The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
I Am Not Your Baby


__ADS_3

"Ya, nama saya Min Yongju," ucap Yongju, memperkenalkan dirinya dengan kikuk di depan Nyonya besar Jeon yang merupakan ibu dari ayah kandungnya, beserta Nyonya Jeon Aiko istri ayahnya saat ini, yang juga ibu dari Junghwa. "Min?" ucap Seojun pelan, yang saat ini juga duduk di meja makan kediaman utama keluarga Jeon di Los Angeles. "Ya?" sahut Yongju tidak mengerti maksud Seojun, seraya menatap sang hyung yang duduk di depannya. "Eh! Maksud saya Jeon Yongju," lanjut Yongju saat sadar setelah aku yang duduk di sampingnya, diam-diam mencubit pinggangnya, lalu berbisik pelan mengatakan kesalahannya saat mengatakan marga keluarganya itu.


***


Pagi tadi, eomma tiba-tiba membangunkanku tidak seperti biasanya, padahal sang mentari baru saja menunjukan sinarnya. Terlebih tadi malam, aku tidur lewat tengah malam karena menemani Yongju yang sedang curhat padaku. Gelombang rasa kantuk yang yang begitu berat di pelupuk mataku mendadak hilang saat eomma berkata, "eomma dan appa akan menemani oppa-mu ke L.A. Jika kau mau ikut, cepatlah bangun sekarang juga!" sambil menarik selimutku dengan cepat. Dari kamarku, eomma terburu-buru pindah ke ruang kerja appa. Di sana, ada appa yang juga tampak sibuk menghubungi sekretarisnya untuk menyerahkan pekerjaan selama appa tidak ada di tempat.


Aku keluar dari kamarku, memeriksa keributan yang terjadi di lantai satu rumah ini. Saat menuruni anak tangga, aku berpapasan dengan Yongju yang juga tampak terburu-buru menaiki anak tangga, bahkan ia hanya menyapaku sekilas. Di sisi lain, ada Tuan Jeon dan Seojun yang tampak duduk di sofa tamu. Belum lagi, Junghwa yang tiba-tiba datang seraya menarik sebuah koper di tangannya, lalu merengek seperti bayi yang kesal di depan Tuan Jeon.


"Apa-apaan ini?" gumamku bingung. "Kau tidak ikut?" tanya Yongju yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. Yongju datang dengan sebuah tas besar yang ia sampirkan di bahunya. Melihat aku yang bengong, Yongju menghentikan langkahnya. "Tadi malam, setelah kau tertidur, aku menghubungi Junghwa, lalu memintanya memberitahu appa kalau aku bersedia ikut pulang ke L.A dan aku minta tolong pada appa dan eomma untuk menemaniku ke sana," ucap Yongju pelan, menjelaskan padaku. Mendengar itu, perasaanku semakin campur aduk. Rasanya, tidak memiliki inspirasi untuk melakukan apapun selain terdiam. "Hei! Kau masih tidur, ya? Lee Hana! Jadi, kau mau ikut atau tidak?" tanya Yongju lagi, membuyarkan lamunanku seraya beberapa kali melambaikan tangannya di depan wajahku.


Aku yang baru sadar, menganggukkan kepalaku tanpa berkata apa-apa dan langsung berlari menuju kamar mandiku. Secepat kilat aku menyelesaikan persiapan keberangkatanku dengan hati yang terasa ringan saking bahagianya. Aku pun bersiap dengan tergesa-gesa, sampai rasanya saat melakukan semuanya, kakiku sudah tidak menginjak lantai lagi. Tubuhku benar-benar terasa ringan, bahkan seakan nyawaku melayang saat mengetahui kami berangkat dengan pesawat jet pribadi keluarga Jeon yang super mewah.


***


Kembali ke ruang makan keluarga Jeon. "Aku sekarang seorang musisi seperti hyung dan tidak akan ada yang berubah. Aku akan bermain di atas panggung seperti hyung, idolaku," ucap Junghwa kembali menegaskan pilihannya pada eomma-nya, yang memintanya untuk tidak kembali ke Korea. Yongju yang mendengarnya pun terbatuk dibuatnya, lalu tersenyum kikuk ke arah eomma Junghwa yang tampak merajuk dengan sifat keras kepala putra kesayangannya itu. "Jadi kau benar-benar tega meninggalkan eomma sendirian?" tanya Aiko, "asal kau tahu, Yongju. Hyung-mu memang ada di sini, tapi setiap hari dia sibuk dengan kuliahnya. Kalau pun ada waktu luang, appa-mu ini akan membawanya untuk membantunya di perusahaan," kata Nyonya Jeon itu, mengadu pada Yongju layaknya seorang ibu yang mengadu pada anaknya.

