The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Untuk Siapa, Aku Sampai Semarah Ini?


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya, Junghwa baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama teman-teman satu grup-nya di sebuah restoran terkenal dan berniat kembali ke rumah seperti janjinya pada Yongju. Saat menunggu temannya di depan kasir, tidak sengaja, ia melihat siluet bayangan yang sedikit familiar di salah satu dinding di depannya yang terhalang beberapa orang yang baru saja keluar lebih dulu darinya. Tanpa sadar, Junghwa melangkah mengikuti orang-orang di depannya itu, tapi ia kehilangan jejak pemilik bayangan itu. Junghwa pun kembali berbalik sambil menggerutu, "Apa aku salah lihat? Apa tadi hanya bayangan yang mirip? Kalau iya, sial! Bayangannya saja tampan!"


Junghwa baru saja menutup pintu mobilnya setelah duduk di depan kemudi. Sebelum menyalakan mesin mobil barunya, ia melihat ke arah kaca spionnya untuk memastikan topi dan masker yang ia kenakan sudah sempurna menutupi wajahnya. Atensinya yang hendak menutup kaca mobilnya, teralihkan pada abu rokok yang keluar dari jendela mobil yang terparkir di sebelahnya. Dari kacanya yang di turunkan oleh pelakunya, Junghwa bisa melihat dengan jelas, Sooyun melempar keluar putung rokok di tangannya. Junghwa yang juga mengenal Sooyun hanya sebatas mantan kakak kelasnya pun melanjutkan menaikan kaca mobilnya.


Tapi lagi-lagi, Junghwa menoleh ke arah mobil di sampingnya itu saat menangkap sosok yang ada di sebelah Sooyun. "Daehyun?" ucap Junghwa dengan keningnya yang mengerut tajam. Dari dalam mobilnya, Junghwa diam memperhatikan Daehyun dan Sooyun, tanpa tahu apa yang sedang kedua orang itu bicarakan, "tapi yang pasti semua ini salah!" pikirnya saat melihat Sooyun berusaha mencium Daehyun. Dahi Junghwa semakin berkerut tajam saat Daehyun menarik kasar Sooyun keluar dari mobilnya. Terlebih saat Sooyun berteriak dengan kesal, "Aku akan menuntutmu bertanggung jawab!" Seketika amarah Junghwa seolah membakar dirinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumahku, Junghwa tak hentinya bicara di dalam hatinya sendiri. "Apa yang dimaksud Sooyun dengan bertanggung jawab? Apa maksudnya dia hamil anak Daehyun? Kalau iya, bagaimana dengan noona?" pikirnya. "Apa aku harus menyelidikinya? Kalau terbukti kau menghamili Sooyun, aku akan pastikan semua omong kosongmu untuk menikahi noona hilang selamanya! Kalau kau benar-benar mempermainkan noona, aku akan membakar habis kau, Kim Taehyun!" gumamnya seraya meremas genggamannya di setir mobil.


"Kau sudah menyakiti hyung-ku. Sekarang, aku tidak akan membiarkan kau menyakiti noona-ku. Iya, aku ingin melindungi mereka, hanya itu!" lanjutnya memberikan alasan atas kegelisahan dan amarahnya yang membuncah saat ini. "Lihat saja beberapa hari terakhir ini kau mengajak noona berlibur bersama. Bahkan sampai melamar noona. Tapi apa sekarang kau ingin membuat noona menangis? Apa belum cukup kau menghancurkan hyung-ku?" lanjutnya.


Entah sejak kapan, tanpa Junghwa sadari, kebencian tumbuh di hatinya untuk Daehyun. Bukan hanya itu, tanpa Junghwa ingin mengakuinya, hatinya iri pada Daehyun karena menjadi kekasihku. Awalnya, Junghwa hanya berfokus pada perasaan Yongju yang tersakiti karena kehadiran Daehyun di antara Yongju dan aku. Tapi setelah itu, fokusnya berlanjut padaku dengan dalih aku juga adalah noona-nya. Perlahan tanpa ada yang menyadarinya, ada yang berbeda dari waktu ke waktu. Bukan hanya fokus dan sudut pandang Junghwa yang berubah, tapi juga sesuatu dalam dirinya.

__ADS_1


Jika di depanku, Junghwa berubah semakin menyebalkan. Di belakangku, perhatiannya padaku, caranya menatapku, juga perasaannya padaku berubah tanpa Junghwa sendiri ketahui. Seperti sekarang, pemuda itu terus berkata dalam hatinya, "aku akan menghabisi Daehyun jika dia hanya mempermainkan noona! Aku akan memutus hubungan kau dengan noona sampai ke akarnya, ke dasar terdalam, tanpa terkecuali!"


***


Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumahku, Junghwa menuju kamarku dengan langkah besar. Pemuda yang tengah terbakar amarah itu, hendak menceritakan apa yang baru saja ia lihat padaku. Namun, saat aku menyambutnya di kamarku dengan air mata yang membasahi pipiku, Junghwa memperlambat langkahnya. Junghwa tertegun melihatku menangis sambil memeluk boneka di atas tempat tidur. "Noona menangis?" tanyanya pelan.


