
Dengan tenaganya yang tersisa, Daehyun beringsut ke sisi ranjang pasien di mana aku terbaring lemah. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya, menciumnya lama dengan diiringi isak tangisnya seraya berkata, "sayang, maafkan aku." Seseorang melepas paksa tangan Daehyun dari tanganku. "Namanya Lee Hana, ingat itu! Jangan pernah melafalkan namanya dengan kata sayang itu dan artikulasi lembut menjijikan seperti itu lagi, apalagi dengan memanfaatkan wajah tampanmu itu!" kata appa-ku datar seraya menatap Daehyun dengan begitu dingin. "Pertunangan kalian dibatalkan! Mulai hari ini, kau dan putriku tidak ada hubungan apa-apa lagi. Bersyukurlah, aku tidak membiarkan Yongju dan Junghwa membunuhmu. Bersyukurlah, kau masih bernafas sampai sekarang! Jadi sekarang juga, pergilah dan jangan pernah temui Hana lagi!" lanjut appa dengan tegas.
Rahang Daehyun mengeras dan giginya menggeretak pelan karena kesal saat mengingat kondisinya sekarang yang kalah telak. Terlebih saat Daehyun mengingat Sooyun yang masih bernafas dengan baik, "seharusnya wanita gila itu saja yang keguguran!" pikirnya. Kekesalan Daehyun semakin meningkat saat melihat Yongju yang tampak lebih sehat dibandingkan dengannya yang sudah babak belur, juga kenyataan Junghwa yang tidak bisa dilawan oleh siapapun, seolah keberadaannya membumbung tinggi tak tersentuh. Daehyun masih tak beranjak dari tempatnya, seolah tak ingin menyerah untukku selamanya.
Bahkan ia seperti tak menghiraukan perkataan appa-ku yang mengusirnya, juga Seojun dan Namgil yang mengajaknya pulang. Semua suara mereka seperti gonggongan anjing di telinga Daehyun. "Daehyung, ayo pulang! Jangan keras kepala seperti ini!" kata Namgil. "Kim Daehyun! Ayo, bangun! Kau harus mengganti pola pikirmu yang selalu memaksa seperti ini!" tambah Seojun seraya membantu Namgil menarik Daehyun agar menjauh dariku. Tapi Daehyun tetap tidak bergeming tanpa sepatah katapun, hanya isak tangisnya yang sesekali terdengar. "Ck, ini mulai membosankan!" ucap Junghwa seraya berjalan menghampiri mereka bertiga dan bugh! Junghwa memukul tengkuk Daehyun dengan keras hingga kepala tuan muda Kim itu tergeletak di samping tubuhku, tak sadarkan diri.
"Namgil, bawa dia dari sini!" perintah Yongju cepat, walau sempat tertegun melihat kelakuakan adiknya tadi. "Hyung tidak membenciku lagi?" tanya Namgil dengan polosnya, setelah sempat tertegun mendengar sang idola yang sudah mau berbicara dengannya. Yongju pun melirik sekilas ke arah salah satu penggemarnya itu, mendapati wajah Namgil yang sedang menantikan jawaban darinya dengan penuh harap. "Hmm... baiklah, aku tidak lagi membencimu! Jadi, cepatlah pergi!" jawab Yongju setengah hati sambil mengusir Namgil dengan tangannya.
Namgil dibantu Seojun memapah Daehyun keluar. Di depan ruangan sudah ada Tuan dan Nyonya Kim yang menunggu Daehyun. Tuan Kim yang melihat sang putra keluar dengan dipapah, bergegas mengambil alih posisi Seojun. "Seojun, ada apa dengan Daehyun? Kalian apakan lagi dia di dalam?" tanya Tuan Kim geram. "Bukan begitu..." ucap Seojun. "Daehyun hanya pingsan, paman. Tidak terjadi apa-apa," sela Namgil menutupi perbuatan Yongju, tanpa diminta.
