
Ada sebuah kejadian buruk ketika Hyunwo masih berusia 10 tahun. Hyunwo yang sedang berlibur di Jepang bersama kedua orang tuanya mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sedangkan, Hyunwo menjadi satu-satunya korban yang selamat pada kecelakaan itu karena langsung ditolong oleh orang yang kebetulan melintas di jalan itu dan orang itu adalah Tuan Yamaguchi, kakeknya Junghwa. Saat itu, Hyunwo kecil menderita beberapa luka parah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Dan karena Hyunwo hidup sebatang kara, kakek Junghwa mengulurkan tangan untuknya, membesarkannya seperti anak angkat. Karena itulah, Hyunwo membalas budi dengan menjadi pengawal Junghwa selama di Korea, atas perintah Tuan Yamaguchi.
"Kecelakaan ini membuatku teringat kembali dengan kecelakaan yang aku alami dan dia juga sama denganku..." lamun Hyunwo yang teringat kembali masa lalunya itu. Hyunwo tengah berdiri di depan sebuah kamar pasien yang pintunya terbuka. Namun, lamunannya itu seketika buyar saat mendengar sebuah suara yang dikenalnya bertanya dalam bahasa Jepang, "Apa yang terjadi? Siapa yang sakit?" Hyunwo pun terkejut melihat sosok Junghwa yang berjalan menghampirinya. "Junghwa? Kenapa dia tiba-tiba datang kesini?" pikir Hyunwo, bingung. Namun, saat Hyunwo menyadari pertanyaan itu tidak Junghwa tujukan padanya, ia pun berubah gugup di depan penerus pemimpin terakhir keluarga Yakuza itu. Hyunwo melirik ke arah dokter yang tengah berdiri di sampingnya, yang sama gugupnya dengannya.
Junghwa menghentikan langkahnya di depan kedua orang itu dengan tatapan angkuhnya. "Hei, Dokter, apa kau bisu atau tuli?" tanya cucu Tuan Yamaguchi itu. Namun belum sempat dokter itu menjawab, "Anak nakal! Akhirnya, kau pulang juga! Kemari, ada seseorang yang harus kau temui!" kata Tuan Yamaguchi yang tampak berdiri di dalam kamar itu. Sesaat sang cucu bergeming, lalu melayangkan tatapan tajamnya ada Hyunwo, "Tunggu aku di sini! Urusanku dengan hyung belum selesai," ucapnya yang jelas masih kesal. Sedangkan, Hyunwo hanya membalasnya dengan tersenyum paksa. "Habislah aku!" kata Hyunwo dalam hati. Junghwa pun berjalan melalui kedua orang itu, ke dalam kamar yang di dalamnya samar-samar terlihat seseorang duduk di atas tempat tidur pasien.
***
Beberapa jam kemudian, di sebuah arena latihan judo pribadi keluarga Yamaguchi, ponsel Junghwa berdering. "Berikan padaku!" perintah Junghwa pada salah satu bawahan kakeknya yang bertugas memegang ponselnya. Sebuah panggilan video dariku membuat perubahan drastis di wajah tuan muda itu, yang semula datar, berubah menjadi ceria. "Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanyaku. Junghwa langsung memutar otaknya sebelum menjawabnya. "Aku? Aku... sedang latihan vokal... latihan menari," katanya, akhirnya berbohong. Padahal ia baru saja menumbangkan Hyunwo di atas matras judonya, melampiaskan kekesalannya pada pengawalnya itu. "Apa maksudmu, kau juga sibuk latihan vokal dan menari di Jepang? Bohong! Apa kau pikir aku akan percaya?" sahutku.
