The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Mengering Karena Patah Hati


__ADS_3

Tidak terasa, waktu berlalu sekejap mata dan hari ini adalah hari pertamaku naik ke kelas dua. Sudah beberapa bulan sejak perpisahan aku dan Yongju. Sejak itu, kami berdua benar-benar tidak berhubungan lagi karena appa dan eomma benar-benar membatasi hubungan kami. Selain hubunganku dan Yongju yang terputus, kalau melihat ke belakang, banyak hal yang terjadi di sekolah ini. Salah satunya, Namgil yang menemuiku di hari kelulusannya dan kembali meminta maaf padaku. Melihat kegigihannya untuk meminta maaf dariku, aku pun menerima niat tulusnya itu. "Baiklah, aku maafkan," ucapku saat itu. Namgil pun tersenyum dengan dua lesung pipitnya seraya mengulurkan tangannya dan berkata, "teman?" Aku yang awalnya ragu untuk menerima uluran tangannya itu, dengan malas menyambutnya saat melihat senyuman manis Namgil berubah dengan wajah sendunya. "Baiklah," ucapku menerimanya. "Lagipula, dia sepupu Daehyun. Aku tidak mungkin selalu menghindarinya," pikirku saat itu.


Jika hubunganku dengan Namgil menjadi canggung, lain halnya hubunganku dengan Jiwon yang semakin akrab. Bagiku pribadi, Jiwon adalah teman yang menyenangkan karena selain ia adalah sahabat dekat Daehyun, ia juga satu-satunya orang di sekolah ini yang mengetahui hubunganku dengan Daehyun. Aku masih meminta Daehyun untuk menyembunyikan hubungan pertunangan kami dengan alasan aku tidak ingin diganggu oleh para gadis yang menyukainya dan hal itu tentu saja Daehyun turuti dengan terpaksa karena aku selalu mengancamnya akan menolaknya dan kembali pada Yongju.


Seperti pagi ini, aku datang ke sekolah dijemput Daehyun seperti biasa, sesuai perintah eomma yang meminta Daehyun mengantar-jemput aku ke sekolah sejak kami kembali dari Los Angeles. Namun, Daehyun selalu terpaksa menurunkan aku di belakang sekolah atas permintaanku lagi. "Apa kau tidak bosan sembunyi-sembunyi seperti ini? Kenapa tidak kita umumkan saja sekalian?" tanya Daehyun seraya melihat aku yang membuka pintu mobilnya untuk turun. "Aku malah bosan karena kau selalu menanyakan hal yang sama hampir setiap hari!" sahutku acuh tanpa menoleh ke arahnya. Daehyun menghela nafas panjang. "Baiklah. Kalau begitu, lakukan juga hal yang sama seperti biasa!" kata Daehyun seraya mendekatkan wajahnya padaku dan cup! satu kecupan aku berikan di pipinya sebagai ritual sebelum memasuki gerbang sekolah yang selalu ditagihnya sebagai imbalan karena sudah menuruti semua permintaanku.


Awalnya, aku selalu kesal setiap kali aku melihat wajahnya, terlebih saat aku tahu, Daehyun lah yang memberitahukan hubunganku dengan Yongju pada kedua orang tuaku. Walaupun saat itu orang tuaku tidak mempercayainya, tapi pada akhirnya aku dan Yongju sendiri yang membuktikannya. Namun, entah mungkin karena bertemu setiap hari dengan Daehyun, perlahan sikap dinginku padanya mencair, meskipun aku masih sering mengacuhkan keberadaannya. Aku akui, selain wajah tampannya yang tidak bisa ditolak itu, aku baru tahu kalau Daehyun juga bisa berubah sangat manja dan menggemaskan di depanku.


