
Keesokan harinya, seperti biasanya saat Yongju sedang tidak ada jadwal kegiatan, ia akan memilih menghabiskan waktu luangnya di kediaman Lee untuk bersamaku, tapi karena perjanjian itu, pagi ini ia tampak ragu melakukannya. "Apa jadwalmu hari ini?" tanya Yongju pada Junghwa yang baru saja bangun dan keluar dari kamar yang ia pakai untuk menginap. "Hmm... hanya latihan nanti malam. Kenapa?" jawab Junghwa sambil menguap lebar seraya berjalan ke arah dapur. "Mau ikut denganku?" tawar Yongju ragu-ragu. "Kemana?" tanya Junghwa seraya membuka kulkas dan mengambil susu untuk ia minum. "Ke rumah," jawab Yongju singkat dan membuat Junghwa langsung berbalik menatapnya dengan mata berbinar.
"Rumah? Hyung sudah memutuskan pulang ke rumah?" sahut Junghwa tidak percaya, tapi sesaat kemudian wajahnya berubah murung, "ah, kalau pulang hari ini, aku tidak bisa menemani hyung pulang. Kalau mau pulang, paling tidak aku harus mengosongkan dulu jadwalku selama 3 hari." Yongju mendengus, "Rumah Hana! Bukan rumahmu!" jawabnya ketus seraya melangkah ke kamarnya. "Terserah kau mau ikut atau tidak. Kalau mau ikut, cepat mandi sana! Kalau tinggal, jangan buat rumahku berantakan!" lanjutnya.
***
Sesampainya di kediaman Lee, Yongju memasang wajah masam saat melihat Daehyun sudah ada di rumahku. "Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini?" tanya Yongju seraya menatap tajam Daehyun yang juga menatapnya tidak suka. "Menurutmu?" tanya Daehyun balik. Rahang Yongju mengeras melihat ekspresi angkuh tuan muda keluarga Kim di depannya itu, terlebih saat Daehyun langsung memasang senyum manisnya saat melihatku datang. "Kalian di sini?" tanyaku bingung seraya menatap ketiga pemuda yang sudah duduk manis di meja makan bersama kedua orang tuaku.
"Eomma menyuruh oppa mengantarkan kimchi buatan eomma," jawab Daehyun lebih dulu. Sebenarnya, itu hanya lah alasan Daehyun untuk datang ke rumahku. Padahal Daehyun sendiri yang meminta pembantu di rumahnya membungkuskan kimchi buatan eomma-nya untuk ia berikan pada eomma-ku. "Aku hanya membawa Junghwa yang ingin main ke sini," ucap Yongju dengan ekspresi wajahnya yang kelewat datar. Sedangkan Junghwa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, "Kapan aku..." ucapnya terhenti saat Yongju yang duduk di sampingnya, menatapnya tajam ke arahnya. "Iya, aku ingin menemui noona," lanjut Junghwa asal, tapi malah mendapatkan tatapan tajam lainnya dari Daehyun.
Junghwa yang serba salah hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, apalagi saat aku bertanya, "ada apa? Apa kau ada perlu dengan noona?" Junghwa pun tampak memutar otaknya untuk mencari alasan. "Apa kau ingin mengambil jaketmu?" tanyaku lagi seraya tersenyum melihat ekspresi Junghwa yang menurutku sangat imut. Junghwa tersenyum bahagia seolah ia mendapatkan pertolongan dari Tuhan. "Iya, jaketku waktu itu!" katanya. "Kenapa jaketnya ada padamu?" tanya Daehyun yang tiba-tiba cemburu seraya menatapku yang duduk di sebelahnya. "Untuk menutupi baju Hana yang dirobek seseorang!" sahut Yongju dengan rahangnya yang kembali mengeras karena teringat kejadian itu.
