The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Maaf, Jika Dia Lebih Menyebalkan Dariku


__ADS_3

Manajer Yongju terpaksa kembali keluar dari ruangan itu setelah Yongju memintanya pergi. Saat berbalik, manajer itu terkejut karena Junghwa berdiri di samping pintu dan menatapnya dengan tajam. "Ada apa?" tanya manajer itu berusaha menyembunyikan keterkejutannya di depan Junghwa, tapi Junghwa tidak menjawabnya dan malah semakin menatapnya dengan intens. "Kenapa kau masih di sini? Apa kau masih ada perlu dengan Yongju?" tanya manajer itu lagi. "Tidak. Aku ada perlu denganmu!" jawab Junghwa dengan tidak sopan dan terlihat sangat angkuh.


"Kenapa kau bicara tidak sopan seperti itu?" tanya manajer itu dengan ekspresi tidak sukanya. "Kenapa? Kau tidak suka? Mau memarahiku? Atau mau melaporkanku pada tuan muda Kim itu?" tanya Junghwa balik. "Apa maksudmu? Hei, kau ini hanya pendatang baru, tapi sudah berani kurang ajar seperti ini denganku! Lalu, kenapa membawa-bawa tuan muda Kim? Ini tidak ada hubungannya," kata manajer itu tidak terima.


Junghwa tertawa kecil, "iya, kalian memanggilku pendatang baru, bukan? Jadi, bagaimana dengan tugas yang Daehyun berikan padamu? Apa kau berhasil mencari tahu tentang pendatang baru ini?" tanyanya seraya perlahan melangkahkan kakinya maju. "Apa perlu sekarang aku panggilkan semua tim perekrut yang ada di sini untuk kau tanyai, bagaimana aku bisa diterima di agensi ini?" tanya Junghwa. "Atau haruskah aku menyuruh orang-orangku untuk melenyapkan mata-mata sepertimu?" bisiknya yang terdengar sadis di telinga sang manajer.


"Daehyun tahu kalau aku dari keluarga Jeon. Jadi, katakan pada Daehyun, tidak perlu memata-matai aku dan Yongju hyung untuk mengambil alih noona karena aku tahu semua yang dia lakukan di belakang hyung dan noona," kata Junghwa seraya tersenyum. "Kau juga, bukankah kau sudah sangat sibuk mengurus konser dunia hyung. Kenapa malah menambah pekerjaan saja! Apa kau tidak pernah sakit? Atau mau mencobanya sekarang?" lanjutnya lagi seraya melakukan peregangan pada kesepuluh jarinya. "Kecil-kecil begini, aku pemegang sabuk hitam se-Asia. Mau coba? Karena sibuk, aku sudah lama tidak latihan. Kau bisa menjadi teman latihan baruku," lanjutnya dengan sengaja mengangkat kedua alisnya.


"Apa maumu?" tanya manajer itu ragu. Junghwa menyeringai, "Kau harus tahu, aku berbeda dengan dua hyung-ku itu. Abaikan tugas dari Daehyun! Kau pasti sudah tahu kalau aku terkenal pemberontak di keluarga Jeon dan sekalipun sekarang aku seorang selebritis, itu tidak akan merubahku menjadi anak manis! Kau mengerti? Jadi, lebih baik kau tutup saja mulutmu itu rapat-rapat tentang siapa hyung sebenarnya atau kau ingin tahu apa konsekuensinya kalau kau menyentuh keluarga Jeon!" ancamnya dengan kembali berbisik di telinga sang manajer sebelum pergi meninggalkannya.


"Sialan, dia benar! Aku tidak mungkin menyentuh keluarganya. Bukankah hanya keluarga yang lebih kuat yang bisa mengacaukan keluarga Kim!" kata manajer itu dalam hati sepeninggal Junghwa. "Ternyata, Yongju keponakan Direktur Lee Miyoung dan tuan muda Kim memang sudah mengetahuinya, tapi aku tidak mungkin mengatakan kalau Yongju adalah putra kedua keluarga Jeon," pikirnya. "Sekarang aku harus bagaimana? Kalau tahu begini, aku tolak saja tugas ini dari awal! Dua tuan muda Jeon! Pantas saja mereka mencapai posisinya dengan begitu mudah!" ucapnya dalam hatinya. "Sialan, aku sekarang jadi duri di mata orang-orang keluarga Jeon! Mereka pasti mengawasiku. Lebih baik aku cari aman saja," gumamnya seraya mulai menghubungi Daehyun via telepon.


