
Hujan yang turun deras membuat pergelangan kakiku mulai tenggelam dalam hujan yang tergenang di jalan yang tidak rata. Setelah tangan yang memakai gelang itu menarikku ke dalam pelukannya, mataku mulai kembali tenggelam dalam air mata yang sejak tadi aku tahan. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya yang terasa sangat nyaman. Entah karena aku yang sudah kedinginan atau memang pelukannya yang sangat nyaman, aku pun memeluknya erat saat merasakan kehangatan di dalamnya. "Tetaplah mengasihiku seperti ini selamanya karena aku tidak merasa sendirian saat kau tetap ada di sampingku. Tolong, tinggallah di sisiku selamanya," ucapku dalam hati seolah berdoa kepada sang Pencipta agar aku tidak pernah kehilangan pelukan hangat ini.
Selain kehangatan yang aku dapatkan, aku juga menikmati aroma tubuhnya. Aroma khas yang menenangkanku saat menghirupnya lagi dan lagi. "Apa ini parfum?" pikirku. "Aromanya lembut seperti aroma bayi!" pikirku lagi. Deg! Barulah aku tersadar, "dia bukan Yongju oppa!" pikirku.
***
Sementara itu, beberapa menit sebelumnya, bunyi detik jam di kamar Daehyun terdengar nyaring seakan ada di ruangan yang kosong. Padahal di waktu bersamaan, terdengar kegaduhan hujan yang menyentuh atap. Setelah menyelesaikan mandinya dan berpakaian, Daehyun menatap diam jam di dindingnya. Ia masih ragu jika ia harus mengejarku atau tidak. Harga dirinya terlalu mahal untuk melakukannya, tapi hatinya juga sejak tadi tidak bisa tenang memikirkannya. Butuh waktu cukup lama untuk Daehyun meraih kembali kunci mobilnya. Akhirnya, Daehyun pergi dengan menggunakan mantel pemberianku untuk pertama kalinya serta cincin pertunangan kami yang tanpa aku sadari terlepas di tempat tidur resort tadi siang. Ingatan berkesan kejadian tadi siang kembali terlintas di benaknya dan meresap ke dalam jemari lentiknya yang menggengam cincinku. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" katanya.
Sedangkan di luar rumah Daehyun, tanpa terasa, malam sudah mulai muncul di kota Seoul ini. Sudah beberapa kali Yongju dan Junghwa mengitari jalan di sekitar rumah Daehyun untuk memeriksa apakah aku dan Daehyun sudah pulang atau belum. "Ayolah, hyung, kita pergi saja! Sudah jam berapa sekarang, nanti hyung terlambat!" kata Junghwa. "Baiklah. Ini, tolong simpankan gelang ini untukku. Tadi karena buru-buru, aku lupa melepaskannya," kata Yongju seraya menyerahkan sebuah gelang pada Junghwa. "Gelang yang keren! Untukku saja, ya!" sahut Junghwa. "Jangan! Itu pemberian Hana. Aku tidak akan memberikannya padamu!" kata Yongju. "Ck, lalu kenapa tidak dipakai saja kalau sepenting itu?!" sindir Junghwa dengan bibir manyunnya. "Simpankan saja dulu! Aku takut, aku menghilangkannya saat di konser nanti," jawab Yongju. Junghwa pun memasukan gelang itu ke kantung jaketnya, "Ah, hyung, aku pakai saja dulu, ya? Aku takut jatuh tercecer kalau aku simpan di kantung," usul Junghwa dan Yongju pun mengangguk mengiyakan.
Saat Yongju memutar balik mobilnya dan berniat menyerah mencariku, lalu pergi ke bandara seperti yang Junghwa suruh. Namun, Yongju tiba-tiba melihatku berjalan di ujung jalan yang sama. Di ujung jalan, dengan genangan hujan yang seperti menjadi cermin kecil saat aku berjalan sambil menunduk, pandangan Yongju yang ingin memastikan kalau itu benar adalah aku, terhalang oleh Hyuwon yang menyeberang jalan dengan payungnya. Hingga aku yang terjatuh menjadi pemandangan terakhir Yongju. "Hana! Apa dia tersandung?" katanya terkejut seraya langsung melajukan mobilnya untuk menghampiriku.
