
Hembusan angin hilir mengawali pagi ini. Para pelayan tampak berlalu lalang di ruang makan. Satu persatu penghuni rumah mulai keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan itu, termasuk Yongju yang dengan santainya menyusuri lorong deretan kamar tidur di rumah itu. Langkahnya terhenti saat melintas tepat di depan kamar Seojun yang ada di ujung lorong. Dari pintu yang terbuka setelah seorang pelayan keluar karena sudah selesai merapikan kamar itu, Yongju bisa melihat Seojun yang tengah bersandar di pagar balkon kamarnya. Sejenak mata kedua kakak beradik itu bertemu, lalu Seojun membalikan badannya seraya menopangkan kedua tangannya di pagar itu. Untuk sejenak pula, Yongju menatap punggung lebar hyung-nya itu yang tampak seperti membawa beban berat di mata Yongju.
Tap... Tap... Tap... Seojun tersentak mendengar suara langkah yang semakin mendekat, lalu tersenyum saat langkah itu berhenti di sampingnya. "Aku pikir kau tidak akan pernah sudi singgah di kamarku," ucapnya dan Yongju hanya tersenyum menanggapinya. "Sekali lagi, masih sama. Hyung salah lagi menilaiku," ucap Yongju seraya menikmati pemandangan pagi kota Los Angeles dari bukit indah ini. Kali ini, Seojun lah yang tersenyum menanggapinya. "Tidak sarapan?" tanya Yongju seraya berniat kembali menuju ruang makan yang ada di lantai bawah.
"Menurutmu, aku ini orang yang seperti apa? Apa aku orang yang baik? Atau orang yang jahat?" tanya Seojun yang langsung membuat Yongju menghentikan langkahnya lagi. "Tergantung!" jawab Yongju datar. Seojun memutar badannya untuk melihat ekspresi sang adik sambil kembali bertanya, "maksudmu?" Yongju memutar bola matanya dengan jengah. "Penilaiannya bisa bermacam-macam, tergantung pilihan yang hyung ambil, ingin jadi baik atau jahat di depanku? Yang jelas, aku hanyalah manusia biasa yang ingin memanggilmu, hyung. Terserah hyung mau menganggap aku adik atau bukan. Biarkan saja semua mengalir seperti air," jawab Yongju sebelum meninggalkan Seojun.
Seojun tersenyum getir melihat sikap cuek Yongju, "Andai saja aku juga bisa setidak peduli itu dengan semua permintaan eomma," gumamnya. "Sepertinya, aku memang sudah kalah denganmu. Kenapa dari kemarin anak itu terdengar lebih bijaksana dariku? Bukankan aku yang hyung-nya!" gumamnya lagi seraya tersenyum kecil. Seojun memulai langkahnya menuju tempat yang sama dengan adiknya itu. Saat keluar dari lift, Seojun melihat aku dan Junghwa yang terlihat berdebat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Seojun pun memutuskan untuk menghampiri kami.
Beberapa menit yang lalu, aku sengaja menarik Junghwa ke sudut ruangan ini saat bayi nakal itu melintas di depanku. Aku menegurnya untuk tindakannya tadi malam yang sudah berani mengecup bibirku tanpa izin. "Lain kali, jangan ulangi lagi, mengerti!" perintahku seraya menunjuk wajahnya. "Hmm, why so serious?" sahut Junghwa santai sambil cengengesan. "Yes, I am so serious!" sahutku juga dan menatapnya dengan geregetan. "Itu hanya kecupan! Di sini sudah biasa seperti itu," lanjut Junghwa, tanpa rasa bersalah sedikit pun yang semakin membuatku jengkel. "Di sini! Aku tidak peduli kalau kau sudah biasa melakukannya. Pokoknya, aku tidak suka!" ucapku dengan sangat tegas. "Maksudku, bukannya aku sudah biasa melakukannya. Aku juga baru pertama kali melakukannya. Noona marah? Tapi, kenapa noona tidak marah pada Yongju hyung juga? Kenapa hanya marah padaku?" tanya Junghwa polos. "Jangan bicara padaku! Aku marah!" lanjutku diiringi hentakan kakiku yang menandakan aku benar-benar marah.
Junghwa langsung menundukkan wajahnya dengan pipi mengembung, tapi tak berlangsung lama karena satu menit setelahnya, ia kembali menatapku dengan baby face dan mata bulatnya yang memelas, "Noona, apa noona benar-benar tidak akan bicara padaku? I am so sorry... Noona..." rengeknya manja seraya menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya yang super imut itu. Awalnya, aku yang ingin berpura-pura keras di depannya, akhirnya benar-benar luluh di depan bayi ini, "Iya, iya! Noona maafkan, tapi janji jangan diulangi lagi!" ucapku. "Ada apa ini?" tanya Seojun yang sudah menghampiri kami. "Noona marah karena..." jawab Junghwa terpotong karena aku buru-buru menutup mulutnya dengan tanganku dan menariknya ke ruang makan, "tidak ada apa-apa, oppa. Kami hanya membicarakan menu sarapan pagi ini. Ayo, kita sarapan!" jawabku.
