The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Kado Ulang Tahun Dariku Untukmu


__ADS_3

Malam harinya, setelah makan malam, kami berempat bersiap untuk keluar merayakan malam pergantian tahun di luar hotel. Daehyun dan kedua orang tuanya sudah menungguku di lobby hotel. Sedangkan aku terlambat karena harus menyiapkan sesuatu. "Sebenarnya, dari hotel juga bisa, bukan? Lagi pula, kembang apinya di sini juga ada! Di depan juga banyak pertunjukan light projection. Kenapa kita harus keluar hotel?" protes Nyonya Kim yang malas pergi. "Tentu saja, mencari suasana tahun baru di tengah kerumunan! Ayolah, aku ingin pergi ke One Fullerton di seberang sana! Dari sana kita bisa melihat pemandangan kembang api saat detik-detik pergantian tahun, dengan latar belakang Marina Bay Sands dan Singapore Flyer yang ikonis," kata Tuan Kim.


"Kita bisa merayakan tahun baru dengan berbagai minuman di bar-bar sepanjang One Fullerton sambil menanti pergantian tahun. Ayolah, temani aku! Kau tidak akan kecewa!" bujuk sang suami. "Apa kalian berdua ikut?" tanya Nyonya Kim pada aku dan Daehyun. "Biarkan saja mereka pergi berdua! Jangan menganggu mereka!" sela appa Daehyun, yang disambut senyum sang putra. "Tapi katakan dulu, kalian mau ke mana?" kata Nyonya Kim. Aku menatap Daehyun yang berdiri di sampingku, seolah menanyakan pertanyaan yang sama. "Helix Bridge, mungkin. Kami belum sempat ke sana. Katanya, visual di sana sangat keren," jawab Daehyun. "Helix Bridge?" ucapku seraya mengingat-ingat tempatnya. "Jembatan spiral yang kita lewati kemarin. Katanya, di sana spot yang bagus untuk menonton kembang api," kata Daehyun.


Aku dan Daehyun pun berpisah dengan kedua orang tuanya. Tapi sesampainya kami di jembatan dengan cahaya-cahaya spiral yang itu, "Astaga, kita terlambat! Sudah penuh seperti ini!" kata Daehyun seraya mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong untuk kami tempati. "Bagaimana kalau pindah tempat saja?" usulku. "Ke mana?" tanyanya. "Kemarin aku dengar dari salah satu staff hotel, di sini juga diadakan Countdown Food Truck Fest. Bagaimana kalau kita ke sana saja? Kita bisa sekalian wisata kuliner," jawabku. "Baiklah, kita ke sana saja!" katanya seraya memperhatikan wajahku yang sejak tadi siang selalu tersenyum. "Apa sayang sedang sangat bahagia?" tanyanya. "Tentu saja! Ini hari minggu terbaik karena malam tahun baru dan juga dilamar," kataku tersipu malu sambil mengayunkan tangan kami yang bergandengan.


Kami berdua pun pergi dan menunggu sambil menjelajahi tempat ini dari timur ke barat, menikmati wisata kulinernya. Sampai tepat pada tengah malam, pertunjukan kembang api yang spektakuler menghiasi langit Singapura. Pemandangan indah sejauh mata mengembara. Terlebih, ditambah dengan pertunjukan musikal yang dikombinasikan dengan piroteknik dan lampu-lampu, suara 3D dan performance act yang menerangi seluruh Marina Bay di depan kami.


"Selamat tahun baru!" kataku seraya memasukan kedua tanganku ke dalam jaket yang Daehyun kenakan, untuk memeluk pinggangnya. "Selamat tahun baru juga, calon istriku!" balasnya seraya membalas pelukanku sambil mengecup pucuk kepalaku. "Sekarang, apa kita kembali ke hotel atau pergi menemui orang tua oppa?" tanyaku seraya mendongakkan wajahku menatapnya. "Untuk apa mencari mereka? Kita sudah melihat mereka sepanjang waktu. Biarkan saja mereka berdua menikmati waktu mereka bersama," jawabnya.


***


Di hotel, aku mengajak Daehyun untuk masuk ke kamarku. Daehyun pun mengikutiku dari belakang dan ia tersenyum saat melihat kue ulang tahun di atas meja yang diam-diam aku siapkan untuknya. "Apa ini? Kemarin mengucapkan selamat ulang tahun sebelum waktunya, sekarang memberi kejutan sehari setelahnya!" katanya seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Bukankah kemarin tidak ada kuenya. Sudah, sini! Jangan banyak protes! Tiup saja lilinnya!" kataku kesal. Daehyun pun berjalan mendekatiku yang mengangkat kue itu dan meniupnya setelah untuk sesaat memejamkan kedua matanya. "Selamat ulang tahun," kataku dengan senyuman bahagia, "calon suamiku!" lanjutku seraya mengecup pipi Daehyun. Daehyun tersenyum, "Terima kasih," katanya seraya mengacak-acak rambutku.