"Tunggu!" ucap Junghwa yang keluar dari ruangan. Dengan santainya, si bungsu berjalan menghampiri mereka, masih dengan ekspresi dan tatapannya yang belum berubah. "Junghwa, sudahlah! Jangan lanjutkan lagi!" kata Seojun yang bergegas menghampiri sang adik. "Mau apa lagi kau? Kalau kau ingin menyakiti Daehyun, pukul saja aku! Atau kau ingin membunuhku? Bunuh saja aku, tapi jangan sakiti keluargaku!" kata Tuan Kim seraya menjadi tameng di depan Daehyun dan Namgil. Junghwa hanya menarik sedikit garis senyum di salah satu sudut bibirnya.
"Junghwa, kalau kau masih menganggap aku hyung-mu, ayo masuk!" kata Seojun seraya menarik tangan Junghwa untuk mengikutinya kembali ke ruanganku. Junghwa menahan langkahnya sendiri sampai Seojun tidak berhasil menariknya, malah saat Junghwa kembali melangkah, Seojun lah yang terpaksa melepaskan tangannya karena terkejut saat Junghwa menatapnya seperti monster.
"Apa? Kau mau menembak kami? Seojun, tolong paman! Adikmu ini gila!" kata Tuan Kim, saat Junghwa sampai di depan Tuan Kim dengan ketakutan, mengingat pemuda itu masih menyimpan senjata di tangannya. Tangan Junghwa terangkat. "Ide bagus! Setelah itu, aku akan memotong-motong tubuh kalian dan menjadikan daging kalian makanan kelinci putih peliharaanku!" katanya seraya memainkan pistol di tangannya sambil teringat dengan hewan peliharaan kesayangannya. Mendengar perkataannya plus melihat senyum psycho di wajah bayi itu, semua sampai bergidik ngeri, termasuk Seojun yang tahu persis yang dimaksud Junghwa adalah harimau albino milik adiknya itu, meskipun ia yakin, saat ini Junghwa hanya sekedar menggertak.
"Awalnya, aku tidak mengenal kalian dan aku tidak pernah mau peduli dengan orang yang tidak aku kenal. Tapi sekarang kalian mengenalku dan aku tahu, kalian juga membenciku," lanjut Junghwa seraya mengalihkan tatapan dinginnya ke arah Tuan Kim. "Tuan Kim Daeyang yang terhormat, sekarang anda tahu namaku. Jadi, mulai detik ini, jaga baik-baik putra anda! Jangan biarkan dia mendekati noona-ku lagi! Kalau tidak, kau tahu apa yang bisa aku lakukan!" kata Junghwa memberikan peringatan pertamanya.
"Apa kau juga menyukainya seperti hyung-mu itu?" tanya Nyonya Kim curiga. Junghwa tersenyum seperti bayi, "Tentu saja aku menyukainya. Dia noona-ku!" ucapnya. "Hmm..." gumam Junghwa tiba-tiba memikirkan sesuatu dengan wajah imutnya. "Tapi aku juga senang, jika Daehyun melawanku, dari pada aku bosan karena tidak ada mainan! Jadi, kalau nanti dia bangun, suruh saja dia bermain denganku lagi!" lanjutnya kembali tersenyum menakutkan dan membuat Nyonya Kim memalingkan wajahnya seraya memeluk Daehyun. Junghwa merasa sudah cukup ia menekan keluarga Kim itu. Ia pun berbalik meninggalkan mereka. "Apa-apaan pertanyaan tadi! Apa maksudnya, aku juga mencintai noona seperti hyung! Dia gila! Dari mana dia menilai aku seperti itu? Aku yang paling mengenal diriku! Aku ini hanya mencintai diriku sendiri!" gerutunya.
__ADS_1
"Kalau seperti itu, seharusnya kau sayangi dirimu sendiri!" sahut Seojun yang mengiringi langkah Junghwa dengan kesal. "Bukannya membuat kekacauan seperti ini! Arrgh, setelah ini, matilah aku! Appa pasti memarahi kita! Tidak! Pasti aku yang kena marah, bukan kalian!" gerutu Seojun juga. "Aku tidak peduli. Aku ingin tidur. Aku lelah, tidak ada istirahat," sahut Junghwa sambil menguap lebar. "Kau mengantuk setelah semua ini? Ya, Tuhan! Tentu saja kau lelah setelah bermain, dasar anak nakal!" sarkas Seojun yang marah dengan sikap seenaknya Junghwa.
