
Suara langkah, perlahan memasuki kamarku. Dengan tangan putihnya yang menelusuri satu persatu deretan album yang tersusun rapi di rak buku yang ada di kamarku, hingga jari-jarinya itu menarik sebuah album dari susunannya. Lembaran pertama dari album kenangan itu pun mulai dibukanya, sambil menyandarkan tubuh lelahnya di jendela kamarku. Setiap halamannya, terukir senyuman manis semanis gula yang menghiasi wajah tampannya. Hingga atensinya teralih pada kedatangan sebuah mobil di halaman rumahku. Dua jarinya mengapit tirai jendela yang menghalangi pandangannya, mencari tahu siapa yang datang. Lantas, senyuman manis itu berubah hambar.
"Jadi, apa kau bahagia sekarang?" gumamnya. "Akhirnya, sekarang kau bahagia, bukankah begitu? Lihatlah, senyumanmu yang indah itu! Sedangkan, aku ini apa? Sepertinya, aku pikir, hanya aku yang tersesat di sini!" lanjutnya tersenyum pahit. Yongju menutup album di tangannya dan mengembalikannya ke tempat di mana ia mengambilnya, seperti hatinya yang berusaha mengeluarkan aku dari dalamnya dan mengembalikan aku ke tempat seharusnya. "Hana, kau jahat! Dulu, kau datang sesuka hatimu mengatakan cinta padaku, lalu kini pergi meninggalkanku yang sudah terlanjur mencintaimu, tanpa permisi. Kau sendiri tahu, aku tak ingin mencintai yang seperti ini!" kata Yongju dalam hatinya seraya meninggalkan kamarku.
Liburan manisku dan Daehyun berakhir. Di luar rumah, hari sudah mulai gelap saat Daehyun mengantarkan aku pulang ke rumah setelah bepergian dalam kenangan indah bersamanya selama seminggu terakhir di Singapura. Aku pun pulang dengan tersenyum bahagia. Daehyun mengeluarkan koperku dari bagasi mobilnya, lalu sedikit melirik ke arahku yang masih berdiri di samping mobilnya, tak berniat menginjakan kakiku masuk ke rumah. "Kenapa sayang diam di situ? Masuklah lebih dulu. Di sini dingin," katanya.
Daehyun berjalan ke arahku sambil menarik serta koperku di tangannya. Sesampainya di depanku yang tersenyum manis menunggunya, ia membersihkan salju yang menempel di pucuk kepalaku, "Ayo, masuk!" katanya sambil meraih tanganku dan berniat menggandengnya. Namun, aku tidak bergeming sedikit pun, sehingga ia menolehkan wajahnya ke belakang, menatapku dengan heran. "Sayang?" panggilnya. Daehyun memutar badannya menghadap aku yang tersenyum usil padanya.
Baru saja Daehyun ingin membuka mulutnya lagi untuk mengajakku masuk ke dalam, aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku, lalu menarik dan menciumnya dengan lembut. Daehyun yang sempat terkejut, lama-lama membalas ciumanku. Bahkan tangannya melepaskan koperku dan menarik rapat pinggangku. Begitu pula kedua tanganku yang sudah melingkar di lehernya. Hanya dengan satu gerakan, Daehyun mengangkat tubuhku dan menggendongku.
Masih dalam tautan bibir yang menyatu di bawah matahari jingga, Daehyun memutar badannya perlahan, membawaku menari tanpa bayangan di tengah salju yang turun di awal tahun dengan kehangatan pagutannya. Kebahagian yang indah. Seolah, tak akan ada perpisahan tetap yang akan memisahkan kami berdua. Seolah, kami berdua akan selalu bertemu dalam kenangan indah, selamanya, seperti percintaan dua anak muda yang tak akan pernah menua.