Kemudian, sesuai dengan cerita Jiwon, sejak tahu aku adalah tunangannya, Daehyun sudah tidak lagi berhubungan dengan gadis manapun dan sepertinya aku bisa mempercayai Jiwon karena kenyataannya Daehyun memang lebih sering menghabiskan waktunya di rumahku, juga menjaga sikapnya di depanku. Meskipun begitu, penyebab waktu mengalir begitu cepat, aku rasa karena aku lebih memilih fokus dengan sekolahku dan Daehyun yang berusaha menepati janjinya, selalu berpura-pura hanya berteman denganku jika kami di sekolah. Setahuku memang begitu, tanpa aku tahu kalau ternyata Daehyun masih mengikutiku setiap hari dari jarak jauh dan diam-diam selalu memberi pelajaran siswa lain yang ketahuan mencoba mendekatiku. Apalagi adik kelas yang baru masuk hari ini, pasti menjadi ancaman baru untuk seorang Kim Daehyun karena sebenarnya hampir semua siswa laki-laki di sekolah ini sudah tahu siapa pemilikku, kecuali para anak baru ini.


Beberapa siswa laki-laki yang tidak aku kenal, menyapaku saat aku baru memasuki gerbang sekolah dan aku yang memang dikenal sombong, hanya melalui mereka begitu saja dengan tidak bersahabat. Sedangkan Daehyun yang berjalan di belakangku, sudah menandai wajah-wajah anak baru itu di ingatannya. Bagi Daehyun, tidak perlu menunggu jam istirahat, apalagi besok untuk memberi peringatan pertamanya pada anak baru itu. Setelah memastikan aku sudah masuk ke kelasku, Daehyun tiba-tiba memutar arahnya dan menghampiri siswa baru yang sekedar menyapaku tadi.


"Ingatlah ini! Gadis itu milikku. Jadi, jangan coba-coba mendekatinya!" bisik Daehyun yang langsung menyudutkan di tempat siswa baru itu. "Tapi awas saja kalau sampai Hana tahu aku memberitahumu! Akan aku pastikan kau menderita setiap hari di sekolah ini!" katanya seraya menatap tajam lawannya. Jiwon yang berdiri di samping Daehyun membentuk pistol dari telunjuk dan ibu jarinya dan meletakan ujung telunjuknya di dahi siswa baru itu, "bang!" ucapnya, sebelum kembali mengikuti langkah Daehyun yang berjalan santai menuju kelasnya, meski para siswa lain berkerumun melihat aksinya tadi.


***


Di tempat lain, Yongju juga menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, masih mengejar impiannya. Seperti sekarang, ia tengah sibuk memeriksa penataan panggung untuk konser terbarunya yang akan diadakan malam ini. Bahkan ia tidak punya waktu untuk mengantarkan Junghwa ke sekolah barunya. Sedangkan untuk Junghwa, tidak ada yang benar-benar berubah dari bayi itu. "Bocah itu masih bayi!" gumamku setelah menerima telepon dari Junghwa yang memintaku keluar kelas untuk menjemputnya di depan gerbang sekolah.


Seharusnya Junghwa masih di kelas 9, tapi karena ia lompat kelas, makanya sekarang bayi itu duduk di kelas 10, satu tingkat di bawahku. Yang membuatku jengkel adalah "kenapa bayi itu memilih masuk di sekolah ini!" pikirku. Tentu saja, Junghwa yang iba dengan hubunganku dan Yongju, melakukannya untuk hyung-nya itu. Junghwa ingin menjadi mata-mata untuk Yongju, meski Yongju sendiri tidak memintanya. Bahkan aku yakin, Yongju sendiri tidak mengetahui rencana adik nakalnya ini.


Karena panggilan dari Junghwa itu, aku pun terpaksa kembali menuju gerbang sekolah. Di sana, aku melihat mobil yang biasa Junghwa gunakan, lalu mendekat dan mengetuk kaca jendelanya. Saat aku berniat memanggil Junghwa, seseorang memanggilku dari arah samping, "Hana!" Aku pun menoleh ke arah suara dan ternyata Namgil lah yang memanggilku. "Namgil oppa?" ucapku. "Ada apa? Apa oppa ada keperluan di sekolah?" tanyaku saat Namgil sudah menghampiriku. "Tidak. Aku hanya ingin memberikan ini pada Daehyun. Tadi malam dia meninggalkan tasnya di rumahku," jawab Namgil seraya menunjukan sebuah tas ransel di tangannya. "Kau apa kabar?" lanjutnya ramah seperti biasanya.