"Apa kau tahu, hah! Dari dulu, setiap kali kau bermain, hyung-mu ini yang selalu merapikan mainanmu. Sedangkan kau hanya enak-enakan makan dan tidur saja! Astaga, nyaman sekali hidupmu itu! Sedangkan aku selalu kesusahan membelamu di depan appa!" omel Seojun. "Ah, apa hyung mau hidup sepertiku?" tanya Junghwa seraya memalingkan wajahnya ke arah Seojun yang mengomelinya di balik punggungnya. Mengingat bagaimana mengerikannya dunia mafia, Seojun lantas menggelengkan kepalanya. Junghwa tersenyum seraya menahan tawanya.
"Kalau begitu, kuliahlah dengan baik! Cepatlah jadi dokter, jadi kalau adik hyung ini terluka setelah bermain, hyung saja yang mengobatiku!" kata Junghwa seraya meletakan tangannya di bahu Seojun. Seojun memicingkan kedua matanya, menatap jengah pada adiknya itu, lalu menepis tangan Junghwa sambil berkata, "untung adik! Jika tidak, sudah aku bayar orang untuk membunuh adik kurang ajar sepertimu!" gerutunya yang langsung dibalas Junghwa dengan tawanya.
Seojun berlalu dengan kesal. Dengan manjanya, Junghwa melompat ke punggung dengan bahu lebar itu. "Apa yang kau lakukan? Turun!" kata Seojun yang terkejut. "Tidak mau!" kata Junghwa seraya mengeratkan lingkaran tangannya di leher sang kakak. Seojun pun terpaksa memegangi kedua kaki Junghwa, menggendong sang adik. "Hyung, aku lapar!" kata Junghwa manja. "Apa kau pikir, hanya kau yang kelaparan, hah! Aku bahkan belum sempat memakan makanan yang aku pesan tadi!" sahut Seojun kesal. "Ya sudah, ayo, kita pergi makan! Biar aku yang traktir!" sahut Junghwa, cengegesan.
"Bersikaplah baik padaku kalau kau tidak mau diseret seperti pelaku kiriminal!" kata Seojun seraya menurunkan Junghwa setelah sampai di ruanganku. "Tenanglah, biar aku yang bicara dengan polisi!" sahut Yongju yang mendengarnya. Seojun dan Junghwa saling tatap. "Aku akan mengakui semua ini perbuatanku," lanjutnya yang salah paham dengan kata kriminal yang Seojun ucapkan. "Maksudmu, kau ingin mengakuinya? Menutupi kesalahan Junghwa? Melindungi bocah nakal ini?" tanya Seojun ragu.
Yongju bingung melihat Seojun dan Junghwa yang sama-sama menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan semakin heran dengan senyuman nakal Junghwa selanjutnya. "Tapi, aku belum puas kalau belum membunuhnya!" kata Junghwa berpura-pura. "Aku ingin menusuknya sampai tubuhnya penuh lubang!" kata Junghwa dengan kedua matanya yang seolah berkilat. "Akan aku kuliti dia, lalu aku cabut semua tulangnya! Aku cincang tubuhnya sampai tidak berbentuk!" lanjutnya seraya berjalan menghampiri Yongju. Junghwa yang nakal berniat menggiring fantasi menakutkan di depan Yongju, tapi sang hyung hanya menatapnya tanpa ekspresi sedikitpun. Sedangkan eomma-ku sudah memejamkan kedua matanya ketakutan mendengarnya.