__ADS_1


"Sekarang, bocah nakal ini juga tidak mau kembali dan eomma yakin, kau juga pasti sangat sibuk di sana. Jadi, eomma akan benar-benar sendiri di sini? Tega sekali kalian!" lanjutnya yang merajuk. "Tidak masalah. Bukankah eomma masih bisa mengubungi kami setiap hari," sahut Seojun tanpa bersalah. "Baiklah, eomma akan menghubungi kalian setiap hari, bergiliran! Jadi, awas saja kalau kalian tidak mengangkat panggilan dari eomma! Mengerti?!" ancam Nyonya Jeon. Yongju terdiam memandang interaksi antara ibu tirinya dan dua saudaranya itu, tapi tiba-tiba ia tersentak saat sang ibu tiri menunjuk ke arahnya sambil berkata, "Yongju, kau juga! Nanti jangan lupa, masukan nomor ponselmu! Eomma akan menghubungi juga." Sempat bengong, "Ah, iya," jawab Yongju mengangguk dengan kikuk.


"Jadi, apa setelah ini kau akan mengumumkan identitas aslimu?" tanya Seojun pada Yongju. Sekilas Yongju memandang eomma sebelum menjawab, "tidak," dengan suara pelan yang terdengar ragu. Melihat semua orang di meja makan itu terdiam, Yongju berniat memberikan penjelasan untuk keputusannya ini, tapi Tuan Jeon mencegahnya dengan berkata, "Tidak perlu menjelaskannya. Apa pun keputusanmu, kami tidak masalah."


Kemudian, dilanjutkan Nyonya besar Jeon yang turut bicara, "Yongju, Junghwa, jika kalian berdua tidak sibuk, sering-seringlah ke sini temui nenek. Karena walaupun kalian artis, nenek tidak ingin mengenal cucu nenek dengan apa yang nenek dengar atau apa yang nenek lihat di televisi. Arraseo?" Yongju pun mengangguk. "Tapi, nenek tetap mendengarkan laguku dan hyung, bukan? Nenek harus tahu, lagu-lagu kami sudah mencuri malam-malam para gadis muda dan membuat mereka insomnia," ucap Junghwa seraya menggoda sang nenek yang langsung menjewer telinga si cucu bungsu itu. "Bocah nakal! Jangan gila dan menggunakan status idolamu sebagai alasan untuk menggoda anak gadis orang di luar sana!" kata neneknya seraya memukuli dengan pelan bahu cucunya itu dan membuat suasana yang awalnya dingin semakin menghangat dengan suara tawa.


***


Seojun menghampiri Yongju yang tengah memandangi sekeliling area rumah super mewah ini, mulai dari teras atap rumah yang berdesain modern kontemporer yang terletak di semenanjung Beverly Hills ini. Yongju menikmati pemandangan yang langsung terarah dari pusat kota menuju lautan biru di depannya. "Seperti resort bintang lima saja!" ucapnya saat Seojun duduk di sampingnya. "Kau suka? Sudah berkeliling rumah?" tanya Seojun seraya tersenyum ramah. Yongju mengangguk seraya balas tersenyum, "karena lelah, makanya aku duduk di sini," ucapnya dan membuat Seojun tertawa. Bagaimana tidak merasa lelah, Yongju baru saja diajak Junghwa berkeliling rumah seluas 21.000 kaki persegi ini.


Ruang tamu dan ruang makannya saja hampir satu lantai penuh, lantai dua yang di dominasi 12 kamar tidur, teater digital pribadi, ruang khusus penyimpanan anggur, garasi dengan deretan mobil mewahnya dan beberapa motor koleksi Junghwa sampai gym room super lengkap. Belun lagi kolam renang nol tepi infinity-nya, taman indah dengan bunga-bunga dan patung-patung aestetiknya, plus teknologi smart house yang menunjang seisi rumah dan lift kaca yang menghubungkan 5 lantainya, termasuk basemen untuk garasi dan teras atapnya.


