The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Membantu Dengan Caraku


__ADS_3

"Karena aku harus langsung ke agensi, jadi akan aku tinggalkan kalian berdua di sini," kata Junghwa yang baru saja tiba di rumahku bersama Hyunwo. "Baiklah," sahut Hyunwo. "Kau tak mau makan dulu?" tanyaku. "Maafkan aku, noona. Aku sedang terburu-buru. Aku hanya mengantarkan Hyunwo hyung ke sini. Aku akan mampir lagi nanti. Aku janji!" jawab Junghwa dengan mulut penuh setelah tangannya menyempatkan menyuap sesendok spagetti milikku. "Baiklah, tapi sempatkanlah makan jika kau lapar. Jangan sampai gila kerja dan lupa makan!" kataku seraya memperhatikannya. "Iya, noona sayang. Kalian berdua bersenang-senang lah. Aku pergi dulu," sahutnya seraya langsung berlari menuju mobilnya.


Setelah punggung pemuda jangkung itu menghilang di balik pintu rumahku, aku beralih menatap Hyunwo yang masih berdiri di depanku. Hyunwo tiba-tiba menunduk sopan, "Sekali lagi aku akan mengenalkan diri. Namaku Jung Hyunwo. Mulai hari ini, aku akan mengawalmu setiap hari. Kata Junghwa, anggap saja, aku sedang menggantikannya untuk menemanimu. Karena aku orang dengan tipe positif dan tidak negatif, jadi kau akan menikmatinya saat bersamaku," katanya yang diakhirnya dengan senyuman hangatnya. "Apa yang oppa lakukan? Seperti kita tidak saling kenal saja!" kataku. "Siapa tahu kau sudah melupakanku?" canda Hyunwo, seraya beralih duduk di depanku. Aku tersenyum kecil, "Bagaimana bisa aku melupakan seorang teman yang periang, humble dan hangat?" kataku.


"Omong-omong, bicara soal pekerjaan oppa itu, berapa usia oppa sekarang?" tanyaku penasaran. Hyunwo menyipitkan matanya, "Apa kau tidak tahu, bertanya tentang usia itu adalah sesuatu yang kasar?" tanyanya. "Ah, maaf. Hanya saja, aku yakin, oppa masih terlalu muda untuk menjadi pengawal," jawabku. "Iya, dan hal itulah yang menjadi salah satu alasan aku dipilih untuk mengawal Junghwa, karena aku yang termuda dari mereka," jawab Hyunwo tampak bangga. "Jadi, mereka mempekerjakan anak muda? Memangnya, berapa gaji yang mereka berikan? Kalau aku boleh tahu!" sahutku. Hyunwo tersenyum kecil, "Kalau untuk itu, kau tidak perlu tahu karena semua itu urusan aku dan tuan muda Junghwa," jawabnya.


Aku mencibir, "Ck, kau tampak menghormati bayi itu!" ucapku. "Karena kakeknya sudah seperti orang tuaku. Aku hanya ingin memberi arti pada hatiku kalau ini caraku untuk membalas budi," jawab Hyunwo, optimis. "Wah, sepertinya, oppa benar-benar orang yang positif, ya!" sahutku seraya manggut-manggut. "Inilah aku yang akan jadi pengawalmu!" balasnya tanpa ragu. Aku tersenyum menatapnya, "Oppa salah, aku tidak butuh pengawal!" kataku. Hyunwo menatapku, bingung. "Tapi, aku juga butuh bantuan oppa..." lanjutku dengan ragu. "Bantuan? Jika ada bagian yang bisa aku lakukan, katakan saja!" kata Hyunwo. Untuk sesaat, aku ragu untuk bicara. "Kenapa kau diam? Katakan saja, tidak perlu sungkan!" pinta Hyunwo.

__ADS_1


"Asal oppa tahu, sejak Yongju oppa menjadi trainee dan meninggalkan rumah, aku mulai belajar hidup mandiri tanpanya, meskipun aku kesepian. Dan setelah kematiannya, aku benar-benar merasa sendirian dan semakin kesepian. Aku mengalami trauma karena kegagalanku dengan Daehyun dan psikisku benar-benar terguncang karena kehilangan Yongju oppa. Namun, berkat keberadaan Junghwa, perlahan aku mulai menerima kesendirianku ini. Anak itu membuatku merasa bebas akhir-akhir ini. Tak banyak yang harus aku perhatikan dan aku pikirkan seperti saat Yongju oppa ada. Juga tak ada yang memberitahuku apa yang harus kulakukan seperti yang sering Daehyun lakukan," ceritaku.


Aku tersenyum getir, "Namun terkadang, saat Junghwa tak ada, saat aku sendirian, aku teringat semua itu lagi, tentang mereka berdua. Saat seperti itu, aku ingin seseorang memelukku dan membuatku tak ada waktu untuk mengingatnya, seperti yang Junghwa lakukan. Seperti Junghwa yang memberiku kehangatannya. Seperti Junghwa yang bisa membantuku bersemangat setiap hari. Seperti Junghwa yang bisa membantuku mencerahkan hari-hariku dan menghilangkan mimpi burukku. Seperti Junghwa yang bisa membantuku mengeluarkan aku dari traumaku dalam membangun hubunganku dengan orang lain. Begitulah, terkadang aku menginginkan lagi seseorang yang menggenggam tanganku, menjemputku, menarikku kedekatnya... Pokoknya, aku rasa, aku butuh seseorang yang menjadi pacarku," kataku, yakin.