Tak ingin melanjutkan kebohongannya, Junghwa mengalihkan topik pembicaraan dengan menunjukan kekesalannya padaku karena tak menghubunginya sejak kemarin. "Noona sendiri sibuk seharian dengan pesta mantannya!" balasnya. "Bagaimana? Apa menyenangkan bertemu dengan mantan noona itu? Atau bersama teman lama yang noona maksud itu? Apalagi ada dua mantan di sana!" sindirnya. Belum cukup sampai di situ, pemuda itu melanjutkan dengan menggerutu di depan ponselnya, "Yang benar saja! Saat kalian bermain-main di sana, aku di sini tetap sibuk mengembangkan mimpiku!" Hingga Junghwa menurunkan volume suaranya, "dan semalaman menahan untuk tidak tidur karena seharian menunggu kabarmu. Sial, aku benar-benar menutup mataku setelah matahari pagi ini terbit!"
__ADS_1
"Apa katamu? Aku tidak mendengarnya," tanyaku. Yang aku tangkap hanyalah wajah cemberutnya di seberang sana. "Lupakan! Ceritakan saja tentang pesta itu!" sahut Junghwa kesal. "Memangnya, apa yang harus aku ceritakan? Tidak terjadi apa-apa. Aku datang bersama Jiwon, lalu kami menikmati pesta bersama Namgil dan setelah memberi ucapan selamat, kami pulang," ceritaku singkat. "Hanya itu?" tanya Junghwa, tak percaya. "Ah, hanya ada sedikit keributan kecil saat Daehyun menahan tanganku," jawabku santai, mulai menceritakan kejadian kemarin.
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia!" umpat Junghwa lewat ponselnya. "Apa yang sudah dilakukannya? Noona juga, seharusnya berteriak saja di depan telinganya itu! Atau kalau perlu, lemparkan sesuatu ke wajahnya!" omel Junghwa. "Sudahlah, aku tidak apa-apa," sahutku, cuek. "Apa maksud noona? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku kira, dia sudah berhenti mengejar noona. Tapi kalau dia sampai berkata seperti itu, berarti si gila itu masih berniat menganggu noona," kata Junghwa, yakin. "Benarkah, menurutmu seperti itu? Junghwa, jangan menakutiku," kataku, mulai khawatir. "Begini saja, kemanapun noona pergi dan apapun yang noona lakukan, noona harus ditemani pengawal. Besok aku dan Hyunwo hyung kembali ke Korea. Dan mulai besok, biar Hyunwo hyung saja yang mengawal noona," putus Junghwa seorang diri.
"Hei, aku tidak butuh pengawal!" sahutku, menolak dengan tegas. "Jangan menolak! Hyunwo hyung akan bekerja keras dengan baik. Jadi, noona tidak perlu takut lagi bila bertemu dengan si brengsek itu. Percayalah, Hyunwo hyung pengawal yang unggul. Apa perlu aku kirimkan profilnya pada noona?" kata Junghwa, keras kepala. "Bukankah begitu, hyung? Hei, hyung, bicaralah!" lanjut Junghwa seraya mengarahkan ponselnya kepada Hyunwo yang duduk tak jauh darinya. "Jangan percaya padanya, Hana. Aku masih belum ada apa-apanya dibandingkan Junghwa sendiri. Tapi, kalau kau mau, aku dengan senang hati mengawalmu," kata Hyunwo berusaha merendah. "Ya, aku tahu itu. Standar tuan muda Jeon itu memang tinggi. Bukan apa-apa, oppa. Aku akan memikirkannya, tapi untuk sekarang, sepertinya aku belum membutuhkannya," jawabku, seraya menyuap makanan ke mulutku dan sedikit mengabaikan mereka.
"Apakah noona sedang makan?" tanya Junghwa, mengamati Hana yang nun jauh di sana lewat layar ponselnya. "Iya, aku sedang makan. Tadi aku bosan menunggu pesananku. Makanya, aku menghubungimu. Sekarang, aku mau makan. Pesanan samgyupsalku sudah datang," jawabku seraya menunjukan menu makanan di hadapanku. "Ini enak. Aku harap kau juga punya di sana," tambahku. "Noona sedang di mana? Dengan siapa?" tanya Junghwa tiba-tiba. "Myeongdong, sendiri," sahutku dengan mulut penuh. "Benarkah? Coba, aku lihat dengan siapa noona pergi!" kata Junghwa, tak percaya. "Hei, kenapa kau semakin menyebalkan! Kau curiga seperti pacarku saja!" sahutku kesal. "Apa aku juga harus melaporkan semuanya padamu?" tanyaku.
