The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Maukah Kau Menikah Denganku?


__ADS_3

Daehyun terus menggandeng tanganku dengan diam. Bahkan aku merasa tangannya sedikit berkeringat. "Akhirnya, gagal juga!" ucap Daehyun dalam hati seraya menghela nafasnya panjang karena lamaran romantis yang sudah ia rencanakan dengan baik, gagal karena kegugupan dirinya sendiri. "Apa aku lamar di kamar saja? Di atas tempat tidur?" pikirnya yang baru saja dapat ide baru untuk melamarku. Baru saja, Daehyun ingin menyusun rencana baru itu di otaknya, sudah ada halangan nyata di depan matanya. "Bagaimana? Sukses?" tanya Nyonya Kim yang kebetulan sudah menunggu kami di depan pintu kamar hotelku. Daehyun pun dengan gerakan secepat kilat, meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya, memberi isyarat agar sang eomma menutup mulutnya.


"Astaga, burung beo ini selalu menganggu!" umpat Daehyun dalam hatinya dengan wajah kesal. Sedangkan sang eomma langsung menarik Daehyun dan menanyakan, "Apa maksudnya? Kau tidak jadi melamar Hana?" dengan berbisik. "Belum! Eomma kembalilah dulu ke kamar eomma," bisik Daehyun dengan geram. "Kau ini bagaimana, sih? Masa seperti itu saja tidak bisa!" kata Nyonya Kim seraya memukul pelan lengan sang putra. Aku yang tidak mengerti percakapan keduanya pun hanya diam memperhatikan. "Hana, lebih baik kau tidur saja dulu, ya! Bibi ada perlu dengan Daehyun," kata Nyonya Kim seraya menarik paksa Daehyun ke kamarnya.


***


Keesokan harinya, Nyonya Kim mengajakku shopping lagi. Kali ini, kami menjelajahi mall-mall di Orchard Road, sebuah jalan yang sangat terkenal sebagai tempat wisata dan surganya belanja di Singapura, yang juga dipenuhi restoran dan spa. Sebelum pergi, aku juga mengajak Daehyun agar ikut bersamaku, tapi ia menolak dengan alasan sudah membuat janji dengan appa-nya. Padahal, tanpa aku ketahui, hanya selisih satu jam setelah kepergianku, Daehyun juga pergi ke orchard road seorang diri. Daehyun tampak berbicara dengan beberapa orang di depan mall. Setelah semua dirasa beres, ia menghubungiku, mengatakan bahwa dia datang menyusul kami untuk menemaniku shopping. Begitu pula, Tuan Kim yang datang menyusul belakangan.


Beberapa jam kemudian, setelah selesai berbelanja, kami berempat duduk-duduk santai untuk istirahat siang di kawasan yang terkenal dengan trotoarnya yang luas dan sangat nyaman dengan pohon-pohon besarnya yang yang sangat rindang ini. Tidak lupa, kami pun berfoto untuk kenang-kenangan. Karena untuk menyambut natal dan tahun baru seperti ini, sepanjang jalan ini didekorasi fantastis dan unik dengan tema natal dan tahun baru. Sayang, hari masih siang, jika malam, pasti dekorasinya lebih meriah dan memukau.

__ADS_1


"Sayang, ayo, kita beli itu!" ajak Daehyun seraya menunjuk ke arah gerobak motor yang menjual es krim sandwich seharga 1 dollar. "Tapi, antriannya panjang!" sahutku, tapi Daehyun mengindahkannya dan tetap menarik tanganku untuk ikut dengannya. Kami berdua pun ikut mengantri di barisan, meninggalkan orang tua Daehyun yang duduk di kursi yang tersedia di sepanjang jalan yang selalu ramai ini. Butuh waktu beberapa menit untuk kami mengantri sampai berhasil mendapatkan es krim strawberry yang diapit dua lembar roti itu.


Karena ukurannya besar, kami pun hanya memesan satu eskrim untuk dimakan berdua. Daehyun memberikan gigitan pertama untukku, sebelum ia mengigit bagian yang lainnya. Kami berdua pun asyik menikmati es krim bergantian sambil berjalan kembali menuju tempat duduk kami tadi. Tanpa aku melihat, Daehyun yang berjalan di sampingku, memberi kode pada beberapa orang yang tak jauh berada di depan kami. Tak berselang lama, sebuah lagu mengalun dan membuatku mencari asal suara dari lagu itu.


