The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Hujan Cemburu Di Matamu


__ADS_3

Aku menatap kaca mobil, menatap lurus ke arah luar dengan tatapan kosong. Di luar langit tampak menghitam. "Ada yang ingin oppa beli dulu. Sayang, tunggu sebentar di sini, ya? Sepertinya, sebentar lagi mau hujan," kata Daehyun seraya membelai kepalaku, setelah menepikan mobilnya. "Baguslah, aku harap hujannya lama. Jadi, tidak ada yang melihat kalau aku menangis. Kalau perlu hujannya seharian. Jadi, kalau aku menangis di dalam kamar tidak ada pelayan yang mendengar," sahutku sendu.


Daehyun menghela nafasnya panjang mendengar perkataanku. "Sayang, oppa suka jika sayang menangis untuk oppa, tapi bukan menangis karena oppa. Jangan menangis lagi, ya, oppa mohon! Hmm? Tersenyumlah, ya?" katanya yang masih setia membujukku. Aku hanya diam, bahkan memalingkan wajahku ke arah jendela mobil. "Entahlah, aku sendiri tidak tahu kenapa aku tidak bisa berhenti menangis," ucapku dalam hati. Daehyun kembali membelai rambutku sebelum keluar dari mobil.


Beberapa menit kemudian, Daehyun sudah kembali masuk ke mobilnya. "Sayang, minum ini dulu," katanya seraya memberikan sebotol air mineral padaku, beserta sebuah benda yang tidak sengaja terjatuh di dekat kakiku. Aku pun lantas memungut benda itu. "Obat? Obat apa ini?" tanyaku polos dengan keningku yang berkerut sambil memegang obat dengan kemasan blister yang Daehyun belikan untukku tadi. Daehyung tampak ragu sebelum menjawab, "Itu pil kontrasepsi. Hmm... tadi yang terakhir... oppa tidak memakai pengaman... dan mengeluarkannya di dalam... Jadi, untuk mencegah... sayang minum saja dulu..." katanya pelan. Sebenarnya, memalukan bagi seorang Kim Daehyun, casanova yang selama ini selalu membawa serta pengaman bersamanya, untuk pertama kalinya kehabisan amunisinya di hadapanku, tunangannya sendiri yang berhasil membuatnya kehilangan kontrol beberapa saat yang lalu.


Aku benar-benar speechless dibuatnya. Aku pikir, Daehyun membelikan analgesik untuk meredakan nyeri di tubuhku akibat ulahnya tadi, tapi malah memberikanku hal yang tidak pernah terpikirkan olehku sekali pun. "Apa oppa takut aku hamil?" tanyaku seraya menatapnya dengan ekspresi wajah yang kembali terluka. Daehyun memainkan lidahnya, sejenak berpikir jawaban apa yang harus ia berikan, setelah membuat aku menangis lagi dengan perkataannya tadi. "Sayang, oppa tidak masalah, sayang hamil atau tidak. Tapi bukankah sayang masih sekolah? Bagaimana dengan sekolah sayang kalau sayang hamil? Kalau oppa sih, tinggal menikahi sayang," katanya seraya menggenggam tanganku.


"Terserah sayang mau meminumnya atau tidak. Kalau nanti sayang hamil, kita akan menikah secepatnya. Kalau perlu besok, oppa sih, tidak masalah. Atau setelah terlanjur hamil, sayang tiba-tiba menyesal, kita tinggal mengaborsinya," katanya tanpa rasa bersalah sedikit pun Aku menarik tanganku seraya menatap tajam Daehyun, "Brengsek!" ucapku. Daehyun yang terkejut mendengar umpatanku itu, juga menatapku tajam. "Mengaborsinya?" kataku tidak percaya. "Rasa sakit di situ saja masih terasa, sakit di hatiku juga belum hilang dan oppa bilang mau mengaborsi anak kita? Apa oppa tidak memiliki hati sama sekali, hah?!" bentakku penuh emosi.


Baru kali ini, Daehyun melihat sepasang manik indahku menatap murka padanya. Semakin ia menatap tajam mataku yang juga menatapnya dengan tajam, Daehyun merasa semakin tertarik ke dasarnya, terlebih mataku ini basah dengan linangan air mata. Daehyun membuang tatapannya. Entah mengapa, ia merasa kalah dengan tatapan tajamku. "Bukan tatapan marahnya, tapi air matanya!" pikirnya. "Maafkan oppa. Oppa sudah salah bicara. Oppa berjanji tidak akan melakukannya!" ucapnya pelan dengan wajah tertunduk.


