The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Aku Bertahan Bukan Untuk Akhir Seperti Ini


__ADS_3

Di apartemen Yongju, "Hyung, kue siapa ini? Apa ada yang ulang tahun hari ini?" teriak Junghwa yang baru saja datang dan melihat sebuah kue tart lengkap dengan sebuah lilinnya, ada di atas meja makan Yongju. Bukannya menjawab teriakan Junghwa itu, Yongju malah diam memandangi layar ponselnya. "Sekarang desember, ulang tahun Hana," jawabnya hanya dalam hati seraya memandangi foto ulang tahunku yang terakhir bersamanya. Yongju tersenyum melihat wajah cantikku yang belepotan dengan krim kue di foto itu, lalu atensinya beralih pada eomma yang juga ada di foto itu. "Apa eomma juga tidak merindukan anak yang sudah eomma besarkan selama 21 tahun ini?" gumamnya sendu.


***


Kembali ke club, Namgil, pemuda yang menjulang tinggi seperti model dengan 181,68cm tubuhnya masih berdiri di depanku dan Daehyun. Rahangnya mengeras dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. "Kim Daehyun!" ucapnya, "aku masih hyung-mu, kau salah bicara padaku! Selama ini, bahkan kau tak pernah memanggilku hyung dan aku diam saja. Walaupun kau tidak punya sopan santun padaku, tapi bercanda pun ada batasnya, Daehyun!" lanjutnya geram. Daehyun berdiri dari duduknya sambil berkata, "Baiklah, hyung-ku yang tahu kesopanan. Jika kau tidak percaya, pulang lah dan tanyakan pada orang tua kita, apa aku bercanda atau serius! Apa bahkan kau setolol itu untuk tidak mempercayainya?"


"Namgil oppa, maafkan aku. Tapi ini benar, Daehyun oppa tidak berbohong. Bagaimana aku harus menjelaskannya pada oppa!" selaku dengan gelisah memikirkan caranya menjelaskan pada Namgil agar tidak sampai menyakitinya lagi. "Lalu, siapa yang berbohong di sini, kau, Hana?" sahut Namgil seraya menatapku nanar. "Aku kira kau gadis polos, tapi apa yang kau lakukan tadi? Aku baru tahu kalau kau juga bisa bertindak sembrono dengan bajingan ini!" lanjutnya seraya menunjuk wajah Daehyun.


Aku terkejut mendengarnya, sedangkan Daehyun tidak terima dengan perkataan Namgil, "tarik kembali ucapanmu itu!" bentak Daehyun. "A-apa salahnya? Sekarang, a-aku sudah besar dan Daehyun tunanganku!" selaku membela diri dengan polosnya. Sensibilitas seorang Kim Namgil pun meledak karena jawaban polosku itu, "Jadi, kau pikir isi kepala sepupuku yang kotor itu lebih baik daripada sepupu tololnya ini? Dan apa-apaan dengan dada terbuka itu?" bentaknya seraya menunjuk bagian dadaku yang sedikit terekspos akibat ulah Daehyun tadi.


Sementara di lantai bawah, "Selamat datang," ucap seseorang saat menyapa temannya yang baru saja tiba. "Di mana Daehyun?" tanya orang yang baru masuk itu. "Mana kami tahu!" sahut teman-temannya serempak. Alih-alih bergabung bersama teman-temannya, orang tersebut malah bergegas mencari Daehyun ke seluruh penjuru ruangan. "Kenapa dia mencari Daehyun, bukan Jiwon?" kata salah satu temannya. "A-chuu!" Jiwon yang namanya disebut pun tiba-tiba bersin saat kakinya mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana ada aku, Daehyun dan Namgil yang sedang berselisih paham.


