The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Mari Kita Berpesta, Sayang!


__ADS_3

Bukan hanya hati Daehyun yang seolah melompat keluar karena bahagia mendapat ajakanku itu, tapi waktu yang juga turut melompat setahun kemudian karena waktu yang kami berdua lalui begitu manis. Akhirnya, aku juga bisa merasakan pepatah, "Cinta yang manis berawal di bangku sekolah" bersamanya yang sudah berstatus pacarku. Pacar yang tampan, keren, pengertian dan manja saat berduaan. Rasa manis yang Daehyun berikan padaku, berhasil membuatku melupakan perasaan terlarangku pada Yongju. Namun sebaliknya, hati Yongju masih belum bisa move on, walaupun tetap harus melepaskanku dengan pasrah.


Bunyi bel sekolah berdering menandakan semester akhir tahun ini berakhir. Semua siswa keluar dari kelasnya masing-masing dan berlari menuju aula sekolah, tempat para siswa kelas tiga berkumpul untuk menerima ijazah kelulusan mereka. Begitu pula, aku yang berjalan santai ke arah aula sekolah. Sesampainya di aula, aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Daehyun, tapi aku kesulitan menemukannya di tengah kerumunan seperti ini. Dengan tinggi badanku yang hanya 165cm, aku pun sampai menjinjitkan kakiku untuk melihat ke depan.


Sret! Tiba-tiba ada tangan yang menarik tanganku. Junghwa yang entah datang dari mana, menarikku ke barisan depan. Baru saja aku ingin protes pada Junghwa, aku mendengar suara Jiwon di tengah aula setelah kepala sekolah menyatakan kelulusan mereka. "Kalian siap?" teriak Jiwon memberi aba-aba pada semua siswa kelas tiga yang ada di sana, "let's jump!" teriaknya lagi yang langsung diiringi semua anak kelas tiga yang melompat dengan tangan terangkat ke atas untuk melemparkan topi kelulusan mereka secara serempak. Seisi aula pun menjadi riuh dengan teriakan penuh energi mereka.


"Hana, aku lulus!" teriak Jiwon lagi seraya melambaikan tangannya padaku, saat ia melihat aku berdiri di tengah kerumunan adik kelasnya. Aku membalasnya dengan tersenyum melihat kebahagian temanku itu. Namun, aku masih belum menemukan sosok pacarku di tengah kerumunan itu. Dari jauh, aku memberi isyarat pada Jiwon, menanyakan keberadaan Daehyun, tapi Jiwon tidak mengerti dengan isyarat yang aku berikan.


Tuk! Tuk! Suara mikrofon yang di ketuk dengan jari membuat semua perhatian terarah pada sumber suara, tidak terkecuali aku. Kemudian, aku melihat Daehyun tersenyum manakala semua atensi tertuju padanya. "Perhatian semuanya! Aku ingin mengumumkan sesuatu. Minggu depan, aku akan mengadakan pesta pertunanganku dan semua yang ada di sini diundang. Aku akan mengirimkan undangannya pada kalian semua. Jadi, aku harap kalian bisa hadir di pestaku," katanya dengan cuek. Seisi aula kembali gaduh, sedangkan ia turun dari panggung dengan santainya. Dengan begitu aestetik, pacarku yang tampan itu melepaskan topi dan jubah kelulusannya dan melemparkannya ke sembarang tempat. Ia berjalan ke arahku yang masih berdiri di tengah kerumunan dengan tersenyum begitu tampan. Sedangkan aku seperti biasanya, hanya terpaku dengan pesona mematikannya itu.


Junghwa yang berdiri di sampingku semakin menggenggam tanganku tanpa sadar sampai aku merasakan nyeri di pergelangan tanganku dan menarik tanganku. Ia yang baru tersadar pun, melepaskan genggaman tangannya. "Noona, maaf, aku tidak sengaja," katanya merasa bersalah. "Ada apa denganmu?" tanyaku bingung, tapi belum sempat ia menjawab pertanyaan itu, lagi-lagi tubuhku tiba-tiba tertarik ke depan. Kali ini, Daehyun yang menarik pinggangku agar mendekat dengannya dan menjauh dari Junghwa.