***


Di ruang Direktur Lee Miyoung, aku memainkan ponselku sambil menunggu Daehyun datang menjemputku. Padahal sudah lebih dari satu jam yang lalu eomma memintanya datang ke agensi ini untuk membawaku pulang. Saat ini, aku tengah serius menggulir satu persatu berita media tentang perkembangan karir Yongju dan sesekali senyumanku mengembang, tanpa menyadari keberadaan eomma yang lewat di belakangku. Melihatnya, eomma hanya melanjutkan langkahnya, tanpa ingin mengusik kesenanganku. Sedangkan aku yang menyadari langkah eomma, buru-buru mematikan layar ponselku dengan wajah tertunduk takut.


"Bagaimana anak itu tidak memiliki peluang untuk sukses? Dia berbakat. Jujur saja, walaupun ini memalukan, aku sangat bangga padanya. Tahun ini saja, dia sudah berhasil menjual 500.000 eksemplar. Dia tidak sekedar K-pop. Dia berbeda dengan caranya," kata eomma. Aku pun mengangkat wajahku saat mendengarnya dan melihat eomma yang tampak menghela nafas panjang seraya menatap sendu sebuah figura kecil di atas meja kerjanya. Sebuah figura berisikan fotoku dan Yongju sewaktu kecil.


"Apa eomma juga merindukan oppa?" tanyaku dalam hati karena bagaimana pun, bukan hanya hubungan Yongju denganku yang terputus, tapi juga antara Yongju dan kedua orang tuaku. Awalnya, memang eomma lah yang bersikap dingin saat bertemu Yongju di tempat kerja, tapi lama kelamaan Yongju pun melakukan hal yang sama, acuh. "Benar, kalau kau ingin karirmu terus maju. Cobalah terus untuk selalu mengabaikan kami," gumam Eomma.

__ADS_1


***


Kembali ke sang manajer. "Maafkan saya, Tuan Muda Kim. Saya masih belum bisa melakukan apa yang Tuan minta. Saya sangat sibuk untuk mempersiapkan konser," kata manajer itu beralasan pada Daehyun. "Apa benar, dia memesan tiket pesawat first class seperti kabar yang beredar itu? Apa semua itu memang disiapkan oleh agensi? Bukankah biasanya untuk artis hanya disiapkan kelas bisnis?" tanya Daehyun curiga. "Benar. Ini semua disiapkan oleh agensi karena sebelum memulai konsernya, Yongju akan menghadiri acara Billb**rd. Jadi, ini untuk menjaga citra agensi kita," jawab manajer itu terpaksa berbohong karena takut pada ancaman Junghwa tadi.


"Kabar itu tidak benar, Tuan. Bukan memesan tiket pesawat kelas first class, tapi yang benar adalah memakai pesawat pribadi milik keluarga Jeon!" kata manajer dalam hatinya. "Seperti yang anda tahu. Yongju mempunyai jadwal konser yang padat. Brazil, Paris, New York, Hong Kong, lalu lanjut kembali di Korea. Kami sangat sibuk sekarang. Jadi, maaf saya tidak bisa membantu anda kali ini," lanjutnya.


"Baiklah. Aku akan membiarkannya kali ini," sahut Daehyun. "Kalau begitu, saya akan mengakhiri panggilan ini karena sebentar lagi kami harus pergi dari agensi untuk bersiap-siap ke bandara," lanjut manajer itu lagi. "Tunggu, maksudmu, Yongju sekarang juga ada di agensi?" tanya Daehyun seraya langsung mengakhiri panggilannya saat mendapati lawan bicaranya itu berada di tempat yang sama dengannya.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya di area parkir agensi, Daehyun turun dari mobilnya dan berjalan melewati manajer itu tanpa menyapanya, seolah-olah mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Begitu pula, manajer itu yang langsung pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam untuk mencari sang artis. Bahkan ia melewati Daehyun dengan terburu-buru. Daehyun dan manajer itu berjalan beriringan ke arah yang sama untuk menaiki lift. Saat pintu lift terbuka, muncullah si bayi Peter Pan di hadapan mereka, disusul Yongju yang berdiri di belakang Junghwa. Deg! Manajer itu pun seketika gugup saat matanya bertemu dengan mata Junghwa yang baru saja terang-terangan mengancamnya.


"Dari mana saja kau, hyung? Apa semuanya sudah siap? Pasporku?" tanya Yongju pada manajernya seraya keluar dari lift itu. "Pa-paspor?" sahut sang manajer dengan terbata dan kentara sekali kegugupannya. "Iya, pasporku. Hyung membawanya, bukan?" kata Yongju dengan keningnya yang mengerut karena tiba-tiba merasa curiga dengan tingkah manajernya itu yang terlihat panik. "Iya, paspor hyung yang sibuk, seperti manajernya yang kelihatannya juga sangat sibuk!" sela Junghwa sarkas dengan dagu terangkat seraya menyeringai pada manajer itu.