Uhuk... Uhuk... Daehyun terbatuk saat menyadari pertanyaan yang ia lontarkan jadi bumerang untuk dirinya sendiri. "Sudah, sudah. Mau sampai kapan kalian bicara? Cepat, habiskan sarapan kalian. Eomma harus berangkat kerja sekarang. Daehyun, nanti sampaikan juga terima kasih bibi pada eomma-mu, ya!" sela eomma. Eomma meninggalkan kami di meja makan, tapi baru beberapa langkah, seorang pelayan di rumahku mengatakan bahwa di depan ada dua orang yang bertamu. "Tuan Jeon?" ucap eomma saat pelayan itu menyebutkan nama sang tamu.
Eomma melirik Yongju sekilas. Yongju yang mendengar nama sang tamu, langsung meletakkan sumpit di tangannya ke samping mangkuknya dan setelah menegak habis air di gelasnya, ia beranjak dari duduknya tanpa sepatah kata pun. Kami saling melempar pandang seraya memikirkan hal yang sama, "mau ke mana dia?" sambil beralih menatap Yongju. Eomma memberi isyarat untuk appa agar menghentikan sarapannya dan menemui Tuan Jeon di ruang tamu.
***
Di ruang tamu, appa tengah berbincang dengan Tuan Jeon, bahkan eomma sengaja menunda keberangkatannya ke kantor karena menghormati kedatangan Tuan Jeon, sekaligus berniat membicarakan lebih lanjut tentang Yongju. "Aku datang ke sini karena ingin berpamitan. Besok, aku akan kembali ke Washington karena Seojun harus kembali melanjutkan kuliahnya. Lagipula, urusan perusahaan di sini sudah ada kau yang meng-handle," ucap Tuan Jeon pada appa. "Lalu bagaimana dengan Yongju?" tanya eomma. "Sepertinya, tidak semudah yang aku bayangkan. Biarkan anak itu memutuskan pelan-pelan dan apa pun keputusannya, aku tidak akan memaksanya," jawab Tuan Jeon seraya menyeruput minuman yang disuguhkan.
__ADS_1
"Appa," panggil Junghwa saat ia menyusul ke ruang tamu setelah menyelesaikan sarapannya. "Junghwa? Kau di sini? Appa pikir kau di dorm," kata Tuan Jeon terkejut melihat sang putra, sedangkan Junghwa tanpa segan, langsung duduk di samping appa-nya itu. "Hyung mengajakku sarapan di sini," jawab Junghwa polos, tapi saat ia melihat aku yang baru saja datang untuk menyapa Tuan Jeon, Junghwa langsung tersenyum kikuk karena sudah ketahuan membantu Yongju berbohong padaku.
"Maksudmu Yongju ada di sini juga?" tanya Tuan Jeon pada Junghwa dan Junghwa pun mengangguk menjawabnya. "Lalu, sekarang di mana hyung-mu itu? Apa dia masih belum mau menemui appa? Padahal dia sudah mau menerimamu seperti ini," ucap Tuan Jeon dengan sendu. "Paman Jeon, maukah paman mengikutiku?" ucapku memberanikan diri. "Ke mana?" tanya Tuan Jeon bingung. Aku tersenyum dan meraih tangan Tuan Jeon, lalu menuntunnya menuju halaman belakang rumahku. Junghwa bangkit dari duduknya dan berniat menyusulku, tapi appa tiba-tiba memanggilnya seraya menggelengkan kepala. Junghwa pun kembali duduk, sedangkan Daehyun yang baru muncul dari ruang makan, tampak bingung melihatku.
"Bibi, sebenarnya kenapa paman Jeon ada di sini?" tanya Daehyun seraya duduk dan ambil bagian di ruang tamu itu. "Apa Hana belum cerita padamu?" tanya eomma balik dan Daehyun menggeleng semakin bingung. Eomma pun berniat menceritakan kebenarannya pada Daehyun, tapi appa terlebih dulu berbisik pada eomma, "Tunggu semua ini lebih jelas lagi, baru kita memberitahu yang lain karena mungkin saja hal ini harus dirahasiakan dari publik."
