The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Perlahan, Aku Mulai Menyukai Permainanmu


__ADS_3

"Hana, seberapa benar katamu dulu, yang memintaku menggenggam tanganmu erat-erat dan jangan pernah melepaskanmu? Sekarang, kau sendirilah yang lebih dulu melepaskan tanganku," kata Yongju seraya menghela nafasnya panjang. "Setiap malam, aku memeluk diriku sendri. Setiap saat, perlahan aku semakin mencintaimu. Tolong, biarkan saja cinta itu untukku karena aku masih menunggumu berkata padaku, aku mencintaimu," lanjutnya dengan langkah gontai. "Sekarang, aku pergi. Tapi ini belum berakhir, Hana. Setiap kau melihat malam berbintang, aku pastikan kau akan mengingatku!" katanya seraya menatap ke arah langit yang dipenuhi bintang sebelum melangkah masuk ke dalam pesawatnya.


***


Keesokan harinya, Junghwa menemui aku di kelas. "Ini, hyung memintaku mengembalikannya pada noona!" katanya seraya meletakan gelang pemberianku untuk Yongju, di atas telapak tanganku yang dipegangnya. Aku tersenyum hambar menerimanya. Aku kembali teringat dengan pesan balasan Yongju tadi malam sebelum ia berangkat konser. "Baiklah, oppa mengalah dan melepaskanmu. Tapi maaf, oppa hanya akan pergi menjauh karena oppa tidak akan pernah meninggalkanmu selain ajal yang memisahkan kita," balas Yongju.


"Oppa yakin, suatu hari nanti akan ada masa di mana kau akan merindukan oppa sampai terbawa mimpi, lalu terbangun dan berharap bisa memeluk oppa dalam keadaan yang paling nyata," balasnya lagi dengan sebuah emoticon tersenyum. "Hana, ingatlah satu hal, kapanpun dan di manapun, oppa akan selalu menjagamu. Oppa akan selalu menjadi tempatmu pulang, Hana. Jaga dirimu baik-baik dan jangan menangis lagi! Oppa harap kau selalu tersenyum bahagia," balasnya untuk yang terakhir kalinya. Aku sengaja tidak membalasnya karena benar-benar ingin menyelesaikan hubunganku dan Yongju saat itu juga.


Aku menggenggam gelang tadi, lalu menarik tangan Junghwa dan mengenakannya di tangannya. "Apa ini?" tanya Junghwa bingung. "Apa kau tidak suka? Kalau begitu, buang saja!" kataku. "Jangan! Sayang kalau dibuang!" sahutnya cepat. "Kalau kau suka, pakai saja! Aku berikan untukmu. Sepertinya, lebih bagus di tanganmu," kataku lagi seraya tersenyum. "Aku pergi dulu, ya. Daehyun sudah menjemputku di depan," kataku lagi seraya meninggalkan Junghwa yang masih memandangi gelang tadi. "Apa tidak apa-apa diberikan padaku? Bagaimana kalau hyung marah aku memakainya?" gerutunya.

__ADS_1


Daehyun menjemput aku pulang sekolah, lalu mengantarku ke rumahku atas permintaanku karena ada tugas sekolah yang harus aku kerjakan. Bukannya pulang setelah mengantarkan aku, ia malah memaksa menungguku karena ingin membawaku kembali menginap di rumahnya. "Kalau tidak mau, oppa saja yang menginap di sini, bagaimana?" tanyanya. Aku yang sedang malas berdebat dengannya, hanya meneruskan langkahku ke kamarku.


"Oppa, aku mau ganti baju. Bisakah oppa keluar dulu?" tanyaku saat melihat Daehyun yang langsung berbaring di tempat tidurku. "Memangnya, sayang mau ganti baju di sini? Bukankah ada closet dan kamar mandi? Tapi kalau mau di sini juga tidak apa-apa, lagi pula oppa juga sudah melihat semuanya!" kata Daehyun dengan sangat santai sambil menggodaku. Aku langsung meninggalkannya dan berlari ke kamar mandi dengan wajah memerah setelah mengambil baju ganti di lemariku dan memastikan pintu kamar mandi terkunci dengan aman.


Sudah satu jam lebih, aku mengerjakan tugas sekolah yang lumayan menumpuk. Daehyun yang sejak tadi tidak aku izinkan mendekat, sudah mulai bosan karena tidak bisa menganggu aku dan merasa diabaikan olehku. Saat tugas sekolahku hampir selesai, ia mulai mendekat dengan duduk di samping kursi belajarku, setelah mengangkat kursi meja riasku. Aku yang menyadari posisinya itu, hanya diam mengabaikannya karena fokus ingin menyelesaikan tulisanku. Perlahan, ia menyusupkan satu tangannya di pinggangku, lalu merangkulnya.


Karena aku masih mengabaikannya, Daehyun meletakan dagunya di pundakku dengan manja. Tanganku sempat berhenti menulis, tapi sesaat kemudian, aku kembali melanjutkan tulisanku. Ia pun mulai usil mengangguku, dari mulai mencolek daguku, menowel hidungku, menusuk-nusuk pipiku dengan jarinya, sampai membuatku geli dengan meniup pelan telingaku. "Astaga, bayi beruangku sedang mencari perhatian!" pikirku seraya menahan senyum. Daehyun yang menyadarinya pun menjadi kesal. Sekilas, aku meliriknya dan tertawa kecil melihat wajah kesalnya yang aku abaikan sejak tadi. Kemudian, muncullah seringai iblisnya yang tampan itu dan membuatku seketika merinding.


