
"Terima kasih, Tuhan. Akhirnya, kebenaran ini terungkap," ucap eomma dengan mata terpejam seraya menarik nafas lega setelah mendengar langsung kebenarannya dari Tuan Jeon yang langsung datang ke kediaman Lee sepulangnya dari makam. Jeon Sungjin memang berniat langsung membenarkan identitas Yongju pada kedua orang tuaku. Selain itu, tanpa mereka duga, Yongju yang masih belum bisa menerima kenyataan, ternyata juga berada di tempat yang sama. Dengan niat yang sama pula, Yongju juga ingin menanyakan kebenarannya pada eomma-ku, tapi belum sempat ia bertanya, ia kembali bertemu dengan tiga pria yang mengakui diri sebagai keluarganya itu dan dengan terpaksa ikut mendengarkan penjelasan Tuan Jeon.
Tuan Jeon menceritakan semuanya, mulai dari pesta pernikahan kedua orang tuaku, hingga kejadian malam itu dan mencocokan semua bukti-bukti yang Tuan Jeon dan kedua orang tuaku miliki karena bagaimana pun mereka sama-sama melakukan pencarian. Jika Tuan Jeon tidak berhenti berusaha mencari keberadaan Bibi Mirae, kedua orang tuaku berhenti mencari siapa ayah kandung Yongju sejak kematian Bibi Mirae karena kedua orang tuaku sepakat untuk menganggap Yongju sebagai anak kandung mereka. Walaupun sudah terdaftar sebagai anggota keluarga Lee, Yongju tetap menolak jika ia harus dipanggil Lee Yongju. Baginya, nama pemberian eomma-nya lah yang akan ia pakai sampai mati. Bukan marga Lee, apalagi marga dari pria yang sudah ia anggap mati, Jeon.
"Tanpa dia pun, aku bisa hidup. Aku bisa bernafas. Aku bisa menggapai mimpiku dan aku juga bisa meludah pada semua orang yang aku benci!" kata Yongju dengan savage-nya sambil meludah ke lantai saat appa memintanya menerima keberadaan Tuan Jeon sebagai appa-nya. "Min Yongju, jaga bicaramu!" bentak appa keras seraya menatap tajam Yongju karena bagaimana pun, selain fakta sebagai appa kandung Yongju, Tuan Jeon adalah sahabat juga atasan appa. Suasana menegang pun mulai tercipta. Dengan lancang, Yongju juga membalas appa dengan hal yang sama sambil berkata dengan lambat dan penuh penekanan, "Dia bukan appa-ku!" Lantas beralih menatap tajam Tuan Jeon sambil mengacungkan jari tengahnya dan berucap, "Fu** you!"
"Kau!" bentak Seojun yang tidak terima dengan tingkah kurang ajar rapper yang terkenal badas itupun berdiri dari duduknya, sedangkan Junghwa kembali tercengang melihat ke-savage-an idolanya itu dengan takjub. Plakk! Satu tamparan keras mendarat di pipi Yongju sampai pipi putih itu memerah. Rahangnya mengeras seiring pipinya yang terasa memanas. Dengan pelan, ia beralih menatap eomma. "Dengan siapa kau bicara seperti itu? Apa kau lupa siapa yang membesarkanmu selama ini? Apa eomma pernah mengajarimu seperti ini?" ucap eomma yang marah melihat sikap kurang ajar Yongju pada appa dan Tuan Jeon.
Yongju menatap eomma dengan kedua matanya yang mulai berair. Baru kali ini, bibi yang sudah ia anggap seperti eomma-nya ini memukulnya. Tapi bagi Yongju, sakit di pipinya tak seberapa karena jauh lebih sakit hatinya yang tersenyum getir mendengarnya. "Aku bicara pada paman yang kupanggil appa dan pria asing yang menyebut dirinya appa. Yang membesarkanku? Tentu saja paman dan bibi dan kalian tidak pernah mengajariku seperti ini. Aku belajar sendiri!" jawabnya seraya tersenyum getir. "Apa kau bilang? Paman dan bibi?" tanya eomma yang juga merasakan sakit di hatinya saat Yongju tidak memanggilnya eomma. "Oppa... Eomma..." panggilku pelan, berusaha mencegah Yongju dan eomma yang saling menatap nyalang.