Di depanku, tampak beberapa pemain musik dan penyanyi jalanan sedang melakukan pertunjukannya. Lagu lawas, Stand by me milik Ben E. King mengalun dengan sangat indah dan menghibur semua pengunjung yang ada di sini. "Romantis!" ucapku seraya tersenyum dan menghentikan langkahku untuk menikmati pertunjukan ini. Tiba-tiba tanpa malu, Daehyun melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, "Apa sayang suka lagunya?" tanyanya. Aku yang belum tahu apa-apa pun hanya mengangguk menjawabnya.


Kemudian, Daehyun menyuruhku memberi makan merpati-merpati itu. "Sayang, coba sobek-sobek roti es krimnya seperti ini, lalu beri makan merpati-merpati itu. Saat mereka semua sudah berkumpul, sayang berputarlah. Oppa akan merekam sayang dari sini, mengerti?" kata Daehyun memberiku arahan. "Di sini?" tanyaku, "tapi banyak orang lain yang melihatnya!" lanjutku malu seraya memperhatikan sekitarku yang dipenuhi pengunjung lain. "Tidak apa-apa. Tidak usah malu. Ayolah, sekali saja!" bujuk dan mohon Daehyun dengan sangat.


Aku pun menuruti tunanganku yang mendadak menjadi sutradara ini. Setelah menghabiskan es krimnya dan menyisihkan sebagian rotinya, aku perlahan berjalan ke tengah kawanan merpati itu dan mulai memberi makan merpatinya. Daehyun mulai menerbangkan drone-nya. "Sayang, oppa akan mulai merekamnya. Sayang tinggal ikuti saja kemana arah drone-nya berputar, oke?" katanya dengan remote drone di tangannya.

__ADS_1


Sesuai arahan sang sutradara tampanku, setelah merpati-merpati itu mengelilingiku dan drone milik Daehyun yang sudah melayang di depanku dan Daehyun memberikan aba-aba dari belakangku, aku pun berputar perlahan dan membuat merpati-merpati itu berterbangan dengan indahnya. "Pasti akan menjadi video yang indah," pikirku saat itu, tapi belum selesai aku berputar satu lingkaran penuh, pemandangan yang lebih indah tersaji di depanku. Daehyun, tunangan tampanku itu tengah berdiri dengan sebuah kotak kecil di tangannya.


Seketika, suasana yang awalnya ramai dengan bermacam suara dan bunyi yang memenuhi tempat ini, menjadi sunyi di telingaku. Yang terdengar di telingaku hanyalah lirik dari lagu romantis yang sengaja Daehyun request untuk melamarku. Aku pun benar-benar speechless saat Daehyun mulai menyanyikan bagian lagu itu dengan suara beratnya yang khas dengan penghayatannya yang sangat keren, belum lagi aura yang ia keluarkan. Aku benar-benar terbius mendengar suaranya.


Daehyun menghentikan nyanyiannya saat musik berhenti, lalu berjalan mendekatiku. "Jika malam menjelang dan gelap menyelimuti, dan cahaya yang kita lihat hanyalah cahaya rembulan, aku tak akan takut, selagi kau ada di sisiku," katanya di depanku dengan lembut. "Jika langit yang kita pandangi runtuh dan jatuh, dan gunung pun hancur dan larut ke laut, aku takkan menangis. Takkan kuteteskan air mata, selagi kau ada di sisiku," lanjutnya seraya menyeka lembut air mata yang membasahi pipiku.


"Lee Hana, setiap kali kau bahagia atau pun dalam kesulitan, maukah kau selalu berada di sisiku, selamanya, sepanjang hidup kita?Sayang, maukah kau menikah denganku?" katanya dengan berlutut di depanku seraya membuka kotak kecil di tangannya. Aku yang sudah tidak bisa berkata-kata pun, hanya mengangguk menjawabnya. Lalu, Daehyun pun tersenyum sangat tampan dan langsung memasangkan cincin itu di jariku.


Setelah itu, barulah aku sadar ternyata appa Daehyun lah yang mengontrol drone-nya. Selain itu, aku juga baru sadar, kalau aku sudah jadi pusat tontonan semua orang yang ada di sepanjang jalan ini. Telingaku yang semula menuli karena speechless, tiba-tiba berfungsi kembali dengan riuh tepuk tangan dan sorakan para pengunjung. Karena malu, aku pun bersembunyi di dada bidang Daehyun yang memelukku dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2