The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Jika Kau Rela Kehilanganku


__ADS_3

Grab! Daehyun menarik tanganku dan langsung menciumku di tengah publik, tak peduli aksinya menjadi tontonan orang banyak. Aku yang sempat tertegun dengan aksinya, mendorong Daehyun dengan kasar. "Apa yang oppa lakukan, hah! Jika oppa ingin bermain, cari saja Sooyun atau gadis lain yang mau bermain dengan oppa! Jangan pernah berani menyentuhku lagi!" bentakku dengan amarah penuh dan sama tidak pedulinya jika semua yang ada di sini mendengarnya. "Sayang, tenanglah! Oppa akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Oppa akan menyuruh Sooyun menggugurkan kandungannya dan kita tetap akan menikah," kata Daehyun seraya menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


Aku menepis tangan Daehyun dengan kasar dan menatapnya nanar. "Apa kata oppa? Menggugurkan kandungannya? Apa oppa gila! Apa oppa pikir, aku masih ingin menikah dengan oppa setelah semua ini?" bentakku lebih keras. "Apa maksudmu? Kau ingin membatalkan pernikahan kita?" tanya Daehyun yang langsung menangkap tanganku agar aku tidak kabur. Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangannya, tapi Daehyun semakin mengeratkan genggamannya.


"Sayang, oppa bersumpah, oppa tidak pernah mengkhianatimu! Sejak kita bertunangan, sayang satu-satunya wanita yang oppa cintai," kata Daehyun meyakinkanku. "Lalu, bagaimana Sooyun bisa mengandung anak oppa? Sekarang jawab aku, apa oppa tidur dengannya lagi setelah bertunangan denganku?" tanyaku. Daehyun terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. "Jawab aku!" bentakku. Daehyun mengangguk pelan, tanpa berani menatap mataku langsung. Aku pun memejamkan mata, dengan hati yang sakit seperti ditikam sebuah pedang.


"Tapi oppa dijebak! Oppa hanya mencintaimu," kata Daehyun seraya menggenggam kedua tanganku. "Mana? Apa? Tunjukan padaku! Di mana cinta itu? Aku tidak bisa melihatnya! Aku tidak bisa menyentuhnya! Aku tidak bisa merasakannya! Aku tidak bisa mendengarnya! Aku bisa, tapi hanya sebuah kata dan aku tidak bisa melakukan apapun dengan kata itu!" kataku menatap Daehyun dengan hati yang hancur.


"Apa pun yang oppa katakan sekarang, ini sudah terlambat," kataku seraya melepaskan genggamannya. "Sayang, jangan lakukan ini!" pinta Daehyun seraya memelukku karena takut aku pergi dan meninggalkannya. "Sekarang ini sudah selesai. Lepaskan aku! Oppa harus bertanggung jawab dengan perbuatan oppa. Untuk apa lagi oppa menahanku? Lepaskan!" kataku seraya masih berusaha melepaskan tangan Daehyun yang memelukku. "Iya, aku tidak ingin menikah dengan fuckboy sepertimu! Aku membencimu, Kim Daehyun!" lanjutku dengan berteriak di akhir kalimat dengan air mata yang keluar dengan derasnya.


Bukannya melepaskanku, Daehyun kembali mencium bibirku untuk menenangkan aku yang sudah mulai histeris. Plakk! Satu tamparan aku layangkan ke wajah tampannya yang selalu memenuhi atensiku selama ini. Daehyun tertegun sambil menatapku tidak percaya. "Sayang, kau menampar oppa?" ucapnya pelan seraya meraba pipinya yang terasa panas. "Apa selama ini, aku juga hanya mainan untukmu? Sama seperti gadis-gadis murahanmu di luar sana? Lalu untuk apa kau melamarku, bahkan berjanji menikahiku, hah?" kataku dengan suara bergetar dengan menatap Daehyun yang menundukan wajahnya karena tidak sanggup melihat kebencian di mataku yang bersimbah air mata.


