The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Kau Selalu Menjadi Satu-satunya Bungaku


__ADS_3

Di dalam mobil, aku melamun mengingat Daehyun. Hal yang selalu aku lakukan, setiap kali sendirian dalam kesepian. Saat Daehyun menemuiku di rumah sakit terakhir kali, aku langsung menitikan air mata saat melihat wajah tampannya yang menggendongku. "Apa karena aku bahagia bertemu denganmu lagi atau apa karena aku sedih, mungkin saja itu pertemuan terakhirku denganmu? Aku sama sekali tidak tahu," gumamku dengan air mata yang kembali menetes saat aku memejamkan kedua mataku dengan sesak di dada.


Di saat yang sama, Junghwa tampak gelisah menunggu di rumahku sampai-sampai Hyunwo bingung melihatnya. "Tidak bisakah kau tenang? Mereka hanya jalan-jalan," kata Hyunwo yang duduk sambil memperhatikan Junghwa yang mondar-mandir di depannya. "Tidak bisa! Aku penasaran mereka ke mana. Aku penasaran mereka melakukan apa. Aku juga penasaran, kenapa appa datang ke sini dan bicara dengan paman dan bibi Lee di ruang kerja. Kenapa Seojun hyung dan eomma-nya juga ikut? Kenapa pintunya dikunci? Apa yang mereka bicarakan? Kenapa aku tidak diberitahu sama sekali? Kenapa aku menunggu di sini?" sahut Junghwa kesal.


Bagi Hyunwo, kekesalan Junghwa itu sedikit tidak beralasan. Hyunwo menganggap, Junghwa hanyalah anak kecil yang sedang cemburu karena tidak ajak pergi. Tanpa Hyunwo, bahkan Junghwa sendiri sadari, mungkin saja kegelisahannya itu menjadi sebuah pertanda buruk yang mengacu pada sesuatu yang tak pernah mereka duga sama sekali karena di dalam ruangan terkunci itu, keadaan mulai menjadi semakin rumit.


"Tujuanku datang ke sini karena aku ingin menawarkan Seojun sebagai pengganti Daehyun untuk melanjutkan pertunangan antara keluarga Kim dan keluarga Lee," ucap Kim Youra, Seojun eomma, dengan begitu anggun layaknya seorang wanita terhormat di depan kedua orang tuaku. "Eomma!" sebut Seojun tidak percaya mendengarnya. Begitu pula, kedua orang tuaku dan Tuan Jeon yang sama terkejutnya. "Apa yang kau bicarakan ini? Maksudmu Seojun dan Hana?" tanya Tuan Jeon Sungjin pada mantan istrinya itu.


"Iya, Seojun dan Hana. Bagaimana menurut kalian?" kata Youra. "Eomma, kenapa eomma tidak membicarakannya dulu denganku?" tanya Seojun pelan. "Sungjin, apa ini rencanamu?" tanya appa-ku pada Tuan Jeon. "Tidak. Aku bahkan baru tahu sekarang," jawab Tuan Jeon, "Kim Youra, bisakah kau jelaskan ini pada kami?" lanjutnya. "Aku hanya ingin melanjutkan hubungan keluarga Kim dan Lee. Seperti alasan kalian menerima lamaran Daehyun, aku juga ingin mempererat hubungan dua keluarga. Ah tidak, tapi tiga keluarga, Kim, Lee dan Jeon! Karena kalian tahu sendiri kalau Seojun putra sulung di keluarga Jeon," kata Youra.


"Lagi pula, aku dengar dari Seojun kalau keponakan kalian yang rapper itu juga menyukai putri kalian, bukan? Apa kalian tidak khawatir, jika Hana tidak bertunangan dengan pria lain, dia akan kembali mengejarnya?" jawab Youra santai. "Jaga bicaramu, dia juga putraku!" sela Sungjin. "Dan dia sepupu Hana! Apa kalian akan membiarkan mereka bersama?" sahut Youra seraya beralih menatap kedua orang tuaku. "Eomma juga tahu Yongju menyukai Hana. Bagaimana bisa eomma menyuruhku bertunangan dengan gadis yang disukai adikku!" protes Seojun.