"Apa kau pernah memeriksa siapa bajingan ini, hah?" tanya Namgil seraya menatap tajam ke arahku yang hanya menundukkan wajah karena merasa takut dengan kemarahannya. "Segera, kau akan tahu bagaimana tunanganmu ini!" lanjutnya seraya beralih menatap tajam Daehyun. "Jadi, kau ingin memfitnahku?" kata Daehyun yang juga mulai emosi. "Ck! Kenapa? Apa kau takut Hana tahu bagaimana kelakukanmu selama ini? Akui saja kalau kau bajingan! Jangan mencoba mengelaknya dengan berbagai alasanmu sok sucimu!" tantang Namgil.


"Sialan!" gumam Daehyun dengan tangannya yang mengepal. Bugh! Satu tinju melayang ke sisi kiri wajah Namgil sampai ia terhuyung ke sisi kanannya. "Daehyun!" teriak Jiwon yang baru sampai dan langsung melihat Daehyun meninju Namgil. Baku hantam antara dua saudara sepupu itu pun terjadi. Aku dan Jiwon berusaha melerai keduanya. Jiwon menahan tubuh besar Namgil yang ingin membalas Daehyun lagi. Sedangkan aku memeluk Daehyun dari belakang dengan erat. "Oppa, hentikan!" kataku. "Lepaskan!" sahut Daehyun seraya melepaskan pelukanku sampai aku terjatuh ke sofa.


Daehyun kembali berniat menyerang Namgil. "Ayolah, ada apa dengan kalian berdua? Hentikan!" bentak Jiwon seraya berdiri di tengah-tengah Daehyun dan Namgil. "Apa kalian ingin saling bunuh di sini, hah!" bentaknya dengan sangat keras. Selama aku mengenal dan berteman dengan Jiwon, baru pertama kali ini, aku melihat pemuda lembut dan baik hati itu marah dan ternyata ekspresi marahnya lebih menakutkan dari dua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Minggir, Jiwon! Biarkan aku menghajar sepupu sialan ini di sini!" kata Namgil seraya mendorong tubuh Jiwon agar tidak menghalanginya. Daehyun dan Namgil kembali bersiap saling pukul, tapi Jiwon yang kembali melerai malah mendapat pukulan Daehyun yang salah sasaran. "Oppa!" pekikku saat melihat Jiwon sampai tersungkur ke lantai. Bahkan hidungnya mengeluarkan darah akibat pukulan Daehyun yang terlalu keras dan tidak diduga Jiwon akan mengenai tulang hidungnya. "Jiwon oppa, kau baik-baik saja?" tanyaku seraya berusaha membantunya untuk bangun.


Sret! Daehyun langsung menarikku saat melihat aku yang hendak memapah Jiwon untuk berdiri. "Luka seperti itu sudah biasa untuk laki-laki!" katanya dengan perasaan cemburu. "Oppa! Kau yang membuat Jiwon oppa sampai seperti itu, tidakkah seharusnya oppa minta maaf? Bukan hanya pada Jiwon oppa, tapi minta maaf juga dengan Namgil oppa!" perintahku pada Daehyun yang semakin marah mendengarnya. "Tidak mau! Kenapa oppa harus minta maaf dengan mereka? Siapa lebih dulu yang menganggu di sini? Bahkan dengan mengancam segala lagi!" sahut Daehyun seraya melayangkan tatapan marahnya pada Namgil.


"Siapa yang mengancam?" sahut Namgil tidak terima. "Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa kalian sampai berkelahi seperti ini? Ancaman apa? Siapa yang mengancam siapa? Hana, beritahu aku, apa yang terjadi sebenarnya!" sela Jiwon masih bingung. "Oke, akan aku beritahu semuanya!" sahut Sooyun yang tiba-tiba muncul dan berjalan ke arah kami. "Shin Sooyun, awas saja kalau kau berani macam-macam!" teriak Daehyun lebih dulu mengancam. Sedangkan Sooyun hanya tersenyum miring mendengar ancaman Daehyun itu.