Setelah menepikan mobilnya di pinggir jalan, tak jauh dari tempatku, Yongju melihat lututku yang sedikit berdarah. Ia pun bergegas membuka pintu mobilnya, tapi saat satu kakinya keluar dari mobilnya, ia kembali menutup pintu mobilnya. "Ada apa?" tanya Junghwa bingung. "Junghwa, kau saja yang ke sana! Pakai payung juga dan berikan pada Hana! Kenapa kau diam? Cepatlah! Aku harus ke bandara sekarang!" perintahnya. "Bukankah dari tadi hyung sendiri yang mencari noona? Kenapa tidak hyung saja yang memberikan payungnya?" gerutu Junghwa lagi seraya mengambil payung di tangan Yongju. "Karena itu menyakitkan..." sahut Yongju pelan. "Iya, iya. Aku pergi!" sahut Junghwa yang langsung keluar dengan payungnya, sedangkan Yongju hanya mengamati keadaan di depannya dari dalam mobilnya. "Iya, ini menyakitkan tanpamu. Aku seperti kursi dengan kaki yang ganjil, pincang!" gumamnya.
Yongju mengerutkan keningnya saat melihat Hyuwon, laki-laki yang tidak ia kenal, membantuku bangun. Yongju berusaha mencerna apa yang ia lihat, termasuk penampilanku yang tampak basah kuyup dan kacau. Ia semakin bingung saat melihat Namgil keluar dari mobil yang berhenti di depanku. "Sebenarnya, apa yang terjadi?" gumamnya. Kemudian, ia yang hanya berperan sebagai penonton, terkejut saat tiba-tiba Junghwa memelukku di depan matanya. Rasa penasaran pun akhirnya mengalahkan seorang Min Yongju. Ia berniat menyusul keluar, tapi sebelum pintu mobilnya terbuka, ia kembali dikejutkan dengan kemunculan Daehyun yang berlari di samping mobilnya dan melaluinya menuju ke arahku dan Junghwa.
__ADS_1
Tanpa ada yang menyadari, Daehyun memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Yongju saat melihat sosokku dari kejauhan dan saat melihat aku yang dipeluk laki-laki lain, amarahnya kembali tersulut. Terlebih payung yang Junghwa pakai, begitu kecil untuk kami berdua, hingga tubuh kami begitu dekat untuk bernaung di bawahnya, seiring aku yang mempererat pelukanku di tubuh kurus dengan aroma bayi itu. Pemandangan yang terlihat di mata Daehyun, seperti sebuah pulau di dunia yang dingin dan hanya ada aku dan Junghwa, berdua di dalamnya saling berbagi kehangatan. "Aku cemburu lagi, Hana!" gumamnya.
Daehyun yang sudah sampai di belakang Junghwa, langsung merampas payung yang menaungi aku dan Junghwa, lalu membuangnya ke sembarang tempat. Daehyun langsung menarik tanganku agar masuk ke bawah payung yang ia bawa, juga ke dalam pelukannya daripada pelukan Junghwa yang datang memayungiku terlebih dulu. Daehyun yang awalnya ingin marah-marah, jadi diam saat melihat aku yang basah kuyup. Daehyun merangkul bahuku agar lebih mendekat padanya saat melihat air hujan yang masih mengenai pundak kiriku.
Melihat wajah Daehyun lagi, membuatku tiba-tiba merasa terbebani lagi oleh kenangan tadi siang, aku pun menundukkan kepalaku. Lantas, aku menyadari sesuatu, "Apa dia terburu-buru mengejarku sampai tidak sempat memasang tali sepatunya!" pikirku. Atensiku beralih pada payung Junghwa yang Daehyun lemparkan tadi, kebetulan payung itu bergerak ke arahku setelah tertiup angin yang berhembus mengelilingi kami. Melihat tak seorang pun yang memungut payung itu, aku pun memungutnya dan memegangkan payung itu untuk Junghwa yang masih berdiri diam memandang ke arah aku dan Daehyun dengan tatapan marahnya.
"Junghwa, ini payungmu!" ucapku seraya menyerahkan payung itu pada Junghwa. "Ambillah, cepat! Nanti kau juga basah kuyup!" lanjutku seraya meraih tangannya untuk meletakan ganggang payung itu di tangannya. Srekk! Junghwa malah menarik tanganku lagi sampai aku beralih dari rangkulan Daehyun, kembali ke pelukan Junghwa. "Apa ini? Apa yang sudah kau lakukan pada noona?" tanya Junghwa yang terdengar marah pada Daehyun. Saat Junghwa menghampiriku tadi, ia semakin menyadari penampilanku yang kacau, terlebih aku sedang berjalan kaki di tengah hujan lebat ini.