Aku terdiam saat melihat Hyunwo yang melongo di depanku. "Seperti yang aku katakan tadi, aku tak butuh pengawal di sampingku. Aku butuh pacar, oppa!" lanjutku, menegaskan. "Kenapa?" tanya Hyunwo yang masih tidak mengerti. "Alasan utamanya, karena aku benar-benar ingin melupakan Daehyun dan Yongju oppa. Aku Tidak ingin terpuruk lagi. Makanya, aku mencoba beralih ke lain hati. Tapi aku tidak tahu harus memulai dengan siapa. Tidak, aku takut memulainya dengan orang yang tidak aku kenal! Jadi, oppa tak perlu menjadi kekuatan pelindungku. Aku hanya berharap oppa bisa menjadi seseorang yang ada untuk menemani hari-hariku yang kelam, seperti cahaya. Aku ingin oppa menjadi pacarku saja!" lanjutku, bersungguh-sungguh.


Tanpa aku dengar, seseorang menyahutinya dengan, "Lakukan saja apa yang dia minta, tapi ingat tugasmu hanya untuk membantunya melupakan Daehyun. Jangan macam-macam di belakangku!" Hyunwo langsung berbicara nyaring, "Hei, apa kau serius? Aku baru tahu kalau kalian berdua benar-benar aneh! Kenapa kau malah mengizinkan aku menjadi pacarnya? Berikan aku alasannya!" Bahkan, aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. "Jangan banyak tanya dan lakukan saja!" sahut orang di seberang sana sebelum panggilan dimatikan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Hyunwo pun kembali menghampiriku dan berkata, "Biar aku perjelas lagi. Jadi, aku akan menjadi pacar pura-puramu dan ini adalah hubungan tanpa perasaan?" Mendengarnya berkata lugas seperti itu dengan wajah serius, aku tiba-tiba merasa malu sendiri. "Ini konyol!" ucapku, baru tersadar. "Ya?" ucap Hyunwo dengan keningnya yang mengerut. "Bukan apa-apa. Aku hanya tiba-tiba merasa kalau permintaanku ini benar-benar konyol! Sudahlah, oppa, lupakan saja semua perkataanku tadi! Tak perlu dijawab! Jangan merasa terbebani. Oppa tak perlu menghiburku dengan menuruti permintaan konyolku," kataku, tak enak. "Aku serius. Aku akan membantumu dengan tulus," kata Hyunwo sungguh-sungguh. "Tapi dari pada itu, aku lebih suka menjadi pacar percobaanmu karena aku tidak suka berpura-pura. Aku suka menjadi diriku sendiri," lanjutnya dengan polos.


"Aku mengerti keinginanmu. Aku akan menjadi pacarmu. Dengan begitu, aku masih bisa mengawalmu, bukan? Jadi, santai saja," kata Hyunwo lagi dengan tersenyum tulus. "Santai?" ucapku ragu. "Iya, santai saja. Bukankah ini hanya cara untuk membantumu melupakan Daehyun dan Yongju hyung? Anggap saja sebagai terapi. Lagipula, kau bukan sedang mencari seseorang untuk masa depanmu," katanya, sedikit menggodaku dengan candaan kalimat terakhirnya. "Tapi semua itu tidak menutup kemungkinan, bukan? Kalau nanti oppa bisa membuatku jatuh cinta padamu, aku akan mencintai oppa hingga akhir, menjadi pacarku sesungguhnya," kataku dengan cueknya. Bahkan Hyunwo sendiri terkejut mendengarnya.


"Begitukah? Baiklah, jika tiba waktunya seperti itu, maka aku akan ada di sini untuk mengawalmu selama hidupku. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin membantumu melupakan masa lalu," katanya, tersenyum sangat hangat kepadaku. Hyunwo mengambil minuman bersoda yang aku suguhkan untuknya. "Aku, Jeon Hyunwo, mau sebagai pengawal atau pacar percobaanmu, aku akan pastikan kedamaianmu. Dan aku bersumpah akan memperlakukanmu dengan baik," katanya, mengucapkan sumpah bak seorang ksatria. Aku terkekeh, lalu melakukan yang sama, mengangkat gelasku. "Mari kita lakukan bersama. Cheers!" ucapku. Kami berdua pun tersenyum gembira dan melanjutkan obrolan kami.


Namun, di sela-sela candaan yang Hyunwo lontarkan, ia mengirim sebuah pesan pada seseorang. "Aku menyetujuinya, seperti perintahmu. Sekarang kau sudah tahu itu. Biarkan aku melihatmu reaksimu. Tidak ada gunanya terus membuat jarak. Kemanapun kau pergi menjauh, semuanya akan membawamu kembali ke tempat bernama rumah. Ingatlah, dari mana kau berasal!" ketiknya. Tanpa aku tahu, di suatu tempat, ada seorang laki-laki yang bergumam seorang diri di dalam kamarnya. "Kau ingin alasanku?" gumamnya. "Karena Mereka berdua belum menyadari kalau mereka selalu mendapatkan cinta. Jadi, biarkan mereka tahu apa yang terjadi jika saling kehilangan. Aku hanya... membantu dengan caraku..." lanjutnya seraya menatap keluar sana, ke arah hujan yang seolah membersihkan semua yang tersisa di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2