__ADS_1


"Kabarku baik. Bagaimana dengan oppa? Apa oppa mau berangkat kuliah?" jawabku seraya memperhatikan penampilan Namgil yang tampak rapi, "sepertinya, oppa semakin tinggi!" lanjutku lagi dengan kepala yang aku tengadahkan saat menatapnya. Namgil tersenyum seraya tertawa, "masih 181 dan seperti yang kau lihat, kabarku baik. Hanya hatiku yang tumbuh lebih tinggi," jawabnya sambil bercanda. "Itu yang membuatku tidak suka berdiri di dekat oppa!" balasku. "Kenapa?" tanyanya terkejut.


"Karena noona semakin terlihat pendek!" celetuk Junghwa yang sudah berdiri di sampingku. "Siapa yang kau bilang pendek?" sahutku langsung menatapnya dengan kesal. "Memangnya siapa lagi yang pendek di sini selain noona? Cebol!" katanya dengan mengejekku. "Dasar adik kurang ajar! Kau pikir kau siapa mengatai aku pendek, hah? Lihat lah, siapa yang tidak berani ke sekolah sendiri dan memintaku menjemputnya? Dasar bayi!" balasku.


"Adik? Hana, aku tidak tahu kalau kau mempunyai adik. Tunggu, sepertinya wajahmu tidak asing. Apa aku mengenalmu?" sela Namgil di tengah perdebatan aku dan Junghwa. "Oh, kalau tidak salah, hyung juga sepupunya Seojun hyung, bukan? Aku adik Seojun hyung. Benar begitu, cebol?" balas Junghwa sebentar, lalu kembali mengejekku. "Cebol! Cebol! Kau sendiri adalah bayi pertama yang harus aku rawat, tahu! Astaga, kenapa juga Paman dan Bibi Jeon menitipkan bayi nakal sepertimu padaku!" gerutuku saat ingat pesan appa yang memintaku untuk menjaga Junghwa di sekolah.


"Siapa yang bayi? Aku bahkan baru mendapat penghargaan rookie tahun ini. Dan lihat, sekarang aku lebih tinggi dari Noona! Hahaha, noona makin cebol saja!" kata Junghwa lagi seraya dengan kurang ajarnya meletakan tangannya di atas kepalaku. "Ingin sekali rasanya aku membunuh bocah sinting ini!" ucapku dalam hati dengan geramnya. Aku mendengus kesal sambil mengatur emosiku. "Namgil oppa, kami akan ke dalam. Bye," ucapku seraya menarik tangan Junghwa dengan kasar.


"Ayo, ikut aku ke aula. Sebentar lagi, upacara penyambutan siswa baru di mulai," kataku. Junghwa tiba-tiba mendekat dan berbisik padaku, "Apa noona mau menggandengku sampai ke aula? Apa noona tidak lihat, bayi noona ini bahkan disambut oleh satu sekolah?" Mendengarnya, aku langsung menghentikan langkahku dan langsung melepaskan tangannya saat sadar semuanya mengenali idola yang sedang aku gandeng ini. Junghwa tersenyum angkuh di depanku sambil berkata, "lihatlah, bayi noona ini banyak penggemar!"


Aku menyipitkan mataku menerima ekspresi menyebalkan Junghwa itu. Aku melepaskan topi yang aku kenakan dan membiarkan rambut yang aku sembunyikan di dalamnya terurai indah, "Dan lihatlah! Noona-mu ini juga mendapat sambutan dari para junior sepertimu!" balasku. Rambut pendek lurus sebahu yang menjadi ciri khas-ku kini, aku biarkan memanjang. Dengan sengaja, aku mengibaskan rambutku ke wajah Junghwa yang langsung memejamkan matanya, lalu aku mengeluarkan senyuman tercantikku.


