The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Jika Ada Yang Menginjak Kakimu, Injak Balik Kepalanya!


__ADS_3

Seojun berjalan ke arah pintu saat seorang pelayan di rumahku mengatakan ada kurir yang mengantarkan makanan. Karena lapar, Seojun meminta Namgil memesan makanan untuk mereka. "Permisi, ini makanannya dan ini tagihannya," kata kurir tersebut menyerahkan bungkusan pada Seojun seraya tersenyum ramah. Seojun pun menerimanya sambil melihat kertas putih yang berisi tagihannya. "Hei, Namgil, kemarilah!" panggil Seojun dan Namgil pun langsung menghampiri hyung-nya itu. "Bayar!" kata Seojun seraya menempelkan kertas itu di dada Namgil.


"Ah, sebentar, aku ambil dompetku dulu di mobil," kata Namgil seraya mengambil kertas itu yang terjatuh ke lantai. "Kenapa kau tinggalkan dompetmu di mobil? Sudah, Junghwa saja! Di mana dia?" sahut Seojun. "Bukankah dari tadi dia menunggu di depan kamar Hana? Sepertinya, dia tadi menghubungi Yongju hyung," jawab Namgil. "Hah! Maksudmu, Junghwa memberitahu Yongju? Astaga, anak nakal itu!" sahut Seojun tampak khawatir. Seojun pun ingin mencari Junghwa untuk memastikannya, tapi ia teringat kurir di depannya yang masih menunggu pembayaran.


Seojun melirik name tag di baju kurir itu, "Hyunwo? Bolehkah aku membayarmu dengan Dollar?" tanya Seojun. "Aku baru tiba dari Amerika. Jadi, aku tidak punya uang Won. Sedangkan adikku ini meninggalkan dompetnya di mobil. Bagaimana?" lanjutnya. Hyunwo jadi bingung memikirkan bagaimana ia harus menghitung tagihan dalam Dollar. "Boleh, tidak?" tanya Seojun lagi. "Bagaimana menghitungnya? Apa tidak ada uang Won saja?" tanya Hyunwo. "Tidak ada. Ini uang asli, apa kau pikir aku menipumu?" kata Seojun seraya memperlihatkan isi dompetnya.


"Sudahlah, hyung. Biar aku ambil dompetku saja atau begini, aku bayar pakai aplikasi saja, oke?" usul Namgil seraya mengeluarkan ponselnya, tapi Seojun yang keras kepala mencegahnya. "Sudah, terima saja! Tidak usah dihitung. Aku akan memberikan lebih. Tidak usah dikembalikan. Sisanya untukmu saja," kata Seojun seraya meletakan beberapa lembar uang Dollar di tangan Hyunwo. "Tapi..." ucap Hyunwo ragu. "Cepatlah! Kembali lah ke tempat kerjamu. Nanti kau dimarahi boss-mu kalau lama-lama di sini. Bukankah waktu adalah uang? Tapi jangan lupa, lebihnya untukmu!" sahut Seojun.


Hyunwo pun diam sambil menghitung-hitung tagihan dan uang yang baru saja ia terima. Setelah berulang kali, mengulangi hitungannya dan mendapatkan hasil yang tetap, Hyunwo menatap Seojun tidak percaya. "Apa ini tidak terlalu banyak?" tanyanya pada Seojun. "Sudah aku katakan, ambil saja! Aku serius! Kau tidak mau?" sahut Seojun yang mulai kesal dengan kurir satu ini. "Diberi tips malah tidak mau!" gerutunya. "Sudah, ambil saja untukmu!" kata Namgil seraya tersenyum ramah. "Kalau begitu, terima kasih banyak!" kata Hyunwo membalasnya dengan tersenyum. "Setidaknya, pendapatan hari ini meningkat. Aku bisa memakainya untuk biaya latihan dance," pikirnya.


Hyunwo pamit dan berniat pergi dari rumahku, tapi saat membalikan badannya, ia tidak sengaja menabrak Yongju yang baru saja datang. Hyunwo sampai terjatuh saat Yongju mendorongnya dengan kasar. Bukan hanya Hyunwo, Seojun dan Namgil yang berdiri di depan pintu pun jadi sasaran amarah Yongju yang langsung masuk setelah membanting pintu mobilnya dengan keras. "Minggir!" kata Yongju seraya menabrak bahu Seojun dan Namgil bersamaan dan melewati keduanya di tengah-tengah. Makanan yang dipegang Seojun pun terjatuh dan tumpah ke lantai. Hyunwo yang melihatnya, langsung membantu Seojun dan Namgil merapikan kotak makan itu.


