
Di sebuah gedung pernikahan, dua orang tamu yang memang sengaja datang agak terlambat dengan alasan masing-masing, sedang membaca papan nama pengantin yang terpajang di depan, sebelum menuju wedding hall. "Ini, Kim Daehyun dan Shin Sooyun," ucap tamu perempuan yang beralasan tidak mau masuk sekarang karena tidak mau jika harus menemui pengantin wanita di ruang tunggu pengantin wanita untuk mengucapkan selamat. "Tunggu sebentar, biar aku hubungi Namgil hyung dulu," sahut tamu laki-laki yang beralasan enggan masuk sekarang karena tidak ingin bertemu dengan pengantin pria yang pasti sedang menerima tamunya di wedding hall sebelum acara dimulai.
Setelah Namgil mengatakan kalau Daehyun sudah dipanggil masuk ke ruangan untuk bersiap-siap karena sebentar lagi acara pernikahan akan dimulai, barulah aku dan Jiwon masuk ke wedding hall yang sudah dipenuhi para tamu undangan itu. Tentu saja, meskipun sudah sengaja datang terakhir, tetap saja membuat beberapa tamu yang mengenali kami menunjukan reaksi keterkejutannya atas kedatangan kami. "Eh, apakah aku sedang bermimpi? Siapa yang aku lihat ada di ujung sana? Hana dan Jiwon? Tidak mungkin! Kenapa mereka datang? Tidak tahu malu! Mungkinkah? Aku tidak yakin, sejak kapan mereka berdua... Tapi mereka terlihat serasi!" bisik beberapa orang itu seraya terus memperhatikan penampilan kami berdua.
Untuk menghadiri pesta pernikahan mantan tunanganku ini, aku tampil cantik dan flawless dengan mengenakan white midi dress classy vintage yang simple, tapi terkesan elegan di tubuh rampingku. Sedangkan untuk pasanganku, Jiwon, aku sengaja mendandaninya agar klik dengan penampilanku. Style all black & classic elegant yang cenderung formal, membuat Jiwon terlihat lebih menly hari ini. Kemudian pintu ruang acara dibuka lebar. Seluruh tamu pun memasuki ruangan. Begitu pula, aku dan Jiwon yang Namgil ajak duduk bersamanya di meja kedua di deretan paling depan. Setelah semua tamu memasuki ruangan, lampu ruangan pun dimatikan, hanya menyisakan lampu yang menerangi jalan pengantin menuju altar pernikahan.
Karena itulah, banyak yang belum menyadari kedatangan kami berdua. Termasuk sang pengantin pria yang tengah berjalan menuju altar pernikahan dengan langkahnya yang tampak berat. "Kini, kau telah menemukan seorang gadis yang menjadi jodohmu dan menikah dengannya. Tapi lihatlah dirimu sekarang! Di mana kesan angkuh dan keras kepalamu itu, Kim Daehyun? Sungguh, yang aku lihat hanyalah wajah tampan tanpa ekspresi dengan tatapan kosong, seperti mayat hidup," pikirku yang memperhatikannya dari kegelapan. Selanjutnya, Sooyun masuk bersama Tuan Shin, melewati jalan yang sama menuju sisi Daehyun yang sebentar lagi menjadi suaminya. "Sekarang, impianmu terwujud. Jika itu Daehyun, pasti dia bisa memberimu segala yang tak bisa kuberikan padamu," ucap Jiwon dalam hati seraya menatap sang pengantin wanita yang tampil mempesona dengan mahkota di kepalanya dan bunga di genggamannya.
Acara pernikahan berlangsung dengan lancar. Kedua pengantin telah resmi menikah. Acara pun dilanjutkan dengan sesi foto yang membuat sibuk kedua pengantin, sampai-sampai masih belum menyadari sosok kami berdua di dekat mereka. "Mungkin karena sosok Namgil yang tinggi, yang duduk di depan kami dan menutupi kami berdua dari mata Daehyun dan Sooyun? Mungkin karena Daehyun malas melirik ke arah di mana Namgil duduk, mengingat hubungan mereka yang menjadi dingin? Atau mungkin mereka berdua memang tidak peduli dengan kehadiran kami?" pikirku dan Jiwon.