Deg! Untuk sesaat, Junghwa terpaku melihatnya. "Iya. Aku rasa, aku tahu apa yang terjadi saat ini pada mereka saat melihat senyuman noona itu! Apakah hyung juga merasakan hal yang sama, ya? Ah, aku jadi teringat dengan hyung. Apa latihannya untuk konser malam ini berjalan lancar, ya?" pikir Junghwa. Sret! Daehyun menarik tanganku yang tengah asyik berjalan meninggalkan Junghwa di belakangku, lalu menarik hoodie yang aku pakai sampai menutupi kepalaku sambil menatapku dengan tatapan tajamnya. "Sudah oppa katakan, jangan tersenyum secantik itu, jika oppa tidak ada!" katanya.


"Sepertinya, kau punya junior setahun di bawahmu, sayang!" kata Daehyun sengaja menekankan kata sayang di depan Junghwa. "Dan oppa pikir, karena oppa sudah di kelas 12, oppa akan menjadi senior yang baik sekarang," lanjutnya seraya menatap tajam Junghwa. "Ck, dasar kotoran sampah!" gumam Junghwa dengan santainya. "Hei, kau!" ucap Daehyun geram menahan emosinya di depanku. Sedangkan aku dan Jiwon sampai terperangah mendengar umpatan berani anak baru tadi.


"Kalau di agensi, aku memanggil senior pada orang yang lima dan enam tahun di atasku. Apa kau setua itu?" kata Junghwa melanjutkan ke-savage-annya yang menurun langsung dari sang ahli, Yongju. "Jung-hwa!" ejaku pelan sama geramnya dengan Daehyun dan Jiwon. "Iya, aku di sini! Ada apa, noona?" sahut Junghwa seraya memamerkan deretan gigi putihnya di depanku. Rasanya, puas sekali Junghwa mengatai Daehyun.


"Sialan, bocah ini! Sayang ada Hana di sini! Awas saja nanti!" ucap Daehyun dalam hati. "Jiwon, ayo kembali ke kelas. Bawa tasku!" perintah Daehyun yang lebih memilih mengalah karena tidak ingin kelihatan buruk di depanku. "Astaga, sekarang aku menyadari, kau bahkan tidak kuat membawa tasmu sendiri. Sebenarnya, setua apa kau?" lanjut Junghwa seraya terkekeh. Dengan pelan, Daehyun memutar kepalanya ke arah Junghwa dengan emosi yang hampir meledak.


"Jung, ayo, aku antar kau ke kelasmu sekarang!" kataku dan langsung menarik Junghwa pergi dari sana. "Bukankah kita harus berkumpul di aula?" tanya Junghwa bingung. "Ke kelas dulu. Aula masih jauh. Cepatlah!" sahutku. "Apa kau tidak tahu kalau sekolah ini milik Daehyun!" gerutuku sambil mempercepat langkahku. "Dari mana aku tahu, kepala sekolah dan guru saja tidak memberi tahuku! Lagipula aku tidak peduli," jawab Junghwa cuek. "Aduh, jangan mencari masalah dengannya atau kau akan mendapat tekanan seperti anak-anak yang lain seperti tahun lalu!" kataku lagi. "Aku bilang, aku tidak peduli, noona! Kenapa noona jadi cerewet seperti ini?" kata Junghwa.

__ADS_1


"Apa kau lupa, kau dan Yongju oppa ada di bawah agensi milik eomma-nya Daehyun? Pikirkanlah itu! Kau juga masih rookie, bukan?" lanjutku seraya menghentikan langkahku saat sudah sampai di depan kelas Junghwa. "Memangnya, kenapa kalau aku hanya rookie dan dia putra pemilik agensi? Aku sendiri tidak apa-apa dengan itu," katanya lagi yang semakin membuatku geregetan. "Terserah kau saja! Cepat sana, cari tempat dudukmu!" kataku kesal, lalu kembali menghampiri Daehyun. Sebelum masuk, Junghwa kembali menoleh ke arah Daehyun yang masih menatapnya dengan dingin dari kejauhan.


