
Saat aku tersadar dari pingsan beberapa menit kemudian, eomma memintaku untuk bersiap-siap dan mengatakan pesawat pribadi keluarga Jeon sudah siap mengantarkan kami kembali ke Korea. Jadi, kami harus bergegas ke bandara. "Bagaimana dengan oppa?" tanyaku saat itu. "Tentu saja, Yongju akan tinggal," sahut appa. "Hana, ingat! Mulai hari ini eomma melarangmu menemui Yongju! Kalian tidak boleh berhubungan lagi!" kata eomma tegas. "Tapi, eomma..." sahutku. "Tidak ada tapi-tapian! Jangan membantah! Jangan membuat malu eomma dan appa! Kalian sepupu dan kau sudah punya tunangan, Hana! Apa kau ingin membuat masalah untuk eomma dan appa!" bentak eomma.
"Mulai hari, kau hanya boleh keluar rumah ditemani supir atau Daehyun!" lanjut eomma. "Appa juga akan memeriksa ponselmu secara berkala dan jika kau ketahuan masih berhubungan dengan Yongju, appa akan menghukum kalian berdua. Mengerti!" sahut appa. "Baiklah, appa. Hana mengerti," ucapku seraya mengangguk pasrah dengan wajah sendu, tapi tidak ada satu air mata pun yang jatuh dari mataku karena mungkin tanpa aku sadari, aku sudah menyiapkan diri untuk semua ini. Jujur, hatiku rasanya sakit dan berat harus berpisah dengan Yongju karena bagaimanapun aku sudah menghabiskan lebih dari separuh umurku bersamanya. Tapi aku juga sudah sadar kalau cepat atau lambat semua akan berakhir seperti ini.
Dengan langkah gontai, aku menarik koperku. Aku berpamitan dengan Tuan dan Nyonya Jeon, setelah supir yang akan mengantarkan kami ke bandara, mengambil koper itu dari tanganku dan memasukannya ke bagasi mobil. Kemudian, supir itu pun membukakan pintu untuk appa dan eomma. Tapi setelah kedua orang tuaku masuk ke dalam mobil, lalu supir itu membukakan pintu mobil untukku, aku berlari kembali ke dalam rumah mewah itu. "Hana!" teriak eomma. Aku tetap berlari dan tidak peduli dengan teriakan kedua orang tuaku yang memanggilku. "Sebentar. Sebentar saja, izinkan aku menemui oppa untuk terakhir kalinya," ucapku dengan air mata yang akhirnya lolos tak tertahan.
***
__ADS_1
"Hana?" ucap Seojun yang langsung mematung saat membuka pintu kamar Yongju dan melihat aku yang berlari menerobos masuk ke dalam kamar itu. Bahkan aku sampai menabrak Junghwa yang menghalangi jalanku. "Hana!" teriak appa yang mengikuti di belakang. "Apa lagi yang mau kau lakukan, Hana? Ayo, ikut appa pulang sekarang juga!" lanjut appa seraya menarik paksa tubuhku agar keluar dari kamar Yongju. Sedangkan Yongju langsung bangkit saat mendengar namaku dipanggil.
"Appa, lepaskan!" pintaku, "aku mohon, appa. Sebentar saja, aku ingin bicara dengan oppa. Aku berjanji, aku akan pulang setelah ini," lanjutku seraya berusaha melepaskan genggaman tangan appa yang menarik tanganku. "Tidak! Pulang sekarang juga!" bentak appa, tanpa memperdulikan rengekanku. "Appa! Aku berjanji, aku akan menuruti semua keinginan appa dan eomma, tapi tolong beri aku kesempatan sekali ini saja untuk bicara. Aku mohon, appa," ucapku lagi.
"Hana..." ucap Yongju pelan sambil dengan langkah ragu mendekati aku dan appa saat melihat wajahku yang meringis kesakitan. "Diam di tempatmu, Yongju!" bentak appa saat menyadari Yongju melangkah ke arah kami. "Appa mohon, kalian berdua, hentikan semua ini!" bentak appa lagi. Bugh! Yongju tiba-tiba berlutut di hadapan appa, "Maafkan kami, appa. Aku tahu, semua ini salahku. Kalau appa ingin menghukum kami, hukum aku saja. Tapi tolong, lepaskan tangan Hana. Hana kesakitan, appa," pintanya dengan sangat.