Kami pun tak peduli. Bahkan saat Sooyun mulai ribut memanggil dua temannya yang akan menikah dalam waktu dekat, untuk bersiap berebut menerima buket bunga pengantin darinya, aku dan Jiwon malah asyik mengobrol. "Apa oppa baik-baik saja?" tanyaku, seraya menengok wajah Jiwon. "Hmm... tak apa," jawabnya singkat. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?" tanyanya balik seraya menengok juga padaku. Aku menopang wajahku di atas meja dengan tanganku dan menatapnya lebih dalam. "Jadi, oppa baik-baik saja? Oppa yakin? Karena aku tahu rasanya menahan cemburu sambil tersenyum itu sangat menyakitkan," kataku menggoda.
__ADS_1
Berhasil, Jiwon yang sejak tadi diam saja, akhirnya tersenyum. "Aku hanya benci harus muncul tiba-tiba sebagai tamu tak diundang," elaknya. "Ck, alasan!" sahutku kembali menyandarkan tubuhku di kursi. "Hana, bukankah hari kemarin begitu indah? Tapi hari ini semua yang terbaik itu hanya tinggal kenangan," kata Jiwon, terdengar sendu. "Ya, oppa benar. Masa lalu sejujurnya bisa menjadi yang terbaik bagi beberapa orang. Tapi bagiku, yang terbaik adalah yang masa depan. Bukankah lebih baik lelah mengejar masa depan, dari pada lelah bertahan sendirian dengan masa lalu?" jawabku santai. "Oppa dan aku, momen terbaik kita belum datang. Saatnya belum tiba, oppa," lanjutku. "Wah, siapa yang bicara di depanku ini?" kata Jiwon, tak percaya dengan reaksi tenangku.
"Hei, apa yang kalian berdua ributkan dari tadi?" tanya Namgil yang dari tadi memperhatikan kami berdua. Tapi sebelum kami menjawab pertanyaannya itu, ia harus pergi dengan terpaksa setelah dipanggil orang tuanya untuk ikut berfoto bersama. Saat itulah, keheningan seolah tercipta di antara aku dan Jiwon yang tiba-tiba diam tak bergerak, saat mata kami berdua akhirnya bertemu dengan mata sepasang pengantin di depan kami itu. Daehyun yang menemukan kami, langsung berniat menghampiri, sebelum tangan Sooyun menahannya. "Jangan macam-macam! Apa perlu aku usir mereka berdua? Aku tidak ingat kalau kita mengundang si miskin itu!" bisik Sooyun. Daehyun menatap tajam istrinya itu, "Dia sahabatku!" ucapnya marah. Sooyun yang tak ingin membuat keributan di pesta pernikahannya pun, memilih diam. Hanya tangannya yang semakin erat merangkul lengan sang suami yang terus memperhatikan sosok cantik di kursi tamu, aku.
Ini baru permulaan karena adegan yang terbaik belum datang. Sooyun yang kesal terlalu bersemangat saat melemparkan bunga pengantinnya. Buket bunga itu melambung tinggi seolah akan menyentuh langit-langit ruangan ini. Sehingga salah satu teman Sooyun yang bersemangat menangkapnya, menabrak meja kami yang berada di belakangnya. Alhasil, bunga pengantin itu terbang melayang ke arah meja kami. Dan saat melihat buket bunga itu mengarah ke wajahku, aku menghindar dengan mengalihkan wajahku ke arah Jiwon. Merasa aku butuh perlindungan, Jiwon reflek merangkul bahuku dengan satu tangannya, menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan membuat wajahku bersembunyi di dadanya. Sedangkan satu tangannya yang lain, juga bergerak refleks menangkap buket bunga itu.
Apa yang terjadi selanjutnya? Tentu saja, tepuk tangan para tamu yang lain terdengar seiring suara pembawa acara yang berkata, "Aigo, inilah pasangan terbaik berikutnya!" Parahnya, setelah pembawa acara itu memberikan gelar yang tak nyaman itu kepada kami, ia meminta kami berdua untuk maju ke depan. Bahkan ia kembali berkata, "Katanya, orangnya yang menangkap bunga pengantin, kalau tidak menikah dalam kurun waktu 6 bulan, maka ia tidak akan menikah seumur hidup. Jadi, kapan pasangan terbaik kita berikutnya menyusul?"
