The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Sepertinya, Aku Juga Menyukainya


__ADS_3

Cekrek! Aku keluar dari kamar mandi setelah mengganti baju Yongju yang aku pinjam dengan pakaianku sendiri dan mendapati Junghwa yang masih berdiri di kamarku dengan wajah kesal karena aku panggil bayi. "Bagaimana? Apa noona masih meremehkanku padahal aku sudah bernyanyi sebagus tadi?" kata Junghwa yang baru saja melakukan konser solo di kamarku saat aku mengganti baju di kamar mandi. Bocah 14 tahun itu benar-benar tidak terima aku panggil "baby" dan dengan imutnya, Junghwa merengek seperti balita sungguhan. Sejak tadi, ia tidak mau keluar dari kamarku sebelum aku mengakui bakat bernyanyi ini. "Pokoknya, noona harus mengakuinya! I'm born singer, you know!" ucapnya semakin kesal saat aku tidak menggubris rengekannya dan malah keluar dari kamarku saat seorang pelayan memanggil kami untuk turun ke bawah.


"Siapa?" suara Yongju yang berdiri di depan pintu kamarku, membuat aku dan Junghwa menatapnya. Rupanya, Yongju mendengar perkataan terakhir Junghwa saat aku membuka pintu tadi. "Siapa yang terlahir sebagai penyanyi? Kau?" tanya Yongju lagi seraya menunjuk Junghwa. "Kata siapa? Oppa-lah yang terlahir sebagai penyanyi, bukan bayi ini!" sahutku seraya sengaja menekankan kata bayi saat aku menunjuk Junghwa yang berdiri di belakangku dengan jempolku. "Tentu saja! Terima kasih atas pengakuannya, walaupun sedikit terlambat!" sahut Yongju yang juga sengaja membuat adiknya itu semakin kesal dan benar saja, wajah bermata bulat itu semakin cemberut saja.


"Aku bersumpah, aku akan membuktikannya pada kalian! Hyung dan noona menyebalkan! Minggir!" kata Junghwa seraya menyenggol bahuku agar memberi jalan untuknya lewat. Junghwa pun meninggalkan aku dan Yongju dengan merajuk. Aku dan Yongju pun tertawa melihat tingkah Junghwa yang masih kekanak-kanakan itu, sampai Yongju tampak menghela nafasnya panjang. "Ada apa?" tanyaku dan Yongju tersenyum manis ke arahku, lalu kembali menatap punggung Junghwa yang sudah semakin menjauh. "Rasanya, semua ini masih seperti mimpi. Aku memiliki keluarga lagi. Khayalan yang selalu tampak begitu jauh, kini ada di depan mataku, di sini," katanya seraya kembali tersenyum dan jelas sekali itu adalah senyum kebahagiannya.


Aku pun turut tersenyum melihat senyuman yang selalu manis itu, tapi ujung bibirku kembali turun saat Yongju berkata, "Bocah itu benar. Dia terlahir sebagai penyanyi. Yaah, mungkin ini terlalu awal mengakuinya, tapi aku senang punya adik berbakat sepertinya. Aku yakin suatu hari nanti anak itu akan terbang tinggi," dengan tersenyum bangga. "Jadi, oppa menyukai adik bayimu itu?" tanyaku seraya tersenyum sambil menatap wajah bahagia Yongju dengan lembut. "Tidak! Aku hanya menyukai bakatnya," jawab Yongju, menyangkal karena tiba-tiba gugup saat sadar aku menatapnya. "Ayo, turun. Yang lain sudah menunggu di bawah. Cepatlah!" kata Yongju seraya berjalan dengan cepat seperti orang yang sedang marah-marah. "Aku cuma bertanya. Kenapa jadi marah-marah?" protesku yang langsung mengikuti langkahnya.


***


Setelah makan malam bersama, kami semua duduk bersama di ruang keluarga, berbagi cerita satu sama lain. Sekalipun tadi siang, Junghwa sudah mengantarkan aku berkeliling rumah super luas ini, aku masih saja terkagum-kagum melihatnya. "Kenapa ada rumah sekeren ini! Aku jadi tidak puas-puas memandangnya!" ucapku tidak sadar seraya kembali mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruang keluarga ini. Interior minimalis yang di dominasi warna monokrom kesukaanku ini benar-benar memukau. "Bukan hanya eksteriornya yang keren, tapi interiornya juga benar-benar keren!" ucapku lagi. Mendengar perkataanku, Junghwa yang duduk di sampingku langsung memalingkan wajahnya dengan sebuah senyuman plus kedua mata bulatnya yang tampak indah berbinar, "noona menyukainya?" tanyanya.


