
Saat yang lain sibuk mempersiapkan siaran langsung untuk Yongju dan Junghwa, keributan terjadi di ruanganku. Aku yang dari tadi termenung, tiba-tiba histeris lagi saat eomma menurunkan tirai di ruanganku, sekedar mengizinkan cahaya masuk menyinari wajahku yang kelam. Sejak aku mengetahui bahwa aku keguguran, pertunanganku dan Daehyun yang dibatalkan, Sooyun yang ternyata memang terbukti mengandung anak Daehyun, serta mereka berdua yang akan menikah, pikiranku benar-benar kacau dan berkabut.
Aku terguncang dan entah kenapa, aku tiba-tiba merasa takut melihat sinar matahari saat tirai itu dibuka. Aku takut menyongsong hari esok. Takut memastikan esok hari aku benar-benar kehilangan sosok Daehyun, cintanya dan perhatiannya. Aku takut karena hari ini pun aku sudah kehilangan buah cinta kami. Aku yang mendapat serangan panik, terpaksa ditenangkan dokter dengan suntikan obat penenang. Aku menangis bersamaan dengan aku yang terengah seperti kehabisan nafas sampai obat penenang itu bekerja di dalam aliran darahku dan membuatku terpejam dalam pelukan eomma-ku.
***
"Ada apa?" tanya Junghwa pada Yongju yang tampak melamun sejak mereka berdua selesai melakukan siaran. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya merenung, apakah aku mmang sudah membuat kesalahan hari ini. Aku juga menerka-nerka, bagaimana tanggapan publik nanti," jawab Yongju. Junghwa membuka mulutnya dan berniat mengatakan "aku tidak peduli!" seperti biasanya, tapi Yongju lebih dulu menyelanya. "Tapi aku tetap bahagia dengan yang terjadi hari ini. Setidaknya, aku puas menghajar bajingan itu," lanjutnya tersenyum puas.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku juga senang karena sudah membuat hyung bahagia!" kata Junghwa. "Apa maksudmu?" tanya Yongju bingung. "Apa lagi? Kalau bukan aku, siapa yang akan membongkar kesalahan Daehyun! Setidaknya, aku sudah membantu memisahkan mereka, bukan?" jawab Junghwa. Yongju tersenyum. "Iya, kau hebat!" pujinya setengah hati. Junghwa tersenyum sombong, tapi kemudian melirik Yongju, "Apa hyung masih menyukai noona?" tanyanya ragu. "Maksudku, sepertinya, noona benar-benar sudah mencintai Daehyun. Bahkan mereka sudah..." lanjutnya tertahan. Junghwa memperhatikan ekspresi wajah Yongju yang hanya diam tanpa menjawab pertanyaan darinya. Ekspresi wajah yang tak berubah, hanya tatapannya yang ia turunkan. Yongju tetap diam dan hanya menjawab dalam hatinya, "Nyatanya, aku masih menggenggam perasaan yang masih tertinggal!"
Setelah sempat menghela nafas berat, Yongju berdiri dari duduknya, berjalan ke arah jendela dan memandang keluar di balik tirainya. "Junghwa, setiap kali setelah konser, saat penonton sudah beranjak pulang, aku berdiri di atas panggung kosong yang masih terasa panas. Entah kenapa, aku takut pada kekosongan itu," katanya pelan. "Aku sendiri juga tidak mengerti perasaanku yang rumit ini, seperti aku hidup dalam krisis hidup atau mati. Seperti aku harus memilih karir atau perasaanku padanya. Sedangkan aku tahu, perasaanku ini tidak akan bisa diteruskan, tapi aku juga tidak bisa berpura-pura seolah aku sudah mati rasa," curhatnya. "Ini bukan yang pertama kalinya bagiku berusaha melupakannya. Aku selalu berpikir, ini hanya masalah waktu sampai aku terbiasa tanpa mencintainya. Kau sendiri tahu, aku sudah mencoba menyembunyikannya, tapi aku tetap tidak bisa," lanjutnya seraya tersenyum getir di ujung kalimatnya.
Hening, suasana pun menjadi lebih dingin dengan tatapan kosong Yongju. "Aku selalu berusaha menghibur diriku sendiri dengan mengatakan pada diriku sendiri bahwa dunia yang sempurna itu tidak ada dan aku memang tidak ditakdirkan untuk memilikinya. Bunga mawar itu selamanya tidak akan bisa menjadi milikku," lirih Yongju seiring tatapannya yang semakin kosong. "Selama ini, tanpa malu aku terus memberitahu diriku sendiri untuk memaksa memilikinya. Untuk berusaha lebih keras menjadikannya milikku. Bahkan jika dunia mengatakan usahaku itu tidak akan bertahan selamanya, aku akan terus bertahan," katanya dengan mata yang mulai sembab.