"Bagaimana aku bisa lupa siapa yang membesarkan aku? Sekalipun aku tidak sepintar Hana, aku masih sangat ingat semuanya," kata Yongju yang masih membalas tatapan lekat eomma. Lama mereka berdua saling tatap, tanpa ada yang mau mengalah, sampai Yongju memilih mengalah menengadahkan kepalanya ke atas dan berkali-kali mengerjapkan matanya agar air matanya tidak berjatuhan. "Bahkan saat wanita bisu itu sekarat dan tidak pernah mengatakan apapun padaku dan hanya tertidur mendengkur di sampingku, sampai aku sendiri tidak tahu kapan dia benar-benar tertidur untuk selamanya dan tidak pernah bisa bangun lagi," lanjut Yongju dengan suaranya yang berubah berat dan bergetar.
__ADS_1
Tes! Air mata eomma menetes begitu saja saat mendengar suara pilu Yongju itu. Perlahan eomma, menurunkan tatapannya. Appa bergegas memeluk tubuh eomma yang mulai gemetar karena teringat dengan kakak perempuannya itu. Lagi-lagi Yongju mengukir senyum pahit di wajah pucatnya. Tapi pada akhirnya, air mata yang sekuat tenaga ia tahan, luruh saat ia kembali menurunkan pandangannya, menatap sendu ke arah lantai. "Eomma, maaf, jika anakmu sudah kurang ajar pada orang yang sudah membesarkanku. Sejak awal, aku memang tidak tahu apa-apa selain diriku sendiri," lirihnya seraya menyeka kasar air matanya.
Tuan Jeon yang melihatnya, berusaha mendekati putranya itu, tapi sebelum langkahnya sampai, Yongju menghentikannya dengan berkata, "Dua puluh tahun aku menganggap Anda mati dan semua itu tidak akan bisa dibalik hanya dalam satu hari. Jangan paksa aku lebih dari ini!" Yongju pergi meninggalkan ruang tamu itu, kembali melarikan diri dari kenyataan yang harus ia terima itu. Aku yang melihatnya, berlari menyusulnya. Kami berdua tidak memperdulikan panggilan appa yang memanggil kami berdua untuk kembali.
Saat sampai di teras rumah, aku berhasil menggapai tangan Yongju dan membuatnya berhenti melangkah. Aku memeluknya dari belakang tanpa mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin menenangkannya karena aku tahu sekarang ia sedang terluka. Cukup lama, kami berdua saling diam di posisi ini, sampai Yongju bertanya padaku sambil mengelus lembut lenganku yang melingkar di perutnya, "Ada apa? Apa kau ingin bertanya, apakah saat ini oppa bahagia atau sedih? Jika kau bertanya itu, maaf oppa sendiri tidak tahu jawabannya."
Aku menganggukkan kepalaku seraya mengeratkan pelukanku. Yongju tersenyum saat merasakan gerakan kepalaku di punggungnya. "Tenanglah, oppa baik-baik saja," lanjutnya berbohong seraya menepuk pelan punggung tanganku. "Apa oppa tidak bahagia karena oppa masih memiliki appa?" tanyaku polos karena aku tahu hal itulah yang selalu Yongju idamkan sejak kecil. Sesaat, Yongju diam tak menjawab. "Entahlah. Oppa tidak peduli lagi. Lagipula, oppa sudah bahagia," kata Yongju seraya melepaskan tanganku. Lalu ia berbalik ke arahku dan berkata "karena oppa sudah memilikimu," kemudian mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirku. Aku memundurkan langkahku saat menerimanya karena seketika aku mengingat pertunanganku dengan Daehyun. Yongju yang belum mengetahuinya, menatap bingung reaksiku ini. "Ada apa?" tanyanya seraya dengan cepat meriah satu tanganku. Entah insting apa yang muncul saat ini, tapi Yongju merasa ia tidak boleh melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Oppa..." ucapku ragu karena berpikir, "aku tidak mungkin memberitahukannya sekarang. Ini bukan waktu yang tepat." Yongju menatap wajahku dengan lekat dan mulai curiga. "Apa ada yang kau sembunyikan dari oppa?" tanyanya. "Tidak ada! Aku hanya mengkhawatirkan oppa," jawabku dengan cepat. "Sungguh?" tanyanya tidak percaya, terlebih saat aku tiba-tiba mulai salah tingkah di depannya. "Oppa, apa oppa mau aku menemani oppa? Apa setelah ini oppa kembali ke apartemen?" tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Aku berusaha menutupi kegelisahanku dengan bersikap manja di depannya. Yongju mengangkat alisnya mendengar pertanyaanku sambil berpikir, "tumben dia mau ikut! Ah, sayangnya aku harus kembali ke agensi. Jika tidak, aku bisa berduaan dengannya di apartemen!"