Aku pun mengangguk karena memang sesuka itu dengan rumah ini. "Kalau begitu, sekarang noona harus mengakui kalau aku memang berbakat!" kata Junghwa dengan ekspresi sombongnya. "Kenapa?" kataku cuek. "Karena seluruh interior di rumah ini, Junghwa yang memilihnya," sahut Seojun seraya mengacungkan jempolnya ke arah sang adik. "Really?" ucapku tidak percaya seraya memandang Junghwa. "Bukankah aku sudah katakan kalau aku ini berbakat! Asal noona tahu, aku bisa melakukan apa saja," lanjut Junghwa semakin sombong. "Kalau kau sangat menyukainya, kau juga harus melihat villa baru Junghwa!" kata Seojun padaku. "Villa?" ucapku. "Iya. Junghwa ingin punya villa sendiri untuk dipakai berlibur tanpa diganggu penggemar dan villa itu baru saja selesai dibuat," kata Tuan Jeon menambahkan. "My black villa!" kata Junghwa seraya tersenyum bangga.


Kami pun asyik membicarakan villa milik Junghwa yang Seojun maksud itu, tanpa menyadari Yongju yang hanya diam saja memperhatikan kami bertiga. Yongju jadi teringat kalau ia memutuskan menjadi seorang rapper karena ingin memiliki rumah sendiri. "Aku jadi teringat bagaimana latihanku 3 tahun lalu," kata Yongju yang akhirnya membuka mulut. Kami semua pun menujukan tatapan kami ke arahnya. "Sampai sekarang aku masih merasa tidak ada yang berbeda. Aku masih seorang rapper dari kota kecil," lanjutnya.

__ADS_1


"Saat pertama tampil, aku tampil dengan berlagak pro padahal masih amatir," katanya seraya tertawa kecil mengingatnya. "Pasti bahagia bisa tampil di panggung yang begitu diinginkan, bukankah begitu, hyung?" tanya Junghwa yang juga memilih debut sebagai idola. "Kau benar, saat itulah aku benar-benar merasa hidup. Walaupun semua ini melelahkan, aku dapat menahannya karena saat melihat penggemar melihatku, bahkan jika aku sedang sakit, sorakan mereka menjadi semangat untukku. Juga tempat tinggalku sekarang. Meski hanya sebuah apartemen, tapi aku juga bangga memilikinya karena benar-benar dari jerih payahku sendiri," jawab Yongju.


***


Setelah mengobrol panjang lebar, kami berpisah dan kembali ke kamar masing-masing. Di kamarnya, Yongju menghidupkan notebook-nya yang layarnya tampak dipenuhi deretan sajak. Sudah menjadi kebiasaannya, setiap ia memiliki waktu kosong, baik saat berada di ruang ganti atau di antara pertunjukannya, ia akan memegang pena dan mulai menulis lirik, yang akan ia ubah menjadi sebuah lagu. Tok... Tok... Tok... Suara ketukan di pintu kamar Yongju menghentikan guratan pena itu. Ia bangun dan membukakan pintu kamarnya untuk melihat siapa yang berkunjung ke kamarnya semalam ini.


"Ada apa?" tanya Yongju saat melihat Seojun yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Boleh aku masuk?" tanya Seojun. Yongju pun berbalik melangkah, kembali ke mejanya dan membiarkan Seojun menutup pintu itu setelah masuk ke kamarnya. "Aku hanya ingin meminta maaf kalau aku sudah membuatmu merasa tidak nyaman," ucap Seojun ragu setelah Yongju hanya diam saja menunggunya bicara. Satu ujung bibir Yongju tertarik ke atas, "kata siapa? Aku merasa baik-baik saja. Sepertinya, bukan aku yang merasa tidak nyaman, tapi Hyung sendiri karena sudah salah menilaiku," katanya, blak-blakan.


Seojun terdiam, tidak tahu harus berkata apa di depan Yongju, yang seperti bisa membaca pikirannya itu. "Beginilah aku. Apa sesuatu tentangku berubah di mata hyung?" tanya Yongju santai, tapi Seojun masih diam. "Sial, masih sama!" umpat Yongju yang kembali mengejutkan Seojun. "Seharusnya, hyung lah yang berubah!" kata Yongju. "Aku berubah, katamu? Apa maksudmu?" tanya Seojun yang tidak mengerti. "Untuk apa hyung ke sini dan meminta maaf kalau hyung masih tidak mempercayaiku?" kata Yongju. "Aku beritahu sekali lagi, tanpa perubahan nama marga keluarga ini pun, aku masih seorang rapper dan penyanyi. Dengan menjadi anak appa pun, aku tidak berminat berebut harta, tahta, apalagi wanita dengan hyung. Jadi, tidak usah takut aku akan merebutnya dari hyung!" kata Yongju datar.


