
Mendengar suara tangisanku, Junghwa yang sedari tadi menunggu di depan pintu, kembali memasuki kamarku. Ia duduk di sampingku, lalu mengelus pelan punggungku. Tak ada kata yang terucap, hanya suara isak tangisku yang terdengar. Junghwa tetap menemaniku dalam diam sampai tangisku berhenti. Bahkan saat aku membuka mataku, pagi yang berkabut sudah menyambutku. Tanpa aku sadari, kami berdua terjaga sepanjang malam hanya untuk menangisi satu nama.
"Terlalu banyak menangis pasti membuat noona jadi malas melakukan apa-apa setelah ini, bukan?" kata Junghwa, seraya langsung merebahkan tubuhnya di kasurku. "Aku juga jadi seperti pisau yang tumpul. Tidak tahu harus apa?" lanjutnya setelah menghela nafas panjang. "Tapi... Walaupun begitu banyak rasa sakit, aku masih tak ingin mati seperti hyung," ucapnya dengan kedua matanya yang menerawang. Pemuda itu tersenyum getir, "Hyung pasti sudah sampai di surga. Aku yakin, sekarang hyung sudah bahagia di sana. Tinggal kita berdua di sini yang tak memiliki apapun selain mimpi yang ia tinggalkan. Bukankah hyung bermimpi aku meneruskan karirnya dan noona hidup dengan bahagia? Tidak bisakah kita mewujudkan mimpinya itu?" katanya, yang awalnya hanya memandang langit-langit kamarku, beralih menatapku.
Aku menunduk, "Aku selalu berpikir... apakah aku masih bermimpi? Apakah ini benar-benar terjadi?" gumamku. "Tapi setiap kali aku membuka mata, aku hanya bisa menangis karena ini bukan mimpi. Bukankah aku sangat memalukan?" lanjutku, kembali menitikan air mata. "Kenangan buruk itu adalah cobaan. Kita harus bisa menghadangnya dengan berani dan membuktikan kalau kita bisa bertahan, apapun cobaannya," sahut Junghwa. Aku menatapnya. Sesaat aku merasa ingin tertawa mendengar kata-kata anak laki-laki yang lebih muda dariku ini. Bukan karena menertawakannya, tapi menertawakan diriku sendiri.
Saat aku melamun, Junghwa duduk, lalu berkata, "Aku yakin, ada saatnya nanti kita akan baik-baik saja tanpa hyung. Ada saatnya nanti, kita tidak memikirkan hyung lagi dengan bersedih seperti ini. Ada saatnya, kita akan tersenyum bahagia dengan mengingat senyum manis hyung dan kembali seperti kita sebelum kehilangannya. Junghwa tersenyum manis padaku. Kemudian, ia kembali menatap ke atas, "Hei, Yongju hyung! Terima kasih telah hadir dan memberi warna dalam hidup kami. Apa kau mendengarnya?" teriaknya tiba-tiba. Aku memukul lengannya karena terkejut, "apa yang kau lakukan, bodoh! Kenapa berteriak seperi itu?" kataku.
Junghwa meringis kesakitan seraya mengelus lengannya yang aku pukul, lalu menatap kesal padaku. "Noona juga, akan tiba saatnya noona yg berkata aku tidak bisa hidup tanpa Daehyun," katanya dengan ekspresi meledek, lalu berubah menatapku dengan tajam. "Berubah menjadi apa aku dulu benar-benar mau dengannya!" katanya dengan ekspresi jijik di wajah imutnya. Junghwa kembali menatapku, "Sampai saat itu tiba, jebal, bertahanlah! Dan yakinlah, noona tetap berharga. Apapun yang sudah terjadi, noona masih pantas dicintai dan bahagia. Arraseo?" lanjutnya dengan wajah yang kembali berubah, galak. "Iya, iya!" sahutku, "sepertinya, bukan aku yang gila, tapi kau!" gerutuku pelan. Untungnya, Junghwa tak mendengarnya karena ia tiba-tiba berkata, "Oh, iya! Aku lupa memberitahu noona. Aku menemukan file lagu yang hyung buatkan untukku!" Tampak semangat membara di kedua mata bulat nan indahnya itu.