"Nyonya Kim Youra, terima kasih sudah mengkhawatirkan mereka. Tapi kami bisa memastikan yang kau khawatirkan itu tidak akan terjadi. Lagipula, putri kami tidak sepantas itu untuk putramu yang berharga. Aku rasa, kau pun sudah tahu, apa yang sudah keponakanmu lakukan pada putri kami," kata appa-ku berusaha bersikap rendah hati. Appa-ku berusaha tetap bersikap tenang, meskipun dalam hatinya, appa juga merasa geram dengan lamaran mendadak ini. Tapi appa tidak mungkin menolaknya secara kasar, mengingat Seojun adalah putra sahabat dan atasannya.


Tidak dengan eomma-ku yang langsung berkata, "Aku menolaknya!" Semua terdiam mendengarnya. "Jangan menolaknya langsung. Kalau kalian melakukannya, itu menyakiti hatiku sebagai seorang eomma. Pikirkanlah dulu," balas Youra seraya tersenyum. "Bagaimana pun Seojun juga putra sahabatmu. Kau mengenal siapa appa-nya, tentu kau juga percaya bagaimana sahabatmu itu mendidik putranya, bukan?" lanjutnya, membuat appa-ku tidak bisa membantahnya. "Baiklah, beri kami waktu untuk memikirkannya. Kau benar, aku bisa mempertimbangkan Seojun sebagai putra Sungjin. Tapi aku juga tidak bisa mengenyampingkan perasaan anak-anak kita! Jadi, biarkan mereka sendiri yang menentukan!" kata appa tegas. "Baiklah, aku harap, aku mendapat jawaban yang baik," kata Youra seraya tersenyum sebelum undur diri.

__ADS_1


Sepeninggal eomma-nya dari ruangan itu, Seojun yang merasa tidak enak dengan kedua orang tuaku pun pamit dengan berkata, "maafkan eomma-ku, appa, paman dan bibi Lee. Aku benar-benar tidak tahu tentang ini, tapi aku akan mencoba bicara dengan eomma." Tuan Jeon menghela nafas panjang, "Memangnya, kau bisa? Kau tidak akan bisa melawan eomma-mu itu!" sahutnya pada putra sulungnya itu. "Astaga, apa lagi ini! Kenapa dia sampai berpikir menjodohkan kalian berdua, bahkan sama sekali tidak membicarakannya lebih dulu denganku!" kata Jeon Sungjin seraya memijit keningnya.


"Maaf..." ucap Seojun pelan. "Sudahlah, berhenti minta maaf. Ini bukan salahmu. Sekarang pulanglah dulu dengan eomma-mu," kata eomma. "Tunggu!" tahan Tuan Jeon, "sekarang appa tanya padamu. Jawab dengan jujur, apa kau juga menyukai Hana?" tanyanya langsung pada sang putra. "Tidak! Aku hanya menganggap Hana seperti adik perempuanku! Maaf, tapi aku benar-benar tidak punya perasaan seperti itu pada Hana," jawab Seojun cepat, tapi langsung berubah sopan saat memikirkan, mungkin saja jawaban jujurnya akan menyakiti hati kedua orang tuaku yang juga mendengarnya. Kedua orang tuaku tersenyum mendengar kejujuran Seojun yang memang dikenal sebagai anak yang sopan itu. "Baiklah, pulanglah dulu! Tapi ingat, jangan katakan dulu pembicaraan kita ini pada siapapun!" kata Tuan Jeon. "Baik, appa. Paman, bibi, aku pamit dulu," kata Seojun.


"Putramu itu memang baik. Pasti nanti bisa jadi menantu idaman! Aku yakin, kau sudah mendidiknya dengan baik," kata appa-ku seraya tersenyum melihat muka masam sahabatnya itu. "Tapi kau juga harus yakin, kalau eomma-nya itu mendidiknya dengan tidak benar!" sahut Sungjin seraya menghela nafas. "Kalian sendiri tahu, betapa materialistis wanita itu!" lanjut pria itu. "Bagaimana bisa dia terpikir menjodohkan Seojun dan Hana, padahal dia tahu..." ucap Sungjin menggebu-gebu, tapi terhenti di akhir kalimat karena tidak enak melanjutkannya di depan kedua orang tuaku. "Bahasa kasarnya, bagaimana bisa dia memberikan putra kesayangannya dan menerima calon menantu yang jelas baru saja mengalami keguguran setelah hamil di luar nikah, bahkan dengan keponakannya sendiri! Bukankah itu yang ingin kau katakan?" sambung appa-ku.


