adiknya sendiri. Selama 4 tahun aku diam, menyimpannya dalam hati, menekannya agar tak menumbuh. Namun, kau malah mengatakan hal yang sama padaku. Seolah-olah kau menyirami tunasnya dengan harapan."

__ADS_1


"Ini salah dan tak boleh terjadi, pikirku saat itu. Dengan sombongnya, aku pun memutuskan meninggalkanmu, memutuskan harapan itu. Aku melangkah sendiri tanpamu. Perlahan, mencoba hidup dengan melupakan perasaan terlarang itu secepatnya. Namun, meskipun matahari terbit sudah berlalu ratusan kali, meskipun aku pergi untuk waktu yang lama, bahkan ketika aku mencoba mendorongmu pergi, aku tetap merasa, tanpamu aku tidak akan ada. Sampai akhirnya aku tersadar, bahwa kau sudah mencari penggantiku dan aku tidak bisa menerimanya meski aku sendirilah yang memintanya. Hari saat aku menyadarinya, hari itu pula aku ingin mengejarmu dan berkata, kembalilah karena aku ingin kembali. Mari kita menyambut pagi hari bersama-sama lagi."


"Aku sangat bahagia saat kau kembali padaku. Terima kasih, karena telah memilihku saat itu. Walaupun hari-hari bersamamu menjadi tinggal kenangan sejak aku tahu ternyata kau sudah bertunangan. Kau tak tahu, Hana, betapa hancurnya aku saat itu. Bahkan aku sampai menangis sambil memeluk diriku sendiri dan mencengkram bahuku sampai mau hancur rasanya. Berhari-hari, aku mengumpulkan diriku sendiri yang hancur dibawah sinar rembulan, seperti saat aku kehilangan eomma-ku. Aku hancur lagi, Hana."


"Setiap hari, aku memaksa diriku untuk menyerah mencintaimu, untuk melupakanmu. Setiap kali aku ingin menyerah melupakanmu, aku berkata pada diriku sendiri, aku adalah oppa yang bajingan, aku pasti bisa melakukannya! Ya, aku harus mengutuk diriku sendiri untuk melupakanmu. Dan aku semakin mengutuk diriku saat aku tahu secara tidak langsung semua yang aku lakukan untuk meninggalkanmu malah menjadi pilihan yang salah untukmu dan menghancurkanmu. Maafkan aku, Hana. Jika aku tahu akan berakhir seperti ini, seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi lagi. Akulah yang bersalah."


"Rasa bersalah membuatku ingin tetap menerimamu tanpa keberatan. Kau tidak perlu mengatakan apapun, Hana. Cukup jangan pernah melepaskan tanganku selamanya karena tidak akan melepaskanmu lagi. Tapi kau kembali menelanjangi perasaanku, saat kau mengatakan bahwa kau benar-benar tidak bisa melakukannya lagi. Padahal aku membara untuk memilikimu, ingin membuatmu tetap di sampingku. Aku tidak bisa menahannya. Hubungan ini mencekikku, Hana, membuatku merasa hidup dan mati pada waktu yang bersamaan. Sampai perlahan, tidak ada jalan lain untukku selain jatuh ke dalam lubang keputusasaan. Sampai-sampai aku sempat berpikir, bagaimana jika aku muak dan menghilang."


"Duhai, Hanaku yang bodoh! Apa kau tahu arti dari bunga yang pernah aku berikan untukmu? Tapi aku yakin, kau tidak mengetahuinya karena hanya namamu saja yang artinya bunga. Anyelir putih dan tulip merah yang aku berikan saat kelulusanmu berarti cinta abadi. Mawar merah saat valentine berarti kasih sayang. Tulip kuning yang aku petik untukmu memiliki arti cinta tanpa harapan, mencintaimu tanpa logika. Anyelir merah saat hari pertunanganmu, artinya cinta yang dalam dan aku tidak akan pernah melupakanmu."

__ADS_1


"Tapi hanya karena aku sering mengirimimu bunga anyelir, hari ini, kau memberikanku anyelir dua warna. Tanpa kau tahu artinya adalah aku tidak bisa bersamamu. Makanya, aku akan berhenti memberimu anyelir mulai hari ini. Aku akan memberikanmu bunga baby breath yang artinya cinta sejati tidak akan pernah berakhir. Agar suatu saat nanti, kau akan mengingatku, entah sebagai sepupu bodoh yang rela mati untukmu atau pria terbaik yang pernah mencintaimu dengan tulus."


"Hana, aku sungguh mencintaimu. Tapi sekarang, kau bisa membuka matamu dengan tenang, karena aku akan mengembalikan semuanya ke tempatnya. Aku memanggilmu Hana dan kau memanggilku oppa. Kita adalah anak-anak eomma dan appa. Kau terlahir sebagai adikku dan akan berakhir pula sebagai adikku. Meski begitu, aku akan selalu ada untuk mengawasimu seperti do'aku yang selalu menyinarimu seperti bulan malam ini. Sekalipun kita tetap tidak bisa bersama, berjanjilah padaku, untuk tetap bersinar seperti dulu. Jadi, Hana, mari saling bersinar di tempat masing-masing. Dari oppa galakmu, Yongju."


__ADS_2