"Apa sayang tidak mengizinkan oppa masuk? Atau sebalik tidak mengizinkan oppa pulang?" tanya Daehyun setelah melepaskan tautan kami. Aku menggeleng manja. Daehyun terkekeh melihatnya. Tanpa menurunkan aku, ia melangkahkan kakinya, menuju pintu rumahku. "Haruskah kita lanjutkan di kamar?" bisiknya. Aku memukul pelan punggungnya, "Apa oppa tidak takut dengan mertua oppa?" jawabku. Mendengar kata mertua, Daehyun menghentikan langkahnya, "Apa sayang takut dengan mertua oppa? Perlukah oppa asingkan ke pulau kecil agar mertua kita tidak ada yang mengganggu cinta kita, hmm?" kata Daehyun bercanda. Aku mencubit punggung Daehyun, "Jangan macam-macam!" kataku, tapi Daehyun menggeleng. "Dengan sayang, oppa selalu ingin macam-macam!" sahutnya dengan alis nakalnya itu. "Nakal!" kataku seraya mencubit hidung mancungnya.
Kami pun tersenyum bersama, lalu Daehyun menurunkan aku tepat di depan pintu. Aku meraih tangannya, menggandengnya dan menuntunnya memasuki rumahku dengan tersenyum. "Aku bahagia bersamamu dan aku harap semua kebahagian ini akan abadi," harapku dalam hati. Tanpa aku ingat, di dunia ini tidak ada keabadian. Begitu pula sebuah hubungan. Sekokoh dan seindah apapun hubungan itu dibangun, ia hanya akan menjadi istana pasir jika tidak ada tali merah Tuhan yang menguatkannya.
__ADS_1
Tanpa aku tahu pula, mungkin esok atau kapan pun itu, perpisahan yang tidak pernah aku bayangkan sama sekali, sedang mengintai aku seperti suratan takdir yang akan membawa bencana dalam hidupku. Jika hari ini aku tersenyum bahagia, mungkin besok aku akan menangis. Entahlah, siapa yang tahu hari esok. Bahkan satu detik kemudian, tidak ada yang tahu. Tidak aku dan Daehyun yang tengah berbahagia, serta tidak pula Yongju yang terluka.
Aku tidak tahu, apa aku masih bisa menggenggam tangan Daehyun sampai ke depan altar pernikahan, yang untuk mencapainya, aku melepaskan tangan Yongju yang selama ini tidak pernah melepaskan tangannya. Ataukah aku akan kehilangan keduanya? Entahlah, tapi jika itu terjadi, aku akan menyambut setiap pagi dengan penuh kerinduan. Satu sama lain saling melewati keabadian dalam kesepian dan hanya bisa menunggu sebuah janji untuk bertemu lagi.
***
Setelah melangkah masuk ke dalam rumah, aku terkejut melihat Yongju yang berjalan menuruni tangga rumahku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Junghwa yang melintas di belakangnya. "Noona, kau sudah pulang?" kata Junghwa yang langsung berjalan ke arahku, mendahului Yongju yang berjalan dengan santai. "Kalian di sini?" tanyaku seraya melepaskan genggaman tanganku. "Mana pesananku?" tanya Junghwa. "Ah, ada di dalam koper. Kopernya masih di luar," jawabku seraya menunjuk arah pintu. Tanpa disuruh, Junghwa keluar untuk membawa masuk koperku. Sedangkan aku memperhatikan Daehyun dan Yongju yang saling diam.
"Yongju oppa, di mana eomma dan appa?" tanyaku pada Yongju. "Eomma menemani appa pergi bertemu klien di Busan. Makanya, appa memintaku dan Junghwa menginap di sini untuk menunggumu pulang," jawab Yongju. Ia memperhatikan wajahku dengan keningnya yang berkerut. "Apa kau tidak enak badan? Kau sakit? Kenapa wajahmu pucat?" tanyanya seraya semakin melangkah mendekatiku. Mendengarnya, Daehyun juga menolehkan wajahnya menatap wajahku dan barulah ia menyadari kalau perkataan Yongju benar.
"Tidak, aku tidak sakit. Hanya sedikit pusing," jawabku seraya melangkah mundur saat tangan Yongju ingin menyentuh dahiku. Yongju menarik kembali tangannya karena sekarang tangan Daehyun lah yang menyentuh dahiku. "Tidak demam," ucap Daehyun. "Kalau kau lelah, istirahatlah," kata Yongju seraya berlalu ke arah dapur. Yongju membuka kulkas, sambil sesekali melirik ke arah aku dan Daehyun. "Oppa juga pulang dan istirahatlah," kataku pada Daehyun. "Baiklah, oppa pulang. Nanti kita bertemu lagi. Istirahatlah!" kata Daehyun seraya mengecup keningku, lalu tersenyum.