"Sejujurnya, aku merasa takut. Eomma-ku selalu berkata pada padaku, aku harus menunjukan pada appa kalau aku adalah putra terbaiknya. Tapi aku malah semakin takut, aku tidak bisa membuktikannya. Faktanya, aku hanyalah seorang anak yang dibesarkan dengan pena dan buku," kata Seojun yang kembali menghentikan guratan pena Yongju. "Kau sendiri tahu, eomma-ku dan appa bercerai setelah appa dan eomma-mu bertemu. Sejak itu, aku juga tumbuh tanpa kasih sayang mereka sepenuhnya. Yah, walaupun sepertinya cerita masa kecilmu lebih menyedihkan,"


"Jujur, aku masih menyalahkan kehadiran eomma-mu dalam kehidupan kami, ditambah kehadiranmu yang mengejutkan ini. Aku tidak tahu, apa aku bisa menerimamu dengan harapan kau tidak akan merebut milikku lagi seperti dulu, yaitu kebahagiaanku bersama eomma-ku dan appa. Tapi setelah aku pikir lebih dalam, ini bukan salahmu, bukan juga salah appa yang tidak sengaja melakukannya, tapi mungkin eomma-ku lah yang salah karena menyerah begitu saja dengan pernikahannya, tanpa mau mempertimbangkan keberadaanku saat itu. Jadi, aku benar-benar masih tidak tahu harus bagaimana denganmu. Bahkan menerimamu seperti ini saja, aku sudah dianggap mengkhianati eomma yang yakin padaku untuk meneruskan perusahan appa. Jadi, menurutmu aku harus bagaimana?" kata Seojun pelan di akhir kalimatnya.


Selama beberapa menit, keheningan tercipta di antara keduanya. Yongju bergerak meluruskan bahunya, lalu berjalan ke arah Seojun. Greb! Yongju memeluk Seojun untuk pertama kalinya. Sedangkan Seojun yang tidak menduganya sama sekali, tampak berusaha menstabilkan nafasnya yang sempat tertahan. "Berhentilah menganggap aku sebagai sebuah ancaman! Kalau hyung tidak bisa menerimaku sebagai adik, hyung bisa tetap menganggap aku sebagai orang asing. Atau hyung ingin mendaftar sebagai penggemar baruku?" kata Yongju yang berniat menghibur sang kakak hanya karena perasaan iba.

__ADS_1


"Orang yang sudah aku tonton, sekarang semuanya juga menontonku sampai mendongak. Jadi, jika hyung menjadi penggemarku, hyung juga akan berada di bawahku. Bagaimana? Mau jadi hyung-ku atau penggemarku?" tanyanya saat melepaskan pelukannya. "Asal hyung tahu, untuk sampai di titik ini, aku juga berjuang dengan masa kecil yang menyedihkan. Perjuangan selama 3 tahun terakhir seperti mic yang disiram darah dan keringat. Semua itu masih sangat jelas," lanjutnya. "Sialnya, aku tidak berminat sama sekali untuk menukar semua yang sudah aku dapatkan susah payah ini dengan semua yang hyung miliki ini. Ini kenyataannya!" katanya seraya berjalan kembali ke mejanya dan meraih kertas yang ia gunakan untuk menulis lirik.


"Kalau aku boleh tahu, apa mimpi hyung?" tanya Yongju. "Mimpiku adalah menjadi rap star yang tidak bisa hyung rasakan, bagaimana puasnya aku saat menerima tepuk tangan para penggemarku atas karyaku," lanjutnya seraya menunjukan kertas itu. Yongju tersenyum, lalu kembali berjalan ke arah Seojun dan menepuk bahu Seojun yang diam tanpa berkata apa-apa. Yongju membuka pintu kamarnya. "Hyung, maaf, tapi ini sudah malam," katanya santai.