Sementara itu di dalam, Yongju berjalan ke arah kamarku dengan langkah besarnya. Bahkan ia tidak menghiraukan Junghwa yang memanggilnya dari arah ruang keluarga. Fokus Yongju hanya satu, mencari sosok yang bernama Kim Daehyun. Sampai ia berhasil menemukan Daehyun yang tengah duduk di sampingku. Aku dan Daehyun sama-sama terkejut melihat kedatangannya yang langsung menghampiri kami dengan ekspresi murkanya.


Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut kami bertiga, Yongju langsung menarik baju Daehyun sampai Daehyun terpaksa bangun dari duduknya. Bugh! Satu pukulan yang sangat keras Yongju hantamkan ke wajah Daehyun sampai Daehyun terjatuh ke atasku. Daehyun mengerjapkan matanya yang mendadak nanar akibat pukulan Yongju yang mengenai tulang pipinya. Bahkan penglihatannya sempat menghitam, jika saja matanya tidak menangkap sosokku yang seperti cahaya, panik mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Yongju oppa!" bentakku pada Yongju yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap penuh kebencian pada Daehyun, terlebih saat aku menangkup wajah Daehyun sambil berkata dengan khawatir, "Apa kau baik-baik saja? Apa itu sakit sekali?" Yongju yang melihatnya, jadi teringat dengan hari-hari yang harus ia lalui dengan nelangsa karena kami berdua. "Apa-apaan ini?! Dia sudah mempermainkanmu dan kau masih mengkhawatirkannya!" kata Yongju seraya menatap marah padaku.


Yongju menarik Daehyun bangun dengan kedua tangannya. Daehyun yang masih merasa pusing, diseret paksa Yongju tanpa perlawanan. Aku bergegas turun dari tempat tidur dan berusaha menyusul Yongju yang sudah di pintu kamarku. "Oppa, hentikan!" teriakku panik. Daehyun yang mendengar suaraku pun mulai berusaha melepaskan diri dari Yongju. Melihat lawannya yang mulai berontak, Yongju menghempaskan tubuh Daehyun dengan kasar.


Praaang! Suara kaca yang pecah membuat seluruh penghuni rumah, termasuk ketiga orang di depan pintu rumah yang masih sibuk merapikan makanan yang tumpah, berlari ke arah asal suara, yaitu di depan kamarku, di lantai dua rumah ini. Junghwa yang memang berdiri di depan kamarku sejak tadi, langsung menangkapku saat aku ingin berlari ke arah Daehyun yang baru saja menabrak pembatas ruangan yang terbuat dari kaca, setelah Yongju menghempaskan tubuhnya ke sana.


Seojun yang sudah naik ke lantai dua, langsung meraih ponselnya dan menghubungi Tuan Jeon, appa-nya untuk meminta tolong menjinakkan Yongju yang mengamuk. Begitu pula, Namgil yang langsung menghubungi pamannya untuk melaporkan kondisi Daehyun. Setelah mendapatkan kabar itu, Tuan Jeon yang baru tiba dengan pesawat jet pribadinya, langsung menuju rumahku. Begitu pula, kedua orang tua Daehyun yang juga langsung menyusul ke rumahku, setelah menghubungi kedua orang tuaku untuk menanyakan kebenarannya.


Sedangkan Hyunwo yang tanpa sadar mengikuti mereka, langsung menolong Daehyun yang terluka untuk bangun. "Kau bisa bangun?" tanya Hyunwo seraya memapah Daehyun. Tapi karena Daehyun tidak mengenalnya, ia menepis tangan Hyunwo yang berniat membantunya dengan tulus. Daehyun mencabut pecahan kaca yang menusuk lengannya karena saat ia menabrak pembatas kaca itu, ia melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. "Dasar budak kurang ajar!" kata Daehyun seraya balas menatap murka Yongju.


Yongju mengerti maksud Daehyun bahwa dirinya hanyalah artis di bawah agensi milik orang tua Daehyun, budak yang berkerja untuk keuntungan mereka. Yongju tersenyum miring mendengarnya. "Iya, selama ini aku selalu merasa dipandang seperti tikus yang dilahirkan di selokan hanya karena aku bekerja seperti budak kalian, puas? Tapi karirku di bawah kaki kalian, membuat aku tumbuh seperti naga. Dan kenyataannya, kini aku sudah menjadi raja yang jika aku pergi, kalianlah yang rugi!" kata Yongju dengan gaya swag-nya.