"Bukan itu maksudku!" jawab Tuan Sungjin tidak enak. "Tidak apa-apa. Aku sendiri malu jika harus menawarkan putriku pada putramu," sahut appa. "Jangan bicara seperti itu! Jika memang salah satu putraku, selain Yongju, ada yang menyukai putrimu, aku akan merestuinya!" kata Tuan Jeon serius. "Tapi kau dengar sendiri bukan, kalau Seojun hanya menganggap Hana, adiknya? Youra pasti punya rencana di balik lamaran ini! Kalian sendiri tadi mendengarnya bukan? Bahkan dia tidak membicarakannya dulu dengan Seojun dan langsung ke sini melamar Hana! Siapa tahu, bahkan anggota keluarga Kim yang lain juga tidak mengetahuinya!" lanjut Tuan Jeon yakin.


Sementara Tuan Jeon dan kedua orang tuaku membicarakan lamaran ini, Seojun dan ibunya juga membicarakannya di perjalanan mereka menuju rumah Kim Youra. "Diamlah dan lakukan saja semua yang eomma perintahkan! Ini satu-satunya cara untukmu mendapatkan perusahan appa-mu!" kata Youra seraya menatap tajam Seojun yang berusaha melawan kemauan eomma-nya itu. "Eomma, aku mohon, tolong mengertilah!" rengeknya sambil masih fokus mengemudi. "Apa kau tidak bisa menuruti permintaan eomma ini? Apa eomma tidak boleh meminta sesuatu pada putranya!" kata Youra marah.


"Eomma, berhentilah membicarakan perusahaan! Aku ingin menjadi dokter, bukan pengusaha! Appa juga memberikan sebuah rumah sakit pribadi untukku. Apa itu masih kurang?" jawab Seojun mulai frustasi. "Tidak ada yang bisa kau berikan pada eomma! Kau hanya menerimanya dari eomma! Apa kau tidak bisa membalasnya dengan membuat eomma bahagia melihatmu menjadi penerus appa-mu?" kata Youra mulai terisak. "Eomma, kenapa bicara seperti itu?" kata Seojun, merasa bersalah melihat air mata sang ibu. "Kau memang anak tidak tahu cara berterimakasih!" ucap Youra seraya merajuk memalingkan wajahnya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang sakit hati eomma!" lanjutnya mulai mengingat bagaimana ia kehilangan semuanya saat ayah dari putranya itu mengkhianatinya.


"Kau tidak pernah mau mengerti, eomma hanya ingin memastikan kau mendapatkan apa yang memang seharusnya menjadi milikmu! Kalau kau menikah dengan Hana, sekalipun kau kehilangan perusahan pusat, kau pasti mendapatkan perusahaan di Korea karena keluarga Lee yang menjadi mertuamu kelak. Kau bisa tetap menjadi dokter seperti keinginanmu itu dan kau bisa menyerahkan perusahaan pada orang kepercayaanmu atau Hana yang akan menjadi istrimu!" kata Youra sambil menangis. Seojun tertegun mendengar rencana sang eomma yang menurutnya terlalu jauh. "Eomma..." panggil Seojun dengan suara lembut, tapi Youra tak bergeming, hanya menatap keluar jendela mobil dengan air matanya yang membasahi wajahnya.


Seojun sesekali melirik wanita yang sudah melahirkannya itu, tanpa tahu harus berkata apa lagi untuk membujuknya. "Eomma..." panggilnya lagi. "Hanya dengan memanggilnya seperti ini, kenapa hati ini sakit seperti ini? Eomma benar, eomma sudah memberikanku segalanya. Eomma tidak bisa memberikanku lebih banyak lagi. Sekarang giliran putramu ini untuk memberimu kebahagiaan, tapi haruskah ini yang eomma minta berikan?" pikirnya.

__ADS_1


Sampai mobil itu berhenti di depan rumah mereka, Youra tetap tidak menghiraukan panggilan sang putra. Youra keluar dari mobil tanpa mengatakan apa-apa dan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Seojun yang terpaku menatap kepergian ibunya dari balik kaca mobil. "Ya Tuhan, kenapa air mataku jatuh seperti ini? Apa aku sudah melukai hati eomma?" ucap Seojun lirih seraya memandang sosok yang sangat berharga dalam hidupnya itu. Sosok wanita yang sangat cantik dibandingkan siapapun di dunia ini di matanya.