"Noona!" panggil Junghwa yang baru tiba, disusul Seojun dan Namgil. "Ayo, pulang. Tinggalkan saja dia!" tambah Junghwa. "Hana, sudahlah! Ayo, kita pulang dulu!" bujuk Seojun, seraya mengaitkan tangannya di lenganku untuk membawaku menjauh dari Daehyun. "Seojun hyung, benar, Hana! Kita akan membicarakannya lagi di rumah!" tambah Namgil. Ketiga pria itu hanya berfokus padaku, tanpa mempedulikan Daehyun yang berdiri lesu. Ketiganya ingin membawaku pergi, tapi aku menepis tangan Seojun.


"Lihat aku!" kataku pelan pada Daehyun. "Lihat aku, Kim Daehyun! Aku yang seperti orang bodoh yang terlanjur mencintaimu dan memberikan segalanya untukmu, berharap kau menepati janjimu untuk kau nikahi, tapi kau malah menghamili wanita lain!" lanjutku dengan sangat keras. Aku berteriak histeris di depan semuanya dengan tubuhku yang merosot terduduk di lantai. Rasanya, seluruh bagian tubuhku terjatuh dari ketinggian, hancur tercabik, tersebar dan terpisah tanpa arah. Amarah yang memuncak membuatku semakin kehilangan kontrol. "Bagaimana bisa kau melakukan semua ini padaku? Bagaimana bisa! Padahal kau sudah mengambil segalanya dariku! Padahal hubungan kita sudah sejauh ini!" kataku seraya mengepalkan kedua tanganku yang menopang tubuhku di lantai dengan kuat.

__ADS_1


"Noona, tenanglah!" kata Junghwa langsung memelukku. "Daehyun, kenapa kau diam saja! Lakukan sesuatu!" bentak Namgil yang juga bingung harus apa. "Tidak! Jangan membuat Hana semakin histeris! Pergilah dulu!" sela Seojun seraya menahan Daehyun yang ingin mendekatiku. "Lepaskan aku, hyung! Aku harus menyelesaikan semuanya!" jawab Daehyun. "Kau, lepaskan Hana!" kata Daehyun seraya mendorong Junghwa hingga terduduk di lantai. "Sayang, tenanglah! Jangan seperti ini! Oppa pastikan semua akan baik-baik saja. Berhentilah menangis! Kita pulang dulu, ya? Apapun yang sayang mau, akan oppa lakukan, oke?" bujuk Daehyun dengan lembut.


Mendengarnya, aku mengangkat wajahku dan menatap Daehyun tajam. "Kalau begitu, kembalikan diriku seperti saat aku sebelum bertemu denganmu! Apa kau bisa? Karena kau, aku menjadi hancur seperti ini! Kau yang menghancurkan hidupku, Kim Daehyun!" kataku dengan bibirku yang gemetar. "Aku ingin membatalkan pernikahan kita. Aku tidak menginginkanmu lagi. Aku tidak bisa melakukannya lagi. Ini menyebalkan! Tolong, jangan beri aku alasan apa pun lagi untuk tetap menikah denganmu!" lanjutku dengan suara yang mulai stabil.


"Tidak mau! Sayang, kau tidak bisa melakukan ini! Oppa akan menganggap tidak mendengarnya. Oppa hanya mencintamu dan hanya akan menikah denganmu. Ayo, bangunlah! Kita pulang sekarang!" kata Daehyun yang berusaha menampik, seraya membantuku berdiri. Lagi-lagi, aku menepis tangan Daehyun. Rasanya, tidak sudi jika tangan kotor itu menyentuh kulitku lagi. "Ck! Semua hal yang kau katakan seperti topeng yang menyembunyikan kebenaran dan akhirnya hanya mencabik-cabik aku. Apa kau pikir, aku masih mempercayainya?" kataku sendu. Daehyun tidak menyahut. Ia memilih diam karena tidak ingin berdebat lagi denganku.