Perkelahian keduanya pun dimulai. Sekalipun tubuh Yongju lebih kecil dari Daehyun, tapi tenaganya lebih kuat. Setidaknya, Yongju tak selemah Daehyun yang diam-diam sudah ketergantungan obat-obatan. "Aku tahu, alasanmu memakai obat-obatan karena kau tak punya bakat!" kata Yongju yang sempat-sempatnya mengatakan itu di sela-sela serangannya dan semakin membuat Daehyun marah karena ternyata lawannya itu mengetahui kelemahannya. "Konyolnya, bajingan yang menyedihkan sepertimu malah tampil sebagai menantu idaman, ck, sampah!" kata Yongju sambil meninju kuat perut Daehyun.


Dengan amarahnya, Yongju menggila seperti harimau yang mengamuk. Bahkan ia bukan hanya membuat Daehyun kewalahan menangkis serangannya. Tapi Yongju juga menyerang siapa pun yang mencoba melerai perkelahiannya dengan Daehyun. Seperti tangan Namgil yang dipelintir Yongju saat Namgil menahan tangan Yongju yang ingin memukul Daehyun. Begitu pula, Seojun yang kesakitan saat hidungnya tidak sengaja disikut Yongju saat ingin menangkap adiknya itu dari belakang. Serta Hyunwo dan para pelayan yang kena tinju Yongju saat mencoba membantu melerai keduanya. Lain halnya dengan Junghwa yang hanya menonton sambil masih memelukku yang dari tadi berontak sambil berteriak, "Hentikan! Oppa, aku mohon hentikan!"

__ADS_1


Praang! Bunyi benda yang pecah kembali terdengar dan membuat semuanya mematung. Kali ini, bukan kaca yang pecah, tapi sebuah vas bunga yang pecah setelah Daehyun menghantamkannya ke kepala Yongju. Cuih! Daehyun meludahi wajah Yongju yang terduduk di lantai dan bersandar di dinding. "Sialan!" umpat Daehyun seraya menyeka wajah tampannya yang memar dan luka-luka. "Kau pikir, aku tidak bisa menjatuhkanmu? Akan aku habisi kau tanpa ampun!" lanjutnya angkuh. "Bangs**!" teriak Junghwa yang langsung melepaskan pelukannya dariku seraya berlari ke arah Daehyun. Dengan satu tendangan yang tepat mengenai kepala Daehyun, Junghwa berhasil membuat Daehyun tumbang ke lantai.


Melihat Daehyun, aku yang semula ingin menghampiri Yongju, jadi bingung harus menghampiri Yongju atau Daehyun. Tapi saat aku melihat Seojun dan Namgil langsung menghampiri Daehyun, aku pun meneruskan langkahku ke Yongju. Junghwa mengikutiku, memeriksa keadaan Yongju yang terduduk dengan mata terpejam. "Oppa!" panggilku. "Hyung! Bangun, hyung! Apa kau bisa mendengarku?" kata Junghwa membangunkan Yongju.


Sedangkan di belakang kami, dengan cepat, Daehyun kembali bangun sambil menyeka darah di ujung bibirnya. "Mau pamer, hah?!" kata Daehyun sinis. "Aku memang tak punya jurus yang bisa aku pamerkan karena aku tidak butuh semua itu untuk anak kecil sepertimu!" ejeknya. Junghwa yang mendengarnya, langsung bangun dan berbalik menantang Daehyun. "Kita lihat saja, siapa rajanya! Siapa boss-nya! Kau tahu namaku. Jadi, simpan saja omong kosongmu itu, bajingan!" balas Junghwa yang kembali mengeluarkan jurus-jurus andalan untuk melawan Daehyun, yang notabene juga anak boss-nya.


Sementara Junghwa tengah menguji jurusnya pada Daehyun. Mata Yongju terbuka perlahan. Merasakan sakit di kepalanya, ia menyentuh bagian itu dengan tangannya. "Darah! Oppa, kepalamu berdarah!" pekikku yang masih duduk di hadapan Yongju. Semua mata pun tertuju pada Yongju yang tampak meregangkan otot di lehernya yang terasa sangat pegal. "Ck, kau masih bangun! Aku jadi penasaran, apa kau belum puas aku hajar!" kata Daehyun setelah berhasil memukul Junghwa sampai terhuyung mundur.