Satu tangan Yongju yang sejak tadi berada di dalam kantung hoodie-nya, mengepal. "Apa kau mengetahui akun itu? Secara, bukankah kau kakak sepupu tunanganku?" kata Daehyun seraya tersenyum manis, tapi sangat menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Junghwa yang mengerti maksud Daehyun, beralih menatap Yongju. "Apa akun itu milik hyung?" tanyanya dalam hati, "sepertinya, aku harus memeriksanya sendiri nanti!" pikirnya lagi seraya tersenyum nakal.


Bukannya menjawab pertanyaan Daehyun, Yongju malah menyapa Daehyun dengan berkata dengan wajah dinginnya, "Lama tak berjumpa, tapi maaf, sampai kata-kata terakhirmu tadi, aku masih tidak mengerti apa yang kau katakan!" Mendengarnya, Daehyun tersenyum, "Iya, lama tidak berjumpa. Bahkan aku sempat khawatir kau masih hidup atau sudah mati karena tidak ada kabar sama sekali!" balasnya. "Tenang saja, aku panjang umur berkat do'amu!" sahut Yongju seraya tersenyum datar dengan mata terpejam. "Sayang sekali, kau salah. Aku tidak pernah membuang waktuku untuk mendo'akanmu!" balas Daehyun. "Sama! Aku juga tidak pernah ingin membuang waktuku yang berharga untuk mengabarimu!" balas Yongju lagi. Daehyun seperti kehabisan kata-kata untuk membalasnya.


Jika Junghwa terus terkekeh menahan tawanya mendengar perang mulut antara Yongju dan Daehyun yang penuh sarkasme itu, lain halnya dengan sang manajer yang sesekali melirik keduanya dengan gugup. Daehyun kembali memandang kucing yang masih terlelap itu. "Haruskah aku menendang kucing ini agar dia pergi dari jalanku?" katanya seraya bersiap menendang kucing itu untuk melampiaskan kekesalannya. "Jangan! Biar aku yang mengangkatnya," kata manajer Yongju seraya langsung menggendong kucing itu karena tidak tega dengan makhluk berbulu itu jika harus menerima tendangan Daehyun.


"Berikan padaku!" kata Yongju seraya mengambil alih kucing berbulu hitam itu dari manajernya, lalu menyerahkannya pada Junghwa sambil berkata, "berikan pada Hana untuk teman miaw di rumah." Daehyun menoleh, "Miaw?" ucapnya bingung. "Astaga, bahkan kau tidak tahu kalau tunanganmu itu pecinta kucing? Namanya miaw dan itu pemberian kakak sepupunya ini," jawab Junghwa seraya menunjuk Yongju. Yongju memutar matanya jengah mendengar perkataan Junghwa sambil berkata dalam hatinya, "bocah ini mulai lagi!" Daehyun tampak semakin kesal dengan ketidaktahuannya akan makhluk yang Junghwa dan Yongju maksud itu.

__ADS_1


"Hyung, boleh aku yang memberinya nama?" tanya Junghwa pada Yongju. "Terserah," sahut Yongju malas. "Aku anak laki-laki Jeon karena aku dari keluarga Jeon. Jadi, wahai kucing berbulu hitam seperti rambut hyung, aku akan memberimu nama, Jeonju!" kata Junghwa bertingkah kocak. Pletak! Dengan satu tangannya, Junghwa mengelus kepala bagian belakangnya saat Yongju memukulnya sambil berkata, "Apa kau dan Hana sama-sama gilanya memberi nama kucing dengan namaku!" protesnya. "Hyung, kataku Jeonju, bukan Yongju!" protes Junghwa juga. "Apa di telingamu, itu terdengar berbeda?!" tanya Yongju tidak terima.


Sedangkan Daehyun tampak bingung melihat keakraban dua saudara di depannya itu. "Astaga, kenapa aku membuang waktuku dengan menonton orang gila berdebat masalah nama kucing!" katanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan membuat dua Jeon bersaudara itu berhenti berdebat. "Iya, aku orang gila, lalu kau sendiri apa? Menendang kucing yang bahkan tidak menyentuhmu, apalagi menggigitmu, itu yang kau sebut normal?" sahut Yongju dingin. "Bukan normal, hyung. Mungkin malah orang gila yang sedang dikalahkan," sahut Junghwa seraya mencibir.


"Lidah kalian berdua itu benar-benar tidak mempunyai sopan santun, ya!" sahut Daehyun seraya menatap tajam Junghwa dan Yongju bergantian. Yongju tertawa, "ini baru aku bicara! Haruskah aku mengirimkan pendengarku ke sini dengan rapku? Asal kau tahu, teknologiku ada di lidahku. Aku rapper terbaik di sini, kalau kau lupa!" katanya, angkuh. Kali ini, Daehyun yang terkekeh. "Tapi, akulah orang yang bisa mendorong artis sepertimu naik ke atas atau jatuh ke bawah!" balasnya dengan memainkan ibu jarinya ke atas dan ke bawah.