"Jika kau tak bisa melakukannya, biar aku yang melakukannya!" lanjut Yongju yang langsung membuat Junghwa tersenyum karena isi otak keduanya sama. Junghwa beralih duduk di samping Yongju dan mulai mengobrol dengan kakak keduanya itu. Sedangkan si sulung hanya memutar matanya jengah melihat dua pembuat onar keluarga Jeon itu. "Sekarang, aku tak bisa seperti ini! Menghadapi satu pembuat onar saja kepalaku sakit. Mustahil sekarang ada dua psikopat yang harus aku jaga! Aku menyerah!" rintih Seojun dalam hati. "Tidak bisakah kalian berdua hidup sesuai aturan sepertiku?" katanya seraya turut menghempaskan dirinya di sofa yang sama.
"Kau tenang saja, polisi tidak akan menangkapmu, terlebih anak nakal ini! Appa akan mengurusnya. Tadi aku hanya mengancam Junghwa agar berhenti berulah, tapi tetap saja bocah sialan ini pasti tidak akan berhenti membuat onar!" kata Seojun seraya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Junghwa tertawa, "Baiklah, kali ini aku tobat!" celetuknya. Seojun ikut tertawa, tapi terdengar garing, "Kalau begitu, setelah ini aku akan melukis janjimu itu benar-benar dan menempelnya di dahimu, biar kau ingat sepanjang hidupmu dengan janjimu itu!" sahutnya, kesal lagi.
Di tengah dua kakak beradik yang tidak pernah akur itu, ada Yongju yang tersenyum kecil mendengar omelan Seojun pada Junghwa yang dari tadi sengaja membalasnya dengan nyinyiran. Yongju beralih memandangku yang masih belum sadarkan diri. Sekali lagi, ia tersenyum. Yongju tersenyum karena memikirkan impiannya yang menjadi nyata. Bukan tentang ketenaran yang sudah ia peroleh selama ini. Bukan pula status dan harta berlimpah yang mendadak ia dapatkan setelah menjadi bagian keluarga Jeon, tapi
karena mendapatkan keluarga yang sesungguhnya, serta aku dan Daehyun yang akhirnya berpisah.
__ADS_1
***
Beberapa saat kemudian, setelah Seojun dan Junghwa pergi makan, Yongju menghampiri Hyunwo yang diminta Junghwa berjaga di ruanganku. "Namamu Hyunwo, bukan?" tanya Yongju seraya duduk di sebelah Hyunwo yang tengah memainkan ponselnya. "Iya, kau bisa memanggilku seperti itu," jawab Hyunwo seraya tersenyum ramah. "Apa aku bisa meminta tolong pada anak buah kalian?" tanya Yongju lagi. "Apa itu?" tanya Hyunwo bingung. "Awasi Daehyun karena aku yakin, tikus itu tidak akan menyerah semudah itu!" jawab Yongju. Hyunwo tertegun sesaat, "Kau yakin? Sepertinya, tidak. Adik gilamu itu sudah mengancam keluarga Kim. Mereka tidak mungkin berani," kata Hyunwo menganggap enteng. Yongju terkekeh kecil, "Jika Junghwa benar gila, seperti katamu, siapa tahu, Daehyun bisa lebih gila lagi!" katanya.
***
Sementara itu di kediaman Kim, Daehyun duduk tersandar di atas tempat tidurnya dengan luka dan memar di wajah tampannya yang masih tidak bisa menyembunyikan ketampanannya itu, sambil mendengar omelan kedua orang tuanya yang memarahinya habis-habisan. "Bulan depan, kau dan Sooyun akan menikah dan tahun depan setelah Sooyun melahirkan, kau harus pindah ke London. Kau harus melanjutkan kuliah di sana sesuai janjimu! Terserah kau ingin bercerai atau tidak setelah Sooyun melahirkan! Appa tidak peduli! Jadi, jangan membuat malu keluarga kita lagi!" kata Tuan Kim tegas.