Entah kenapa, jauh di lubuk hati Yongju, ia menilai salah satu anak lelaki di lingkaran keluarga barunya ini penuh dengan kemunafikan dan ia yakin, bahwa senyuman yang sejak awal hyung-nya berikan ini, palsu. "Aku tidak peduli. Seperti yang appa bilang, apapun yang terjadi nanti, dalam tubuh sampai jauh di tulangku, ada darah Jeon yang tidak bisa siapapun tolak. Aku juga anak laki-laki keluarga ini, yang mungkin jadi ancaman bagi hyung yang penuh ambisi," ucap Yongju tiba-tiba seraya menatap lekat Seojun yang terdiam mendengarnya. Dengan tatapan yang mengintimidasi itu, Yongju kembali berkata, "Bahkan jika hyung memiliki niat yang tidak baik padaku, menuduhku atau menjatuhkanku, aku benar-benar tidak peduli! Jadi, hyung tidak perlu takut. Aku tidak akan merebut tempat hyung."


Setelah mengatakan itu, Yongju berjalan meninggalkan Seojun yang mematung karena isi hatinya seolah-olah bisa dibaca oleh adiknya itu. Sebelum Yongju keluar dari teras atas itu, Seojun bertanya, "apa kau yakin suatu hari nanti kau tidak kehilangan keyakinanmu itu?" Yongju tersenyum, lalu berbalik menghadap Seojun. "Apa hyung lupa, aku seorang idola terkenal? Apa pun yang aku lakukan sekarang sudah menghasilkan uang untukku hidup. Bahkan tanpa nama Jeon ini pun, aku sudah memiliki pekerjaanku sendiri, sekalipun hanya seorang rapper. Dan untukku, itu sudah lebih dari cukup," balas Yongju. "Tenanglah, aku hanya mengemukakan isi hatiku apa adanya. Aku tidak masalah jika hyung tidak menyukaiku. Bukan berarti aku tidak menerima hyung sebagai hyung-ku. Aku hanya tidak bisa menerima jika ada yang menganggu hidupku!" lanjut Yongju seraya tersenyum miring sebelum pergi.

__ADS_1


***


"Oppa!" panggilku saat melihat Yongju keluar dari pintu lift yang transparan ini. "Ada apa?" tanya Yongju datar. "Oppa dari mana saja? Dari tadi aku mencari oppa," sungutku dengan manja seraya memeluk lengannya. "Oppa dari teras atap dengan Seojun hyung," jawab Yongju seadanya, "di mana yang lain?" tanyanya. "Di ruang tamu. Kalau Junghwa ada di kamarnya," jawabku yang baru saja keluar dari kamar itu. "Kalau begitu, oppa ingin istirahat dulu di kamar," sahut Yongju. Aku pun mengikuti Yongju karena ingin melihat kamarnya. Sesampainya di kamar itu, aku melepaskan rangkulanku di lengannya, lalu mengangkat tangannya saat untuk pertama kalinya atensiku menyadari ada sebuah tato di pergelangan kurus itu.


Dengan cepat, Yongju menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang pinggangnya. Aku menyipitkan mataku menatapnya, lalu dengan cepat pula, aku menarik kembali tangan kurus itu untuk memastikan lagi kalau aku tidak salah lihat. Sekuat tenaga Yongju menahan tangannya. Bahkan beberapa kali, ia memindahkan posisi tangannya itu setiap kali ia berhasil melepaskan genggamanku. "Hana, berhenti main-main!" katanya kewalahan dengan usahaku.


Kami berdua benar-benar bermain seperti anak kecil, kali ini. Berlarian dengan begitu senang seperti saat kami kecil dulu, walaupun sekarang ukuran tubuh kami berdua sudah berbeda jauh dari saat itu. Yongju yang semakin kewalahan sampai memilih berlari masuk ke kamar mandi, berharap aku menyerah setelah ia mengunci pintunya dari dalam, tapi aku yang tidak mau kalah berhasil mendahuluinya. Kejar-kejaran pun berlanjut di dalam kamar mandi yang sudah disiapkan oleh pelayan di rumah ini untuk sang tuan muda kedua mereka membersihkan diri sejak kedatangannya di rumah ini.