Kemudian, tanpa aku duga, Daehyun mengecup mesra pipiku di depan semua orang setelah berkata, "Junghwa, kau dan Yongju juga diundang ke pesta pertunangan kami." Kecuali Junghwa dan Jiwon yang memang mengetahui pertunangan kami berdua, semua orang di sana pun terkejut dengan berita ini karena memang sebelum ini, kami sepakat untuk tetap merahasiakan hubungan kami di sekolah.


"Semuanya, katakan kalau ini tidak nyata!" kata Sooyun yang tidak bisa menerimanya, "bagaimana bisa mereka berdua!" katanya lagi seraya menatap tajam ke arahku dan Daehyun. "Apa kau benar-benar tidak tahu? Bukankah kau pacarnya Jiwon, sahabatnya? Apa Jiwon juga tidak tahu?" tanya teman Sooyun. "Lihatlah, mereka tampak sangat dekat. Apa selama ini mereka berpura-pura tidak saling kenal?" kata teman Sooyun yang lain.


"Hanya kalian siswa perempuan yang tidak tahu! Aku yakin, semua siswa laki-laki di sekolah ini sudah tahu kalau mereka pacaran sejak lama!" sahut salah seorang siswa yang berdiri di belakang Sooyun dan teman-temannya. "Benar. Hampir semua siswa anak laki-laki di sekolah ini mendapat peringatan dari Daehyun dan Jiwon bahwa tidak boleh mendekati Hana, tapi juga harus merahasiakan hubungan mereka!" kata siswa lainnya menimpali.


"Apa?! Tapi kenapa?" kata Sooyun dengan teman-temannya. "Agar semua pemimpi yang bermimpi menjadi kekasih keduanya harus mengangkat tangannya dan menyerah!" sahut Jiwon yang datang menghampiri Sooyun. Jiwon sengaja mengatakannya karena walaupun selama ini ia tahu Sooyun masih mengharapkan Daehyun, ia masih berharap setelah mengetahui pertunangan Daehyun dan aku, Sooyun mau berubah dan menerimanya dengan tulus.


"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" tanya Sooyun pada Jiwon. "Memangnya, kalau aku cerita, kau mau apa? Mengganggu Hana? Atau merayu Daehyun lagi?" bisik Jiwon di telinga Sooyun. Ia menatap Sooyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya ini sulit, Sooyun adalah gadis yang benar-benar ia sukai, Daehyun sahabat yang ia sayangi dan aku adalah teman baru yang begitu baik untuknya. "Jangan berpikir untuk menganggu hubungan mereka. Sadarlah, Daehyun sudah membuangmu," katanya dengan sendu. Sooyun tertawa kecil mendengarnya. "Bukan aku, Jiwon. Tapi seharusnya, kaulah yang sadar kalau aku sudah membuangmu dari setahun yang lalu. Bukankah sudah aku katakan, aku ingin kita putus. Tapi kenapa kau masih mengaku sebagai pacarku?" bentak Sooyun kesal, lalu pergi meninggalkan Jiwon.


Kembali padaku, Daehyun dan Junghwa. Daehyun menarikku pergi dari aula dengan menggandeng tanganku, meninggalkan seisi aula yang masih menatap kearah kami berdua dengan tidak percaya dan Junghwa yang terdiam sambil mengepalkan tangannya. "Sejak kapan?" gumam Junghwa. Sejak awal, Junghwa memang tahu kalau aku dan Daehyun akan bertunangan, tapi aku tidak pernah memberitahunya kalau aku sudah resmi pacaran dengan Daehyun sejak setahun yang lalu. Walaupun hubunganku dengan Junghwa semakin dekat, layaknya kakak beradik, aku memilih tidak memberitahunya karena takut Junghwa akan memberitahu Yongju dan semakin membuat Yongju marah. Namun, kali ini, aku sudah bersiap menerima apapun reaksi Yongju saat mengetahui hubunganku dengan Daehyun karena bagaimanapun kami semua sudah tahu akhirnya akan seperti apa.