"Hana, apa kau ingat saat ulang tahun Namgil oppa waktu itu? Pulang dari tempat karaoke itu, Daehyun tidur denganku!" kata Sooyun dengan begitu santai. "Bukan hanya tidur, tapi kami melakukan hubungan intim, kalau kau tidak mengerti!" lanjutnya tanpa dosa. Semua yang mendengarnya pun mematung, tidak terkecuali Daehyun yang hanya menolehkan wajahnya ke arahku dengan perlahan. Daehyun sendiri semakin membeku saat melihat aku yang mengeluarkan air mata dengan bibir yang bergetar. Nyawaku seperti menghilang entah ke mana. Bahkan seluruh tubuhku gemetar. Senyuman bahagiaku yang tadi aku berikan untuknya seperti mengelupas tergantikan dengan air mata yang mengalir tanpa suara.


"Hei, Kim Daehyun, kenapa kau diam saja? Apa ada lem di mulut bajinganmu itu?" kata Sooyun mencibir Daehyun. "Kau dengar, Hana? Sapu semua ke telingamu semua yang aku katakan tadi! Apa kau masih mau bertunangan dengannya?" lanjutnya. "Apa katamu? Kau bahkan sampai tidur dengannya?" ucap Jiwon tidak percaya. "Jadi, selama ini aku hanya seorang idiot yang tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakangku? Padahal aku bahkan selalu menahan diriku untuk tidak menyentuhmu lebih dari sebuah ciuman!" lanjutnya.


Saat ini, bukan hanya hatiku, tapi hati Jiwon juga seperti baru saja dicambuk. Jika Jiwon meratap dengan terluka, sedangkan aku hanya bisa diam seribu bahasa melihat dan mendengar semuanya di depanku. Bahkan aku tidak peduli bagaimana Daehyun berusaha meluruskan semua ini. "Sayang?" panggilnya yang langsung menghampiriku. "Sayang, dengarkan oppa! Sayang! Hana!" kata Daehyun seraya mengguncang-guncang lenganku karena aku hanya menatap lurus ke bawah dengan tatapan kosong.


"Baiklah, oppa akui itu semua, benar. Tapi oppa sudah berjanji berubah untukmu. Apa sayang tidak bisa melihat kesungguhan oppa selama hampir dua tahun ini kita bersama?" kata Daehyun seraya mengeratkan lingkaran tangannya di dadaku. Kemudian, ia memutar tubuhku yang seperti kehilangan semangat yang tidak bisa aku sembunyikan, dengan mudah kembali menghadapnya. "Jujur, setiap hari oppa selalu merasa panas saat bersamamu, tapi oppa menahannya sampai sekarang karena oppa ingin berubah, menepati janji, menghargaimu dan benar-benar serius dengan hubungan ini," kata Daehyun.


"Tetap saja, oppa bermain dan tidur dengan gadis lain, setelah hampir memperkosaku di hari yang sama!" bentakku di depannya untuk pertama kalinya dengan tangisku yang akhirnya pecah. "Dan asal kau tahu, saat itu, aku bahkan membayangkan melakukannya denganmu!" bentak Daehyun juga. "Apa?!" kata Sooyun terkejut. Aku dan Daehyun saling diam, sedangkan Sooyun menghampiri kami. "Daehyun, kau gila? Bagaimana bisa kau membayangkan gadis lain saat ada di atas tubuhku!" bentaknya tidak terima seraya menarik lengan Daehyun.


"Diam kau!" bentak Daehyun emosi pada Sooyun. Sedangkan Jiwon tertawa hancur mendengar keributan ini. "Daehyun, aku tidak menyangka kau serendah ini! Kau menghancurkan persahabatan kita sedikit demi sedikit!" kata Namgil. "Setiap hari, aku hidup seperti orang bodoh. Bahkan kadang sampai seperti orang gila, menuruti semua kemauanmu. Selama ini, aku hidup dengan memainkan peran sebagai suruhanmu yang menyedihkan, sementara apa yang kau lakukan di belakangku?" kata Jiwon seraya menatap Daehyun dengan terluka.