__ADS_1
Aku terkejut saat tiba-tiba Junghwa menggenggam tanganku. "Noona, maaf jika perkataanku ini menyakitkan. Aku hanya akan berkata jujur. Noona, anggap saja ini pertarungan pertama kita dengan dunia. Apapun yang terjadi nanti, bahkan jika ada orang yang menghina noona karena masa lalu yang buruk, bahkan jika karirku dihadang dengan kebencian, mari kita terus berjalan. Tidak hanya untuk hari ini, esok, bahkan jika musim berganti, mari bertahan bersama. Bersama kita akan bisa bertahan. Biarkan mereka melemparkan hinaannya dan kebenciannya pada kita, jangan takut lagi karena kita berdua akan menghadapinya dan melaluinya bersama. Jangan takut lagi, ada aku. Noona masih memiliki aku sekarang," katanya penuh harap. Aku tersenyum mendengar kata-katanya itu. "Iya, aku masih memilikimu. Mari saling menguatkan dan bertahan," ucapku seraya merebahkan kepalaku di bahunya, dengan jari-jari yang saling terjalin di dalam genggaman.
***
Beberapa minggu setelahnya, hari-hari pun kami lewati bersama. Setiap hari, kami habiskan dengan bersenang-senang bersama. Bahkan akhir-akhir ini, kami berdua merasa bahagia. Terlebih Junghwa sudah mulai sibuk mempersiapkan comeback solonya. Seperti hari ini, Junghwa baru kembali dari jadwal rekamannya. Ia masuk ke kamarku dengan membawakan ayam goreng pesananku. Aku pun langsung menyantapnya di tempat. Aku melirik Junghwa yang tampak serius melihat ponselnya. Anak itu tampak sedang memilih beberapa patung pajangan dekorasi. "Apa kau sedang mempersiapkan tempat tinggal baru?" tanyaku penasaran. Junghwa beralih menatapku yang duduk di sampingnya, "tidak. Untuk apa?" tanyanya, balik.
"Bagaimana kabar noona di sekolah? Sudah tiga hari aku tidak masuk," kata Junghwa lagi, mengubah topik pembicaraan. "Untuk apa lagi kau minta maaf padaku? Aku tahu kau sibuk," sahutku. "Tidak, hanya saja aku sudah berjanji untuk menemani noona," kata Junghwa, merasa bersalah. "Apa kau pikir aku bbayi yang harus selalu ditemani, sepertimu?" sahutku. "Hei, sudah aku katakan, jangan menyebutku bayi!" sahut Junghwa, kesal. "Aku hanya khawatir noona kesepian di sekolah. Bukankah noona tidak memiliki teman? Yang benar saja! Cobalah bergaul dengan siapa saja! Carilah teman di luar sana! Noona pasti kesepian kalau tidak ada aku!" lanjutnya, mengomeli aku.
Aku tercengang, "Berani-beraninya kau mengomeli noona-mu! Hei, kau bayi yang sok dewasa!" balasku, kesal. "Iya, iya. Aku dewasa sebelum waktunya karena hidupku yang pahit!" jawabnya asal. "Wah, keren sekali bayiku ini sampai-sampai rasanya ingin aku buang saja!" sahutku lagi seraya meledeknya. "Ck, bicaralah sesuka hati noona, tapi jangan menangis saat aku tidak ada lagi di sini nanti!" balasnya. "Aigo, bayiku sebentar lagi comeback! Sebentar lagi akan dipanggil selebriti top, lalu berada di halaman pertama majalah. Dan setiap kali noona ini membuka mata, wajahnya akan memenuhi semua layar berita. Tapi bagi noona-mu ini, kedepannya kau tetap saja bayi yang menyamakan kedua kaki tangannya untuk merangkak!" balasku, seraya mengakhirinya dengan senyuman puas.