Sedangkan, selama setahun berpacaran dengan Daehyun secara diam-diam, aku sudah membuang kekhawatiranku tentang hatiku sendiri. Perlahan, namun pasti, Daehyun berhasil mencuri hatiku dari Yongju. Tidak hanya dengan pesonanya yang selalu membuatku berdebar, tapi juga perubahan sikapnya padaku yang menjadi lebih menghargaiku. Daehyun juga menepati janjinya padaku untuk setia dan tidak berhubungan lagi dengan gadis mana pun.


***


Siang harinya, dari sekolah Junghwa langsung menuju apartemen Yongju untuk memberitahukan langsung kabar pertunanganku dengan Daehyun pada Yongju, tapi belum sempat ia mengatakannya, Yongju sudah mengetahuinya terlebih dulu. Seojun yang datang lebih dulu, membawa serta undangan pesta pertunanganku ke apartemen Yongju dengan berkata, "aku kembali ke Korea karena harus menghadiri pesta pertunangan Daehyun dan Hana minggu depan."

__ADS_1


"Sejak kecil, aku selalu bermimpi menjadi pahlawan yang akan menggenggam tangannya, seperti permainan yang sering kami mainkan waktu kecil," ucap Yongju dengan sekaleng bir di tangannya. "Tapi sekarang saat kami sudah tumbuh dewasa dan waktu berlalu sampai akhir, aku tetap tidak berhasil memenangkannya," lanjutnya seraya menatap keluar jendela apartemennya. Junghwa dan Seojun yang ada di ruangan yang sama dengan Yongju, sesaat saling melempar pandang, lalu menghela nafas mereka bersamaan mendengar curhatan saudara mereka itu.


"Kalau bisa, aku ingin kembali mundur ke masa lalu, di mana hanya ada kami berdua yang bermain bersama, tanpa ada satu pun yang menganggu," lanjut Yongju sebelum meneguk habis isi kaleng di tangannya. "Ke waktu di mana bocah 10 tahun dengan bodohnya menyanyikan lagu tema untuk komik superhero favoritnya di depan tuan putrinya agar tuan putri cantiknya itu tertawa dan berhenti menangis," katanya sambil tertawa. Namun, tawanya berhenti saat sebuah tepukan mendarat di bahunya. "Aku ingin kembali ke waktu itu, hyung" lirih Yongju seraya menundukkan wajahnya, lalu ia menutup matanya dan berteriak mengeluarkan semua emosinya.


Seojun menepuk-nepuk punggung adiknya itu, "Ya, berteriak lah sepuasmu kalau itu bisa melepaskan semua yang ada di dalam hatimu! Lepaskan saja semuanya," ucapnya. "Tidak akan ada yang berubah, Yongju. Kenyataannya tetap sama. Kau tidak akan pernah menjadi pahlawan untuk Hana. Belajar lah untuk menerima itu!" lanjut Seojun yang berusaha menenangkan sang adik.


Sementara itu, Junghwa naik ke atas sofa yang ia duduki dan mengejutkan kedua kakaknya itu dengan melompat seperti pemain basket seraya melemparkan bola basket milik Yongju masuk ke ring yang tersedia di ruangan itu. "Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin merusak sofaku? Aku baru saja membelinya dua hari yang lalu. Hentikan, Jung! Turun sekarang juga!" kata Yongju menegur kelakuan Junghwa yang melompat-lompat di atas sofa barunya.