***
Setelah semua upacara pernikahan selesai, acara berlanjut ke tempat makan untuk menjamu para tamu. Sementara Sooyun mengganti baju pengantinnya dengan hanbok, Daehyun langsung mencariku dan Jiwon di tempat makan. Namun karena banyaknya tamu yang terus menyapanya, Daehyun kesulitan menghampiri meja kami. "Sepertinya, mantan tunanganmu itu berniat ke sini," bisik Jiwon padaku. "Haruskah kita pergi?" tanyaku. "Ke mana? tanya Jiwon. "Apa oppa harus pulang sekarang?" tanyaku lagi. "Tidak," jawabnya. "Bagaimana kalau kau menemaniku karaoke? Sudah lama aku tidak melakukannya. Kau tahu bukan, sekarang aku tinggal di mana!" lanjutnya. "Kalau begitu, habiskan dulu makanan oppa," kataku. "Sudah, aku kenyang," sahutnya seraya meletakan sumpitnya di atas mangkoknya.
__ADS_1
Aku yang masih ingin makan pun, menatap bingung Jiwon. Namun, aku terdiam saat melihat Daehyun yang sudah berdiri di depanku. Sesaat ia menatapku tanpa bicara, sampai suara Jiwon membuyarkan lamunannya. "Hana, ayo kita pergi," kata Jiwon seraya bangkit dari duduknya. Daehyun pun beralih menatap orang di sampingnya itu, "Jiwon, kau datang sahabatku?" sapanya, seraya tersenyum senang. Jiwon tersenyum miring mendengarnya, "Sahabat? Ck! Persahabatan kita sudah hancur saat kau melemparkan uangmu tepat di wajahku," katanya dengan dingin. "Tidak, bagaimana pun bagiku, kau tetap sahabatku. Apa kau tidak ingat lagi semua yang sudah kita lalui bersama?" kata Daehyun berusaha mengalah karena rasa kehilangan yang sudah ia rasakan.
"Aku akui, selama ini kau memang memberikan segalanya padaku. Tapi kau juga sudah mengambil semuanya dariku, Daehyun. Seperti orang tuaku yang meninggal karena menyelamatkanmu saat kecelakaan yang hampir merenggut nyawamu. Sampai sekarang, aku tidak mengerti kenapa orang tuaku yang hanya pekerja di rumahmu sampai mau mengorbankan nyawanya untuk anak majikan yang nakal dan sombong sepertimu! Dan sekarang, kau juga mengambil satu-satunya yang terakhir aku miliki, wanita yang aku cintai," jawab Jiwon. "Selamat! Semoga kalian bahagia!" lanjutnya dan berniat pergi.
"Apa kau benar-benar mendoakan kami seperti itu?" tanya Sooyun yang tiba-tiba muncul. Giliran Jiwon yang terdiam di depan mantan pacarnya itu. Melihatnya yang mematung dengan mata yang mulai berair, aku menghampiri Jiwon, lalu menggenggam tangannya. Dengan tersenyum manis, aku berkata di depan Daehyun dan Sooyun, "sekali lagi, kami berdua mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga hidup kalian lebih bahagia lagi tanpa kami di samping kalian dan semoga juga hidup kami berdua lebih bahagia lagi tanpa kalian di samping kami. Jadi, mulai detik ini, mari saling melupakan." Sooyun menatap tajam ke arahku, tapi aku tak peduli. "Jiwon oppa, ayo kita pergi. Bukankah oppa ingin mengajakku karaoke?" kataku pada Jiwon yang langsung aku ajak pergi dengan cueknya.