"Haruskah oppa membantumu memperkenalkan sekolah ini dengan beberapa mata pelajarannya pada idola baru itu?" tanya Daehyun padaku, saat aku sudah sampai di depannya. "Jangan macam-macam!" kataku seraya menatap Daehyun dengan tajam. "Kau lihat sendiri tadi dia kurang ajar!" kata Daehyun lagi dengan wajah kesal. "Aku tahu, tapi appa memintaku menjaganya," jawabku seraya berlalu kembali ke kelasku.


"Apa Hana dekat dengannya? Jangan-jangan... apa dia bias-nya Hana? Hahaha, aku jadi ingin berkomentar negatif tentangmu! Sepertinya, standar tunanganmu itu memang tinggi!" celetuk Jiwon yang baru sadar kalau Junghwa adalah seorang idola baru. Pletak! Daehyun memukul kepala Jiwon yang asyik bicara sambil menertawakannya. Daehyun menunjukan ketidak-tertarikannya sambil berkata, "Biarkan saja! Paling-paling Hana hanya menganggap bocah kurang ajar itu sebagai adiknya."


***


Sementara itu di kelas Junghwa, saat jam pulang sekolah, seorang guru mata pelajaran seni lukis mendatanginya setelah tahu Junghwa masuk ke sekolah ini. "Maaf Bu guru, apa saya harus mengikuti kelas seni lukis juga seperti yang Anda sarankan? Apa ini wajib?" tanya Junghwa. "Tidak. Hanya saja, ibu melihat hasil lukisanmu di acara yang pernah kau bintangi dan itu sangat bagus. Jadi, ibu sarankan kau mengikuti kelas ibu, bagaimana? Ibu yakin, kau akan mendapatkan tempat pertama di kelas ibu," kata sang guru. "Mungkin kalau saya mendapatkan tempat pertama di kelas ibu, saya akan menjadi seniman yang sukses. Itu baik, tapi saya ingin fokus bermusik saja. Saya hanya akan melakukan apa yang saya inginkan untuk sekarang. Maafkan saya," ucap Junghwa seraya meninggalkan guru tersebut.


Sepulang sekolah, Junghwa langsung menuju agensinya untuk melakukan latihan bersama group-nya. Padahal, ia ingin sekali menonton konser Yongju malam ini. "Ya sudah, aku susul saja ke apartemennya setelah latihan," pikirnya. Tengah malamnya, Yongju yang baru pulang dari konsernya, menyandarkan kepalanya di sofa apartemennya. Sudah 24 jam nonstop ia bekerja tanpa istirahat sampai konsernya selesai. Bahkan ia terlihat sangat lelah saat ini. Junghwa yang sudah menunggu di dalam apartemen Yongju sejak beberapa jam yang lalu, melihat sang hyung terkulai lemas di atas sofa, lalu mendekatinya dengan khawatir. "Hyung baik-baik saja 'kan? Apa perlu aku panggilkan manajer hyung?" tanyanya.


"Hmm," sahut Yongju yang tak berdaya membuka matanya. "Hyung tidak baik-baik saja! Aku akan menghubungi manajer..." kata Junghwa panik seraya mengeluarkan ponsel dari kantung celananya, tapi tertahan dengan ucapan lemah Yongju, "Tidak perlu." Dengan tenaga yang tersisa, ia memaksa tubuhku berjalan masuk ke kamar tidurnya. "Ada apa kau ke sini? Apa jadwalmu kosong?" tanyanya pada Junghwa yang mengikutinya di belakang.