Bukannya ikut menegur, Seojun malah tertawa melihat tingkah Junghwa itu karena teringat kembali kenangan beberapa tahun yang lalu, saat Junghwa kecil sering mengambil trampolin dari sudut ruangan bermain dan melompat-lompat di udara. "Biarkan saja bayi itu! Junghwa memang suka melompat-melompat setiap kali dia merasa kesal. Dengan begitu, ia akan melupakan kekesalannya dan menggantinya dengan kegembiraan di setiap lompatannya, seolah ia merasa memiliki segalanya yang tidak ia dapatkan dengan itu," kata Seojun.


"Hyung, semua mungkin memang berbeda dari apa yang hyung impikan ketika hyung masih kecil, tapi bukankah kita bertiga sudah bertemu? Tidak apa-apa kehilangan satu orang, tapi menemukan dua orang pahlawan seperti aku dan Seojun hyung!" kata Junghwa dengan terengah-engah setelah berhenti melompat. "Kita bertiga ini adalah pahlawan, hyung. Hyung pertama yang seorang dokter yang tampan dan digilai banyak wanita, hyung kedua yang seorang rapper terkenal dan adiknya yang seorang idol, walaupun masih dalam pelatihan!" katanya dengan konyolnya meniru gaya salah satu superhero.


"Sekarang, lihat aku melompat ke panggung, akulah yang akan menjadi pahlawan generasi baru!" lanjut Junghwa seraya melompat dari sofa dan berlari ke arah dua hyung-nya itu, lalu memeluk keduanya. "Lepaskan! Kenapa kau memelukku!" bentak Yongju seraya mendorong Junghwa. "Oh, aku pikir hyung mau menangis lagi. Jadi, pahlawan ini mau meminjamkan bahunya. Ini!" sahutnya seraya meledek Yongju. "Iya, iya, pahlawan yang masih dalam pelatihan! Yang dulunya masih kecil dan tak dewasa, yang suka membuat suara lompatan di atas trampolin sambil menangis, dan yang marah-marah seperti orang gila!" ledek Seojun pada Junghwa.


"Itu dulu, hyung! Sekarang, tempatku melompat harus di atas panggung. Hyung, lihat saja, aku akan menggila di atas panggung!" sahut Junghwa dengan bibir manyunnya. "Sekarang, jangan hanya membicarakannya! Saatnya untuk melebarkan sayapmu dan pergi, wahai superhero! Bukankah sore ini kau ada jadwal mengisi acara di statiun televisi?" kata Yongju mengingatkan dan berhasil membuat sang pahlawan kesiangan itu pergi meninggalkan mereka dengan wajah manyunnya.


***


"Aku rasa itu bukan urusanmu! Kalau kau datang ke sini hanya untuk menanyakan semua itu, lebih baik kau pulang saja. Aku mau istirahat!" kata Daehyun yang tampak kesal dan langsung beranjak menuju kamarnya. "Tunggu! Aku tahu, kau pasti dipaksa! Apa perlu aku bantu membatalkan pertunangan ini?" kata Sooyun seraya langsung mendekati Daehyun, bahkan menahannya dengan menarik tangannya. "Apa kau bilang?" tanya Daehyun tidak percaya dengan pendengarannya tadi. "Hei, kenapa aku harus membatalkan pertunanganku? Siapa kau berani bicara seperti ini!" bentaknya di depan Sooyun.


"Tapi, bukankah kau tidak menyukai Hana? Dia juga mantan Namgil, sepupumu sendiri! Apa bagusnya dia dibandingkan aku!" sahut Sooyun kehilangan kontrolnya di depan Daehyun. "Apa! Kau? Memangnya, kau siapa, hah? Kau itu pacar sahabatku. Untuk apa kau mengurusi pertunangan sahabat pacarmu, hah? Pergi sana! Dasar gila!" kata Daehyun yang berniat melanjutkan langkahnya. "Tapi kita sudah tidur bersama!" kata Sooyun dengan cukup keras. Bahkan membuat beberapa pelayan yang berada tidak jauh dari tempat mereka, sampai menoleh ke arah Sooyun dan Daehyun.