"Setiap hari aku sudah terbiasa membiarkan haters-ku. Jadi, meskipun hyung tidak menerimaku karena membenciku, hyung tetap harus menerima kenyataan kalau aku sudah memenuhi impianku. Dalam hal apapun, akulah yang sudah sukses pada usia 20 tahun. Dengan kata lain, aku lebih dulu sukses darimu, Hyung. Aku hanya berharap, semoga hari-hari yang akan kita lalui bersama kedepannya, kita bisa menjadi satu keluarga dengan 3 kakak beradik. Aku sudah basah kuyup dengan darah dan keringat yang sudah aku tumpahkan untuk impianku ini. Setelah air mata yang keluar, bagaimana bisa aku berhenti begitu saja? Tenang saja, setiap saat aku akan memastikan untuk tidak kehilangan integritasku untuk selalu menjadi diriku sendiri. Aku tidak akan memperlakukan diriku dari awal sebagai penerus keluarga Jeon. Jadi, hyung bisa pergi kembali ke kamar hyung dengan tenang," kata Yongju sambil mengakhirinya dengan tersenyum.


Seojun pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dan Yongju membiarkan punggung Seojun benar-benar menghilang, baru kembali masuk ke kamarnya, tapi baru saja ia berniat menutup pintunya, pintu kamarku yang berada di sebelah kamarnya, terbuka. Junghwa keluar dari kamarku dengan aku yang berjalan di belakangnya sambil mendorong punggungnya. "Ada apa? Kalian belum tidur?" tanya Yongju yang kembali mengeluarkan kepalanya dari balik pintu. "Bagaimana bisa aku tidur, jika bayi ini memaksa tidur bersama di kamarku!" sahutku yang sontak membuat mata Yongju membulat, lalu bergegas membantuku mengeluarkan Junghwa dari kamarku.


"Apa maksudmu tidur bersama Hana?" tanya Yongju pada Junghwa. "Aku hanya kesal karena dari tadi noona memanggilku bayi. Bukankah bayi seharusnya ditemani tidurnya?" kata Junghwa dengan begitu menyebalkan. "Dasar bayi!" ledekku lagi sambil menjulurkan lidahku. "Coba hyung lihat, noona sengaja melakukannya!" adu Junghwa pada Yongju seraya menunjukku. "Sudah, sudah! Kembali sana ke kamarmu!" kata Yongju sambil menarik Junghwa sampai masuk ke kamarnya yang ada di seberang kamarku. "Sepertinya, kau sangat senang," kata Yongju setelah ia menutup pintu kamar Junghwa dan melihat aku yang tertawa puas. "Tentu saja! Hari ini, aku puas membalas dendamku pada oppa selama ini!" jawabku. Kening Yongju berkerut. "Selama ini, oppa selalu menggangguku karena oppa lebih tua dariku. Sekarang, giliranku yang mengganggu adik oppa!" lanjutku seraya menjulurkan lidahku juga pada Yongju.


Aku berniat kembali ke kamar setelah melakukannya, tapi Yongju menarik tanganku saat aku berbalik membelakanginya. "Apa?" tanyaku, kembali menghadapnya, tapi Yongju tidak menjawab, hanya menengok ke kanan dan ke kiri. Cup! Yongju tiba-tiba mengecup bibirku dengan cepat setelah memastikan tidak ada orang lain di sepanjang lorong itu. Aku yang tidak menduganya, hanya bisa membulatkan mataku sempurna, terlebih saat melihat Junghwa yang membuka pintu kamarnya.


"Hyung, apa hyung menyukai noona?" tanya Junghwa yang sontak membuat Yongju memutar tubuhnya. Seketika aku dan Yongju menjadi gelagapan, sedangkan Junghwa menatap kami berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hahaha... Ada apa dengan kalian? Kenapa hari ini, kalian berdua menanyakan pertanyaan yang sama? Siang tadi Hana juga bertanya, apa aku menyukaimu. Tentu saja, aku menyukai kalian berdua karena kalian adikku," jawab Yongju yang jelas gelagapan. "Maksudku, apa hyung menyukai noona?" tanya Junghwa yang seketika membuat kami berdua mematung. Suasana menjadi hening, bahkan mungkin hanya suara tegukan air liur aku dan Yongju yang bisa terdengar.


Dengan cepat, Junghwa menghampiriku dan cup! Junghwa melakukan hal yang sama dengan yang Yongju lakukan tadi. "Sepertinya, aku juga menyukai noona. Good night. Have a nice dream, noona," katanya seraya tersenyum nakal, lalu kembali ke kamarnya begitu saja. Aku dan Yongju benar-benar membeku dibuat bocah tengil itu. Setelah nyawaku kembali, aku memukul lengan Yongju dengan kesal, "Ini semua salah oppa! Kenapa melakukannya tidak melihat tempat? Sekarang, tugas oppa menjelaskannya semuanya pada bayi itu!" bentakku sebelum turut kembali ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2