__ADS_1


Aku meletakan kue ultah itu kembali ke atas meja. Kemudian, berjalan ke arah kulkas mini yang tersedia di kamar hotel ini. Aku mengambil sebotol wine mini yang ada di dalam kulkas itu. Tak lupa, aku masukan ke dalam dua gelas wine yang memang disediakan di dalam laci kamar hotel ini. "Apa yang sayang lakukan? Sayang, mau minum?" tanya Daehyun tidak percaya, mengingat aku yang tidak pernah minum. "Kenapa? Tidak boleh?" tanyaku dengan cemberut. "Memang sayang bisa?" tanyanya ragu. Aku menggeleng ragu karena memang aku tidak pernah mencoba meminumnya. "Sedikit saja! Boleh, ya?" kataku pelan dengan wajah memelas dan bertingkah imut. Daehyun terkekeh, "Coba saja, paling hanya satu tegukan, sudah menyerah!" sahutnya.


Dari belakang, Daehyun diam memperhatikanku menyiapkan wine itu, sambil menyandarkan salah satu bahunya di dinding kamar, menungguku menghampirinya dengan dua gelas wine di tanganku. "Yakin?" tanyanya sekali lagi saat aku menyerahkan salah satu gelas padanya. "Cheers!" kataku seraya menabrakkan dengan sangat pelan gelasku ke gelas Daehyun. Tanpa ragu, aku mencoba mencicipinya. Sedangkan Daehyun meminumnya sambil fokus memperhatikan reaksiku. Sejenak, aku mengerjapkan mataku saat meneguk white wine dengan kadar alkohol rendah ini. Aku kira, rasanya sepat seperti kata orang, tapi yang aku rasakan di mulutku sekarang adalah rasa manis strawberry dengan teksturnya yang encer dan sedikit berbusa. Satu alis Daehyun terangkat saat aku kembali mengecap wine-ku. "Sepertinya, gadisku menyukainya!" gumamnya seraya terkekeh, lalu meneguk habis wine di gelasnya.


Daehyun yang sudah terbiasa dengan minuman beralkohol, berjalan ke kulkas untuk mengisi gelasnya kembali. Aku meletakan gelasku di atas meja, menunggu Daehyun menghampiriku dengan gelasnya yang sudah terisi kembali. "Mau lagi?" tanyanya seraya menawarkan wine miliknya. Tanpa Daehyun duga, aku menarik bagian leher baju kaosnya hingga tubuhnya menunduk ke arahku, tanpa aku peduli wine di tangannya sedikit tumpah ke lantai. Cup! Aku mengecup bibirnya sekilas, "Saranghae!" ucapku seraya tersenyum begitu manis. Daehyun yang kaget dan juga gemas dengan serangan manisku yang mendadak ini, langsung menarik aku ke pelukannya seiring dengan tubuhnya yang kembali tegap. Daehyun ingin memelukku, tapi aku mendorongnya.


Tanpa mengatakan apapun, aku melenggang masuk ke kamar mandi, meninggalkan Daehyun yang kebingungan karena tidak mengerti dengan maksudku malam ini. Karena penasaran, ia berusaha menyusulku ke kamar mandi, tapi pintunya sudah aku kunci dari dalam. "Apa yang sayang lakukan di dalam?" tanyanya seraya mengetuk pintu kamar mandi. "Ganti baju!" jawabku dengan sedikit berteriak. "Hah? Ganti baju? Untuk apa? Bukankah kita mau tidur?" tanyanya lagi. "Mau tidur juga, harus ganti baju, bukan? Biar tidur cantik!" sahutku. "Astaga, memangnya penampilan itu jauh lebih berarti saat tidur?" katanya. "Nanti saja ganti bajunya, kalau sudah oppa buka!" katanya seraya memainkan pintu dengan ketukan jari-jarinya. "Sudah, sana! Oppa tunggu saja di luar!" kataku.


Saat pintu kamar mandi terbuka, Daehyun tengah duduk di atas tempat tidur dengan gelas wine di tangannya. Saat atensinya menangkapku, Daehyun seketika mematung sambil menatapku dengan mulut ternganga, tanpa berkedip beberapa detik. Kedua pupil hitamnya bergetar, seolah ada retakan di matanya saat melihatku berjalan kearahnya dengan mengenakan lingerie super seksi dengan aksen pita di bagian perut, sebagai pengikat tutup kadoku untuknya malam ini.


Lingerie transparan berwarna putih yang aku kenakan, seolah mengundang semua cahaya yang membias di mata Daehyun untuk berfokus pada satu titik, tubuhku. Saat aku hampir sampai beberapa langkah lagi di depannya, Daehyun perlahan berdiri untuk menyambutku. Aku mengambil alih gelas wine di tangannya dan meletakkannya di atas meja nakas. "Apa ini? Apa ini kado ulang tahun untuk oppa?" tanyanya dengan suara deep-nya yang sudah terdengar memburu sambil menyentuh pita di bagian perutku.