Daehyun seketika berbalik dan langsung meraih lengan Sooyun, lalu menyeretnya dengan kasar sampai keluar pintu rumahnya. Daehyun tidak peduli dengan reaksi para pelayan di rumahnya karena tidak akan ada yang berani melawannya. "Tak peduli siapa yang akan mencoba menghentikanku, aku akan tetap melanjutkan pertunanganku. Kau hanya tidur sekali denganku, lalu kau mau apa?" katanya dengan begitu dingin setelah melempar Sooyun keluar pintu rumahnya. "Mau memintaku bertanggung jawab? Kau bodoh? Saat itu kau sendiri yang memberikan dirimu padaku! Aku tidak pernah menginginkanmu!" lanjutnya seraya memanggil salah seorang sekuriti di rumahnya.


"Apa Hana tahu semua kelakuanmu? Kau pria brengsek, Daehyun! Aku akan memberitahu Hana siapa kau yang sebenarnya! Aku akan membuatmu menyesal, Daehyun!" kata Sooyun marah. Sedangkan Daehyun hanya menyeringai menanggapi ancaman Sooyun itu. "Kau pikir aku takut?" tanya Daehyun seraya mendekati Sooyun yang gemetar menahan amarahnya. "Bahkan jika kau mengancamku sekali dengan ini, aku tidak akan menyesal. Kita lihat saja, kalau kau berani melakukannya!" bisik Daehyun.


"Lagipula saat kita melakukannya, aku bukan yang pertama! Coba aku tebak, Jiwon? Ck, aku yakin bukan! Pasti Jiwon juga mendapatkan barang bekas sepertiku!" kata Daehyun seraya memandang Sooyun dengan begitu rendah. "Usir dia dari sini! Jangan pernah biarkan dia masuk lagi!" perintah Daehyun saat sekuriti yang tadi ia panggil, sudah berdiri di depannya. Daehyun pun kembali ke kamarnya dengan kesal, sedangkan Sooyun sangat terpukul dengan penghinaan yang baru saja ia dapat dari Daehyun.


Daehyun membanting pintu kamarnya dengan keras. "Hana juga tahu kalau aku sudah berubah! Sejak aku mengenal Hana, aku bukan lagi Daehyun si pembunuh hati gadis-gadis!" gumamnya. "Tapi, apa Hana tahu semuanya, ya? Bagaimana kalau Sooyun membeberkan semua masa laluku pada Hana? Bagaimana kalau Hana percaya dengan Sooyun, lalu membatalkan pertunangan?" pikirnya yang tiba-tiba terlihat frustasi membayangkannya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi!" pikirnya lagi seraya bergegas menghubungi orang suruhannya untuk mengawasi Sooyun agar tidak membiarkan Sooyun mendekatiku. "Aku tidak ingin kehilangannya karena hanya Hana yang menghadapiku seperti selembar kertas putih polos dan bertemu dengannya membangkitkan diriku yang berbeda," ucapnya dalam hatinya seraya tersenyum melihat foto kami bersama di layar ponselnya.


***


Malam harinya, Daehyun menjemputku untuk pergi bersama ke club milik keluarganya yang ia jadikan tempat pesta kelulusannya bersama teman-temannya sekelasnya. Di perjalanan menuju ke sana, "Oppa, apa benar tidak apa-apa?" tanyaku sekali lagi pada Daehyun. "Hmm?" sahutnya yang fokus menyetir. "Apa tidak apa-apa kita berpesta di club malam ini? Bukankah kita belum cukup umur?" kataku seraya menatap Daehyun di sampingku. Daehyun sekilas melirikku, lalu tersenyum sambil berkata, "tenanglah. Appa sudah mengizinkannya."