Melihat gelagatku yang familiar, Yongju bertanya, "apa ini waktunya?" Untuk sesaat aku diam sebelum menjawabnya, lalu mengangguk pelan setelah memastikannya. Yongju tiba-tiba menggendongku dan membawaku ke kamarku. Aku mengalungkan kedua tanganku ke leher Yongju dengan erat, sekaligus menyembunyikan wajah meringisku di ceruk lehernya. Awalnya, Daehyun ingin marah, tapi saat Yongju menyuruhnya membukakan pintu kamarku dan menyuruh Junghwa mengambilkan segelas air hangat untukku, keduanya hanya menuruti perintah Yongju itu.
Sesampainya di kamarku, Yongju menurunkan aku dan menuntunku duduk di sisi tempat tidur. "Oppa, ini sakit!" ucapku pelan sambil meremas perutku. Yongju berjongkok di depanku, sedangkan Daehyun tampak bingung melihat aku kesakitan. Yongju mengelus perutku dengan lembut dan seperti biasanya, hal ini membuatku sedikit lebih nyaman. "Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Daehyun seraya menangkap tangan Yongju itu. "Apa? Aku hanya ingin mengurangi nyerinya dan menenangkan Hana. Kalau begitu, kau saja yang melakukannya!" kata Yongju dingin seraya menjauh.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Daehyun tidak mengerti. "Sayang, kenapa perutmu sakit? Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanyanya mengambil alih posisi Yongju. "Tidak perlu. Tenanglah, ini tidak separah yang kau khawatirkan. Sakitnya akan berlalu setelah Hana minum obatnya," sahut Yongju. "Tapi sebenarnya, Hana sakit apa?" tanya Daehyun yang tetap khawatir, terlebih sekarang aku sudah merubah posisiku menjadi meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling. "Sayang, apa itu sangat sakit? Kita pergi ke rumah sakit, ya?" kata Daehyun seraya mengelus rambutku. Yongju menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Daehyun. "Hana memang selalu seperti ini kalau sedang haid!" jawab Yongju.
"Hyung, ini air hangatnya," kata Junghwa yang baru masuk ke kamarku. "Letakan di situ. Aku akan mengambilkan obat penahan nyerinya. Setelah meminumnya, Hana akan tertidur. Hana bangunlah! Pakai dulu pembalutmu," kata Yongju seraya mulai menyentuh laci, tempat aku menyimpan obat dan pembalutku. Bukan hanya Daehyun dan Junghwa yang terdiam mendengarnya, tapi Yongju sendiri juga terdiam setelah menyadari bahwa ia masih mengingat semua hal yang berkaitan denganku. "Astaga, apa yang aku lakukan!" pikirnya dengan tangannya yang berhenti menarik laci itu. "Aku memang tidak melupakan satu hal pun tentangmu. Bahkan setelah beberapa waktu kita berpisah dan saat kau memelukku tadi, itupun masih kehangatan yang sama seperti dulu!" pikirnya seraya kembali membuka laci tadi.
Daehyun sempat kesal mendengar perkataan Yongju, serta melihat langsung perhatiaan Yongju tadi, tapi ia mengabaikannya dan memilih berbaring di sebelahku dan mulai mengelus perutku seperti yang Yongju lakukan tadi. "Hana, kenapa lacinya kosong?" tanya Yongju seraya berbalik. Tatapannya berubah sendu saat melihat kemesraan yang Daehyun tunjukan di depannya. Sedangkan Junghwa juga memandang sendu ke arah Yongju.
Selama waktu terakhir, kedua kakak beradik itu sudah berbagi cerita sedih cinta sang hyung yang bertepuk sebelah tangan. "Sabarlah, hyung! Aku hanya berharap, tidak ada akhir menyedihkan antara kalian!" pikir Junghwa. "Sayang, katanya laci kosong," kata Daehyun padaku. "Hmm, sepertinya kehabisan," jawabku pelan sambil menahan nyeri. "Oppa, bisakah oppa tolong belikan pembalut untukku?" lanjutku seraya berbalik menatap Daehyun. "Hah? Maksudnya, oppa sendiri yang membeli itu, apa tadi namanya? Pembalut?" tanya Daehyun tidak percaya dan aku pun mengangguk pelan dengan wajah memelas.