"Benar! Hampir saja," ucap eomma yang tidak sempat terpikirkan hal ini sedikit banyak menyangkut nama besar keluarga Jeon, keluarga Lee dan juga karir Yongju sendiri, bahkan mungkin akan berdampak juga pada karir sang adik yang baru terjun ke dunia yang sama. "Tidak apa-apa, Daehyun. Hanya sedikit masalah perusahaan," ucap appa berbohong. "Perusahaan? Lalu, apa hubungannya dengan Yongju?" tanya Daehyun yang mulai berpikir kritis dan membuat appa dan eomma saling pandang. "Paman Jeon ingin memakai Yongju sebagai bintang iklan produk terbaru perusahaan," jawab eomma turut berbohong. Satu alis Daehyun tampak naik terangkat saat berpikir, "Membicarakan urusan perusahaan sampai datang ke rumah sepagi ini?" Daehyun semakin penasaran, "Lalu, apa hubungannya dengan Hana? Kenapa Hana membawa paman Jeon? Ke mana mereka pergi?" tanyanya lagi. Eomma jadi gelagapan mencari alasan.
"Karena noona yang membantu membujuk hyung agar menerima iklan ini," sahut Junghwa yang turut menutupi kebohongan appa dan eomma setelah melihat eomma kewalahan menjawab pertanyaan Daehyun. "Apa dia juga diminta membintangi iklan yang sama?" tanya Daehyun lagi seraya menunjuk Junghwa yang duduk santai di depan mereka. "Ah, tidak. Junghwa hanya menemani Yongju. Kau sendiri tahu, bukan, mereka satu agensi di agensi kita," jawab eomma seraya tersenyum paksa. "Agensi kita?" ucap Junghwa dengan wajah bingung. Daehyun yang awalnya hanya memperhatikan reaksi wajah eomma, beralih menatap Junghwa sambil berkata, "iya, agensi kami. Kenapa? Apa kau tidak tahu kalau agensi itu milik eomma-ku?"
"Jadi, kau anak Tuan Kim?" tanya Junghwa tidak percaya sampai ternganga. "Iya, memangnya kenapa? Apa kau mengenal appa-ku?" tanya Daehyun yang kembali bingung, padahal rasa penasarannya sudah teralihkan saat Junghwa bertanya soal agensi. "Tunggu dulu, waktu paman Jeon dan Seojun hyung di sini, kau juga ada di sini, bukan? Apa waktu itu kau juga datang menemani Yongju? Kenapa saat itu Seojun hyung seperti melindungimu? Dan kau juga pulang saat mereka pulang, bukan?" tanya Daehyun dengan tatapan penuh selidik.
***
Tiba-tiba Yongju terjatuh di tengah lapangan saat berlari melakukan dribble bola basketnya. Ia pun tampak mendesah dan berusaha bangun. "Apa kau tahu paman? Oppa memang selalu terlihat keras dari luar, tapi bagiku, hati oppa bahkan lebih lembut dari eomma dan appa," ucapku membuka pembicaraan. "Menurutku, oppa hanya masih takut menerima kenyataan. Tapi paman sendiri lihat, hati oppa damai hanya ketika oppa melempar bolanya," lanjutku seraya memperhatikan wajah bahagia Yongju yang berhasil memasukan bolanya ke ring. "Oppa selalu bermain basket sendirian karena appa tidak bisa bermain basket. Sedangkan aku tidak terlalu suka, jadi hanya sesekali menemaninya," lanjutku seraya menatap ke arah lawan bicaraku ini.
Saat ini, aku melihat, seutas senyuman tipis terulas di wajah Tuan Jeon saat menyaksikan hal yang sama, tapi Tuan Jeon sontak menatapku saat aku bertanya, "Apa paman bisa main basket? Mau mencoba mendekati oppa dengan bola basket itu?" Tuan Jeon memandang ke arah telunjukku menunjuk. Bola basket yang Yongju gunakan bermain, menggelinding ke arah kaki Tuan Jeon. Tuan Jeon pun meraih bola basket itu dengan kedua tangannya dan menatap ke arah Yongju yang berdiri di tengah lapangan. Yongju yang melihat ke arah kami hanya mendengus kesal, lalu pergi begitu saja, tapi suara bola yang di-dribble membuatnya kembali melihat ke arah kami dan seketika langkahnya terhenti saat mendapati Tuan Jeon lah yang tengah men-dribble bola itu.