Saat mendekatiku pun, Junghwa melihat luka di lututku. Lalu, dari jarak yang lebih dekat, saat Junghwa berdiri memayungiku, ia melihat bekas cengkraman di kedua pergelanganku, serta kulit putihku yang menyisakan bercak kemerahan yang semakin membiru. Terlebih lagi, aku menangis sesenggukan, saat ia memelukku tadi. "Apa ini? Kenapa hatiku yang sakit melihat noona seperti ini? Apa karena aku sudah menganggap noona seperti noona-ku sendiri dan menjadi terbiasa dengan keberadaan noona di sisiku? Aku tak bisa melihat noona menangis sendirian di tengah hujan seperti ini!" pikir Junghwa.
"Junghwa, apa maksudmu?" suara Yongju tiba-tiba membuatku kembali membeku. Akhirnya, yang paling aku takutkan, datang juga. Semula aku sudah bernafas lega, karena yang memayungiku bukan Yongju, tapi Junghwa, "ternyata, memang ada dia di sini!" pikirku. Melihat aku yang terdiam memandang ke arah Yongju, Junghwa berkata, "noona, aku hanya ingin noona tahu, sejak siang tadi hyung mencarimu dan saat hyung melihat noona kehujanan di sini, hyung tidak bisa membiarkan noona pergi seperti ini, makanya hyung menyuruhku memberikan payung ini pada noona."
"Junghwa, diamlah!" kata Yongju seraya memayungi Junghwa dengan payung yang ia bawa. Aku yang ketakutan melihat Yongju, kembali menitikkan air mataku. Entah sudah berapa banyak air mataku yang menjadi satu dengan genangan air hujan, seperti air mata surga yang jatuh ke bumi. Bulan yang menyinari bintang-bintang yang menutupi awan, di tambah suara yang sepi dari sepatu-sepatu di sepanjang jalan, membuat aku berbalik dengan gelisah, perasaan yang sangat jelas terpantul di gerak-gerikku. Bahkan bayanganku yang terlihat pun merasa takut melihat Yongju yang menatapku curiga. "Oppa, ayo kita pulang!" ucapku pelan seraya berjalan ke arah Daehyun, tanpa berani mengangkat wajahku di depan Yongju.
"Apakah kita akan berpisah seperti ini pada akhirnya? Kau masih belum menjawab pertanyaan Junghwa! Apa yang sudah kau lakukan pada Hana?" kata Yongju dingin yang sontak menghentikan langkah Daehyun yang membawaku pergi. "Bukan urusan kalian!" jawab Daehyun tak kalah dinginnya. Aku dengan cepat memikirkan sebuah jawaban yang tergambar di benakku, "Oppa, aku baik-baik saja. Berhentilah mengkhawatirkanku!" kataku berbohong. "Apa kau pikir, kau sudah pandai membohongiku?! Lee Hana, jawab yang jujur!" kata Yongju yang sudah terlihat marah.
__ADS_1
Jika Junghwa yang masih polos, mengira aku sudah dipukuli Daehyun, tidak dengan Yongju yang tahu apa yang terlihat di kulitku. Aku menggigit bibir bawahku, menahan semua perasaan yang berkecamuk di dadaku. "Lee Hana!" bentak Yongju dengan keras. Melihat aku yang masih tidak berani menjawab, Yongju melepaskan payung di tangannya dan langsung menghampiri Daehyun. Bugh! Yongju meninju wajah Daehyun. "Brengsek! Apa yang sudah kau lakukan pada Hana, huh!" tanya Yongju lagi. Padahal dari semua yang ia lihat, ia sudah bisa menebak jawabannya.
Daehyun berusaha membalas serangan Yongju, tapi serangan itu malah mengenai wajahku yang berlari melindungi Yongju. "Sayang! Hana! Noona!" kata mereka bertiga serempak. Daehyun bergegas memelukku, "maaf, oppa tidak sengaja! Apakah sakit? Tidak, ini pasti sakit. Sini, oppa lihat. Sayang, maafkan oppa. Kenapa sayang menghalanginya?" kata Daehyun panik. "Jangan pukul Yongju oppa! Yongju oppa akan tampil untuk konsernya!" jawabku sambil meringis kesakitan. "Apa kau bodoh! Sempat-sempatnya kau memikirkan konser oppa! Sini, biar oppa lihat. Berdarah, tidak?" kata Yongju mendekatiku, tapi Daehyun semakin menjauhkanku dari jangkauan Yongju. "Jangan mendekat! Kalau kau tadi tidak memukulku, Hana tidak akan terluka seperti ini!" katanya menyalahkan Yongju. "Kau sendiri yang memukul noona!" sahut Junghwa membela Yongju.