Beberapa menit berlalu, hanya ada keheningan yang tercipta sampai tanpa terduga sedikit pun oleh Junghwa, Yongju tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal sama sekali. "Junghwa, jika suatu hari nanti aku mati, aku ingin mendonorkan semua organku pada pasien di rumah sakit ini," ucap Yongju. Sontak, Junghwa menoleh ke arah Yongju, "Apa hyung ingin bunuh diri?" tanyanya dengan ekspresi shock. Bukan hanya Junghwa yang terkejut, Yongju pun terkejut dengan pertanyaan Junghwa tadi. "Omong kosong! Kau pikir aku seorang pecundang!" bentak Yongju.
__ADS_1
"Lalu kenapa hyung bicara seperti tadi?" bentak Junghwa balik. Bahkan sekarang dia sudah berdiri di depan Yongju. "Kataku, jika! Kalau sekarang aku masih hidup, lupakan saja, apa susahnya!" sahut Yongju santai. Junghwa menatap heran pada hyung-nya itu. "Astaga, ini!" kata Yongju seraya melemparkan sebuah selebaran mengenai donor darah yang ia temukan di atas rak di dekat jendela tempat ia berdiri. "Jadi, dari tadi hyung diam, sedang membaca ini? Bukan menangis?" tanya Junghwa yang tiba-tiba semakin kesal.
"Apa kau pikir, aku secengeng itu!" bentak Yongju kesal. "Ck, hyung tidak tahu saja kalau hyung mabuk seperti apa!" sahut Junghwa mencibir. "Aku kira diam memikirkan noona. Ternyata, malah memikirkan mati!" gerutunya. "Tapi aku tidak salah bukan, semua pasti mati kalau waktunya tiba?" sahut Yongju melakukan pembelaan. "Iya, lalu kalau hyung mati, mau mendonorkan semua organ, begitu? Baiklah, nanti akan aku sampaikan pada Seojun hyung selaku pemilik rumah sakit ini. Tapi sepertinya, otak hyung itu tidak akan diterima karena terlalu receh!" sahut Junghwa, mengomel. "Astaga! Kau harus tahu kalau otakku ini jenius!" sahut Yongju tidak terima. Sejenak, Yongju seperti kehabisan kata-kata melihat Junghwa yang berani mengomelinya.
"Kalau aku benar-benar mati, kau harus menjaga Hana untukku!" kata Yongju, sekali lagi mengejutkan Junghwa. "Apa lagi ini? Kenapa dari tadi hyung bicara omong kosong? Lagi pula, kenapa harus aku? Kalau hyung memang mau menjaga noona, jaga saja sendiri! Hyung cukup hidup saja, tidak usah bicara mati-mati segala. Siapa yang mau repot-repot menjaga gadis manja itu? Memangnya, aku pengawalnya!" omel Junghwa lagi. Yongju melotot, membuat Junghwa terdiam. "Kalau kataku kau, ya kau! Jangan membantah!" kata Yongju dengan deep voice-nya yang terkesan dingin. "Daripada menyerahkan Hana pada pria lain, lebih baik aku menyerahkannya pada adikku sendiri, bukan?" lanjut Yongju santai.
Junghwa mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud jalan perkataan sang hyung kali ini. "Tapi tetap saja, kenapa harus aku?" tanya Junghwa lagi dengan wajah kesalnya. Pletak! Yongju menjitak kepala Junghwa, "Jangan banyak tanya!" perintahnya sambil dengan cueknya mulai berjalan keluar dari ruangan itu. Junghwa terdiam di tempat sambil mengelus kepalanya yang sakit akibat jitakan kakaknya itu. Saat sampai di ambang pintu, Yongju menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Junghwa, "Tolong, aku mohon!" ucapnya seraya tersenyum manis. Melihat Junghwa yang diam sambil terperangah, Yongju kembali berkata, "Anggap saja ini permintaan pertama hyung-mu ini, mengerti!" katanya seraya melanjutkan langkahnya, meninggalkan Junghwa dengan kebingungannya.
__ADS_1
Setelah jengah dengan kebingungannya, Junghwa memilih berlari menyusul Yongju yang tersenyum saat Junghwa berhasil menyusulnya. "Junghwa, ayo, kita berkelana melewati labirin ini. Selamanya kita akan muda. Bahkan jika aku jatuh dan terluka atau mati, kau harus terus berlari dengan harapan menuju mimpi, meneruskan mimpi kita!" kata Yongju seraya merangkul bahu sang adik. "Teruskanlah langkahku untuk meraihnya. Impianku, juga cintaku... aku serahkan padamu untuk melanjutkannya," lanjut Yongju dalam hati.