"Apa pihak sekolah tidak masalah kita berpesta di sana?" tanyaku. "Selama pihak sekolah tidak tahu! Tapi kalaupun tahu, memang mereka bisa cari masalah dengan appa?" jawab Daehyun santai. Aku pun berhenti bertanya karena merasa percuma. "Tenanglah, tidak usah khawatir seperti itu! Nanti cantiknya hilang, loh!" kata Daehyun seraya mencubit pelan pipiku dengan gemas.


"Memangnya, apa yang mau kita lakukan di sini?" tanyaku dengan polosnya saat mobil yang membawa kami sudah sampai di tempat tujuan. "Berpesta! Mau apa lagi?" tanya Daehyung bingung menatapku. "Maksudku, apa kita akan minum-minum? Kita belum cukup umur, belum boleh masuk ke club, belum boleh minum alkohol, belum..." ucapku terpotong karena Daehyun mengecup bibirku sekilas. Kebiasaan yang ia lakukan setiap kali aku berubah cerewet, cemberut, mengomel, atau merajuk di depannya. Kemudian, setelah melakukannya, Daehyun akan menunjukan senyum kotaknya di depanku.


"Sayang, tempat ini milik appa. Jadi, tidak akan ada yang berani mengusir kita. Lalu, selain alkohol, di sini juga ada minunan yang lain. Kalau kau tidak suka turun ke lantai dansa, kita akan duduk saja melihat yang lain. Oke?" kata Daehyun lembut. Aku pun mengangguk pelan menjawabnya. Dengan ragu, aku melepaskan coat pendek yang aku pakai sebelum kami keluar dari mobil. "Ayo, kita masuk!" ajak Daehyun yang awalnya sibuk melepas sabuk pengamannya, lalu beralih melihat ke arahku.


Seketika Daehyun terperangah melihatku karena tanpa ia ketahui, aku menyembunyikan mini dress hitam polos model sabrina yang membuat bagian dadaku semakin menonjol, di balik coat yang aku pakai tadi. "Siapa yang memberikan baju itu?" tanya Daehyun setelah ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku sendiri yang memilihnya. Kenapa? Jelek, ya?" tanyaku seraya menarik ke bawah dress-ku yang terangkat karena terlalu pendek. Daehyun melirik ke arahku karena aku duduk dengan gelisah. "Kalau jelek, aku pulang saja!" kataku merajuk. "Bukan jelek, tapi kalau sayang pakai baju seperti ini, sama saja membiarkan oppa pergi ke mimpi yang tak berdosa," gumamnya seraya memperhatikan tubuhku.


"Oppa! Kita masih kecil!" kataku saat menyadari tatapan Daehyun yang terfokus ke area dadaku. Dengan cepat, aku menyilangkan tangan di depan dadaku, tapi aku malah panik saat pahaku lagi yang terekspos. Daehyun tertawa melihatnya. "Iya, kita masih kecil, tapi bukankah masa kecil itu adalah ketika kita tidak sabar untuk menjadi dewasa seperti mencoba sesuatu yang baru karena rasa penasaran?" goda Daehyun dengan alisnya yang terangkat, tapi tangannya melemparkan coat milikku yang aku lepas tadi ke atas pahaku.


"Pakai dan jangan lepas coat-nya karena hanya oppa yang boleh melihatnya!" lanjut Daehyun seraya mengelus lembut pucuk kepalaku, lalu keluar dari mobil. "Terima kasih," ucapku pelan sambil mulai memakai coat itu lagi. "Untuk apa?" tanyanya yang membukakan pintu untukku. "Karena setiap hariku dipenuhi dengan suka cita bersama oppa!" jawabku seraya mengecup pipi Daehyun dengan lembut saat ia menundukan wajahnya setelah aku minta. Daehyun tersenyum dengan perlakuan manisku, lalu menoleh ke arahku. "Jadi, bisakah oppa menjadi satu-satunya di dalam hatimu, seperti oppa yang berhenti di hatimu?" tanya Daehyun dan aku tersenyum, menangkup kedua pipinya, lalu mengecup bibirnya sebagai jawabannya.