"Cepatlah, waktu kita tidak banyak!" ucap appa setelah menghela nafas dengan berat. Mendengarnya, eomma pun melepaskan tanganku dan membiarkan aku menghampiri Yongju yang masih berlutut. "Oppa, bangunlah!" kataku seraya membantunya untuk bangun. Setelah memastikan Yongju telah berdiri, aku memeluknya sambil berkata, "Oppa, terima kasih untuk semuanya selama ini dan maaf karena aku tidak bisa membalas semuanya." Aku melepaskan pelukanku dan kembali melanjutkan perkataanku, "Aku akan pergi sekarang dan saat aku meninggalkan rumah ini, aku harap semua perasaan di antara kita juga tertinggal di sini dan setelahnya berbahagia dengan jalan kita masing-masing."
__ADS_1
"Hana, apa maksudmu? Meskipun aku tahu ini tidak akan berubah seperti yang aku inginkan, tapi aku tidak bisa menghapus perasaan ini begitu saja," sahut Yongju seraya berusaha meraih tanganku saat aku mulai melangkah mundur darinya. Aku menarik tanganku agar Yongju tidak meraihnya. Aku tersenyum sambil menangis. "Oppa adalah cinta pertamaku, tapi sejak aku sadar bahwa semua ini kesalahan, aku sering bertanya, apa nanti aku bisa menemukannya, pria yang benar-benar mencintaiku setulus oppa? Siapa jodohku nanti? Dan ada berapa nama yang harus aku temui sampai aku menemukan satu nama terakhir yang akan menjadi jodohku itu? Tapi aku yakin, nama oppa tidak akan pernah bisa menjadi salah satunya!" lanjutku seraya dengan perlahan semakin melangkah mundur.
"Bertemu dan mencintai oppa bukan kemauanku. Takdir yang mempertemukan kita. Dan melepaskan oppa juga bukan keinginanku, tapi aku tetap harus melakukannya. Walaupun ini sangat menyakitkan untukku karena bagaimana pun kenyataannya, kita tak akan bisa saling memiliki," ucapku dengan tersenyum getir. Yongju menggeleng saat mendengarnya. "Aku mohon berhenti mengatakan ini semua. Diam lah, Hana! Jangan lanjutkan perkataanmu!" katanya yang kembali terisak. Dalam hatinya, Yongju masih berusaha menyangkal kenyataan yang ada.
"Mengertilah, oppa, ini yang terbaik untuk kita karena bagaimana pun takdirlah yang membuat kita tidak akan pernah bisa bersama dan saling memiliki," lanjutku dengan tersedu saat melihat Yongku kembali terduduk di lantai dengan pasrah. "Hana... Oppa mohon... Tutup mulutmu..." katanya dengan lirih dan terpotong-potong oleh isak tangisnya. Bahkan sekarang bukan hanya kami berdua yang menitikkan air mata, tapi semua mata yang melihat perpisahan kami.
"Aku mohon, bebaskan aku, oppa. Biarkan aku pergi. Oppa harus melepaskanku. Oppa juga harus membiarkanku untuk melepaskan oppa. Aku perlu oppa melakukannya untukku," kataku lagi seraya meremas kuat dadaku yang terasa begitu nyeri saat mengatakannya. "Bebaskan perasaan kita, oppa. Percayalah, perlahan kita bisa membebaskan diri dari perasaan kita ini. Dan yakinlah, walau tidak bersama, suatu hari kita akan bahagia karena alasan yang lain. Selamat tinggal, oppa," kataku seraya melangkah pergi meninggalkan Yongju. "Tidak, Hana. Saat di mana kau menemukan kebahagian lain, hari itu aku akan tetap menangisimu. Bagaimana aku bisa bahagia, jika kau yang selalu menjadi kebahagianku sudah memilih pergi meninggalkanku..." ucap Yongju pelan dengan kedua tangannya yang mengepal di atas lantai.
__ADS_1