Awalnya, Tuan Jeon hanya men-dribble bola basket itu sampai ke tepi lapangan, tapi tidak disangka ia juga melemparnya langsung ke arah ring dan masuk dengan begitu mulus. "Hana, apa kau mau menemani paman bermain?" ucap Tuan Jeon seraya tersenyum padaku. Setelah mengatakan itu, Tuan Jeon langsung berlari ke tengah lapangan mengejar bola basket yang tadi ia lempar, bahkan Tuan Jeon begitu saja melewati Yongju yang terpaku di tempat, terlebih saat aku juga turun ke lapangan dengan tersenyum manis. Aku benar-benar tidak menyangka jika Tuan Jeon yang aku yakini pasti seumuran appa-ku yang tahun ini akan berusia 50 tahun, begitu lincah dan lihai bermain basket. "Apa ini yang namanya, kebanyakan anak akan meniru hobi appa-nya!" pikirku.
__ADS_1
Di tengah keseruan kami bermain basket, tiba-tiba tubuh Yongju ambruk terduduk di tempatnya berdiri. Dengan kedua tangannya yang langsung menutupi wajahnya, ia mulai menangis terisak. Aku yang melihatnya, langsung berlari memeluknya. Begitu pula, Tuan Jeon yang langsung melempar bola basket di tangannya ke sembarang arah dan berlari menghampiri kami. Saat aku memeluknya, Yongju semakin menangis. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa dan hanya semakin memeluknya yang tampak begitu rapuh saat ini.
Tuan Jeon perlahan duduk di samping Yongju dengan tangannya yang berniat menepuk punggung putranya itu. "Sudah tidak terhitung jumlahnya, berapa kali aku memimpikan bisa bermain basket dengan appa-ku," ucap Yongju dengan suara bergetar bercampur isak tangisnya. "Iya, aku tahu itu, oppa," sahutku yang tiba-tiba turut menangis. Grep! Tiba-tiba Tuan Jeon memeluk aku dan Yongju dengan kedua tangannya. "Yongju-ya, maafkan appa, nak..." lirihnya yang juga ikut terisak dan pelukannya itu semakin membuat Yongju menangis kencang seperti anak kecil yang tengah menangis di pelukan appa-nya.
Kami bertiga menangis bersama, tanpa tahu jika Junghwa dan kedua orang tuaku juga menyusul kami ke lapangan basket setelah Daehyun pamit pulang karena disuruh eomma-nya pulang lewat telepon. Junghwa berjalan ke arah bola basket tadi dan memungutnya. Junghwa pun mulai men-dribble bola dengan asal karena memang ia tidak bisa bermain basket. "Apa ada yang mau mengajariku?" tanyanya, berusaha menghangatkan suasana. Kami bertiga yang mendengar suaranya, secara bersamaan menoleh ke arahnya yang tersenyum pada kami. Tuan Jeon melepaskan pelukannya, begitu pula aku yang melakukan hal yang sama dan mulai menyeka air mata di wajahku.
"Hyung, ayo, ajari aku!" kata Junghwa seraya melempar bolanya ke arah Yongju yang masih terduduk dengan wajahnya yang tampak sangat kacau. Yongju berpura-pura tidak mendengarnya dan membiarkan bola itu begitu saja. Aku yang dekat dengan bola itu melemparnya kembali ke Junghwa yang melemparnya kembali ke arah Yongju yang baru bangun dari duduknya. Karena tubuhnya masih belum siap, Yongju pun hampir kembali terduduk seraya mendekap bola basket itu. Yongju sempat menatap bola basket yang ia pegang itu dan sekilas mengedarkan pandangannya pada kami semua, srukk! Ia melempar bolanya masuk ke ring dengan begitu indahnya. Seindah senyuman termanisnya yang terukir di wajah putihnya saat ini.
