The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Katanya, Mirip Itu Jodoh


__ADS_3

Suara ketukan terdengar di pintu kamar Yongju. "Hei, apa kalian tidur lagi? Berapa lama kalian akan tidur, hah? Cepatlah, bangun sekarang juga! Aku meninggalkan Namgil di mobil!" kata Seojun setengah berteriak di depan pintu. Junghwa pun berjalan membukakan pintu untuk Seojun. "Tunggu, Yongju hyung sedang di kamar mandi," kata Junghwa seraya menutup pintu itu kembali setelah dia juga berhasil kabur. "Tunggu, apa tadi itu Hana?" tanya Seojun setelah sekilas melihat sosokku dari sela pintu yang terbuka. "Hmm," sahut Junghwa seraya melangkah cepat ke arah kamarnya. "Ada apa dengan anak itu?" kata Seojun bingung. Sedangkan si adik kecil langsung bergegas mencuci mukanya di kamar mandi, sesampainya ia di kamarnya.


Junghwa mengangkat kepalanya, menampilkan wajah bayinya yang merona di sela tetesan air yang membasahi wajahnya itu. Deg! Di cermin itu, mata bulatnya seolah menangkap bayangan aku saat membusungkan dadaku di depannya. Kemudian, mata bulatnya itu beralih menatap telapak tangannya yang perlahan ia arahkan ke dadanya sendiri. Tangannya bergerak-gerak seperti sedang mengukur sesuatu di dadanya dengan bibirnya yang mengerucut. "Aku memang sudah pernah melihatnya langsung waktu di karaoke room, tapi aku tidak tahu kalau rasanya seperti itu!" pikirnya tanpa sadar. "Astaga, apa yang sudah aku lakukan!" ucap bayi itu saat menyadari bahwa ia semakin kehilangan kepolosannya gara-gara aku.


Bukan hanya Junghwa yang panas dingin sendirian, tapi Yongju yang baru saja keluar dari kamar mandi pun merasakan hal yang sama. "Damn, you look so good!" ucapnya dalam hatinya setelah langkah cool-nya terhenti saat melihat aku yang kembali tertidur menunggunya selesai. Di tempat tidurnya, Yongju melihat aku yang berbaring menyamping memunggunginya dengan masih mengenakan kaosnya tadi malam yang memperlihatkan kaki putih mulusku. Bahan kaos yang tipis dan jatuh karena posisiku, semakin menggambarkan lekuk tubuhku dari belakang.


Gulp! Yongju menelan kasar air liurnya. Rasanya, ingin sekali ia menggerakkan bibirnya di atas pemandangan menggoda ini. Yongju teringat bagaimana ia semalam menahan diri tidur di sampingku, yang tidur di dalam pelukannya, berbantalkan dadanya. Perlahan, Yongju mulai menghampiriku. Ia membungkukkan tubuhnya, memungut selimut yang terjatuh di lantai. Dengan nafas tertahan, ia menyelimutiku sebelum ia kehilangan akal sehatnya.


***


"Hyung, apa kau membawanya?" tanya Yongju pada Seojun yang menunggunya dengan gelisah. "Kenapa lama sekali? Itu, semua barang yang kau minta!" kata Seojun seraya menunjuk sebuah paperbag yang ia letakan di atas meja makan. "Aku tidak tahu baju apa yang harus aku ambil. Jadi, aku asal saja mengambilnya dari lemari Hana. Itu ada sarapan untuk kalian dari Bibi Lee, juga obat untukmu dan Hana. Bibi Lee titip pesan, katanya, tolong jaga Hana dan jangan lupa rawat lukamu," lanjut Seojun seraya berdiri dari duduknya.


"Hyung, langsung mau pulang?" tanya Yongju deraya menatap Seojun. "Apa ada yang harus aku lakukan lagi? Namgil, kasihan anak itu sudah lama menungguku di mobil," sahut Seojun. "Kenapa tidak disuruh masuk saja?" kata Yongju seraya mulai menata kotak makanan yang dibawa Seojun di atas meja makan. "Aku sudah mengajaknya masuk, tapi dia takut kau marah," jawab Seojun seraya menyuap makanan itu sambil berdiri. Yongju menatap sang kakak, "apa hyung belum makan?" tanyanya. Seojun mengangguk, "Tidak sempat karena kau memintaku mengantarnya sepagi ini!" katanya. "Duduklah dan panggil Namgil kesini. Kita sarapan bersama," kata Yongju seraya beralih menyiapkan alat makan untuk mereka. "Baiklah, kalau kau memaksa," sahut Seojun seraya mengambil duduk dan mulai menghubungi Namgil.