"Seperti di drama saja, artis yang kekurangan dan atasannya yang jahat!" sela Junghwa. Dengan nakalnya, ia meniru gerakan Daehyun seperti orang yang menyalin dari mesin fotokopi dan hal itu semakin membuat Daehyun menatapnya geram. "Bocah sialan!" umpat Daehyun dalam hati. Satu ujung bibir Yongju tertarik ke atas. "Tidak masalah jika aku jahat atau jika aku kekurangan atau gagal, akulah orang yang akan mengukir sejarah dan selalu mendapatkan lebih banyak cahaya daripada tempat yang menaungiku," kata Yongju seperti sedang membaca sebuah sajak.


"Ya, semoga kau tidak berakhir putus asa seperti artis yang lain," kata Daehyun. "Setidaknya, di antara rapper putus asa lainnya, aku lebih baik dari orang yang bisanya hanya cemburu karena takut aku akan mengambil miliknya karena ketenaranku," sahut Yongju. Ia memulai langkahnya, "Aku tidak peduli, bila kau sibuk menjadi orang tolol seperti ini. Aku hanya akan menguburmu hidup-hidup di dalam kuburan yang kau gali sendiri, jika kau sampai berani menyakiti Hana!" katanya tepat di depan Daehyun.


"Dan aku akan berkata ini sebagai artis di bawah agensimu. Kau tidak bisa menanganinya kalau kau menyia-nyiakan rapper sepertiku. Seharusnya, kau bersyukur bahwa aku adalah idola di agensimu," lanjut Yongju seraya tersenyum. "Karena aku sibuk seharian penuh, aku perlu istirahat. Jadi, mari kita sudahi saja ketololanmu ini!" katanya dengan wajah yang berubah serius. Daehyung yang tidak terima, langsung mencengkeram baju Yongju dengan kuat. "Hyung!" ucap Junghwa, begitu pula manajer yang berkata, "Tuan muda Kim, Yongju, hentikan! Jangan bertengkar di sini!" seraya berusaha melerai keduanya.


Daehyun yang tidak ingin membuat keributan yang bisa membuat eomma-nya marah pun, terpaksa melepaskan Yongju. "Aku harap orang idiot itu tidak menghilangkan kesempatan yang sudah aku berikan. Kalau boleh aku beri saran, pertahankan saja satu sama lain karena orang yang kekanak-kanakan dan pencemburu itu sering tidak menyadari apa yang penting di depan matanya," kata Yongju. Deg! Daehyun terkejut saat mendapati Hana yang sudah berdiri di belakang Yongju dan melihat ulahnya yang hampir menyerang Yongju tadi. "Sialan!" umpat Daehyun dalam hati seraya beralih menatap Yongju dengan tajam dan berkata, "kau sengaja!"


"Maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Jadwal nonstop-ku sudah menunggu," kata Yongju acuh. Daehyun terkekeh dengan sikap Yongju yang berubah santai setelah mengetahui keberadaanku, tidak seperti tadi. "Tidak, seharusnya aku yang minta maaf karena telah mengambil waktu orang yang super sibuk," kata Daehyun. "Sayang, kau sudah selesai!" panggilnya yang membalas Yongju, sama acuhnya. "Apa yang oppa lakukan tadi?" tanyaku seraya menatap Daehyun dengan tajam. "Maaf, oppa menolak kemarahanmu! Oppa-mu duluan yang mulai," adu Daehyun tanpa malu bersikap manja padaku di depan semua orang.


"Tenanglah, oppa tidak akan menyakiti oppa-mu itu. Oppa tahu, kau dan eomma-mu akan sedih bila oppa-mu itu kehilangan satu-satunya aset yang dia miliki kalau oppa membuatnya masuk rumah sakit," kata Daehyun seraya memeluk pinggangku dari samping. "Dan jika itu terjadi, maafkan oppa, oppa-mu itu terpaksa harus mengubah pekerjaannya," lanjutnya yang bicara dengan manis, tapi juga terdengar seperti ancaman. "Oppa, hentikan!" ucapku seraya menatap Daehyun dengan tatapan memohon.


"Ternyata, kau benar-benar berbakat. Kemampuanmu untuk membuat dirimu terlihat seperti orang tolol itu, sungguh luar biasa. Jadi, kaulah yang seharusnya merubah pekerjaanmu di masa depan, dari penerus perusahaan keluarga Kim menjadi seorang pelawak!" kata Junghwa savage. Yongju tertawa mendengar perkataan adiknya itu, tapi ia langsung menghentikan tawanya saat aku menatapnya dengan wajah khawatir. "Maafkan aku, kalau juniorku lebih menyebalkan dibandingkan denganku. Ya sudah, hyung, ayo kita pergi sekarang!" katanya meninggalkan semua orang yang ada di situ.

__ADS_1


__ADS_2