Brugh! Karena terlalu kencang berlari mengejar Yongju, aku sampai tidak bisa menghentikan tubuhku sendiri yang akhirnya menabrak Yongju yang juga kehilangan keseimbangan karena kakinya tertahan. Byuurr! Kejar-kejaran pun berakhir dengan kami berdua yang terjatuh ke dalam bathtub. Kami tertawa bersama karena sudah lama tidak bermain seseru ini, tapi tawa Yongju tiba-tiba terhenti saat menyadari blus putih polos yang tengah aku kenakan sudah basah.


Blus berbahan kaos, membuatnya melekat di tubuhku, sedangkan warna putih polosnya membuat pakaian dalam berwarna putih di baliknya tercetak jelas. Yongju pun buru-buru bangkit dari posisinya sebelum aku menyadari semua yang sudah ia lihat. Sambil memalingkan wajahnya, Yongju mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku bangun. Aku pun menyambutnya, tapi hal tidak terduga kembali terjadi. Kali ini, kakiku yang terpeleset di dalam air dan membuat kami jatuh kembali di menit berikutnya. Kali ini, posisi Yongju lah yang berada di atasku, sedangkan sebagian tubuhku sudah terendam di dalam air dan semakin memperjelas pemandangan indah di depan mata Yongju. Saat menangkap arah mata Yongju yang hampir tidak berkedip memandang tubuhku, aku baru menyadari semuanya. Sontak, aku pun menyilangkan tangan di depan dadaku. Yongju yang melihatnya langsung berdiri dengan kikuk.


"Sebelum keluar, pakai saja dulu baju oppa," kata Yongju tanpa melihat ke arahku yang berlari ke luar kamar mandi itu. Setelah memastikan aku sudah menutup pintu kamar mandi, Yongju berjalan ke arah pintu itu dan menguncinya dari dalam. "Haruskah aku bercinta sendiri?" gumamnya pelan seraya menyapu kasar wajahnya dengan frustasi. Sedangkan di kamar, aku buru-buru mengganti bajuku dengan baju Yongju yang ada di dalam tasnya. Setelah selesai, aku buru-buru kembali ke kamarku yang bersebelahan dengan kamar itu. Tapi baru saja aku menyentuh ganggang pintu kamarku, kemunculan Junghwa mengagetkan aku.


"Wah, ternyata noona masih mengisap jempol, ya!" kata Junghwa yang melihatku menggigit jempolku karena panik. Aku pun segera melepaskan jempolku dari mulutku dan berbalik ke arahnya. "Jangan-jangan bocah ini melihat apa yang telah kami lakukan!" pikirku seraya menatap Junghwa dengan gugup. "Ada apa? Kenapa noona diam? Apa noona habis berenang?" tanyanya yang melihat rambutku basah. "Tidak. Eh, iya, tadi aku berenang," sahutku gelagapan. "Benarkah? Kenapa tidak mengajak aku? Apa hyung masih di kolam renang? Kalau begitu, aku menyusul mereka saja," lanjut Junghwa seraya berbalik arah.

__ADS_1


Karena semakin panik dan takut ketahuan, aku menarik tangan Junghwa dan membawanya masuk ke kamarku. "Aku dengar dari eomma, album debut kalian terjual sangat banyak," ucapku seraya mengalihkan topik pembicaraan. "Benar. Katanya, sudah terjual rata-rata tiga puluh ribu kopi, kalau tidak salah," jawab Junghwa seraya dengan santai duduk di kasurku. "Tiga puluh ribu kopi? Wah, hebat!" lanjutku seraya bertepuk tangan. "Tentu saja! Siapa dulu dong, yang terpanas di antara para pemula!" sahut Junghwa dengan menyombongkan dirinya sendiri. "Astaga! Aku sampai melihat hidung pinokio yang memanjang di hidungmu!" ledekku, seolah-olah terkejut.


"Hei, apa maksud noona aku berbohong?! Benar-benar sudah terjual sebanyak itu!" protes Junghwa. "Bukan itu! Maksudku bukan album kalian. Aku tidak masalah dengan itu," lanjutku seraya mulai mengeringkan rambutku. Junghwa tampak tidak mengerti dengan perkataanku. "Jangan berbohong seperti tadi! Siapa yang kau sebut terpanas? Bukankah kau bayinya noona?" ledekku lagi seraya menjulurkan lidahku dan Junghwa hanya berkata, "What! I'm not your baby!" dengan tidak terima.


__ADS_2