__ADS_1


"Apa aku pernah memintamu menjalani hidup seperti itu?" kata Daehyun yang tidak mau kalah. "Seharusnya kau berterima kasih denganku karena akhirnya, kau tahu bagaimana buruknya gadis yang kau sukai ini!" lanjut Daehyun angkuh. "Dan kau, Sooyun, aku muak dengan tipu muslihatmu. Apa kau pikir, ada pria yang akan mengangkat hidungnya dengan tinggi karena memenangkan wanita bekas sepertimu? Kau hanya wanita murahan di luar rumah, dasar murahan!" lanjut Daehyun pada Sooyun. Plak! Sooyun menampar pipi Daehyun dengan sangat keras, sampai ujung bibir Daehyun pecah. Lalu, pergi dengan berlari. Aku yang melihatnya, tanpa sadar menghampiri Daehyun dan langsung menarik wajahnya untuk melihat bibirnya yang pecah itu. Melihat reaksi khawatirku itu, atensi Daehyun teralihkan, dari yang tampak membara menjadi redup seketika.


"Sudahlah, Jiwon, lebih baik kita pergi saja! Apa kau tahu, apa yang lebih buruk dari perkelahian ini? Memiliki sahabat brengsek sepertinya!" kata Namgil saat melewati Daehyun seraya menatap tajam padanya. "Dan kau Hana, kau bodoh jika masih bertunangan dengannya! Maaf, jika aku menyakiti perasaanmu saat aku memanggilmu bodoh. Aku pikir, kau sudah mengetahuinya, laki-laki macam apa tunanganmu ini!" lanjut Namgil saat melewatiku dengan begitu dingin. "Jiwon, apa kau tinggal? Ayo pergi! Untuk apa kau menyembah lagi kaki bajing** itu!" ajak Namgil lagi pada Jiwon.


"Park Jiwon, meninggalkan aku berarti kau meninggalkan surga!" kata Daehyun yang geram dengan perkataan Namgil yang menyebutnya sahabat yang brengs**. Perlahan, Jiwon bangun. "Park Jiwon! Kalau pergi dari sini berarti kau harus keluar dari rumahku!" ancam Daehyun lagi, dengan bodohnya. Bukan karena ia marah pada sahabat dekatnya itu, tapi karena memang Daehyun tidak tahu bagaimana memperlakukan sahabatnya itu dengan baik tanpa menyangkut pautkan dengan harta dan kekuasaannya.


Melihat Jiwon tetap melangkah pergi menyusul Namgil, Daehyun tiba-tiba meludah dengan kesal. Daehyun meludahkan darah dari mulutnya ke lantai. "Hei, Park Jiwon!" panggilnya dengan kesal dan Jiwon pun menghentikan langkahnya. Dari tempatnya berdiri, Daehyun melemparkan sebuah kartu berwarna hitam dan naasnya kartu itu tepat mengenai wajah Jiwon yang tiba-tiba berbalik. Untuk sesaat, Daehyun terdiam karena takut Jiwon kesakitan atau terluka karena perbuatannya itu. "Apa kau pikir kau bisa hidup di luar sana? Kau akan benar-benar kelaparan. Jadi, bawalah kartu itu untuk kau makan! Kau juga sudah tahu pin-nya karena sudah sering memakainya," kata Daehyun dengan gengsinya yang tinggi dan malah terdengar merendahkan di telinga Jiwon.


Sahabatnya itu tersenyum hambar melihat kartu yang tergeletak di dekat kakinya itu. Jika Daehyun salah mengartikan senyum Jiwon itu sebagai jawaban sahabatnya itu tidak marah, sama halnya Jiwon yang salah paham dengan niat Daehyun itu. "Selama tujuh tahun aku berjalan diam di sampingmu, sekarang jalannya terbuka. Simpan saja, aku tidak membutuhkannya!" kata Jiwon seraya menatap tajam Daehyun sebelum pergi tanpa mengambil blackcard itu. "Dasar pecundang, aku hanya mengkhawatirkanmu di luar sana!" teriak Daehyun kesal.


