The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Sweet Strawberry Kiss


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Sudah satu jam sejak aku dan Daehyun kembali ke hotel. Dari kamarnya yang ada di sebelah kamarku, Daehyun mengirimiku chat, "Apa burung beo birunya sudah terbang?" Berulang kali, aku mengerjabkan mataku membacanya. "Burung beo?" balasku dengan kening berkerut saking tidak mengerti dengan chat dari Daehyun itu. "Siapa lagi, eomma! Yang pakai baju biru, lalu seperti burung beo, cerewet menyuruh oppa kembali ke kamar!" ketiknya dengan kesal, lalu mengirimkannya padaku. Sontak aku tertawa membacanya, "Bagaimana bisa eomma sendiri dikatakan burung beo!" balasku cekikikan. "Karena mengganggu saja!" balas Daehyun dengan wajah cemberutnya. "Jahat!" balasku singkat. "Kenapa?" balasnya juga singkat.


"Berarti oppa, anak burung beo biru!" balasku mengejeknya. "Tentu saja, burung beo biru itu sangat langka, selangka tunangan sayang yang tampan mempesona ini!" balasnya kembali over narsis dan membuatku semakin tertawa membacanya. "Bukankah sudah punah?" tanyaku di chat. "Kata siapa? Ini buktinya, oppa masih hidup. Spesies terakhir! Jadi, harus sayang jaga baik-baik! Jangan sampai burung beo-nya terbang, terus hinggap di tempat lain!" balasnya. Aku pun semakin tertawa geli membacanya, tapi sesaat kemudian tawaku terhenti seiring mataku yang membaca chat terbaru dari Daehyun, "Jadi, apakah burung beo biru ini bisa terbang ke kamar sebelah untuk melestarikan spesiesnya?"


Aku meletakan ponselku di samping bantal, membiarkannya berdering karena chat masuk dari Daehyun. Aku sengaja mengabaikannya dan berpura-pura tidur, tapi saat terdengar dering panggilan masuk dari Daehyun, aku pun tidak tahan untuk tidak mengangkatnya. "Sayang, burung beo-nya ingin... Ini hari yang baik untuk bereproduksi. Ayolah, buka pintu kandangnya," kata Daehyun langsung setelah aku mengangkat teleponnya. Aku pun sontak tertawa terbahak karena geli mendengarnya.


"Tidak mau, aku ingin tidur!" sahutku. "Sayang, tega! Nanti kalau burung beo-nya benar-benar punah, bagaimana?" katanya. "Ya, sudah, tinggal pelihara burung yang baru saja!" jawabku santai. "Astaga! Berani sekali, ya!" katanya. "Siapa takut!" sahutku. "Tapi tidak akan ada yang bisa menggantikan burung beo ini sama persis! Sudah oppa katakan, oppa ini langka dan satu-satunya!" katanya. "Iya, burung beo! Sekarang tidurlah! Ini sudah tengah malam, aku mengantuk," kataku sambil menguap. "Tidur saja terus seperti beruang musim dingin yang hibernasi!" sahutnya, merajuk dan langsung mematikan panggilannya.


***

__ADS_1


Pagi harinya, aku menekan bel kamar Daehyun untuk mengajaknya sarapan. Tapi sudah berkali-kali aku melakukannya, ia tak kunjung membukakan pintu kamarnya. "Apa benar-benar merajuk?" pikirku. Saat aku ingin menekan bel yang terakhir kalinya, Daehyun membuka pintu kamarnya dengan wajah bantal dan kedua matanya yang hampir tidak bisa dibuka. Setelah melihat aku yang menekan bel kamarnya, ia pun langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Daehyun langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Dalam hitungan detik saja, ia kembali tertidur dengan suara dengkuran kecilnya yang terdengar.


"Tidur lagi?" gumamku tidak percaya seraya mendekati Daehyun dan mengamati wajah tertidurnya. "Sekarang siapa yang lebih mirip beruang musim dingin?" kataku menggerutu. "Oppa, bangunlah! Temani aku sarapan di bawah, ayo!" kataku seraya menggoyangkan bahunya pelan. Berkali-kali, aku mencoba membangunkannya, tapi Daehyun menolak untuk bangun. Tanpa membuka matanya, Daehyun hanya merubah posisinya menjadi telentang, tapi masih melanjutkan tidur panjangnya itu.


Aku pun menyerah membangunkannya. Aku duduk di sampingnya, mengamati wajah tampannya yang terlelap damai. Tiba-tiba wajah tampan itu tersenyum kecil, entah apa yang sedang Daehyun mimpikan di bawah alam sadarnya. "Apa burung beo-ku tidurnya sangat bahagia?" kataku seraya mengusik tidurnya dengan menggesekan hidungku ke hidung mancungnya yang selalu membuatku iri dan insecure. Daehyun yang mendengar suaraku dan merasakan sentuhan di hidungnya, perlahan membuka kedua matanya.