"Ada apa? Apa kau baru pulang? Kata Yongju oppa, kau pergi keluar dengan teman-temanmu? Apa makan malamnya menyenangkan?" kataku dengan tersedu. "Kenapa noona menangis?" tanya Junghwa yang masih diam di tempatnya berdiri. "Hah? Aku habis menonton drama," jawabku seraya menunjuk layar besar di depan tempat tidurku. Junghwa otomatis menoleh ke layar televisi itu, lalu beralih menatapku kesal. "Astaga, aku pikir kenapa!" katanya seraya menghempaskan dirinya di atas tempat tidurku dan berbaring di sampingku.


"Kalau aku katakan sekarang, apa yang akan terjadi? Apa noona akan percaya padaku, sedangkan aku tidak punya bukti apa-apa? Kalau pun noona percaya, apa yang akan tersisa pada akhirnya? Aku pasti membuat noona menangis!" pikir Junghwa. "Aku tidak tahu, setelah mengatakan semuanya, mungkin hanya kemarahan noona padaku yang tersisa karena sudah ikut campur dan menuduh tunangannya tanpa bukti atau mungkin hubungan kami tidak akan sama seperti ini lagi!" lanjutnya.


Aku memperhatikan Junghwa yang tampak berpikir serius dengan sesekali menghela nafasnya frustasi. Tanpa Junghwa sadari, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya yang tampak sangat serius itu. Tuk! Aku menunjuk dahinya yang berkerut. "Apa yang sedang kau pikirkan, hah? Apa kau baru saja melakukan kesalahan? Jangan katakan, itu adalah hal yang memalukan? Atau hal yang bisa membuat Yongju oppa marah? Hal yang mungkin bahkan bisa memicu kebencian penggemarmu?" kataku curiga.

__ADS_1


Junghwa menyipitkan kedua matanya menatapku. "Astaga, sia-sia rasanya aku memikirkan noona, noona sendiri malah berpikiran seperti itu tentangku!" katanya kesal seraya menangkap jari telunjukku yang menempel di dahinya. Krauk! Dengan geregetan, Junghwa menggigit jariku sampai aku memekik kesakitan dan memukuli lengannya dengan kesal. "Dasar adik kurang ajar!" kataku dan Junghwa hanya tertawa penuh kemenangan karena berhasil membuatku marah seperti biasa.


Semakin mendengar tawa Junghwa yang menyebalkan, aku semakin memukulinya. Karena sudah merasakan sakit di lengannya, Junghwa menangkap kedua tanganku dan menahannya dengan menariknya ke atas kepalanya. Tubuhku pun otomatis terdorong ke arahnya, membuat wajah kami berdua hanya berjarak tidak sampai sejengkal. "Cantik!" kata Junghwa dalam hati. Aku yang hanya menganggap Junghwa sebagai adikku, bergegas membenarkan posisiku dengan wajah kesal. "Apa yang kau lakukan tadi?! Jangan ulangi lagi! Sana, kembali ke kamarmu! Aku ingin tidur!" usirku dengan dingin. Junghwa menurut tanpa membantah seperti biasa, pergi keluar dari kamarku dan masuk ke kamarnya.


Di kamarnya, Junghwa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tiba-tiba, Junghwa teringat perkataan Yongju pada suatu hari, "Hana itu seperti fatamorgana yang mempesona mata dan memikat hati, tapi tidak bisa digapai." Jughwa tertegun, "Astaga, apa yang aku pikirkan! Mungkin noona benar-benar fatamorgana! Tidak mungkin, bukan, tadi aku sempat bergairah ingin mencium bibir noona! Tidak, itu hanya ilusi sesaat! Aku tidak akan dipaksa oleh hasrat!" gumamnya seorang diri.


"Sepertinya, aku harus berhati-hati dengan noona. Aku tidak boleh lagi dekat dengan noona seperti tadi!" katanya, "Tunggu dulu! Bukankah tadi maksud awalku ingin mengatakan hal itu pada noona? Kenapa aku jadi malah takut mendekat dengan noona!" lanjutnya. "Kalau aku harus menjaga jarak dengan noona, bagaimana aku harus mengatakannya pada noona? Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku harus memberitahu noona. Sekarang, aku harus mencari bukti dulu!" putusnya.


***


Beberapa hari kemudian, setelah memerintahkan orang-orang suruhan kepercayaan appa-nya untuk menyelidiki Sooyun, juga Daehyun, Junghwa mengetahui kebenarannya. "Bajingan kau, Daehyun! Kau yang dulu dan yang sekarang sama saja, brengsek! Apanya yang bagus dari bajingan sepertimu! Sekarang aku akan memberitahu semuanya, siapa kau yang sebenarnya! Aku tidak peduli jika keadaan memanas seperti matahari terbakar atau mungkin akan menjadi abu sekalipun!" umpat Junghwa murka.

__ADS_1


Pilihan dan keputusan untuk mengatakan kebenaran itu, memang terserah Junghwa yang kini sudah memiliki bukti kuat. Tapi ia juga tidak lupa kalau Yongju sudah menyerah dengan perasaanya padaku. "Jadi, untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini? Untuk siapa aku sampai semarah ini? Untuk hyung atau noona? Atau untukku sendiri? Karena semua ini menyakitkan hatiku!" gumamnya.


__ADS_2