
Keesokan paginya, sebelum Junghwa pergi menuju Bandara, ia pamit denganku. Saat itu, aku tengah berdiri di depan rumahku, setelah selesai lari pagi di halaman. "Noona, aku akan berangkat ke Jepang sekarang," katanya, tapi aku tak menyahut. Tanpa reaksi, aku masih memunggunginya. Junghwa melirik ke benda yang ada di tanganku, "apa itu?" tanyanya. Aku pun berbalik, seraya menunjukannya, "Undangan pesta pernikahan Daehyun dan Sooyun," kataku. Junghwa langsung beralih memperhatikan ekspresi wajahku, "terlihat biasa saja!" pikirnya. "Lalu?" tanyanya, penasaran dengan reaksiku. "Karena sudah diundang, tentu saja, aku akan datang," jawabku santai. "Sungguh?" tanya Junghwa tak percaya. "Untuk apa?" tanyanya lagi. "Lagi pula, aku sedang tidak bisa menemani noona. Bagaimana kalau..." lanjutnya, tampak khawatir.
"Apa kau khawatir kedatanganku akan dihina?" tanyaku. "Bukan begitu," sangkal Junghwa dengan cepat. "Hei, noona, dengarkan aku! Sebaik apa pun noona hidup, di dunia ini pasti ada yang tidak menyukainya. Kalau mereka sibuk membicarakan noona, sibukkan saja diri noona agar tidak mendengarnya. Kalau mereka sibuk mengejek noona, balas saja dengan mewujudkan dan membuktikannya. Kalau mereka sibuk menertawakan noona, jangan pedulikan dan tetaplah berlalu. Dan saat mereka bertanya kenapa noona masih tidak tergoyahkan, itulah kebodohan mereka. Jadi, tidak usah mengkhawatirkan dan mengurusi orang lain. Lebih baik urus diri sendiri karena bukan mereka yang membuat noona bahagia," lanjutnya dengan khotbahnya yang selalu berhasil membuatku tercengang.
"Junghwa," panggilku. "Bukankah kau sendiri yang memintaku mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu? Jadi, aku hanya ingin menyelesaikannya dengan baik-baik," kataku, seraya tersenyum padanya, berusaha meyakinkannya. Sempat diam untuk berpikir, Junghwa lalu menghela nafasnya. "Baiklah, terserah noona. Aku tidak mempunyai hak untuk melarang noona. Tapi noona tidak boleh datang sendirian! Ajak seseorang untuk datang bersama noona! Bibi Lee? Paman Lee? Ah, sepertinya mereka tidak akan sudi datang. Namgil hyung? Bagaimana kalau dengan Seojun hyung? Aku bisa meminta Seojun hyung untuk menjaga noona. Atau haruskah aku mengirimkan seorang pengawalku untuk noona?" cerocosnya. "Baiklah, aku berjanji akan mengajak seseorang. Tidak perlu pengawal," kataku.
__ADS_1
"Satu hal lagi! Bukankah tadi noona mengatakan akan menyelesaikannya? Jadi, jangan mengingkarinya! Selama aku tidak ada, jangan coba-coba mengingat Daehyun lagi. Apalagi sampai berhubungan dengannya lagi. Arraseo?" kata Junghwa. "Iya, Tuan muda Jeon Junghwa. Aku tidak akan berhubungan dengannya lagi. Tapi bagaimana ini, ya? Kalau masalah mengingat, aku tidak bisa menjaminnya. Kau tahu sendiri, bukan? Sulit untuk melupakan wajahnya yang tampan, kecuali aku lupa ingatan," jawabku, sengaja membuatnya kesal karena reaksi khawatirnya yang menurutku menggemaskan itu.
"Hah? Astaga, alasan macam apa itu? Hanya karena wajahnya tampan? Hei, sadarlah, bukan hanya dia saja yang tampan! Aku juga tampan! Jadi, ingat aku saja!" sahutnya dengan sangat kesal. Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, tidak. Kau itu tidak tampan. Kau itu cantik!" kataku, semakin sengaja membuatnya tambah kesal. "Cantik? Aku?" tanyanya, tak terima. "Iya, cantik! Lihatlah saja kulit wajahmu yang sehalus bayi itu. Sepasang mata bulat yang menggemaskan, tapi berbinar sangat cantik. Dan juga bibir tipismu itu yang merah alami. Aku sangat menyukainya!" jawabku. Aku pikir, kali ini, bayi itu akan semakin marah dengan ledekanku. Namun, reaksinya malah sangat jauh dari perkiraanku. Junghwa langsung menutupi bibirnya dengan wajah memerah. Aku sampai tertegun melihatnya. "Ah, sepertinya, aku harus pergi sekarang," katanya, pergi dengan kikuk.
