The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Mau Apa Lagi Kau Mencarinya?


__ADS_3

Keesokan harinya, "Hei, Park Jiwon, kau yakin?" tanya Namgil untuk kesekian kalinya pada pemuda bermarga Park itu, yang sudah mulai bosan mendengar pertanyaan yang sama dari sahabatnya itu. "Kau yakin ingin tinggal di sini?" ulangnya lagi. Setelah menginap satu malam di rumah Namgil, pagi harinya, Jiwon memutuskan pergi dari rumah Sang Presiden menuju kampung halaman orang tuanya. Tapi Namgil yang iba pada Jiwon, mengantarkan sahabatnya itu bersama supirnya sampai ke kampung halaman Jiwon yang lumayan jauh dari Seoul. "Aku pikir, rumah orang tuamu masih di pinggiran kota, tapi ini namanya di pedalaman!" kata Namgil speechless sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Jiwon tersenyum melihat reaksi lucu Namgil, "tapi bukankah pemandangannya menakjubkan?" tanyanya.


Rumah berukuran sangat kecil peninggalan orang tua Jiwon itu ada di sebuah perkampungan yang terletak di sebuah lembah yang sangat asri dan di kelilingi perbukitan yang menghijau menakjubkan. Hanya ada satu jalan kecil yang menghubungkannya dengan kota Busan. Bahkan mobil milik Namgil harus ditinggal di depan kampung karena tidak memungkinkan untuk masuk sampai ke depan rumah yang akan Jiwon tinggali kedepannya ini.


Sejak tiba, Namgil dan supirnya turut membantu Jiwon membersihkan rumah barunya yang dipenuhi dengan debu tebal karena sudah bertahun-tahun tak terjamah. Bahkan banyak perabotan yang tidak bisa digunakan lagi dan bagian rumah yang sudah mulai rusak. Para tetangga yang melihat kedatangan Jiwon pun turut membantu mereka bertiga karena senang dengan kedatangan Jiwon yang mereka temui setelah 10 tahun tidak kembali, terlebih tetangganya itu kini sudah tumbuh dengan tampan. Dengan ramah plus senyuman manis andalannya, Namgil meminta tolong pada para tetangga itu untuk mencarikan orang yang bisa memperbaiki bagian-bagian rumah Jiwon yang rusak dan tentu saja ia juga memberikan bayaran di muka pada orang-orang tersebut.


Saat Jiwon membersihkan bagian belakang rumahnya, ia berkata dengan nyaring, "astaga, ternyata kuda ini masih ada!" Namgil yang sedang membersihkan bagian dalam rumah pun menyahut, "Kuda?Serius?" tanyanya tak percaya. "Iya," sahut Jiwon dengan sedikit berteriak. "Kenapa? Hyung ingin mencoba mengendarainya? Di sini juga ada topi hitam dan sepatu boot-nya!" lanjutnya, antusias. "Tidak. Aku hanya ingin melihat langsung bagaimana sepatu kuda dipasang," jawab Namgil seraya mulai mendatangi Jiwon. "Ah, sayang kudaku tidak pakai sepatu!" sahut Jiwon.

__ADS_1


Namgil yang bergegas pun sampai di belakang rumah Jiwon dan langsung cemberut saat melihat kuda yang Jiwon maksud. "Ini kudaku!" katanya seraya menunjukan sebuah mainan kuda-kudaan yang sudah tua. "Kau ini! Aku kira kuda sungguhan!" kata Namgil kesal dan kembali ke dalam rumah. "Naiklah kalau hyung ingin mengendarainya. Tenang saja, kudaku jinak atau kalau mau, hyung bisa membawanya ke Seoul," teriak Jiwon lagi dengan bercanda.


Tidak butuh waktu lama untuk membersihkan rumah yang sangat kecil itu. Namgil dan supirnya pun beristirahat di teras rumah Jiwon sambil menyeruput air es yang disuguhkan tetangga Jiwon sambil menikmati udara yang terasa sangat sejuk. Dari dalam rumah, Jiwon keluar sambil membawa sebuah tas yang tampak sangat usang di tangannya. "Apa itu?" tanya Namgil. "Sepertinya, tas yang appa-ku pakai saat pergi ke peternakan dan kebun dulu," jawab Jiwon ragu sambil memeriksa isi di dalamnya.