"Omong-omong, bagaimana persiapan album barumu?" tanyaku, mengganti suasana. Benar saja, wajah muram itu kembali berseri menjawabnya. "Hampir seluruh lagu dalam album baruku adalah ciptaan Yongju hyung, kecuali satu lagu ciptaanku. Karena kali ini aku memutuskan bersolo karir, jadi aku mencoba untuk memproduseri laguku sendiri. Aku juga berniat menyutradarai sendiri video klipnya nanti. Untuk cover albumnya juga, aku membuatnya dengan lukisan tanganku sendiri, lalu sedikit mengeditnya..." cerita Junghwa dengan penuh semangat.
"Hei, bayi! Kau cukup menyanyi saja. Jangan paksa lakukan itu semua!" selaku. "Apa maksud noona? Noona tidak meragukan aku?" tanya Junghwa. "Tidak mungkin kau bisa. Kau masih amatir," jawabku, meremehkan. "Kata siapa? Aku juga bisa! Hei, aku Jeon Junghwa, idol terkenal. Apa noona pikir gelar itu aku dapatkan hanya dari kemewahan keluargaku? Wah, noona benar-benar keterlaluan! Noona lihat saja nanti perubahan idol terkenal ini menjadi seorang superstar! Tunggu saja, akan aku perlihatkan diriku sebanyak yang sudah aku asah! Sial, aku menjadi kesal dengan noona!" marahnya, tapi malah terlihat imut di mataku sehingga aku pun tertawa. "Berhenti tertawa! Apa sekarang noona puas membuatku kesal?" rengek Junghwa.
__ADS_1
Dengan memajukan bibirnya, Junghwa menggerutu, "Padahal aku menciptakan lagu ini untuk noona!" Aku terkejut mendengarnya, "Benarkah? Untukku?" tanyaku. Junghwa mengangguk, "tentu saja, untuk apa aku membohongi noona. Lagu ini tercipta begitu saja saat aku memikirkan cara untuk menghibur noona yang menangis. Ini adalah lagu yang akan membuat noona tersenyum dan mengisi kekosongan noona. Lagu ini benar-benar aku buat untukmu, noona," katanya sungguh-sungguh. Mataku tiba-tiba berair melihat pengakuannya itu. "Hei, aku tiba-tiba ingin memelukmu," ucapku dengan sengaja memajukan bibirku, memasang aegyo.
Junghwa kembali melakukan hal yang sama, "nado!" ucapnya tak kalah manja. Aku tersenyum gemas melihat tingkahnya itu. "Noona," panggilnya. "Ne?" sahutku. "Nanti, jika hati noona merasa lelah dan aku dapat menemukan waktu senggang untuk istirahat, mari kita membuat janji untuk bertemu. Aku akan menemani noona. Noona bisa bersandar di bahuku lagi seperti biasa. Dan aku akan menyanyikan lagu ini untuk noona, menghibur noona dengan sepenuh hati. Bagaimana?" katanya, menawarkan dengan begitu manis. Bahkan tanpa aku sadari, air mataku jatuh. Lalu, aku pun buru-buru menyekanya, "sebelum bocah itu melihatnya," kupikir.
Namun, Junghwa terlanjur berkata, "kenapa tiba-tiba menangis?" Aku pun menghela nafas pasrah. "Dia pasti ceramah lagi!" rutukku dalam hati. Rasa terharu yang baru saja aku rasakan, langsung berubah menjadi rasa malas. "Bukankah sudah aku katakan berkali-kali? Aku tahu, setiap orang akan merasa buruk karena perpisahan, tapi perpisahan dan rasa sakit itu hanya sesaat. Jangan takut dengan bayangan masa lalu terakhir yang noona lewati. Anggap saja, rasa sakitnya seperti kegelapan sebelum matahari terbit. Itu berarti ada cahaya di suatu tempat yang akan menerangi hari esok noona. Jadi, keluarkan semua beban rasa sakit di hati noona itu. Mengapa noona terus melelahkan diri sendiri dengan mengingatnya? Cinta yang menyakiti noona, menipu noona dan membuat noona menangis, habiskan itu semua, tanpa bersisa!" ocehnya, seperti biasa sok dewasa di depanku.