"Kalian bertiga, hentikan! Mau sampai kapan kita berempat kehujanan seperti ini?" bentakku dengan keras dan langsung membuat mereka bertiga diam. "Oppa, ayo kita pulang saja!" ajakku pada Daehyun. "Dan Yongju oppa, oppa pulanglah! Bukankah oppa harus berangkat untuk konser oppa?" kataku pada Yongju. "Dan kau, Junghwa, terima kasih sudah memberikanku payung. Tapi kau pakai saja untukmu. Biar aku pakai payung Daehyun oppa," kataku seraya tersenyum. "Pakai punya oppa saja, ini lebih besar dari miliknya!" kata Yongju seraya menyerahkan payung miliknya. Aku tersenyum hambar melihatnya, tanpa menyambutnya.
"Iya, payung yang terkembang besar, seperti jarak yang harus aku dan oppa jaga," ucapku seraya tersenyum getir pada Yongju, dengan air mataku yang kembali luruh. "Jangan menangis seperti itu! Kau tahu, oppa semakin mencintaimu jika melihatmu seperti ini!" kata Yongju tiba-tiba. "Apa?" kata Daehyun yang kesal mendengarnya. "Berikan aku janji yang abadi, kalau oppa akan berhenti mencintaiku setelah hari ini karena aku sudah menjadi milik Daehyun dan itulah jawabanku!" kataku yang seketika membuat Yongju yang mengerti maksudku, langsung bungkam. Aku pergi seraya menarik Daehyun serta, meninggalkan Yongju yang patah hati untuk kesekian kalinya karena ulahku. Sekarang payung itu menangis di atas dua hati yang sedang retak. Aku terus berjalan di bawah payung Daehyun, tanpa ingin memalingkan wajahku ke belakang. "Pergilah, oppa! Maafkan aku. Seharusnya, oppa tak pernah berada di sana meskipun aku berbalik menginginkannya!" ucapku dalam hati.
***
"Mulai hari ini, di mana pun kita bertemu, aku ingin oppa berjalan dengan bebas, tanpa melihatku lagi. Meskipun pipiku kedinginan, meskipun aku kebasahan dalam rintik-rintik hujan, abaikan saja aku!" ketikku pada pesan yang aku kirimkan pada Yongju saat aku sudah berada di rumah Daehyun. "Kenapa oppa tidak bisa mengabaikan aku saja? Padahal aku sudah membuka pintu hatiku untuk Daehyun, tapi oppa tetap saja menyuruh Junghwa memayungiku. Apa sekarang Junghwa menjadi bayangan oppa untuk tetap mendekatiku?" pikirku.
Tuk! Daehyun meletakan segelas susu hangat di depanku, "Minumlah!" katanya. Aku pun meminumnya. Daehyun beralih berdiri di belakangku dan mulai mengeringkan rambutku dengan hairdryer yang sejak tadi hanya aku letakkan di sampingku. Hanya suara hairdryer yang terdengar. Aku hanya diam, menerima perlakuan manis Daehyun itu. Begitu pula, Daehyun yang melakukannya dalam diam sampai rambutku tidak terlalu basah lagi. Setelah mengembalikan hairdryer itu ke tempatnya, Daehyun memelukku dari belakang. "Setelah ini, jika kita bertengkar, jika sayang tidak tahan berada lebih lama di sisi oppa, jangan pergi di tengah hujan seperti tadi lagi!" katanya lembut. Ia beralih duduk di sampingku, "Semarah apapun sayang, sebaiknya jangan pergi atau menunggu saja sambil memalingkan wajah ke luar jendela. Kalau pun tetap pergi, bawalah payung!" gerutunya seraya mengacak-acak rambutku.
"Maaf..." ucapku pelan. Daehyun menoleh padaku, "kenapa sayang yang minta maaf? Seharusnya, oppa yang minta maaf. Apa masih sakit?" katanya seraya menyentuh pipiku. Aku menggeleng pelan. Daehyun mengelus pipiku dengan lembut. "Jangan membuat oppa khawatir!" katanya seraya memelukku. "Dan jangan pernah berpikir pergi meninggalkan oppa lagi! Tanpa sayang di sisi oppa, dunia hanya separuh karena kita sudah jadi satu. Mulai hari ini, sayang tidak bisa terus berjalan tanpa oppa karena kita akan selalu bersama." Daehyun menatapku, "Sini!" pintanya, lalu mengecup pipiku dengan sangat pelan dan berhati-hati. "Nah, pasti sakitnya langsung hilang!" katanya seraya tersenyum. "Ah, di sini juga!" lanjutnya sambil mencium kedua pergelangan tanganku, bergantian. "Jangan modus!" ucapku dingin dan langsung dibalas Daehyun dengan senyum kotaknya yang lebar.
__ADS_1