Selesai menyiapkan hidangan untuk para tamunya, tuan rumah melanjutkannya dengan membangunkan dan memanggil para tamunya yang masih berada di kamar. Beberapa menit kemudian, kelima pemuda itu pun sudah duduk manis di depan meja makan. "Oppa!" panggilku seraya mengeluarkan kepalaku dari balik pintu kamar Yongju yang aku buka sedikit. "Ada apa?" tanya Yongju sambil mengunyah sarapannya. Aku memanggilnya dengan tanganku. Yongju pun menghampiriku dengan kening berkerut.


Di depan kamar, Yongju kembali bertanya "ada apa?", tanpa berniat masuk ke dalam kamarnya. "Yang ini kancingnya lepas," jawabku seraya menunjukan dressku yang Seojun bawakan tadi. "Pakai yang lain," kata Yongju. "Cuma ada di ini," sahutku. "Hyung! Apa kau hanya membawa satu baju?" tanya Yongju pada Seojun. "Iya. Bukankah tadi malam kau tidak menyebutkan jumlahnya?" sahut Seojun dengan mulut penuh. "Ya sudah, kalau begitu, pakai baju oppa lagi saja!" kata Yongju padaku seraya kembali berjalan menuju meja makan.


"Tidak! Jangan pakai baju oppa!" ucap Yongju tiba-tiba saat ia kembali teringat pemandangan menyesatkan saat aku mengenakan baju kaosnya, terlebih saat Yongju baru menyadari, di depannya saat ini ada 4 pemuda lain yang sedang menatap pintu kamarnya sejak aku memanggil dirinya. Yongju bergegas masuk ke kamarnya, "Mana bajunya? Sini, biar oppa jahitkan dulu!" katanya. Yongju mematung saat menatapku yang hanya mengenakan handuk. "Uhuk! Uhuk!" Junghwa yang duduk di kursi makan yang menghadap ke arah kamar Yongju, terbatuk saat melihat pemandangan yang sama.


Yongju merebut baju di tanganku dan bergegas keluar dari kamar itu sambil menutup kembali pintunya. Semua tercengang, bukan karena mereka juga melihatku, tapi karena saat ini mereka melihat seorang Min Yongju tengah menjahit kancing untukku. "Wah, aku baru tahu, selain rapper, adikku juga bisa menjahit! Sungguh istriable sekali!" kata Seojun terkekeh. "Tadi juga saat membangunkanku, hyung juga langsung merapikan tempat tidur dan selimutnya," tambah Hyunwo. "Yongju hyung juga pandai memasak. Sungguh, hyung-ku dua-duanya istriable sekali!" sahut Junghwa.

__ADS_1


"Kenapa aku dibawa-bawa juga!" protes Seojun. "Bukankah hyung juga pandai memasak?" kata Junghwa. "Benarkah? Aku belum pernah melihat Seojun hyung memasak!" kata Namgil tidak percaya. "Hyung! Ayo, masak makan siang untuk kita!" pinta Junghwa seraya mengacungkan sendoknya ke arah dua hyung-nya itu. "Kalau hyung memasak, aku akan menunggunya," sahut Namgil seraya tersenyum manis pada Seojun dan Yongju yang tetap fokus menjahit dan tidak mempedulikan ocehan mereka. "Baiklah, hyung kalian ini akan memasak untuk adik-adiknya," kata Seojun bangga.


"Memangnya, kalian mau makan apa?" tanya Yongju yang akhirnya bicara setelah menyelesaikan pekerjaannya dan mengembalikan baju itu padaku. "Terserah hyung saja mau masak apa. Aku akan menghabiskannya," jawab Junghwa dengan manis pada Yongju yang kembali duduk di sebelahnya. "Manisnya! Katakan saja, kalau kau bayi kelaparan!" sahutku seraya duduk di seberang Junghwa. "Siapa yang noona sebut bayi kelaparan?" kata Junghwa tidak terima. "Kalau bukan bayi kelaparan, apalagi? Lihatlah, kau menghabiskan semuanya dan tidak menyisakan sedikit pun untukku!" kataku seraya memperhatikan meja makan.


Yang lainnya pun mengikutiku, memperhatikan kotak makanan dan mangkuk mereka yang sudah kosong, tapi mangkuk Junghwa masih penuh, padahal Junghwa sejak tadi tidak berhenti mengunyah. "Ini, makan saja punya oppa!" kata Yongju seraya menyodorkan mangkuknya padaku. "Tidak usah. Oppa, makanlah! Oppa juga belum selesai makan bukan, gara-gara menjahitkan kancingku," kataku seraya mengembalikan mangkuknya pada Yongju.