"Oh, ada homis di dalamnya!" ucap Jiwon tersenyum seraya mengeluarkan barang yang ia maksud itu. "Homis? Apa itu?" tanya putra Sang Presiden. "Hyung, tidak pernah mendengarnya?" tanya Jiwon dan Namgil menggeleng. "Itu, namanya homis, alat pertanian yang terbuat dari baja dan digunakan untuk membajak dengan tangan," jawab si supir membantu menjelaskan pada tuan mudanya dan Namgil pun hanya ber-"oh" ria menanggapinya.


"Pulanglah, hyung! Ini sudah hampir sore, nanti hyung kemalaman di jalan. Butuh 4 jam lebih baru sampai ke Seoul," sahut Jiwon. "Kau mengusirku? Apa kau marah?" tanya Namgil terkejut. "Bukan begitu. Aku tidak marah pada hyung, sungguh. Malah aku ingin berterima kasih banyak karena hyung dan paman sudah banyak membantuku hari ini," jawab Jiwon seraya tersenyum tulus. "Aku hanya takut mobil Porsche milik hyung itu tergores karena anak-anak nakal di kampung ini," lanjutnya seraya menunjuk beberapa anak yang melintas di depan teras rumahnya.

__ADS_1


Anak-anak itu tampak bermain sambil berlarian membawa ranting kayu di tangan mereka. Namgil yang melihatnya juga langsung bangun dari duduknya dengan wajah khawatirnya, lantas menyuruh supirnya untuk menjaga mobilnya terlebih dahulu. "Baiklah kalau begitu, aku akan pulang," katanya beranjak dari duduknya. "Hyung, boleh aku minta tolong sesuatu lagi?" tanya Jiwon yang berjalan mengantarkan Namgil sampai ke mobilnya. "Katakan saja," jawab Namgil. "Tolong, jangan beritahu keberadaanku pada siapapun," pinta Jiwon.


Namgil tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku mengerti," katanya seraya membuka pintu mobilnya. "Hati-hati di jalan, hyung. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk dua hari ini dan maaf sudah sangat merepotkan," kata Jiwon seraya membungkukkan badannya. "Apa-apaan kau membungkuk segala seperti itu! Bukankah itu gunanya sahabat!" kata Namgil tidak terima. "Sekarang aku pulang dan jaga dirimu baik-baik di sini!" lanjutnya seraya berniat masuk ke dalam mobilnya, tapi niat itu kembali diurungkannya.


"Walaupun sekarang kita berpisah dan tinggal berjauhan seperti ini, aku harap kita masih menjaga komunikasi. Dan satu hal yang harus kau ingat, kapan pun kau membutuhkanku, kau tinggal menghubungiku atau kalau kau kembali ke Seoul, kau bisa mendatangiku kapan pun itu. Mengerti?" kata Namgil yang masih tampak khawatir dengan Jiwon. "Iya, iya. Aku akan mengambil kudaku dan kembali ke jalan kota Seoul!" sahut Jiwon lagi-lagi bercanda dan membuat Namgil menggelengkan kepalanya sambil memasuki mobilnya. "Tenanglah, aku akan pergi sampai aku tidak bisa lagi bertahan di sini," kata Jiwon selanjutnya.


***

__ADS_1


Empat jam lebih perjalanan darat yang harus Namgil tempuh, membuatnya tertidur di mobilnya, terlebih hari sudah beranjak malam. Namun setibanya ia di rumahnya, seseorang sudah menunggu kedatangannya sejak lama. "Di mana Jiwon?" tanya Daehyun dengan wajah tidak bersahabatnya. Bukannya menjawab, Namgil malah melewati Daehyun begitu saja. "Aku bertanya, di mana Jiwon? Kau pasti mengetahuinya, bukan?" kata Daehyun seraya menahan tangan Namgil. "Namgil hyung!" panggil Daehyun, memohon. Namgil menolehkan wajahnya ke arah Daehyun, "wah, apa aku tidak salah mendengarnya? Kau memanggilku hyung untuk pertama kalinya?" serunya terkesima. "Jadi, di mana Jiwon?" ulang Daehyun. Namgil terkekeh, "Iya, aku tahu Jiwon di mana, tapi aku tidak akan memberitahumu apa pun!" katanya berubah tegas seraya melepaskan tangan Daehyun yang menahannya. "Apa maksud Hyung, tidak bisa memberitahuku apa pun?" bentak Daehyun. Namgil menghela nafasnya, mencoba menahan emosinya. "Bukankah kau sendiri yang sudah mengusirnya? Mau apa lagi kau mencarinya?" tanya Namgil balik dan Daehyun tidak bisa menjawabnya. "Pulang saja sana! Jiwon tidak ada di rumahku," kata Namgil seraya pergi meninggalkan Daehyun di depan pintu rumahnya.


__ADS_2