Belum sempat aku mendapatkan jawabannya, Yongju kembali bertanya, "lalu, bagaimana dengan pemuda brengsek yang sudah mengganggumu itu? Apa appa sudah menemukannya?" membuatku mematung sambil mengigit bibir bawahku. Karena semakin gelisah, aku sampai mulai menggigit kukuku sendiri. Yongku yang sudah hafal betul semua reaksiku, mengerutkan keningnya semakin curiga. "Apa yang kau sembunyikan?" selidiknya lagi seraya memicingkan kedua matanya. "Tidak, tidak ada. Aku juga sudah putus dengan Namgil," jawabku dengan gugup. Yongju mendekat sambil memperhatikan wajahku yang hanya bisa aku tundukan untuk menghindari tatapannya yang penuh selidik itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya, aku terpaksa mengangkat kepalaku saat mendengar seseorang memanggil namaku. Aku pikir, kali ini aku selamat lagi karena ada yang memanggilku dan aku bisa melarikan diri dari pertanyaan Yongju. Namun, saat mengetahui Daehyun yang baru saja datang lah yang memanggilku, rasanya aku ingin menangis. "Kau?" ucapku dan Yongju bersamaan. Melihat Daehyun, Yongju langsung berjalan dengan langkah besar ke arah Daehyun. Tanpa basa-basi, Yongju mencengkeram dan menarik kerah baju Daehyun. "Bukankah kau yang sudah mengganggu Hana? Mau apa kau ke sini, hah?" tanyanya dengan geram, sedangkan Daehyun malah tersenyum remeh.
"Aku ke sini karena ingin menemui tunanganku," jawab Daehyun dengan penuh penekanan di kata terakhirnya. Sebenarnya, tanpa aku dan Yongju sadari, sedari kami keluar dari ruang tamu, mobil Daehyun sudah terparkir di halaman rumahku. Dari dalam mobil, Daehyun melihat sendiri bagaimana Yongju yang setahunya adalah kakak sepupu dariku, malah mengecup bibir tunangannya. "Lee Hana, sekali lagi kau mengejutkanku! Jadi, sainganku bukan hanya Namgil, tapi oppa-mu juga?" gumamnya sambil meremas setiran mobilnya saat melihat adegan mesra itu. "Jangan bilang kalau oppa-mu ini yang sudah membuat lehermu memerah malam itu! Demi kau, aku sudah mengalah untuk menahan diri sampai pesta pertunangan nanti, tapi kalau sainganku sedekat ini denganmu, ck, kita lihat saja! Siapa yang lebih dulu mendapatkanmu!" lanjutnya yang semakin terbakar api cemburu.
Kembali ke Yongju yang membulatkan mata sipitnya saat mendengar kata "tunanganku" dari mulut Daehyun. Lantas, Yongju langsung menatapku dengan tanda tanya. Melihat aku yang hanya kembali menundukan kepala, dengan kasar, Yongju menyeret Daehyun ke ruang tamu. Brakk! Yongju mendobrak kasar pintu rumahku dan sesampainya di ruang tamu, ia berteriak dengan keras pada eomma, "Appa, eomma, jelaskan semua ini!" sambil mendorong Daehyun ke arah mereka dan membuat semua mata tertuju pada Daehyun yang hanya terkekeh menerima perlakuan kasar Yongju.