"Apa?" tanyanya dingin karena masih merajuk. Aku yang sudah hafal dengan reaksinya pun, tersenyum manis. Cup! Aku mengecup keningnya dengan lembut, lalu berkata, "maaf, tadi malam tidak sempat bilang selamat malam." Daehyun yang selalu lunak dengan sifat manjaku hanya mendengus kesal. "Padahal semalam oppa menunggu telepon balik dari sayang sambil membayangkan wajah sayang!" gerutunya. "Maaf, aku benar-benar tertidur setelah itu," kataku manja.


"Biarkan saja karena semua hari yang buruk, bukan apa-apa dan tidak ada artinya bagiku, asal terus bersama oppa, beruang musim dinginku! Oke, hari ini kita mainnya di kamar saja!" kataku seraya memeluk Daehyun dari belakang. Daehyun langsung membalik badannya dan menatapku dengan keningnya yang berkerut. "Maksud sayang, mau menemani oppa main di kamar?" Aku tersenyum kecil dan perlahan mulai menjauhkan tubuhku darinya. "Maaf, aku lupa kalau beruang musim dingin tidak suka tidur panjangnya diganggu!" kataku, lalu dengan cepat berniat kabur dari kamar ini, tapi aku kalah cepat dengan Daehyun yang langsung menerkamku seperti beruang buas.

__ADS_1


***


Satu jam kemudian, "Ayo, bersiap!" ajak Daehyun seraya menarik selimutnya yang aku gunakan. "Bersiap kemana?" tanyaku bingung. "Pagi ini kita naik bumboat di Singapura River Cruise. Setelah itu, kita main di Universal Studio. Lalu malamnya, dinner di Singapore Flyer," jawabnya seraya membuka kopernya. Daehyun mengeluarkan T-shirt berwarna putih dan skinny fit jeans berwarna aquamarine dengan sobekan di bagian luntutnya, juga sepasang topi football putih. "Hari ini, pakai yang ini, sepatunya yang malam tadi saja" katanya memberikan arahan, seraya menyerahkan satu topi itu untukku.


"Katanya malas keluar, lalu mau bermain di kamar saja seharian!" gerutuku. "Siapa yang berkata mau main di kamar saja seharian? Bukankah sayang sendiri yang tadi mengajak oppa bermain di kamar?" kata Daehyun sambil memainkan alisnya dengan licik. "Oh, ternyata aku sudah dijebak?" kataku dengan wajah cemberut. Daehyun mendekatiku dengan duduk di sampingku. "Kenapa? Tidak mau pergi? Masih mau bermain di kamar seharian?" tanyanya sambil tangannya membelai leherku. "Apa sih, yang tidak buat sayang? Kalau mau bermain seharian juga, oke! Jalan-jalannya bisa ditunda besok," bisiknya nakal. "ih, oppa menyebalkan!" sahutku seraya mendorong wajahnya menjauh.


Dengan kesal, aku bangun sambil menggerutu, "kalau tahu tetap pergi, tidak usah bermain saja tadi. Pinggangku sakit, tahu!" Daehyun menarik pinggangku hingga terduduk di pangkuannya, "maaf, nanti setelah pulang, oppa pijit biar tidak sakit lagi," katanya lembut seraya membelai dan memijat pelan pinggangku. "Modus! Yang ada malah dipijit seluruh tubuh!" sahutku kesal. Daehyun tertawa dan semakin membuatku cemberut. "Sudah dong, marahnya! Nanti cantiknya hilang!" katanya menenangkan dengan suaranya yang dalam dan penuh perasaan seraya mengecup pipiku.


Aku memutar posisiku menghadap Daehyun. Aku menggosokkan hidungku. Satu alis Daehyun terangkat melihat kebiasaan baruku ini. "Ada apa?" tanyaku heran. Daehyun menyentil hidungku yang terus menggosok hidungnya. "Apa sayang ini kucing betina?" tanyanya. "Oppa baru tahu kalau sayang bisa semanja ini," lanjutnya seraya memelukku. "Apa oppa tiba-tiba ingin memelihara kucing? Sepertinya, dari tadi malam membahas nama hewan-hewan!" sahutku sarkas.

__ADS_1


Tiba-tiba sarapan yang Daehyun pesan datang dan Daehyun dengan manjanya minta disuapi. "Sekarang, siapa yang manja!" kataku kembali sarkas, tapi masih menyiapkan potongan buah strawberry kesukaan Daehyun ke mulutnya. Namun, sebelum Daehyun menutup mulutnya, aku menyambar bibirnya dan strawberry kiss pun tercipta. Setelah bibir tipis dan strawberry manis itu habis aku lahap, dengan santainya, aku kembali menyuapinya.


Daehyun terus mengamati aku dengan mata elangnya, "Sekarang, oppa juga baru tahu, ternyata kucing betinanya nakal!" balasnya dengan sarkas. "Ck, siapa juga yang sudah mengajari kucing betinanya!" sahutku seraya meliriknya dengan tajam. Daehyun meletakan potongan strawberry di mulutnya sambil terus menatapku. Aku tersenyum miring mengerti maksudnya. Aku kembali melahap habis strawberry di bibirnya, sampai ciuman manis itu berakhir dengan senyuman manis kami berdua. Daehyun memelukku, "I love you, Hana," katanya.


__ADS_2