"Belikan di mini market dekat sini!" kataku. "Sayang, bagaimana bisa sayang menyuruh oppa membeli pembalut? Pasti nanti banyak orang yang melihat di sana! Bukankah itu barang perempuan? Pasti letaknya... Apa sayang rela oppa dilihat banyak gadis lain?" kata Daehyun seraya tersenyum dengan terpaksa. "Sebentar saja!" rengekku manja. "Baiklah, kalau sayang memang rela, oppa belikan sekarang. Tapi cium dulu!" lanjut Daehyun seraya menunjuk satu pipinya. Bukannya, menuruti Daehyun, aku malah kesal melihat tingkah modusnya itu.
"Junghwa, kau saja yang belikan!" kataku pada Junghwa. "Kenapa aku? Tidak mau! Malu! Nanti ditertawakan, masa idol beli pembalut!" sahut Junghwa, tapi melihat aku cemberut, "Bagaimana kalau membelinya dengan noona? Nanti aku temani saja. Kalau sakit, nanti aku gandeng," lanjutnya. "Biar oppa saja yang belikan," sahut Yongju setelah memutar bola matanya jengah saat mendengar alasan kedua laki-laki tadi. Yongju berjalan ke arahku dan kembali bertanya, "Yang merk apa? Panjang berapa? Yang pakai sayap atau tidak? Apa sekalian oppa belikan obat untuk nyerinya?"
Aku mengangguk manja. "Terima kasih, Yongju oppa! Oppa memang yang terbaik!" kataku seraya melirik kesal pada Daehyun yang juga tampak kesal melihat perhatian Yongju padaku. "Tunggu, biar aku saja yang pergi membelinya!" kata Daehyun seraya bangun. Yongju menatap heran Daehyun. "Apa kau cemburu?" tanya Yongju tanpa basa-basi dan membuat Daehyun kehabisan kata-kata untuk menjawabnya. Yongju terkekeh melihat jawaban Daehyun yang terbaca dari ekspresi wajahnya. "Aku saja yang membelinya dan kau temani Hana atau kau mau sebaliknya?" kata Yongju seraya mulai melangkahkan kakinya.
"Hana, sebagai imbalannya, nanti buatkan oppa kopi, oke?" teriak Yongju di depan kamarku. "Aku juga!" kata Junghwa dengan tersenyum lebar. "Baiklah, nanti aku buatkan," sahutku. Daehyun menatap aku dan Junghwa bergantian. "Apa? Kau tidak tahu kalau noona jago membuat kopi?" kata Junghwa pada Daehyun. "Aku tidak suka kopi!" sahut Daehyun acuh. "Kasihan! Padahal kopi buatan noona yang terbaik!" kata Junghwa meledek seraya mendudukkan dirinya di kursi belajarku. "Kenapa kau masih di sini?" tanya Daehyun. "Memangnya, kenapa? Tidak boleh?" tanya Junghwa. "Pergi sana! Mengganggu orang saja!" kata Daehyun.
__ADS_1
"Berisik! Kalian berdua, bisa diam tidak, sih! Baru saja damai sebentar, mulai ribut lagi! Kenapa kalian bertiga sulit sekali akurnya?" gerutuku. Keduanya pun memilih menutup mulut mereka, sampai Yongju datang dengan membawakan barang pesananku. Mereka bertiga pun mulai sibuk membantuku. Daehyun menuntunku sampai ke kamar mandi, Yongju dan Junghwa menyiapkan obat dan minum untukku. Aku diam memperhatikan ketiga pria di kamarku ini, "Ini baru akur!" ucapku yang membuat mereka bertiga menoleh ke arahku secara bersamaan. "Setiap kalian bertemu, selalu seperti mimpi buruk untukku! Kalau seperti ini, bukankah damai?" lanjutku seraya tersenyum manis.
Ketiganya saling melempar pandang, lalu berusaha menutup mulut mereka demi tidak merusak mood-ku lagi. "Baiklah, kali ini aku mengalah demimu!" kata mereka bertiga di dalam hati masing-masing tanpa sepengetahuanku. "Semoga kedepannya, mereka bertiga bisa dekat karena aku tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Tapi jika harapanku ini hanyalah mimpi buruk seperti sebelumnya, aku tidak ingin terbangun selamanya dari hari ini!" pikirku.