Seojun, Namgil dan Hyunwo pun jadi merasa bersalah karena mereka juga ikut andil menghabiskan makanan, tanpa ingat masih ada penghuni yang belum makan. "Hei, Yongju, apa kau punya sereal dan susu?" kata Seojun seraya berdiri dan mulai menggeledah isi dapur Yongju. Setelah mendapatkan sereal dan susu instan, "Hana, maafkan oppa. Oppa jadi tidak sadar menghabiskannya karena masakan Bibi Lee sangat enak. Apa kau mau oppa buatkan sereal?" kata Seojun manis. "Kalau begitu, biar aku ambilkan mangkuknya," tambah Namgil. Hyunwo pun tidak tinggal diam, dia berjalan ke arah kulkas dan kembali dengan buah-buahan di tangannya, "mau pakai buah?" tawarnya plus senyuman hangatnya itu. Bak seorang putri raja, mereka bertiga menyiapkan sarapan untukku, meski hanya semangkuk sereal dengan topping buah di atasnya.


"Terima kasih, oppa!" ucapku seraya tersenyum manis pada ketiganya. Mereka pun kembali duduk, sedangkan Junghwa menatapku sinis. "Manja!" katanya seraya mencibirku. "Bayi!" balasku seraya menyuap buah blueberry dengan tanganku, sambil mengedipkan mataku nakal ke arahnya. Deg! Keusilanku berubah godaan di mata sang bayi yang wajahnya langsung tersipu malu dengan polosnya. Dengan cepat, Junghwa langsung menyembunyikannya dengan menunduk, tapi lagi-lagi mata bulatnya salah arah. Junghwa pun seketika terdiam.


Deg! Deg! Deg! Junghwa menyadari jantungnya berdebar kencang. Lantas, dengan cepat mengalihkan pandangannya, kembali menatapku yang tengah menikmati sarapanku. Ia ingin memastikan penyebab detak jantungnya yang tak karuan. Deg! Atensinya kembali tersesat, saat aku menyuap potongan strawberry dan mengunyahnya dengan pelan sambil tersenyum pada Seojun yang mengajak aku bicara. "Apa yang merah itu rasanya manis? Pasti enak, jika bisa sarapan itu setiap pagi!" pikir Junghwa seraya membayangkan mencium bibirku. Bayi itu pun kembali teringat kalau ia juga pernah mengecup bibirku saat di LA.


***


"Selesai!" ucapku seraya bertepuk tangan. "Kau berbakat! Mau jadi dokter di rumah sakit oppa?" kata Seojun seraya ikut bertepuk tangan. "Noona itu takut jarum suntik, hyung!" sahut Junghwa di depan pintu. Aku sudah berniat berdebat dengannya, tapi Junghwa lebih dulu membuatku kalah telak. "Siapa coba yang menangis tidak mau melepaskan tanganku saat di infus!" katanya meledekku. "Hyung, sudah selesai? Ayo, kita berangkat!" ajak Junghwa seraya berbalik, setelah meledekku lagi dengan menjulurkan lidahnya.


Aku ingin mengejarnya, tapi Yongju menahan tanganku. "Kemarilah!" katanya. Ia memintaku duduk di sampingnya. Aku pun menurutinya. Ia berdiri di depanku dan mulai mengikat rambutku dengan gelang karet hitam di tangannya. Aku tertegun dengan perlakuan manisnya karena ini hal pertama yang ia lakukan karena baru kali ini, rambutku sepanjang ini. Selama ini, rambutku selalu pendek dan cukup Yongju tutupi dengan topi setiap kali kami keluar bersama, tapi sekarang rambutku sudah sepunggung. "Seperti yang oppa duga, kau akan lebih cantik saat rambutmu panjang. Makanya, oppa selalu memintamu untuk memotong rambutmu karena oppa tidak ingin berbagi kecantikanmu dengan yang lain. Ayo, kita pergi!" kata Yongju seraya berjalan di depanku dengan dingin. Padahal baru saja ia begitu manis di depanku.