Junghwa berlari menangkap bola yang memantul setelah jatuh melalui ring itu. Dengan gerakannya yang masih amatir, bola basket itu hanya memantul kecil di sebelah kakinya, bahkan berakhir dengan pantulan serendah lantai teras di dekatnya. "Kenapa kau men-dribble seperti itu? Bukan begitu caranya!" teriak Tuan Jeon pada Junghwa yang ada di ujung lapangan. Tuan Jeon berlari ke arah putra bungsunya itu dan mulai mengajari Junghwa cara men-dribble bola yang benar. Yongju yang melihatnya, perlahan melangkah ke arah mereka berdua.
"Apa semua akan baik-baik saja setelah ini? Tapi tetap saja... aku merasa takut," ucapnya ragu dalam hatinya, kemudian menghentikan langkahnya. Seketika pikiran dan kekhwatiran memenuhi isi kepalanya, bahkan sampai masa depan karirnya jika ia harus menyandang nama besar keluarga Jeon itu, serta tuntutan yang akan ia hadapi sebagai bagian dari keluarga itu. Kekhawatiran yang tiba-tiba menyebar seperti kanker di dalam pikiran dan hatinya itu, membuatnya tidak menyadari jika bola basket itu kembali melayang ke arahnya dari tangan sang adik.
Bugh! Seiring dengan bola yang dilempar Junghwa dan tepat mengenai wajah Yongju, tawa mulai menyebar. Nafas Yongju meningkat seraya dengan kesal menyentuh dagunya yang sakit terkena bola tadi. Terlebih saat melihat kami semua menertawakannya. "Bocah sialan! Bahkan dia tidak minta maaf setelah melempar hyung-nya sendiri dengan bola!" gumam Yongju seraya menatap tajam ke arah Junghwa yang tertawa keras. Rasa yang berkecamuk di dalam hatinya serta lemparan sang adik, membuat keinginan bermain Yongju kembali menggeliat. Ia meraih bola itu dan mulai menggiringnya dengan cepat, lalu melakukan shooting. Satu jump shot pun tercipta dengan apik. Akhirnya, aku, Yongju, Junghwa dan Tuan Jeon bermain basket bersama. Sedangkan appa dan eomma memilih berangkat kerja. Kami bermain sampai matahari mulai terik dan memaksa kami menghentikan permainan.
***
"Entah kenapa hatiku menjadi lebih bahagia hari ini," ucap Yongju pelan saat aku duduk di sampingnya dan menyerahkan segelas kopi ke tangannya. "Terima kasih. Semua berkatmu," lanjutnya seraya tersenyum padaku. Kebahagian Yongju yang terasa akan berlangsung selamanya, tapi matahari yang semakin tinggi memaksa Tuan Jeon pulang dan Junghwa kembali ke agensi untuk latihan bersama grupnya. "Saat seperti ini, kenyataannya aku sendiri lagi," gumam Yongju yang terdengar oleh telingaku. Ia meletakan kepalanya di atas bahuku sambil berkata, "apa aku melakukan yang benar jika merubah sikapku dan memanggilnya appa?" Aku tersenyum kecil seraya mengelus punggung tangannya yang ia letakan di atas pahanya. "Bukankah aku seperti orang bodoh yang ketakutan pada kenyataan yang harus aku terima?" lanjutnya pelan.
"Jika yang lain sudah berjalan di masa depan, kenapa oppa masih diam di kenangan masa lalu? Bukankah ini yang selalu oppa impikan, memiliki seorang appa? Ayolah, jangan hanya terjebak dengan masa lalu!" ucapku. "Ingatlah, momen ini tidak akan pernah datang lagi, jika oppa terus menolaknya. Sekali lagi, tanyakan pada hati oppa sendiri, apakah oppa bahagia sekarang?" lanjutku seraya menatapnya lembut. Yongju menatap lekat kedua mataku, lalu tersenyum begitu manis di depanku seraya berkata tak kalah lembut, "jawabannya sudah ada, iya, aku bahagia." Cup! Satu kecupan manis pun ia daratkan di keningku setelahnya.
__ADS_1