Aku melirik ke arah tangan Daehyun yang memainkan pita itu. "Oppa tahu, sayang tipe orang yang akan membalas setiap yang sayang dapatkan. Tapi jangan lupa, malam ini sayang sendiri yang merangkak ke tempat tidur oppa! Jadi, jangan kecewakan oppa malam ini!" katanya seiring lirikan elangnya dan seringai evil-nya yang mematikan itu. Daehyun sudah berniat menarik pita di tangannya, tapi sebelum itu terjadi, aku menepis tangannya. "Memangnya, kapan aku mengecewakan oppa, huh?" kataku berpura-pura santai. Padahal sejak dari kamar mandi tadi, rasanya jantungku sendiri sudah mau melompat dari tempatnya.

__ADS_1


Daehyun menarik pinggangku, lalu menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur sambil memelukku di atasnya. Namun, aku tidak menerima pelukannya dan berguling ke samping, lalu kembali berdiri di sisi tempat tidur, sekali lagi membuat Daehyun tidak mengerti. "Sayang, sekarang apa lagi?" tanyanya, berusaha duduk dan meraih pinggangku lagi. Aku melangkah mundur sebelum tangannya meraih pinggangku. Seperti biasa, satu alis Daehyun terangkat menatapku dengan bingung. Kemudian, Daehyun berdiri, berniat menghampiriku.


Bukannya menjauh, aku malah mendekat. Lantas, aku mengecup bibirnya lagi dengan sedikit berjinjit karena tinggiku yang tidak pernah cukup menggapainya. Hanya sebuah kecupan singkat, tapi Daehyun menginginkan lebih. Kami berciuman sambil saling memagut dan berjalan ke arah tempat tidur. Sesampainya di sisi tempat tidur, aku mendorong Daehyun lagi sampai terduduk di tempat tidur. "Apa sayang sedang mempermainkan oppa? Sayang sengaja? Mau bermain, huh?!" katanya seraya menatapku dengan matanya yang nakal.


Daehyun memanggilku dengan jari telunjuknya, lalu memintaku duduk di atas pangkuannya dengan menepuk pelan pahanya. Perlahan, aku mendekatinya, tapi dengan berani, aku membuka kakiku dan meletakan satu kakiku di antara pahanya. Memastikan semua pertahanan Daehyun semakin rusak dengan ulah nakalku. Daehyun kembali mengangkat alisnya melihat tingkah beraniku di depannya. Hingga pada akhirnya, maung ini tersenyum miring sambil meletakan satu tangannya di atas pahaku yang terekspos jelas di depannya.


Dengan menekan tangannya di atas pahaku, Daehyun menarik pahaku dan membuat tubuhku terdorong ke dadanya. Ia langsung ingin menyambar bibir plum-ku, tapi aku mencengkeram lehernya dengan satu tanganku. Sedangkan tanganku yang satunya, meraih gelas wine di sampingku. Aku membuat Daehyun mendongakan wajah tampannya itu. Lalu, aku tuangkan wine tadi ke mulutnya, tanpa peduli sebagian wine itu tumpah membasahi bajunya. Lantas, aku mengecup bibirnya yang basah itu berkali-kali, tanpa menciumnya dengan sengaja. Daehyun yang sedari tadi hanya diam mengikuti permainanku dan terus menatap dalam diriku, menarik tengkukku saat kesabarannya sudah runtuh. Daehyun memperdalam ciumannya dengan ganas dan berhasil menumbangkan aku ke atas tempat tidur. Sampai akhirnya, Daehyun berhasil menarik pita di perutku dengan menggigitnya, membuka kado ulang tahunnya dariku.


***


Keesokan paginya, aku membangunkan Daehyun yang tertidur di kamarku. "Oppa, bangunlah dan cepat kembali ke kamar oppa sebelum eomma datang!" kataku seraya mengecup mesra pipi Daehyun yang tidur tengkurap. "Tidak terasa, liburannya sudah mau selesai," gumamku seraya memunguti pakaian Daehyun yang berserakan dan menyerahkan pada pemiliknya. Daehyun pun menurutiku, bangun dan merapikan dirinya, sebelum melanjutkan tidurnya lagi di kamarnya. "Iya, waktu cepat berlalu seperti asap," katanya seraya menghembuskan asap dari vape-nya.


Aku mendelikkan mataku saat asap beraroma strawberry itu sedikit menerpa wajahku. "Ya, sudah. Musim panas nanti kita liburan lagi. Bagaimana kalau ke pantai Spanyol?" ajaknya seraya memelukku dari belakang. "Oppa, jangan meniupnya ke wajahku!" kataku kesal karena Daehyun kembali menghembuskan asap vape-nya ke arahku. Daehyun terkekeh, "Ini asap cinta yang oppa keluarkan dari dada oppa!" katanya seraya menjulurkan lidahnya dan kembali ke kamarnya dengan puas.

__ADS_1


__ADS_2