Daehyun masih keras kepala mengajakku pulang dengan menarikku. Aku berhasil melepaskan diri, setelah menggigit tangannya hingga berdarah. Aku berlari meninggalkan mereka yang langsung mengejarku. Aku berlari sambil menangis, tanpa memperdulikan sekitarku sama sekali. "Noona!" teriak Junghwa, seiring suara rem mobil yang mendecit panjang. Aku mematung dengan nafas cepat saat menyadari hampir saja sebuah mobil menyambar tubuhku. Tanpa sadar, aku sudah berlari keluar bandara. Entah apa yang akan terjadi, jika sepasang tangan yang sedang memelukku ini, terlambat meraihku.


Deru nafas yang memburu dari pemilik tangan itu, berhembus di telingaku, seiring dengan detak jantung kami berdua yang memacu, seolah saling bersahutan. "Apa sayang gila! Mau mati, hah!" bentak Daehyun keras setelah memutar badanku menghadapnya. Suara bentakannya serasa menembus dadaku dan semakin membuat dadaku sesak. "Iya, aku gila, puas?! Kau yang membuatku gila! Aku benci semua ini! Aku membencimu! Jadi, singkirkan tangan kotormu ini!" teriakku tepat di depan wajah Daehyun.


"Lepaskan!" ucapku dengan dingin. "Silakan pergi selesaikan urusanmu dengan Sooyun. Aku sudah tidak bisa menerima semua ini. Ini terlalu menyakitkan untukku. Kau harus menikahinya, bukan aku!" lanjutku tanpa bergerak karena terlalu sakit mengatakannya. "Tidak! Aku tidak akan menikahinya. Aku hanya akan menikahimu! Sayang, aku mohon, maafkan aku..." pinta Daehyun tanpa melepaskanku. "Sudah aku katakan, aku membencimu!" sahutku dengan linangan air mata yang tidak bisa aku tahan.


"Tidak. Aku mencintaimu dan aku tahu, kau juga mencintaiku. Kau tidak membenciku!" sahut Daehyun keras kepala. "Aku membencimu!" ulangku lagi. "Aku membencimu, Kim Daehyun!" lanjutku penuh penekanan, seperti hatiku yang tertekan kuat saat mengatakannya. "Maafkan aku..." lirih Daehyun yang pada akhirnya meneteskan air matanya untuk pertama kali di depan seorang wanita dan itu aku. "Aku membutuhkanmu! Kita saling membutuhkan! Kau tidak bisa membohongiku dengan berpura-pura membenciku!" lanjutnya.


"Iya, aku jatuh cinta denganmu. Iya, aku membutuhkanmu. Iya, aku tidak bisa jauh darimu. Tapi itu dulu, sebelum kau melukaiku sedalam ini. Sekarang, lepaskan aku. Aku sudah lelah..." sahutku dengan suara yang sudah mulai melemah karena lelah. Melihat aku yang sudah semakin lemah, Junghwa, Seojun dan Namgil membantuku. Seojun dan Namgil melepaskan tangan Daehyun yang memeluk kakiku dan menahan Daehyun. Sedangkan Junghwa mengambil alih tubuhku, merangkulku.

__ADS_1


"Mengapa sekarang aku baru merasa kalau aku jatuh cinta sendirian? Mengapa aku terluka sendirian seperti ini? Mengapa aku memberimu kesempatan sampai aku terus merasa membutuhkanmu? Padahal aku sudah tahu, mungkin saja aku akan terluka seperti ini..." gumamku dan kembali terisak. "Noona, sudahlah, jangan menangis lagi! Kau cantik, tapi kau sangat jelek kalau menangis!" kata Junghwa berusaha menghiburku. "Kita pulang, ya? Lihatlah, badan noona sudah gemetaran seperti ini. Sepertinya, noona sangat kedinginan," lanjutnya lembut.


Aku hanya diam tanpa menanggapi usaha Junghwa untuk menghiburku karena tiba-tiba kepalaku terasa berputar-putar. Daehyun yang berhasil meloloskan diri dari Seojun dan Namgil, kembali menghampiriku dan Junghwa. Daehyun menyadari kedua mataku yang perlahan semakin sayu dan tubuhku ynag semakin turun dan turun, sampai pada titik tubuhku yang terkulai lemas dalam rangkulan Junghwa, seiring kesadaranku yang mulai menurun.