"Sial, bukankah kita tadi kekanak-kanakan?!" kata Jiwon saat sudah menyusul langkah Namgil dan mensejajarkan langkah mereka berdua. Walaupun ia mengatakannya sambil terkekeh dan terkesan sedang bercanda, tapi Namgil tahu, sekarang Jiwon lah yang paling terluka. "Jangan khawatir, kau akan hidup dengan baik tanpanya. Malam ini dan seterusnya, kau bisa tidur di rumahku," sahut Namgil. "Tidak, kau sibuk kuliah, aku tidak akan merepotkanmu. Aku akan pulang ke rumah Daehyun untuk mengambil barang-barangku," tolak Jiwon.


"Lalu, kau mau tidur di mana malam ini?" tanya Namgil. Jiwon tidak menjawabnya dan hanya tersenyum kecil. "Haruskah aku memaksa seperti Daehyun?" lanjut Namgil seraya menghentikan langkahnya dan memandang Jiwon. "Baiklah, aku hargai kepekaanmu pada teman yang tidak punya rumah ini. Sekarang, aku seorang gelandangan," sahut Jiwon, tapi saat Namgil menatapnya marah, ia malah kembali terkekeh. "Ayo, aku antar kau mengambil barang-barangmu!" lanjut Namgil. Mereka berdua pun pergi ke kediaman Kim, tempat yang selama ini menjadi rumah berteduh untuk Jiwon yang sebatang kara.


Kembali ke lantai dua, "Sayang, mau ke mana?" tanya Daehyun seraya menahan tanganku saat aku juga berniat pergi seperti yang lain. "Pulang!" jawabku singkat dan ketus seraya menghempaskan tangannya. "Tidak boleh! Ini belum selesai," kata Daehyun kembali menangkap tanganku. "Apa lagi yang belum selesai? Semua sudah selesai," sahutku. "Apanya yang selesai? Sayang ingin membatalkan pertunangan kita? Tidak akan!" katanya tegas.


Aku mundur selangkah. "Kenapa sayang menjauh?" tanya Daehyun sambil maju mendekatiku. "Bukankah tadi saat oppa menciummu, sayang bilang, sayang mencintai oppa? Jangan bilang, sayang sudah melupakannya!" katanya, lembut sambil membelai pipiku. Mengingatnya lagi membuatku memukul bibirku sendiri, tapi Daehyun menahan tanganku sambil berkata, "Kenapa sayang terus memukul bibirmu?" Aku menatapnya tajam, "Karena aku kesal, seharusnya aku tidak mengatakannya!" jawabku. Daehyun yang kesal, menyambarkan bibirku lagi, tapi ini bukan ciuman menyenangkan seperti tadi. Dengan sengaja, aku menggigit bibirnya agar melepaskanku. "Jangan samakan aku dengan Sooyun! Aku membencimu!" bentakku dengan keras, lalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Daehyun kehilangan kata-katanya mendengarku perkataanku tadi. "Benci?" ucapnya dalam hatinya. "Kapan aku menyamakannya dengan Sooyun?" pikir Daehyun bingung, tanpa menyadari kesalahannya. "Oke, malam ini, kau kehilangan segalanya, Daehyun! Sepupu, sahabat dan sekarang gadis yang kau sukai! Apa yang akan bajingan sepertimu lakukan sekarang?" pikirnya yang mematung di tempat. "Tidak. Bagaimana pun kau harus membawanya pulang ke rumah! Kau bertahan sampai sekarang bukan untuk akhir seperti ini! Kau tidak bisa mengalah pada semua orang, terutama tidak untuk Hana!" Katanya dalam hati seraya mulai mengejarku.


__ADS_2