Namun baru beberapa langkah aku dan Jiwon menjauh, Daehyun menahan tanganku. "Hana," panggilnya lembut dan membuat Sooyun naik pitam. "Daehyun!" bentaknya. Tapi Daehyun tak menghiraukannya, meski sekarang kami berempat menjadi pusat perhatian lagi. "Lee Hana, aku berharap kau melihat wajahku sekarang," kata Daehyun seraya menatapku dengan tatapan memohon, tapi aku tak sudi menurutinya. "Dan kau akan teringat tentang ini, bahwa bagiku, semua ini belum usai. Aku tetap bermimpi dan berharap setelah putaran panjang ini, kita bisa kembali ke satu titik awal. Jadi, jangan lupakan aku. Kumohon, tunggu aku kembali," lanjutnya tanpa malu.
Jiwon saja sampai terperangah mendengarnya, apalagi aku. Aku berbalik menghadapnya. "Hei, Kim Daehyun! Aku ingat, seseorang pernah berkata padaku bahwa kadang cinta akan abadi, tapi juga kadang menyakitkan. Kau akan tahu, betapa waktu cepat berlalu. Yang terjadi kemarin akan selalu menjadi kenangan untuk hari ini. Dan tak ada yang sepadan di antara kita untuk dikhawatirkan atau dipedulikan, apalagi untuk selalu diingat. Sesal dan kesalahan, semua itu hanyalah kenangan yang telah dibuat. Siapa yang tahu, bagaimana manis dan pahitnya hubungan. Begitulah rasanya. Jadi, dalam berhubungan, lupakan saja hari kemarin, cukup bertahan pada hari ini dan terus melangkah untuk esok hari. Untuk yang terakhir kalinya, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Tak mengapa untuk masa lalu kita. Hari ini aku bertahan di sini untuk mengakhiri semuanya dengan baik-baik. Untuk hari esok, aku juga akan menemukan jodohku. Yang pasti, bukan kau, Kim Daehyun!" kataku dengan tegas, sebelum pergi dari hadapannya dengan menggandeng Jiwon.
Bunga pengantin itu tergeletak di atas meja yang aku tinggalkan. Sooyun kembali melanjutkan tugasnya, menyapa para tamu undangan yang tersisa. Aku yang sudah sampai di sebuah tempat karaoke bersama Jiwon, mulai menyanyikan lagu pilihanku, sekedar untuk menghibur lara. Tanpa menyadarinya, Jiwon ikut menyenandungkan lagu itu dengan memejamkan mata. Baginya, sekarang yang tersisa hanyalah hatinya yang hancur. Namun, saat terlintas bayangan Daehyun yang memasangkan cincin di jari Sooyun tadi, Jiwon langsung menutup telinga. Rasanya, tiba-tiba telinganya berdengung karena mendengar lagu itu. Jiwon mengambil remote, "Maaf, aku tidak ingin mendengarkannya," katanya seraya mematikan lagu itu.
__ADS_1
Aku menatapnya bingung, "kenapa?" tanyaku. "Itu lagu favorit Sooyun," katanya sendu. "Katanya, ini lagu terbaik. Tapi entah kenapa, hari ini lagunya jadi sangat sedih. Benar-benar terdengar menyayat hati. Mengingatkanku pada waktu yang telah berlalu saja," katanya yang memaksa tersenyum walau dengan getir. " Oh, lagu yang tak terlupakan, ya?" sahutku. "Bagiku, lagu seperti itu malah bisa menjadi lagu perjuangan yang memperbaiki hati untuk didengar setiap hari. Jadi, aku malah ingin menyanyikannya lagi di depan oppa," lanjutku, bersemangat. "Kau gila, Hana!" sebut Jiwon, "aku mohon, jangan!" pintanya dengan sangat. "Ck, lemah! Berjuanglah untuk melupakannya!" sahutku, mencibirnya. "Apa itu mudah untukmu?" tanya Jiwon. "Entahlah. Dicoba saja dulu!" sahutku asal dan membuat Jiwon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihatku. Sementara itu, saat malam semakin larut, di depan rumahku yang tidak ada siapa-siapa, di sisi jalannya terparkir sebuah mobil. Di dalamnya, ada seorang pengantin pria yang meninggalkan pengantin wanitanya di malam pengantin mereka, hanya untuk memandang kosong ke arah jendela kamarku, seolah-olah memanggilku.