"Kalau sayang hamil, kita akan membesarkan anak kita bersama," katanya seraya kembali memandangku. "Sekarang kita pulang ke rumah oppa, ya?" lanjutnya. "Tidak mau. Aku mau pulang," sahutku. "Tapi appa dan eomma sayang sedang tidak ada di rumah. Lebih baik sayang menginap di rumah oppa saja," bujuknya. "Tidak mau!" sahutku keras kepala. "Jangan membantah! Menurutlah!" sahutnya juga sama keras kepalanya seraya mulai melajukan mobilnya. "Sudah aku katakan, tidak mau! Nanti oppa..." ucapku terpotong dengan ucapannya, "Baiklah, oppa berjanji tidak akan melakukannya lagi malam ini! Kita akan tidur di kamar yang berbeda. Kalau sayang masih tidak percaya, sayang bisa tidur dengan eomma?"


"Aku tidak percaya dengan oppa! Oppa pembohong! Oppa sudah berjanji untuk tidak melakukannya sampai kita menikah, tapi oppa sudah melanggar janji oppa sendiri!" sahutku dengan keras. Ciiieeet! Daehyun menginjak pedal rem mobilnya dengan tiba-tiba. Kedua tangannya yang memegang setir mobil, mengepal kuat seiring rahangnya yang mengeras. "Mau sampai kapan kita membahasnya?!" katanya dingin seraya mengalihkan tatapan tajamnya padaku. Aku sampai menelan air liur saat melihat wajah murkanya itu. "Duduk saja yang manis dan tutup mulut sayang. Kita pulang ke rumah oppa. Jangan membantah lagi!" lanjutnya yang kembali melajukan mobil sport-nya.

__ADS_1


Selama perjalanan, aku hanya diam membisu. Bahkan sampai mobil Daehyun sudah masuk ke garasi rumahnya, aku tak membuka mulutku sedikit pun. "Ayo, masuk!" ajaknya seraya membukakan pintu mobilnya untukku. Aku masih diam, tak ingin beranjak dari dudukku. Melihat aku yang marah, Daehyun berinisiatif berlutut di sampingku sambil berkata, "Oppa hanya khawatir kalau sayang kenapa-kenapa di rumah sendirian. Menginaplah di sini sampai appa dan eomma kembali. Biar oppa yang menjaga sayang."


"Aku benci oppa!" ucapku pelan. Daehyun lagi-lagi menghela nafasnya dengan berat dengan mata terpejam. "Lalu, sayang maunya apa?" tanyanya. "Oppa tahu, oppa salah. Semua salah oppa, tapi bukankah oppa sudah minta maaf? Oppa harus apa lagi?" lanjutnya putus asa. "Sudah aku katakan, aku mau pulang saja!" kataku lagi. "Masuklah dulu. Setidaknya temui appa dan eomma dulu, siapa tahu appa dan eomma ada di dalam. Begini saja, setelah makan malam, oppa antar sayang pulang, oke?" tawarnya.


Aku menggeleng, masih bertahan dengan kekeraskepalaanku. Daehyun berdiri dan dengan geram berkata, "masuk!" paksanya. "Lee Hana, masuk!" ulangnya. Aku menatapnya tajam dengan dada yang semakin naik turun menahan amarah. Akhirnya, Daehyun putus asa dan menarik paksa tanganku, tapi saat ia berhasil menarikku keluar dari mobilnya, aku menghempaskan tanganku dan langsung berlari keluar dari garasi rumahnya. "Sayang, kau mau ke mana? Sayang, tunggu! Sayang! Sayang! Hana!" teriak Daehyun memanggilku sambil mengejarku, tapi langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Ia bergegas berbalik mengambil payung di dalam mobilnya, tapi saat melihat aku yang sudah keluar dari pagar rumahnya, ia melempar payung di tangannya dengan kesal sambil berkata, "terserah kau sajalah!"