"Yongju, apa lagi yang kau lakukan! Daehyun, kau tidak apa-apa, nak?" bentak eomma seraya bergegas menolong Daehyun untuk bangun. "Yongju, apa-apaan ini?" tanya appa yang langsung berdiri dari duduknya, sedangkan ketiga pria Jeon itu hanya saling melempar pandang, bingung. "Seharusnya, aku yang bertanya, apa-apaan ini? Kenapa bocah brengsek ini berkata kalau dia tunangan Hana?" tanya Yongju dengan penuh emosi. "Astaga! Daehyun memang tunangan Hana. Ada apa denganmu? Kenapa kau marah-marah seperti ini?" kata eomma kesal. "Apa? Hana tunangan? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tahu? Terlebih lagi kenapa harus dengan bocah brengsek ini?" tanya Yongju semakin emosi. Bahkan ia berjalan mondar-mandir seperti sedang melakukan rap di atas panggung.
Daehyun berdiri sambil merapikan bajunya yang tadi ditarik Yongju dan saat matanya menangkap sosok Junghwa yang ada di ruang tamu itu, Daehyun langsung menunjuknya dan berkata, "Hei, kau bocah yang waktu itu meninju, bukan? Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mau mengadu lagi?" tanya Daehyun dengan jari telunjuknya yang masih mengacung ke arah Junghwa, seraya mulai melangkah maju. Seojun yang merasa adiknya dalam masalah, menahan langkah Daehyun dengan berdiri di depan Junghwa. Sekali lagi, Daehyun terkejut, "Seojun hyung? Kau juga di sini?" tanyanya pada Seojun yang merupakan salah satu kakak sepupunya dari adik ayahnya. "Bukankah hyung di L.A? Hyung mengenal bocah ini?" lanjut Daehyun seraya menunjuk Junghwa.
Bugh! Satu tendangan mendarat di pinggang Daehyun sebelum Seojun menjawab pertanyaan adik sepupunya itu. Appa yang melihatnya bergegas menahan Yongju dengan memeluknya dari belakang. Sedangkan Seojun membantu Daehyun yang terdorong ke arahnya untuk berdiri. "Hei, kenapa kau menendangku?" bentak Daehyun seraya langsung berbalik ke arah Yongju. Dengan sigap, eomma menahan Daehyun dengan menarik tangannya. "Daehyun, Yongju, hentikan! Ada apa dengan kalian berdua, hah!" bentak eomma.
__ADS_1
"Siapa yang kau tunjuk, hah?" bentak Yongju yang berusaha berontak dari appa. "Kau sudah berani mengganggu Hana dan sekarang kau menunjuk adikku, hah? Kalau kau berani lawan aku!" teriak Yongju tanpa sadar. Junghwa sampai ternganga mendengar dirinya yang ter-notice dalam perkataan Yongju itu. Begitu pula, Seojun yang berkata, "Hei, apa tadi aku tidak salah dengar? Apa katanya tadi? Apa kau juga mendengarnya? Adik? Apa itu kau?" Tuan Jeon yang juga mendengarnya dengan jelas pun, menatap haru ke arah Yongju dan tanpa sadar berjalan mendekat ke arah Yongju yang masih berontak dalam dekapan appa yang mulai kewalahan.
"Maafkan aku, Sungjin. Aku tidak menyangka kalau keadaan akan kacau seperti ini," kata appa pada Tuan Jeon. "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Yongju semarah ini, bahkan lebih marah dari tadi?" tanya Tuan Jeon. "Ceritanya panjang. Aku akan menjelaskan nanti padamu setelah semuanya tenang, terlebih anak ini. Sepertinya, dia benar-benar akan mengamuk," kata appa seraya mengisyaratkan ke arah Yongju yang tidak berhenti memaki dan mengumpat di hadapan Daehyun. "Apa kau tidak perlu bantuan?" tanya Tuan Jeon bingung harus bagaimana. "Tidak, dia akan tenang setelah aku membawanya ke kamarnya. Tenanglah, Hana akan membujuknya. Sekali lagi, maaf aku harus meninggalkan kalian," jawab appa seraya membawa paksa Yongju ke kamarnya. "Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Aku akan menemui kalian lagi lain waktu," kata Tuan Jeon, "tapi, tolong jangan terlalu keras padanya," lanjutnya sebelum benar-benar pergi dari rumahku seraya menatap ke arah Yongju yang masih membuang mukanya saat tatapan mereka bertemu.