"Aku hanya datang mengunjungi hyung dan ingin mengucapkan selamat atas konser hyung. Maaf karena aku tidak bisa menontonnya, padahal aku ingin sekali pergi," kata Junghwa dengan wajah cemberut. "Hmm... Terima kasih. Sekarang, kembalilah ke dorm. Bahaya kalau ada media yang menangkapmu keluyuran selarut ini!" sahut Yongju yang langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. "Tapi, apa hyung tidak apa-apa aku tinggal sendirian?" tanya Junghwa khawatir melihat kondisi sang kakak. "Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan. Pulanglah," jawab yongju lembut.


Junghwa terpaksa menempatkan kembali kekhawatirannya dan dengan terpaksa menuruti kemauan Yongju itu. Tapi saat sudah di berdiri di pintu kamar Yongju, Junghwa kembali berbalik menatap Yongju yang tampak kesepian. "Bahkan setelah hampir satu tahun berlalu, hyung masih seperti mayat hidup di depanku! Hyung itu hanya hidup saat di depan kamera saja!" katanya dengan melayangkan tatapan mirisnya pada sang kakak. "Tahu apa kau, dasar bocah!" sahut Yongju pelan yang terdengar tak berdaya seraya melempar sebuah bantal ke arah Junghwa, tapi karena kondisinya yang lemah, bantal itu tidak sampai mengenainya.


"Bocah? Astaga, yang satu memanggilku bayi dan satunya lagi memanggilku bocah! Bagaimana pun aku sudah menjadi vocalist dan rapper tahun kedua, apa kalian tahu?!" sahut Junghwa yang tiba-tiba kesal karena teringat denganku tadi pagi di sekolah. "Lalu? Haruskah aku memberikanmu nilai?" sahut Yongju. "Hyung! Hyung! Asal Hyung tahu, tadi pagi di sekolah noona menjagaku dari anak-anak lain yang mengejarku. Daehyun juga menggangguku. Untungnya, aku bertahan dengan baik," kata Junghwa dengan sengaja seraya menunggu reaksi Yongju. "Iya. Kau masih kecil. Kau harus terus berlari, jika ada yang mengejar dan mengganggumu," sahut Yongju seraya meletakan satu tangannya di atas matanya yang terpejam. "Ayolah, jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku sudah di tahun keduaku," kata Junghwa yang tidak tertarik dengan reaksi Yongju yang tidak sesuai dengan harapannya.


"Junghwa, jangan membuat masalah!" kata Yongju saat mendengar derap langkah Junghwa yang mulai melangkah dari pintu kamarnya. "Siapa yang membuat masalah?" sahut Junghwa terdengar menggerutu. "Dengarlah, jangan menyulitkan Hana dan aku dengan menganggu Daehyun. Kau akan mengerti sendiri nanti kalau perjalananmu masih panjang dan kau akan sulit membedakan mana keanehan dan realita," kata Yongju. "Aku tidak peduli dengannya. Aku akan pergi dengan jalanku, membawa pecundang itu di kakiku," sahut Junghwa seraya kembali melihat Yongju yang terbaring di tempat tidurnya. "Lihatlah, bagaimana bisa dia merebut noona dan membuat hyung mengering seperti ini karena patah hati!" lanjutnya pada Yongju yang tampak semakin kurus dan pucat.

__ADS_1


"Tutup mulutmu! Meskipun kau sudah di tahun kedua, semua itu baru titik awal untuk memulai karirmu. Berhati-hatilah terhadapnya, kecuali kau tidak ingin lagi menyembunyikan identitas kita dan mengekspos masa laluku di depan publik, mengerti?" kaya Yongju, seraya bangkit dari baringnya. "Sebenarnya, kau ini seorang junior atau senior atau seorang guru yang mencoba menggurui aku? Kembalilah ke dorm-mu. Keluar dari apartemenku sekarang juga. Aku butuh istirahat! Jangan ganggu aku sampai dua hari!" pinta Yongju lagi seraya mengusir Junghwa sampai keluar dari apartemennya.


__ADS_2