***
__ADS_1
Aku langsung menghampirinya, "Aku dengar, ada seorang anak muda yang menetap di sini. Annyeong, sudah lama tidak bertemu, teman lama!" sapaku, seraya menyambut kedatangannya dengan senyuman. Seseorang itu melepaskan helmnya setelah memarkirkan motornya di depan rumahnya. "Teman lama, katamu?" ucapnya tersenyum malu. "Kenapa oppa begitu malu? Setahuku, oppa bukanlah orang yang pemalu. Atau oppa memang berubah pemalu sampai-sampai bersembunyi di sini?" kataku. "Tenanglah, tidak banyak yang berubah dari anak ini," sahut Namgil. "Tidak, jika tidak banyak yang berubah, mungkin kalian akan mengatakan itu semua bohong. Seperti yang kalian tahu, ada banyak perubahan yang terjadi dalam hidupku," sela orang itu. "Sudah aku katakan, tidak ada. Kau masih sama, hanya sedang menjalani babak baru dalam hidupmu. Park Jiwon tetaplah Park Jiwon," bantah Namgil, seraya tersenyum pada Jiwon yang ada di depan kami.
***
"Apakah itu jujur yang terbaik? Apa hyung masih dendam karena sepupu hyung itu dulu merebut Hana dari hyung?" tanya Jiwon padaku dan Namgil, setelah kami memintanya menemaniku datang ke pesta pernikahan Daehyun dan Sooyun besok. "Bukan tentang itu!" sahut Namgil cepat, merasa tak enak denganku. Begitu pula, aku yang jadi balas menatap Namgil, juga merasa tak enak dengannya. "Jika kau bertanya kepadaku mengapa, itu karena aku kesal padanya. Gara-gara dia mabuk, aku kehilangan idolaku. Aku tak bisa diam saja untuk itu," kata Namgil yang tampak kesal. "Kalau aku, hanya ingin memberinya sedikit kejutan di hari bahagianya dengan kedatangan sahabatnya," kataku juga. "Ha! Tadi teman lama, sekarang sahabat! Kau benar-benar pembual, Hana!" sahut Jiwon seraya tersenyum miring padaku, lalu kembali berkata, "Hatiku memberitahumu, itu juga pasti harapanmu, balas dendam dengan cara ini!"
__ADS_1
Aku tersenyum licik menjawabnya, tanpa kata-kata. "Sayangnya, seperti yang kalian tahu, aku sudah menjadi orang kalangan bawah. Rakyat jelata tidak akan diterima di pesta para bangsawan itu!" ucap Jiwon seraya terkekeh. "Seperti biasa, bangsawan ini tinggal menggesek kartunya untukmu," sahutku, berlagak angkuh di depannya. Jiwon tersenyum melihat tingkahku itu, "Kalau begitu, maka aku akan menghabiskan semua hartamu, wahai orang kaya!" balasnya. Namgil yang memperhatikan drama kami berdua ikut berkata, "Kalian benar-benar membuatku jadi penasaran ingin melihat apa yang terjadi berikutnya."
"Baiklah, aku akan mengikuti rencana kalian berdua. Tapi aku harus meminta izin cuti kerja dulu pada atasan di tempat kerjaku. Jadi, kalian pulang lah dulu," kata Jiwon, akhirnya mengalah. "Ah, aku lupa kalau oppa sudah bekerja. Aku jadi tak enak sudah menganggu pekerjaan oppa," kataku. Jiwon menangkap tatapan kasihan dari mataku. "Apa kau tahu, Hana? Setiap momen yang aku alami setelah pindah ke sini adalah yang terbaik untukku. Rasanya, seperti aku kembali berumur tiga belas tahun lagi, seperti yang aku lakukan saat kedua orang tuaku masih hidup. Walau aku lebih merasa bahagia seperti ini, aku masih harus banyak belajar karena hidupku ini masih banyak yang harus dipenuhi. Makanya, aku mulai bekerja apa saja. Jadi, tak perlu mengasihaniku," katanya. "Kalau tidak, aku akan berubah pemikiran," lanjutnya, mengancam. "Tidak, berjanjilah oppa akan datang besok. Aku akan menunggu oppa untuk berbelanja," sahutku, masih saja bercanda dengannya.