Yongju hanya diam melihat Junghwa yang meringis kesakitan memegangi lehernya setelah di tendang Daehyun. Seojun langsung menghampiri Junghwa dan memeriksa lehernya. "Sudah, Daehyun, hentikan! Apa kau ingin membunuhnya, baru kau berhenti?" kata Namgil. Daehyun tidak menghiraukan Namgil sama sekali dan malah berjalan ke arahku dan Yongju. Daehyun menarik tanganku sampai aku terpaksa bangun dari dudukku. "Lepaskan, Hana!" kata Yongju yang juga menarik tanganku yang satunya. Daehyun menarikku dengan kuat sampai tangan Yongju terlepas. Bahkan tidak peduli aku meringis kesakitan. "Kalau aku tidak mau, memangnya, kau bisa apa?!" kata Daehyun. Yongju hanya diam menatap nyalang Daehyun yang tersenyum sinis.


Semua yang di sana pun bertanya-tanya, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Terlebih saat Yongju menengadahkan kepalanya ke atas, lalu sebuah seringai tersungging di bibirnya. Perlahan, Yongju bangun dan saat tubuhnya sudah berdiri sempurna, tangan kanannya terangkat ke atas, meraih sebilah pedang yang terpajang di dinding. Setelah tangan kanannya berhasil menggenggam pegangan pedang itu, ia menurunkannya. Dengan gerakan lambat yang tampak astetik, tangan kirinya menarik sarung pedang yang melintang di belakang kepalanya, membuka dan memperlihatkan bilah pedangnya yang putih berkilau.


Dengan ekspresi dinginnya, Yongju mengacungkan pedang itu lurus ke arah Daehyun yang tiba-tiba mematung. Menyadari Daehyun yang lengah, aku langsung melarikan diri darinya dan menghampiri Yongju, berniat membujuknya untuk melepaskan pedang itu. "Jangan ke sana!" kata Hyunwo yang tiba-tiba menahan langkahku dengan menangkap tanganku. "Bagaimana kalau dia melukaimu?" kata Hyunwo lagi. "Kau siapa?" tanyaku bingung menatap Hyunwo yang tidak aku kenali. "Maaf, aku..." kata Hyunwo terpotong.


Daehyun yang ketakutan melihat Yongju yang berjalan ke arahnya dengan sebilah samurai, melemparkan sebuah boneka ke arah Yongju yang langsung menebasnya sampai terbelah dua. Gulp! Daehyun menelan kasar air liur dan mulai berpikir untuk kabur. Melihat Yongju yang tampak serius dengan pedang di tangannya, Namgil pun menarik Daehyun berlari menuruni anak tangga. Yongju melihat ke bawah dari pagar pembatas, lalu tanpa pikir panjang langsung melompat ke lantai satu. Dengan mudah, Yongju mendarat mendahului Namgil dan Daehyun. Dengan savage-nya, Yongju berjalan sambil memasukan satu tangan ke kantung celananya, sedangkan satu tangannya yang lain memegang pedang yang ia letakan dengan terbalik di bahunya. Yongju melangkah ke arah anak tangga, memaksa Namgil dan Daehyun untuk melangkah mundur kembali ke atas.

__ADS_1


Wajah Daehyun yang semula pucat pasi, berubah berwarna setelah melihat kedatangan appa-nya di belakang Yongju. "Letakan pedang itu!" kata Tuan Kim. Yongju pun menoleh ke arah suara. Duagh! Dari belakang, Tuan Kim menendang keras pinggang Yongju hingga tersungkur di lantai dan pedang itu terlepas dari genggamannya. Daehyun pun bergegas turun memungut pedang yang tergeletak di depan Yongju. Yongju yang melihatnya pun tak ingin tinggal diam. Ia berniat bangun dan merebut pedangnya dari Daehyun. Tapi sesaat kemudian, Yongju berteriak kesakitan saat Tuan Kim menginjak kakinya dengan keras. "Menyerahlah atau aku patahkan kakimu!" ancam Tuan Kim.


"Ada banyak anjing di dunia ini, apa kau pikir harimau seperti anakku takut dengan anjing liar sepertimu?" sahut Tuan Jeon yang sudah menodongkan pistolnya di belakang kepala Tuan Kim. "Selama ini, aku tidak pernah mengajari anak-anakku untuk berbuat jahat. Aku selalu mengajari mereka untuk selalu bersikap sopan dan baik pada orang lain, tapi jika ada yang menginjak kakinya, maka dia harus menginjak balik kepalanya!" lanjut Tuan Jeon.


__ADS_2