Daehyun yang merajuk, hanya diam menatapku dengan ekspresi datarnya. Sedangkan aku melanjutkan tugasku sampai selesai dengan buru-buru. Aku kembali melirik Daehyun yang masih merajuk di sampingku. "Dia menggemaskan kalau merajuk seperti ini!" pikirku. Cup! Aku mengecup bibirnya sekilas, tapi Daehyun tidak bereaksi apa-apa. Lalu, aku kembali mengecup bibirnya sekilas untuk kedua kalinya. Namun Daehyun hanya memejamkan matanya, membalas perbuatanku yang mengabaikannya.

__ADS_1


"Apa oppa sedang balas dendam padaku?" ucapku tersenyum, tapi Daehyun pura-pura tidak mendengar. "Baiklah, aku juga jadi ingin balas mengganggunya," pikirku. Aku mengecup bibir Daehyun lagi, hanya sekedar kecupan, tapi aku ulangi berulang kali. Awalnya, aku melakukannya dengan iseng, lalu berujung gemas dengan reaksinya yang diam seperti patung karya seni terbaik. Namun berujung dengan ciuman panas saat Daehyun sudah tidak bisa berpura-pura menahannya.


Kami saling melepaskan tautan saat hampir kehabisan nafas. Melihat wajah Daehyun yang bersemu karena malu sudah berpura-pura sok menolak, aku kembali tertawa terbahak sampai aku menunduk memegangi perutku. Daehyun langsung memelukku gemas dari samping dan mencium tengkukku. "Sudah! Oppa, hentikan! Perutku sakit!" kataku berusaha menghentikan tawaku sendiri. "Siapa yang menyuruh sayang tertawa?" gerutunya kesal. "Iya, iya. Jangan merajuk lagi. Sebentar, aku merapikan semua ini dulu," sahutku seraya merapikan meja belajarku.


Selama aku melakukannya, Daehyun terus memandangiku dari samping dan tatapan dalamnya itu membuatku tidak nyaman. Entah kenapa, aku jadi salah tingkah dibuatnya. "Berhenti menatapku!" ucapku seraya mempercepat gerakanku memasukan buku-buku ke dalam tas sekolahku. Namun, Daehyun malah tersenyum sangat tampan melihat tingkahku. Dengan kesal, aku meraih gelas minumku dan menyeruputnya untuk menghilangkan kegugupanku karena tatapan dan senyuman mematikan milik Daehyun itu. Belum sempat aku meletakan kembali gelas di tanganku, Daehyun merebutnya dan ikut meminumnya.


Aku beralih mengambil kentang goreng yang ada di meja belajarku, tapi Daehyun langsung menarik piringnya menjauh dariku. "Sayang, mau?" tawarnya dengan kentang goreng yang ia apit di mulutnya. Sepasang mataku menyipit melihat tingkah absurb-nya itu. Daehyun melepaskan kentang goreng itu. "Kalau tidak mau, ya sudah!" katanya lagi seraya berpaling sambil menyuap ujung kentang goreng itu lagi. Aku menarik bajunya ke arahku dan menyuap ujung kentang goreng yang berlawanan. Daehyun tersenyum dan dengan cepat melahap kentang goreng bagiannya, sampai bibir kami bertemu kembali.


Daehyun pun mengecup bibirku dengan gemas. Aku melakukan hal yang sama. Aku meletakan ujung kentang goreng yang lain di bibirku dan menawarkannya pada Daehyun. Awalnya, ia ingin memakan ujungnya yang lain, tapi tidak jadi. Daehyun malah mencabut kentang goreng itu dari mulut dan membuangnya. Ia mencium bibirku, bukan sekedar kecupan gemas seperti tadi, tapi juga tidak sepanas yang sebelumnya karena sebentar saja ia melepaskan bibirku. Satu senyuman lembut, Daehyun berikan untukku. Namun, senyumannya membeku saat aku menarik lehernya dan berinisiatif menciumnya lebih dulu. Bahkan lebih panas dari yang sebelumnya. Daehyun pun kembali menghentikan ciuman kami dan langsung memelukku dengan erat.

__ADS_1


Kali ini, giliran aku yang membeku saat mendengar, "Sayang, bagaimana ini, oppa jadi ingin bercinta?" katanya pelan dan semakin mengeratkan pelukannya. "Se-sekarang? Ta-tapi..." kataku dengan terbata dan mulai panik. "Iya, sekarang. Oppa hanya ingin bercinta dengan sayang," jawabnya di telingaku. "Bukankah sayang mencintaiku? Mau bermain dengan oppa lagi? Biarkan oppa masuk dan oppa akan membawa sayang terbang ke langit," bisiknya lagi dengan begitu menggoda di telingaku. Melihat aku yang hanya diam, pun tidak menolaknya, Daehyun menggendongku ke tempat tidurku. "Perlahan, aku akan mencintai oppa karena perlahan aku juga mulai menyukai permainanmu, oppa!" ucapku pelan seraya mengalungkan kedua tanganku di lehernya.


__ADS_2