"Tidak, aku hanya akan menikah dengan Hana," kata Daehyun pelan tanpa semangat. "Apa katamu!" kata Tuan Kim geram, "mereka sudah menginjak-injak kita seperti ini dan kau masih mau menikahinya? Berhentilah keras kepala, Kim Daehyun!" bentaknya lagi dengan sangat keras. "Aku akan pergi ke kediaman Lee dan meminta maaf," kata Daehyun lagi dengan tatapan kosong. "Daehyun! Di sana, kau hanya akan menjadi bahan tertawaan mereka!" kata Nyonya Kim seraya memukul lengan Daehyun. "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin meminta maaf pada Hana. Dia pasti sedih karena kehilangan anak kami..." ucap Daehyun seraya mulai menitikan air matanya. Sakit di sekujur tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya yang harus kehilangan wanita yang dicintainya sekaligus buah cintanya secara bersamaan.
"Buka matamu, anak bodoh! Lihatlah apa yang sudah mereka lakukan padamu! Buang semua ambisimu untuk menikahi Hana! Buka telingamu dan dengarkan appa! Ini adalah hal pertama dan terakhir yang akan appa katakan. Appa tidak akan merestui hubungan kalian! Kita sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarga Lee dan Jeon, mengerti!" kata Tuan Kim seraya mengunci Daehyun di kamarnya. Daehyun semakin menangis terisak. Pikirannya terasa buntu. Saat ini, ia hanya ingin keluar dari rumahnya ini, lalu berlari ke hadapanku, meski nyawa taruhannya. "Sekali saja, aku ingin mendengar kau memaafkan aku, tapi aku benar-benar terjebak di sini. Jadi, aku mohon, sehatlah dulu. Aku akan menemuimu nanti," gumamnya.
***
Kembali ke rumah sakit, beberapa staff rumah sakit tampak membereskan lorong yang sempat berantakan akibat ulah Yongju dan Junghwa. Tuan Jeon yang baru saja datang setelah menyelesaikan meeting pentingnya bersama klien, hanya bisa menghela nafasnya panjang sambil terus melangkah menuju ruanganku. Pria paruh baya yang juga terkenal bengis ini, bahkan dengan semua kekuasaan yang ia miliki, yang dengan begitu mudahnya menyelesaikan kekacauan kedua putranya, lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang saat mengetahui keadaanku dari kedua orang tuaku.
"Jangan sebut namanya lagi! Pergi! Aku tidak mau siapapun! Pergi!" teriakku saat itu seraya mendorong tubuh eomma yang memelukku. "Hana, tenanglah! Dokter, ada apa dengan anak saya?" kata appa yang juga turut bingung melihat reaksi berlebihan dariku. "Saya harap, anda semua keluar dulu. Biarkan pasien tenang dulu," ucap sang dokter. Yongju tersandar lesu di depan ruanganku, setelah aku meminta dokter mengusir mereka semua dari ruanganku, sesaat setelah aku sadarkan diri dan mengetahui kalau aku kehilangan bayiku. Awalnya, aku hanya menangis terisak, lalu berlanjut tersedu-sedu hingga berubah histeris setiap kali mereka menyebutkan nama Daehyun di depanku.
"Ini bukan seperti yang aku rencanakan. Aku hanya ingin Hana menikah dengan keluarga yang baik, tapi apa yang terjadi sekarang? Semua salahku!" kata eomma yang menyesali pilihannya untuk menjodohkan aku dan Daehyun. Appa-ku pun merasakan hal yang sama, "Tidak, ini bukan hanya salahmu. Aku juga salah karena tidak bisa menilai bajing** itu!" kata appa yang tiba-tiba merasa menjadi seorang pecundang melihat kehancuran putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Setiap hari, kita hanya sibuk bekerja. Sibuk mencari uang di luar rumah. Sedangkan kita meninggalkan sesuatu yang paling berharga di rumah. Padahal aku tahu, selama ini, Hana sendirian dan kesepian, tapi aku tetap meninggalkannya. Aku yang membuatnya mencari kebahagiaan yang tidak bisa kita berikan, dari bajing** itu. Akulah yang salah..." ucap Yongju pelan. "Hana itu agung. Dia tidak akan mengatakan isi hatinya pada siapapun dan menyimpannya sendiri. Anak manja yang kita lihat itu, harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta tolong atau sekedar meminta perhatian dari orang lain," lanjutnya dengan kepala tertunduk.