"Baiklah, kau bukan bayi, tapi kau kakek-kakek!" ucapku, jengah seraya menggelengkan kepalaku. "Apa? Siapa yang noona sebut kakek?" sahut Junghwa. "Kau! Siapa lagi? Mengingat semua petuah-petuah membosankan yang sering kau berikan itu!" jawabku, kesal. Junghwa sampai kehabisan kata-katanya. "Hei, Jeon Junghwa, dengarkan noona. Kita akhiri saja percakapan menyebalkan ini. Sekarang giliran noona-mu ini yang akan memberi petuah. Karena adikku ini berhak memiliki gelar superstar, jika nanti kau digosipkan, itu artinya kau makin populer. Jika kau direndahkan, itu artinya kau lebih tinggi di mata mereka yang membencimu. Dan jika kau dimusuhi, itu artinya kau adalah lawan yang tangguh bagi mereka. Aku kembalikan kata-katamu. Jika ombak besar menghampirimu, kau bisa menjadi ombak yang lebih besar. Jika angin kencang mengguncangmu, berdirilah dengan tegak. Jadi, jangan kalah dan berikan noona setiap kemenanganmu, wahai superstar! Arraseo? Bye!" kataku marah-marah.
"Hei, kenapa kau malah tertawa?" bentakku saat melihat pemuda yang dua tahun lebih muda dariku itu sedang menahan tawanya. "Baiklah, aku akan mengingatnya. Maaf kalau aku sudah membuat noona marah. Dan karena hari ini aku sedang bahagia, aku juga akan memaafkan noona kali ini," katanya di sela-sela senyuman renyahnya. "Ck, memangnya, apa sebenarnya yang membuatmu bahagia? Paling-paling karena kau sudah berbuat nakal di sana. Kasian orang-orang di sana pasti bernasib buruk dengan kedatanganmu!" sahutku, ketus. Junghwa tersenyum kecil sebelum menjawab, "setidaknya, fakta seseorang di sini bernasib baik, sudah membuatku sangat bahagia," lalu kembali tersenyum lebar. "Siapa?" tanyaku penasaran. "Rahasia!" jawabnya dengan wajah jahilnya. "Baiklah, kalau kau tidak mau berbagi cerita dengan noona-mu ini. Aku juga akan sibuk dengan ujian sekolahku. Annyeong!" balasku, yang benar-benar mengakhirinya.
Kemudian, meskipun sempat dilanda kekesalan, sesampainya di rumah, aku mengirimkan fotoku yang sudah berada di kamar tidurku pada Junghwa, sebagai bukti sesuai permintaannya tadi. "Aku sudah sampai. Setelah ini, aku akan tidur," ketikku, sekedar mengabarinya. "Biar tidak bawel lagi," pikirku, beralasan. "Maaf, untuk yang tadi," balasnya, singkat. Segurat senyuman terukir di wajahku saat membacanya. Tapi senyumanku seketika hilang saat aku membaca kelanjutannya, "Noona pasti sedang tersenyum sekarang!" Mendadak saja aku merasa geram lagi padanya. "Noona cantik saat tersenyum bahagia. Jadi, taruh kembali senyuman cantik itu di bibir noona. Aku berjanji, semuanya akan baik-baik saja dan noona bisa bahagia lagi. Sekalipun aku tidak ada, aku harap noona tetap makan dengan baik. Selamat malam. Tidurlah dengan nyenyak. Semoga mimpi indah, noona-ku," balasnya beruntun dan membuat senyuman beruntun pula di wajahku.
__ADS_1