__ADS_1
Giliran Junghwa yang tercengang, "Kita lihat saja! Sebentar lagi, bayi ini akan menyalakan pesonanya, membuat penghasilan yang melimpah, mencapai puncak kesuksesan dan hidup makmur. Jadi, wanita-wanita di luar sana yang akan merangkak berdatangan! Dan saat itu terjadi, bayi ini akan merayakannya dengan berpesta setiap hari!" katanya, benar-benar marah. "Wanita-wanita? Hati-hati saja, bukan wanita, tapi malah haters yang berdatangan!" sahutku. "Haters sebaiknya lari kalau tidak mau menjadi musuh appa dan kakekku! Dari sebelum debut, aku percaya tidak ada yang bisa menyentuhku. Dengan peraturan dua orang di belakangku itu, aku mempunyai tim yang bisa membalikan dan menyingkirkan rumor. Ya, itu adalah tim pelindungku," kata Junghwa, malas. Seperti aku yang juga mulai malas menanggapinya.
"Apa noona tahu alasanku sering berulah, menjadi pembangkang yang sering kabur dari rumah?" ucapnya, tiba-tiba. Aku menggeleng, tak berminat mengetahui jawabannya. "Mungkin orang lain yang tidak mengenalku akan berpikir aku melakukan itu karena aku tidak betah di rumah. Bukan itu. Seperti yang sudah noona tahu, kakekku bukan orang biasa. Meski pun ibuku yang merupakan putri tunggalnya sudah meninggalkannya, kakek selalu takut kami dalam bahaya. Jadi, kakek selalu mengirim orang-orangnya untuk mengikuti kami. Bukan untuk mencari kami, tapi mengawasi dan melindungi kami. Dan aku merasa terganggu. Makanya, aku sering melarikan diri hanya untuk mempermainkan mereka," katanya, santai.
"Tapi... lama kelamaan, aku bosan bermain petak umpet dengan mereka, karena selalu berakhir dengan mereka yang menemukanku. Jadi, sekalian saja aku menjadi publik figur agar mereka bisa melihatku setiap saat," lanjutnya dengan tertawa. "Bukankah sudah biasa seorang idol terkenal dikelilingi bodyguard? Itu lebih baik, daripada merasa risih saat menjadi orang biasa yang diikuti pengawal kemana-mana," lanjutnya, dengan ekspresi jengah. Kemudian, Junghwa menatapku dengan wajah serius. "Dan karena aku akan jauh dari noona, aku berencana akan meminjamkan Hyunwo hyung pada noona."
Lagi-lagi, ekspresi di wajah imutnya itu berubah. Kali ini, ia kembali tampak kesal sambil berkata, "Tapi masalahnya, hyung sialan itu tiba-tiba saja menghilang sejak malam kecelakaan itu!" Aku mengerutkan keningku, mulai merasa tertarik. "Apa maksudmu dengan menghilang?" tanyaku. "Ah, maksudku, hyung itu tiba-tiba tidak menampakan dirinya sejak malam itu. Hyunwo hyung baru menghubungiku setelah beberapa hari dan seenaknya saja mengatakan dia pulang ke Jepang karena perintah kakekku. Dia bahkan tidak meminta izinku! Memangnya, siapa yang menggajinya?" jawabnya, masih seperti bocah yang suka marah-marah.
"Dan anehnya, saat aku menghubungi eomma-ku tadi, katanya, appa-ku juga sedang berada di rumah kakekku," lanjutnya dengan kening yang tiba-tiba berkerut. "Apanya yang aneh? Menantu mengunjungi mertuanya?" kataku, bingung. Junghwa menoleh padaku, "Tunggu, sejak kapan appa-ku akur dengan kakekku? Yang appa-ku datangi itu rumah ayah eomma-ku. Kakekku itu akan menghabisi duda yang sudah menipu putri kesayangannya!" katanya, semakin membuatku bingung. "Tidak bisa seperti ini! Aku harus ke sana sekarang juga!" katanya yang langsung pergi tanpa pamit padaku.
__ADS_1