Dengan kesal, Daehyun memasuki rumahnya. Bahkan pintu kamarnya menjadi sasaran pelampiasan amarahnya. Ia membanting keras pintu kamarnya, lalu langsung melepaskan baju satu persatu dan tanpa peduli melemparnya ke sembarang arah. Lalu, memilih mendinginkan kepalanya yang terasa sedang mendidih setelah menghadapiku yang ternyata keras kepala melebihi dirinya, dengan mengguyur dirinya di kamar mandi. Pemuda itu menyampirkan rambut basahnya ke belakang. "Astaga, tidak bisa seperti ini!" katanya seraya mematikan kran airnya.


***


Sementara itu, di tempat yang tidak jauh dari tempatku berjalan, Yongju mengendarai mobilnya dengan pelan. "Untuk apa kita ke sini lagi?" tanya Junghwa. "Lebih baik kita ke bandara saja. Cepatlah, nanti hyung ketinggalan pesawat!" kata Junghwa yang sejak tadi tidak berhenti menggerutu. "Sudah 3 kali ini berputar di sekitar sini. Sekarang, lebih baik kita kembali ke tempat kita. Ini bukan tempat kita, hyung. Ini tempat si bocah sombong itu," gerutunya lagi.


Yongju hanya diam memandangi ke arah langit hitam dari jendela mobilnya, seolah mencoba mencari refleksi bayanganku di langit.


Tanpa Yongju sadari, aku berdiri di kegelapan jalan di tengah hujan tak jauh dari mobilnya, berselisih jalan. Aku semakin menundukkan kepalaku karena mulai kedinginan dan menatap kosong pada kakiku. Saat berjalan di ujung jalan yang merupakan sebuah simpangan, aku tidak melihat sebuah mobil yang keluar dari tikungan di depanku. Karena terkejut, aku sampai terduduk di aspal. Tiba-tiba ada sepasang tangan yang membantu aku berdiri dan sejenak membuatku merasa mendapat sedikit perasaan kalau aku punya seorang teman, saat ia bertanya, "Apa kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" tanya laki-laki itu dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Ah, kakimu terluka!" katanya seraya menunjuk lututku. Setelah membantuku duduk di pinggir jalan dan memberikan payungnya untukku, laki-laki itu berlari kearah mobil yang hampir menabrak aku tadi. Dia terus mengetuk jendela mobil itu untuk memanggil pengemudinya. Sang pengemudi mobil itu tidak menurunkan kaca jendelanya, tapi membuka pintu mobilnya dan langsung berlari ke arahku, serta mengabaikan laki-laki tadi. "Hana, apa kau baik-baik saja?" tanya Namgil yang ternyata pengemudi itu. "Maaf, tadi aku tidak melihatmu karena sedang menerima telpon dari eomma-ku. Tunggu dulu, apa yang kau lakukan di sini? Kehujanan sampai basah kuyup seperti ini? Di mana Daehyun? Kenapa dia tidak mengantarmu? Kenapa dia membiarkanmu seperti ini?" kata Namgil tanpa bisa berhenti.


"Oppa, aku baik-baik saja. Hanya lecet sedikit," jawabku. Aku berusaha bangun dan menghampiri orang yang menolongku tadi. "Ini payungmu. Terima kasih atas bantuannya, Hyunwo oppa!" ucapku seraya tersenyum ramah. Laki-laki bernama Hyunwo itu pun terkejut karena aku mengetahui namanya, "Apa kau mengenalku?" tanyanya bingung. "Tidak. Aku menebak itu nama oppa karena melihat nama di payung itu," jawabku seraya menunjuk tulisan di dalam payung itu. Hyunwo tersenyum menyadarinya. "Iya, itu namaku. Jung Hyuwon," katanya seraya mengulurkan tangannya padaku. Aku pun terpaksa menyambutnya, "Lee Hana," balasku. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Hati-hatilah di jalan, ya!" kata Hyuwon seraya tersenyum hangat dan melambaikan tangannya, lalu pergi.


"Hana!" panggil Namgil yang menghampiriku. "Kau mau ke mana? Biar oppa yang antar," tawarnya. "Tidak usah. Aku ingin jalan kaki saja," jawabku konyol. Namgil menyipitkan matanya menatapku, "Jalan kaki? Tapi sekarang hujan, Hana!" katanya. Aku yang malas berdebat dengannya, kembali melanjutkan langkahku. Namgil yang sempat bingung harus mengejarku atau tidak, berkata "Tunggu, Hana! Setidaknya pakailah payung!" Namgil pun berlari ke arah mobilnya untuk mengambilkan payungnya untukku. Aku pun berbalik ke belakang untuk menunggu Namgil, tapi tiba-tiba ada sebuah payung yang menaungi kepalaku.


