
"Kau tahu, Junghwa... Saat aku memilih terjun ke dunia ini, aku harus melepaskan diri dari dunia. Aku melepaskan diri dari keluarga Lee," kata Yongju melanjutkan obrolannya bersama sang adik. "Bahkan aku bertekad melepaskan perasaanku pada Hana, makanya aku memilih meninggalkan rumah," ucapnya dalam hati. "Apa kau juga siap seperti itu?" tanyanya pada Junghwa yang tampak belum siap dengan pertanyaan itu. Yongju menghela nafasnya berat melihat Junghwa yang tampak bingung. "Saat aku 19 tahun, maksudku tahun lalu, aku memutuskan untuk melakukan tes kejiwaan secara pribadi tanpa diketahui siapapun, termasuk Hana," lanjut Yongju jujur. "Masa lalu trainee yang keras, jadwal yang menguras waktu, tidak memiliki teman, hubungan sosialku yang tidak pernah baik dan emosiku yang selalu tidak stabil. Akhirnya, semua itu membuat sosio-fobia yang aku alami berkembang semakin buruk."
Sekali lagi, Yongju menghela nafasnya berat dengan kedua matanya yang terpejam sambil berkata, "Dan yang paling menyebalkan adalah setiap kali aku keluar dari pintu rumahku sendiri, aku harus menjadi orang lain. Kapan pun dan di mana pun, aku selalu menyiapkan dua masker, topi, kacamata dan jaket untuk menyembunyikan keberadaanku dari orang lain, yang bahkan mungkin mereka sendiri tidak peduli dengan keberadaanku," gerutunya kesal. "Kau benar, hyung. Kita harus menyembunyikan diri kita, seolah kita adalah penjahat. Bahkan sekarang saja, aku merasa sangat sulit untuk keluar dorm. Lama-lama, dorm seperti penjara saja," celetuk Junghwa.
"Nah, itu kau tahu! Tapi kenapa kau masih mau melanjutkan jadi idol sepertiku? Kenapa tidak kembali pulang saja? Pikirkanlah, sebelum semua kebebasanmu melayang sepertiku!" sahut Yongju. "Tapi.. tetap saja, aku ingin jadi terkenal seperti hyung," jawab Junghwa dengan tersenyum. "Bagiku, hyung itu hebat. Hyung keren saat tampil di atas panggung," lanjutnya dengan matanya yang menatap kagum sang hyung dengan tulus. "Jika kau sudah terkenal sepertiku, teman, keluarga atau siapa pun yang ada di sekitarmu, mereka tidak bisa lagi mendekatimu, sehingga mereka akan menjauhimu. Apa kau tahu itu?" sahut Yongju.
"Iya, aku tahu. Hyung mungkin benar, aku akan kesepian di sini, tapi suatu hari nanti, semua itu pasti terbayarkan saat aku berhasil mencapai impianku," jawab Junghwa dengan keyakinannya yang masih begitu naif. Yongju tersenyum miring mendengar tekad adiknya itu. "Terserah kau saja! Kalau nanti kau tetap kesepian, berpura-puralah tidak kesepian. Berpura-puralah tidak kesakitan. Mengerti?" katanya. "Ne, sunbaenim," jawab Junghwa tersenyum. "Akan aku buktikan, kalau aku juga bisa seperti hyung. Hyung, tunggu saja. Aku akan membuat hyung tersenyum bangga," kata Junghwa yang membuat Yongju terkekeh.
***
__ADS_1
"Mau pulang sekarang?" tanya Daehyun padaku. Sesampainya di area parkir setelah berbelanja pesanan ibuku dan ibu Daehyun yang sedang melakukan sesi masak bersama di rumahku. Aku langsung memasuki mobil Daehyun dan duduk di samping kemudi. "Iya. Memangnya mau kemana lagi?" sahutku malas, tanpa melirik sedikit pun ke arah lawan bicaraku itu. "Mau jalan-jalan dulu?" tawar Daehyun, "sebentar saja," lanjutnya. Baru aku menoleh padanya dan dengan cepat aku menjawab, "tidak mau." Daehyun tampak kesal dan berkata, "Haruskah kau langsung menolaknya seperti itu!"
"Lalu, haruskah aku mengikuti pria mesum sepertimu? Tidak akan! Lebih aman kalau aku pulang saja secepat mungkin," ucapku dalam hati seraya menatap Daehyun tajam. "Hei, apa yang kau pikirkan?" tanya Daehyun yang balik menatapku. "Astaga, pikiranmu itu benar-benar tercetak di wajahmu!" ucap Daehyun terkekeh dan membuatku mengernyitkan dahiku. "Apa? Kau takut oppa melakukan sesuatu padamu? Benar, bukan?" tanya Daehyun seraya melipat kedua tangannya di atas setiran dan bersandar di sana.
"Tidak! Aku hanya ingin pulang. Eomma pasti sudah menunggu belanjaan kita," sahutku seraya bergegas memalingkan wajahku ke arah kaca jendela. "Kalau tidak, lihat oppa! Kenapa buru-buru memalingkan wajahmu? Kau malu?" kata Daehyun seraya merebahkan kepalanya di atas tangannya. Dengan malas, aku menurutinya sambil berkata, "Siapa yang malu..." Deg! Aku terdiam saat mendapati Daehyun tengah menatapku lembut sambil berkata, "cantik!" dengan begitu lembut, lalu tersenyum. "Apa lagi yang kau pikirkan? Oppa tunanganmu ini terlalu tampan?" celetuk Daehyun penuh percaya diri tinggi saat mendapati aku yang masih terdiam sambil tidak berhenti menatap wajah tampannya. Tanpa sadar, aku menganggukkan kepalaku dan membuat Daehyun terperangah dengan jawaban jujurku. Tapi saat menyadarinya, aku kembali bergegas memalingkan wajahku ke jendela mobil dengan wajah memerah karena malu.