***


Di supermarket, Yongju dan Seojun sibuk memilih bahan makanan untuk mereka masak. Sedangkan Junghwa, Hyunwo dan Namgil sibuk memilih cemilan. Tiba-tiba Junghwa menyadari ketidakberadaanku di antara mereka dan bergegas mencariku tanpa memberitahu yang lain karena tidak ingin membuat keributan. "Apa yang noona cari?" tanya Junghwa yang berhasil menemukanku. Aku yang sedang mengambil sebungkus pembalut pun terkejut bukan main dibuatnya sampai pembalut di tanganku terjatuh di depan Junghwa yang langsung memungutnya, lalu membacanya sekilas.

__ADS_1


"Kembalikan!" kataku seraya berusaha merebutnya darinya. "Iya, iya, aku kembalikan! Siapa juga yang mau memegangkannya untuk noona!" jawab Junghwa seraya melempar benda itu padaku. Aku yang kesal, meninggalkannya dengan sebungkus pembalut di tanganku dan langsung menuju kasir untuk membayarnya. Junghwa hanya diam di tempat melihatku. Matanya melirik ke arah susunan pembalut di sampingnya.


"Junghwa, kau sudah selesai?" tanya Hyunwo dari balik rak yang memisahkan mereka. "Belum. Hyung duluan saja ke kasir. Masih ada yang aku cari," jawab Junghwa. Mereka pun melakukan pembayaran di kasir setelah selesai berbelanja. Bahkan kami harus menunggu Junghwa yang belanja paling terakhir. Junghwa memasukan tas belanjaannya di bagasi mobil, lalu ikut masuk ke dalam mobil. "Apa yang kau beli? Kenapa lama sekali?" tanya Seojun. "Antriannya panjang," jawab Junghwa singkat, tanpa ingin memberi tahu apa yang ia beli.


Sesampainya di apartemen, semuanya membantu membawakan barang belanjaan. Sedangkan aku kebagian membawa seikat bunga tulip putih. "Siapa yang membeli ini?" tanyaku pada mereka mereka yang berjalan di depanku. "Oppa, untukmu!" jawab Yongju yang baru keluar dari mobil seraya mendahuluiku setelah menyentuh pucuk kepalaku. Aku tersenyum seraya mencium dan menghirup wangi bunganya. Senyuman yang melebihi cantiknya bunga putih di tanganku dan berhasil membuat Junghwa yang memutar badannya tanpa sadar hingga tertabrak Namgil yang berjalan di belakangnya. "Maaf," ucap Namgil. Junghwa yang serba salah hanya diam sambil melanjutkan langkahnya. "Hyunwo hyung, berikan ini nanti pada noona!" kata Junghwa seraya menyerahkan tas belanja yang ia bawa pada Hyunwo dan langsung pergi lebih dulu.


Beberapa saat kemudian, kami pun mulai sibuk di dapur. Yongju dan Seojun bertugas memasak dan kami membantu seadanya. "Apa ini?" tanya Namgil yang ditugaskan merapikan belanjaan seraya mengangkat sebungkus pembalut di tangannya. Aku yang melihatnya pun langsung merebutnya dari tangannya dengan wajah memerah, tapi sesaat kemudian aku sadar kalau itu bukan milikku karena milikku sudah aku simpan di dalam tasku. "Ah, itu punya Hana. Tadi, Junghwa menyuruhku memberikannya pada Hana," jawab Hyunwo.


Yongju dan Seojun menghentikan aktivitas mereka dan melihat ke arahku yang bergegas merapikan isi tas belanjaan itu yang sempat di tumpahkan Namgil di atas meja. "Kau perlu sebanyak itu?" tanya Yongju kaget melihat jumlahnya yang selusin. "Apa itu?" tanya Seojun bingung. Aku tertawa canggung. "Bukan apa-apa! Biar aku simpan dulu ini di kamar," kataku kikuk. Setelahnya, aku menuju kamar Junghwa yang dari tadi tidak terlihat untuk menanyakan alasannya membeli pembalut sebanyak itu.


Di dalam kamar Junghwa, aku memanggilnya, tapi tidak mendapat respon karena telinganya yang tertutup headphone gaming miliknya. Aku memutar kursi gamer Junghwa yang sedang fokus dengan layar komputernya. Junghwa yang marah karena permainannya terganggu gara-gara aksiku tadi, langsung berdiri di depanku. "Noona!" bentaknya kesal. "Kenapa kau membeli pembalut sebanyak itu? Untuk apa?" tanyaku. "Ya, tentu saja, untuk noona. Bagaimana bisa itu untukku? Bukankah lebih baik beli banyak sekaligus daripada nanti noona menyuruhku membelinya lagi, seperti waktu itu?" katanya. "Memangnya, siapa yang ingin menyuruhmu membelinya!" sahutku kesal. "Seharusnya noona ucapkan terimakasih karena sudah kubelikan! Kalau tidak perlu, buang saja!" katanya ikut kesal karena melihatku kesal.