"Sampai akhir, aku hanyalah gadis bodoh di matamu..." ucapku yang di tangkap telinga Daehyun saat ia menangkup wajah pucatku, sebelum kedua mataku yang menatap wajah tampannya yang panik, tertutup sempurna. "Sayang! Bangunlah, sayang! Jangan membuatku takut! Sayang, aku mohon!" kata Daehyun seraya menepuk-nepuk pipiku. "Hentikan! Mau sampai mana kau menyakiti noona, hah!" kata Junghwa menepis tangan Daehyun.


"Diam kau! Ini semua gara-gara kau! Kalau kau tidak ikut campur urusanku, Hana tidak akan seperti ini!" lawan Daehyun. "Apa pun yang aku lakukan, aku tidak bisa menahannya! Itu sudah pasti, hatiku sakit mengetahui kau hanya mempermainkan noona!" sahut Junghwa. Daehyun dan Junghwa fokus dengan perdebatan mereka tanpa mendengarkan Seojun yang sejak tadi meminta Junghwa membawaku pulang, seolah Seojun hanya berbicara pada dirinya sendiri. Sedangkan Namgil tidak mengatakan apa-apa selain menatapku, gadis yang meninggalkannya demi Daehyun, dengan tatapan miris.


***


Junghwa dan Seojun membawaku pulang ke rumah, beserta Namgil dan Daehyun yang juga mengikuti. Junghwa sudah melarang Daehyun masuk dan mengusirnya, tapi Daehyun tetaplah keras kepala dan memilih menungguku sadar. "Tolong, bangunlah! Aku bersumpah akan memperlakukan sayang dengan baik setelah ini!" ucap Daehyun seorang diri seraya menggenggam tanganku dan mengecupnya. Raut khawatir di wajahnya masih belum hilang.


Daehyun memutar arah duduknya, menghadap ke arah jendela kamarku. Kepalanya terasa sakit dengan semua hal yang tak terduga hari ini. Daehyun memandang keluar jendela, melihat langit biru dan matahari yang bersinar teduh. Tes! Setitik air jatuh membasahi lantai saat ia memijit kedua ruang di antara alisnya dengan sedikit menundukan wajah tampannya. Air mata yang kembali keluar saat hatinya mengakui kalau semua ini memang salahnya. Daehyun pun menyeka ujung matanya, tapi tiba-tiba atensinya beralih saat menyadari aku yang merubah posisi menjadi memunggunginya. Sebenarnya, aku terbangun saat Daehyun memutar duduknya. Bahkan aku juga melihat saat ia menitikan air mata.


Daehyun kembali memutar duduknya ke arahku dan berniat memelukku, tapi tangannya terhenti saat menyadari punggungku yang bergetar hebat. Daehyun tahu, aku kembali menangis tanpa suara, menyembunyikan air mataku darinya. "Berhentilah menangis..." ucapnya pelan. "Katakan, apa yang harus aku lakukan agar sayang berhenti menangis dan mau memaafkanku?" lanjutnya yang terdengar pasrah dan tidak berani menyentuhku. "Jadi, air mataku bahkan lebih kentara?Kenapa kau? Kenapa harus kau? Kenapa aku tidak bisa meninggalkanmu?" ucapku pelan saat tahu, Daehyun menyadari tangisku.

__ADS_1


Daehyun diam tanpa suara, hanya memandang sendu punggungku. "Katakan saja padaku, kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita! Kau ingin putus! Kau tidak mencintaiku lagi! Kau tidak ingin menikah denganku!" kata Daehyun dalam hatinya dan tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung. "Jika iya, jika semua harus berakhir seperti ini, berikan aku hadiah terakhirku! Agar aku tidak akan pernah kembali kepadamu selamanya. Katakan sekali lagi dengan jujur, jika kau ingin aku menikahi wanita lain! Jika kau ikhlas melepaskanku! Jika kau benar-benar rela kehilanganku!" pintanya dengan suara bergetar.


__ADS_2