Seojun pun menjadi dilema memikirkan permintaan eomma-nya itu. Hal yang sangat sulit untuk ia lakukan, jika mengingat perasaan Hana, Daehyun dan juga Yongju. Tapi setiap kali ia mengingat eomma-nya yang sering menangis setiap kali membahas perusahaan appa-nya, hatinya yang lemah selalu merasa sakit. "Kenapa semua jadi seperti ini? Berapa kali aku sudah membuat eomma menangis?" lirihnya lagi seraya menyandarkan kepalanya di kursi kemudi. "Apa aku harus mengkhianati ketiganya?" lanjut Seojun seraya menghela nafasnya yang terdengar pasrah.


***


Akhirnya, Yongju keluar dari toko bunga itu dengan dua buket bunga di tangannya dan akhirnya juga, senyuman manis yang sejak tadi ia sembunyikan, mengembang indah di wajah putihnya saat melihat aku cemberut menunggunya. Gummy smile yang menggemaskan dan sangat manis khas miliknya itu yang selalu melelehkan hatiku. "Masih marah?" tanyanya padaku yang berdiri sambil bersandar di mobilnya. Aku yang tidak ingin larut dalam kesedihan mengingat Daehyun, memutuskan keluar dari mobil menunggunya sambil menghirup udara segar malam ini dan mengamati lalu lalang orang yang melewati jalan ini.


Mendengar pertanyaannya itu, aku semakin memanyunkan bibirku. Karena gemas, senyuman semanis gula itu semakin melebar. Bahkan membuat mata pemiliknya menyipit sambil terkekeh. "Oppa tadi hanya bercanda. Tidak usah kesal seperti itu!" katanya seraya mengacak mengacak rambutku dengan gemas. "Oppa!" bentakku semakin kesal. Yongju tersenyum lembut melihatku. "Ini, tolong berikan pada eomma!" katanya seraya menyerahkan salah satu buket bunga di tangannya. "Untuk eomma?" tanyaku saat menyambutnya. "Iya. Eomma pasti lelah dengan masalah kita," jawabnya dengan senyum yang semakin kecil.


"Dan ini, untukmu!" lanjutnya seraya menyerahkan buket bunga yang satunya. Aku memandang buket berisi bunga baby breath putih itu yang tampak cantik dengan bunga kecilnya plus pembungkusnya yang berwarna softpink. "Kenapa?" tanyanya seraya ikut memandang bunga itu. "Bukan apa-apa," kataku dengan tersenyum kecil. "Tersentuh? Jangan! Itu hanya hadiah kecil dari oppa," katanya berubah swag dan gayanya yang menyebalkan. Bibirku mencibir melihatnya dan membuatnya tertawa. "Kau marah lagi? Bukankah benar itu hanya hadiah kecil dan tidak ada apa-apanya karena selama ini, oppa sudah memberikan dunia oppa yang membuatmu selalu berbunga-bunga?" katanya menggodaku sambil tertawa.


"Kalau begitu, terima kasih, Tuan Min Yongju. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mengingat kebaikan anda!" balasku balik meledeknya. "Tentu saja, nona muda Lee. Kau harus mengingatnya sampai mati!" balasnya seraya menjulurkan lidahnya. Aku tersenyum malu-malu sambil memalingkan wajahku darinya karena menahan tawaku. "Sudah, ayo kita pulang. Aku lapar," kataku sambil kembali memalingkan wajahku.


Cup! Yongju mengecup lembut keningku dan membuatku terdiam sambil menatapnya. "Meskipun kau sudah melupakan cinta pertamamu pada oppa, oppa akan tetap mengingatnya sampai oppa mati dengan sepenuh hati karena selamanya, hanaku akan selalu menjadi satu-satunya bungaku. Jadi, tolong izinkan aku mengatakannya untuk yang terakhir kalinya bahwa aku mencintaimu dan akan selalu tetap mencintaimu..." ucapnya begitu tulus seraya tersenyum begitu lembut pula.

__ADS_1


__ADS_2