"Ayo, turun!" kata Daehyun setelah tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. Aku dan Daehyun pun memasuki club yang sudah disiapkan untuk pesta pribadi putra pemiliknya bersama teman-temannya itu. "Kami sudah di sini!" teriak Jiwon karena suara musik yang nyaring, seraya melambaikan tangannya ke arah aku dan Daehyun. Kami pun menghampiri meja Jiwon yang tampak bersama beberapa teman sekelasnya.


"Di mana Namgil Hyung? Apa dia tidak datang?" tanya Daehyun pada Jiwon. "Dia bilang akan datang. Tidak mungkin, dia tidak datang karena kita bersahabat. Mungkin hanya terlambat, Daehyun," sahut Jiwon santai seraya meminum minuman beralkohol di tangannya. "Kalian minum alkohol?" tanya Daehyun yang menyadarinya. "Kenapa? Karyawanmu yang menyediakannya di atas meja," sahut Jiwon. Daehyun melirik ke arahku yang hanya diam menatap minuman di atas meja. "Kenapa? Apa malam ini kau tidak ingin minum?" tanya Jiwon. "Ah, aku lupa kalau ada Hana!" celetuknya seraya tersenyum ke arahku.


"Seperti biasanya, Hana cantik! Mau?" celetuk Jiwon lagi seraya menawarkan minuman di tangannya padaku. Pletak! Daehyun menjitak kepala sahabatnya itu sambil berkata, "kau sudah mabuk, ya?" Aku menatap Daehyun marah karena membuat Jiwon mengelus kepalanya kesakitan. "Siapa yang mabuk? Aku baru hanya minum beberapa teguk!" protes Jiwon. "Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang mabuk duluan, dia yang kalah dan harus mentraktir makan nanti! Bagaimana, kau berani? Ayo, kalahkan aku! Jika kau siap, angkat tanganmu tinggi-tinggi!" kata Jiwon seraya menyerahkan gelas di tangan Daehyun. "Jangan katakan, kau takut karena ada Hana!" ledeknya yang sedang frustasi karena Sooyun yang meninggalkannya. "Mari, kita memulainya!" sahut Daehyun yang merasa tertantang dan tidak mau kalah.


Pertarungan keduanya pun dimulai, tanpa meski tanpa izin dariku yang cemberut di samping Daehyun. Dengan kesal, aku meninggalkan keduanya dan memilih bergabung dengan beberapa teman perempuan yang aku kenal di sekolah. Entah sudah berapa lama, aku terlibat percakapan dengan beberapa teman yang juga datang ke sini, sampai aku melupakan keberadaan Daehyun dan Jiwon di meja mereka. Aku sibuk ke sana ke mari karena ditarik beberapa teman sekolah yang ingin menanyakan tentang hubunganku dengan Daehyun dan aku pun hanya menjawab mereka sesingkat mungkin untuk sekedar menghargai pertanyaan mereka.


Karena merasa gerah, aku melepaskan lagi coat yang aku kenakan seraya berniat kembali ke meja Daehyun dan Jiwon, tapi saat melintasi lantai dansa, tiba-tiba lampu ruangan padam dan untuk mencegah menabrak seseorang, aku pun diam di tempat. Sret! Tiba-tiba dari belakang, dua tangan melingkar di pinggangku. Aku yang sempat membeku, akhirnya bernafas lega saat lampu kembali menyala dan mendapati Daehyun lah yang tengah memelukku.


"Apa oppa mabuk?" tanyaku saat mencium bau aneh menyeruak dari nafas Daehyun yang berembus di dekat wajahku. Bukannya menjawab, ia malah memutar tubuhku agar menghadapnya. "Lebarkan bahumu!" perintahnya seraya menarik pinggangku dan membuat tubuhku menempel padanya. "Goyangkan tubuhmu, kosongkan kepalamu, mari, kita berpesta, sayang," bisiknya yang diakhirinya dengan mencium bibirku.

__ADS_1


__ADS_2