Junghwa pun keluar dari kamarnya, setelah menghentakan kakinya di depanku. "Dasar bayi!" gumamku sinis. Junghwa duduk di meja makan dengan cemberut. "Ada apa lagi?" tanya Yongju sambil tetap membuat makanan. "Noona menggangguku bermain game!" adu Junghwa. Semua melirik ke arahku yang menyusul Junghwa di belakangnya. "Kenapa kalian berdua ini seperti kucing dan tikus?" kata Seojun tanpa melihat kami berdua. "Karena mereka berdua mirip," sahut Yongju. Aku dan Junghwa melebarkan mata kami mendengarnya, lalu saling melempar pandang. "Mirip? Tidak mau!" kata Junghwa. "Amit-amit jabang bayi!" tambahku.


Hyunwo tertawa melihat reaksi penolakan dari kami berdua. "Kalian itu mirip, makanya tidak bisa akur!" lanjut Yongju. Aku dan Junghwa saling melirik dan mencibir satu sama lain. "Pertama kali bertemu Junghwa, aku merasa familiar. Setelah mengenalnya, aku tahu alasannya karena sifat dan kelakuannya mirip Hana," lanjut Yongju. "Bukan aku yang mirip, tapi noona yang meniruku!" kata Junghwa protes. "Hei, bayi! Sudah jelas, aku lebih dulu lahir darimu. Jadi, kau yang meniruku!" sahutku tidak terima.


"Kalian semua lihat saja! Benar-benar mirip, bukan?" kata Yongju seraya meletakan masakan pertamanya di meja, tepat di depan aku dan Junghwa yang duduk bersebelahan. "Kalau diperhatikan wajah mereka juga mirip, hanya beda rambutnya saja," katanya seraya membandingkan langsung wajah kami berdua secara dekat. Yang lainnya pun ikut mendekat dan memandangi aku dan Junghwa yang sama-sama memundurkan wajah kami.


"Mata mereka juga mirip. Sama-sama punya double eyelid," kata Yongju. "Iya, mirip! Aku baru sadar!" kata Hyunwo, Seojun dan Namgil bersamaan. "Tapi hidung Hana lebih kecil," kata Namgil. "Tidak mau, aku lebih baik mirip Yongju oppa saja! Bukankah kita sepupu?" ucapku menolak. "Bisa saja karena itu! Yongju hyung dan Junghwa mirip karena kakak beradik. Yongju hyung dan Hana mirip karena sepupu. Jadi, wajar saja kalau wajah kalian bertiga punya kemiripan," kata Namgil menyimpulkan.


"Tapi menurutku Hana lebih mirip Junghwa!" kata Hyunwo seraya masih menilai dengan menambahkan wajah Yongju di pandangannya. "Bukan! Aku rasa, bukan hanya sedikit kemiripan, tapi benar-benar mirip! Padahal Hana tidak ada hubungannya dengan Junghwa!" katanya lagi dengan kening berkerut memikirkannya. "Wah, daebak! Katanya, kalau mirip itu jodoh!" tambahnya seraya bertepuk tangan. Junghwa menatap tajam pengawalnya itu. "Coba katakan sekali lagi, aku suruh hyung kembali ke Jepang hari ini juga!" kata Junghwa geram. "Apa kau marah?" kata Hyunwo seraya tertawa.

__ADS_1


"Mau tahu, tidak? Ada yang tidak mirip!" kata Seojun setelah dari tadi diam mengamati dengan seksama. "Apa?" tanya mereka semua, selain aku dan Junghwa yang semakin kesal jadi bahan pembicaraan mereka. "Gigi!" kata Seojun yang membuatku langsung menutup mulutku dengan tanganku. Sedangkan Junghwa langsung merasa tidak enak. "Gigi kelinci itu hanya milik bayi ini!" ledek Seojun seraya tertawa keras. Kami semua pun tertawa sambil melirik Junghwa yang berwajah semakin masam. "Bibir kami juga berbeda! Kalian saja yang tidak sadar!" ucap Junghwa pelan sambil melirik ke bibirku yang tertawa. Yongju yang cool pun ikut tertawa. "Ternyata, menyenangkan berkumpul seperti ini! Sebelum ini, hidupku hampir selalu terburu-buru untuk melewati hari dengan kesibukan. Sepertinya, aku harus menuliskan kejadian hari ini di buku catatanku!" pikir Yongju.


__ADS_2