Deg! Aku membeku saat melihat sebuah gelang di tangan yang memegang payung itu. Jelas sekarang aku masih bernafas, tapi rasanya aku tidak hidup karena aku tidak bisa mati sekarang jika harus berhadapan dengan pemilik gelang ini. Jauh di dasar hatiku, aku ingin memeluknya dan menangis sepuasnya di dalam pelukannya. Namun aku sadar, aku tak pantas lagi melakukannya karena sekarang aku sudah terikat dengan hati yang lain. Bahkan kini aku telah terantai pada sesuatu yang baru saja aku lakukan. Bukan hanya hati yang terikat, tapi tubuhku yang sudah terantai oleh seorang Kim Daehyun. "Seperti halnya kau yang masih datang di depanku, meskipun sudah aku tinggalkan. Jika aku bisa, aku juga ingin pergi mencarimu di saat seperti ini, tapi memikirkan hanya mengetuk pintumu saja aku tidak berani lagi!" ucapku dalam hati seraya kembali menangis.


Namgil yang berbalik sambil membawa payungnya, mengurungkan niatnya untuk menghampiriku saat melihat seseorang berlari ke arahku. Perlahan, Namgil pun memundurkan langkahnya, kembali ke mobilnya beserta payungnya. "Apa yang aku lakukan? Sesaat, aku lupa, sudah ada dia yang menjagamu. Tapi melihatmu menangis seperti tadi, aku jadi ingin memelukmu. Bahkan jika aku bisa aku ingin menciummu lagi," gumam Namgil seorang diri di dalam mobilnya. "Kenapa semua menjadi begitu sulit? Setelah ini, akankah ada seseorang yang menyambutku, mungkin seperi kau yang dulu yang merangkul tubuh lelahku? Hana, semoga aku bisa melupakanmu dan mendapatkan penggantimu secepatnya!" lanjutnya seraya pergi.


"Tolong, jangan tanyakan pertanyaan apa pun!" ucapku pelan dengan wajah tertunduk, menyembunyikan mata sembabku. Meski aku tahu, itu percuma karena tanpa melihat air mataku pun, orang di depanku ini pasti tahu kalau aku sedang menangis. Meskipun sejak tadi, ia hanya diam saja memayungiku. Greb! Tangan itu menarikku ke dalam pelukannya dan entah kenapa aku langsung menangis sejadi-jadinya. "Tetaplah mengasihiku seperti ini selamanya karena aku tidak merasa sendirian saat kau tetap ada di sampingku. Tolong, tinggallah di sisiku," ucapku dalam hati seraya memeluk tubuh itu.


"Tunggu, ada yang lain! Aroma ini, bukan parfum Yongju oppa!" pikirku saat menghirup aroma dari tubuh orang yang aku peluk sekarang. Aku pun sontak mendongakkan wajahku untuk melihat wajah orang di depanku ini, yang aku kira Yongju. Sepasang mataku pun membulat sempurna saat baru menyadarinya kalau wajah itu bukan milik Yongju. Aku mendadak kesal dan ingin bertanya padanya, "Kenapa kau memakai gelang pemberianku yang khusus aku buat untuk oppa?"


Namun, wajahku yang sudah kedinginan di bawah guyuran hujan, semakin pucat pasi saat mataku kembali menyadari sosok lain di belakang orang di depanku ini. "Aku tahu, aku tidak bisa lari darinya selamanya!" kataku dalam hati. Melihat tatapan tajamnya yang tertuju padaku, membuat nafasku terasa tercekat. Bahkan hujan yang turun serta pergerakan di sekitarku terasa melambat. Hanya tangan Daehyun yang tampak bergerak cepat merampas payung yang menaungiku. Payung hitam itu terlepas dari tangan laki-laki di depanku dan tergeletak di aspal setelah Daehyun membuangnya dengan kasar. Langit pun kembali menyiramiku dengan hujannya, seiring air mataku yang kembali luruh melihat kecemburuan di mata tunanganku itu.

__ADS_1


__ADS_2