Greb! Daehyun menangkap tanganku yang mendorongnya, lalu menarikku sampai menabrak dadanya. Cup! Daehyun mengecup gemas salah satu pipiku karena pertama kali melihatku mengomel dengan imutnya. "Hentikan!" ucapku seraya kembali mendorongnya setelah Daehyun melepaskan tanganku. Kali ini, Daehyun tidak menangkap tanganku lagi, tapi kedua tangannya malah menangkap pinggangku. Entah bagaimana caranya, Daehyun membuat posisi dudukku berubah menjadi berada di atas pangkuannya. "Oppa!" bentakku seraya terkejut. "Jangan melewati batas!" kataku mengingatkan.
"Jangan marah! Bukankah tadi kau sendiri yang menyuruh oppa kembali ke tempat duduk oppa? Bukankah oppa memang duduk di sini?" sahut Daehyun santai seraya mulai mengeratkan lingkaran kedua tangannya di pinggangku. "Sekarang jawab pertanyaan oppa tadi!" katanya. "Apa? Jawab apa?" ucapku salah tingkah karena wajah tampannya itu tepat di sampingku yang duduk menyamping di pangkuannya. "Siapa yang lebih tampan, aku atau dia?" bisiknya pelan dan langsung membuatku merinding dan seketika panik berusaha menjauh darinya, lalu tanpa sengaja aku menekan sebuah tombol.
__ADS_1
Srukk! Posisi kami berdua kembali berubah karena aku sudah menekan tombol fullback reclining pada auto adjuster seat di mobil mewah ini. Kini, aku benar-benar berada di atas tubuh Daehyun. "Apa sekarang kau yang ganti menggoda oppa?" kata Daehyun seraya tersenyum miring. "Oppa, hentikan!" sahutku dengan tubuhku yang mulai gemetar menahan tubuhku sendiri agar tidak terjatuh di atas tubuhnya. "Hentikan apa? Oppa tidak melakukan apa-apa. Bukan oppa yang merubah kursinya," kata Daehyun. "Maksudku, lepaskan tangan oppa!" jawabku karena tangan Daehyun semakin memeluk dan menekanku ke bawah.
"Jawab dulu, baru oppa lepaskan!" ucap Daehyun seraya tersenyum evil. Aku hanya diam karena malas menjawabnya, "kalau aku jujur, dia pasti semakin besar kepala!" pikirku. "Ayolah, apa susahnya menjawab. Oppa bukan orang yang penyabar. Kalau kau diam, oppa akan menganggap jawabannya adalah oppa!" kata Daehyun. "Terserah!" sahutku ketus dan membuat Daehyun tersenyum penuh kemenangan. "Apa itu artinya kau lebih menyukai oppa?" ucap Daehyun dan membuatku menatapnya tajam.
"Bagaimana pun kita bertunangan. Bagaimana kalau kita pacaran saja?" tembak Daehyun. "Tidak! Kita bertiga sudah berjanji untuk jaga jarak. Oppa juga sudah berjanji menunggu sampai oppa lulus," kataku menolaknya seraya bangkit dari posisi yang tidak nyaman ini. "Kenapa? Apa kau tidak menyukai oppa sama sekali? Atau karena kau belum bisa melupakan perasaan sukamu pada oppa-mu itu?" tanya Daehyun seraya membelai lembut rambut pendekku. "Bukan itu. Aku... Aku hanya..." ucapku tertahan karena bingung dengan perasaanku sendiri. "Apa kau masih tidak percaya pada oppa?" tanyanya lagi.
Daehyun meraih wajahku dengan kedua tangannya, "Kalau kau masih ragu pada oppa, maka berilah oppa kesempatan untuk membuktikannya kalau oppa tidak main-main denganmu." Aku menggeleng dan Daehyun langsung bangkit dari baringnya, "tidak mau? Kau juga langsung menolaknya? Apa tidak ingin memikirkannya dulu? Astaga, apa kau benar-benar membenci oppa!" Aku menggeleng lagi dan beringsut kembali ke tempat dudukku. "Lalu kenapa?" tanyanya lagi yang tiba-tiba tampak kesal dengan semua penolakanku. "Bukannya aku membenci oppa, tapi..." jawabku terpotong. "Kalau begitu, beri oppa satu kesempatan! Simpel, bukan? Lagipula, kau sendiri tahu kalau sampai kapan pun, hubunganmu dengannya tidak akan bisa lebih dari kata sepupu!" potong Daehyun. "Aku tahu, tapi aku sudah berjanji dengannya untuk menjauhi kalian berdua," sahutku dengan wajah sendu. "Ayolah, kalau kita pacaran, dia tidak akan tahu selama kau tidak memberitahunya!" katanya.
Aku menyipitkan kedua mataku mendengar perkataan Daehyun itu. "Sekarang, oppa mau mengantarkanku pulang atau tidak? Jika tidak, aku akan naik taksi saja!" kataku menghentikan obrolan kami. Daehyun mendengus kesal. "Baiklah, kita pulang Nyonya muda Kim!" ucapnya seraya menghidupkan mesin mobilnya. Sontak, aku menoleh ke arahnya, "Siapa? Nyonya Kim?" tanyaku terperangah. "Iya. Nyonya Kim!" sahut Daehyun penuh penekanan di setiap katanya. "Terima saja kenyataannya kalau kau akan menjadi istri Tuan muda Kim yang tampan ini!" lanjutnya seraya mengangkat satu alisnya dan menampilkan smirk andalannya.
__ADS_1