***
"Oppa! Apa oppa tahu, tadi hampir saja Seojun oppa lagi yang tahu!" aduku pada Yongju siang ini dengan wajah cemberut. "Ini salah oppa! Tidak bisakah oppa tidak macam-macam denganku?" lanjutku seraya mendengus kesal. Bukannya menjawab, Yongju hanya menunjukan wajah flat-nya seperti biasa. Melihatnya yang tidak bereaksi sama sekali, aku pun kembali merungut, "oppa selalu saja macam-macam denganku dan harus aku yang menyelesaikannya sendiri!" Yongju menatapku, "Macam-macam apa? Oppa hanya mengecupmu sekilas. Lagipula, oppa juga tidak tahu kalau Junghwa keluar lagi dari kamarnya," katanya, tidak terima dan jawabannya mengingatkanku kembali pada jawaban Junghwa tadi pagi.
__ADS_1
"Hyung dan adiknya sama saja! Menyebalkan!" gerutuku lagi. Dengan kesal, aku beralih duduk di atas tempat tidur Yongju, lalu memeluk bantal. Bahkan sedikit meremasnya dengan kuat untuk menyalurkan kekesalanku. Masih berdiri di tempatnya, Yongju bertanya, "Lalu, kau mau oppa bagaimana?" Lagi-lagi aku mendengus kesal, "Oppa pura-pura bodoh atau memang tidak mau ingat?! Bukankah sudah aku katakan, kita harus jaga jarak! Aku, oppa dan Daehyun. Ingat?" kataku. "Jadi, kau menyalahkan oppa? Lalu bagaimana dengan orang lain yang sering menemuimu itu? Sepertinya, kau membiarkan orang itu berkeliaran di dekatmu! Di antara kita bertiga, siapa coba, orang yang sudah melanggar perjanjian terlebih dahulu? Kau sendiri yang tidak menarik diri!" protes Yongju. "Jadi, sekarang ini salahku?" balasku seraya bangun dari dudukku. Aku geram karena tidak terima disalahkan. "Ya Tuhan, kenapa ini semakin menyebalkan! Kalau tahu begini, seharusnya aku tidak ikut ke sini menemani oppa!" kataku. "Kau menyesal? Lagipula, oppa tidak memaksamu!" sahutnya, tidak mau kalah.
"Astaga! Rasanya, ingin sekali aku memukul wajahnya itu!" kataku dalam hati seraya menahan tanganku yang sudah terangkat ke arah wajah pucat Yongju. Apa ini? Kau ingin memukul oppa? Kau marah?" tanya Yongju seraya menangkap tanganku yang terangkat itu. "Lepaskan!" bentakku seraya menarik kuat tanganku. "Tidak mau!" jawabnya, "katakan, kau ingin memukul oppa, bukan? lanjutnya. "Iya, aku ingin memukul oppa karena aku marah oppa selalu menyalahkan aku! Aku bertemu orang lain, salah. Bicara dengan orang lain, salah. Dekat dengan orang lain, salah. Bahkan aku dijodohkan dengan orang lain, juga aku yang salah!" ucapku dengan mata yang mulai basah.
"Aku yang menyatakan perasaanku duluan, salah. Aku yang ingin menghapus perasaanku setelah oppa sendiri yang menyuruhku, salah. Aku yang mendekat duluan, salah. Aku yang menahan diri, salah. Aku yang menjauh karena sadar ini salah, juga salah? Oppa itu sangat menyebalkan, tahu!" ucapku dengan terisak. Melihat aku menangis dengan tertunduk, Yongju menarik tanganku dan membawaku ke dalam pelukannya. Aku yang hanya setinggi lehernya, semakin terisak di dadanya. "Tidak, kaulah yang menyebalkan!" ucapnya seraya langsung mengangkat wajahku dan mencium bibirku.
Awalnya, aku mendorong Yongju agar dia berhenti menciumku, tapi ia malah menarik tengkukku untuk memperdalam ciumannya sampai akhirnya, aku membalasnya juga. Sejenak, ia melepaskan bibirku saat melihatku kesulitan bernafas. Saat aku mengatur nafasku, ia kembali menundukan kepalanya. Ia menempelkan dahinya di dahiku. Dari jarak sedekat itu, aku bisa merasakan deru hangat nafasnya yang menyentuh kulit wajahku. Kami saling menatap lembut, tanpa sadar dengan sekeliling.
"Sebenarnya, kita ini apa? Hubungan kita bukan kekasih. Sekedar sepupu pun, aku rasa terlalu dekat. Tapi... kekasih pun bukan karena tidak pernah ada komitmen di antara kita, apalagi kau sudah punya tunangan. Tidak bisakah oppa saja yang memilikimu? Oppa mencintaimu, Hana." Yongju mengatakannya dengan suara lirih yang bergetar, lalu setelah itu kembali mendekatkan bibirnya dengan air mata yang mengalir dari matanya yang ia pejamkan. Namun, bibir kami berdua yang hampir menyatu, kembali menjauh saat sebuah suara meneriakkan nama, "Yongju!"
"Yongju!" teriak eomma yang sejak tadi membuka pintu kamar Yongju dan mendengar perkataan Yongju yang terakhir, sebelum kembali menciumku. Tidak hanya eomma sendiri, tapi juga appa, Tuan dan Nyonya Jeon, Seojun serta Junghwa yang mencari aku dan Yongju untuk diajak pergi jalan-jalan. "Eomma!" ucapku tidak percaya seraya langsung mendorong Yongju. "Apa kalian berdua gila, hah!" bentak eomma dengan keras. Dengan langkah besar dan amarah yang tersulut, eomma menghampiri kami dan langsung menarik tanganku agar menjauh dari Yongju.
"Yongju, katakan pada appa! Apa tadi appa tidak salah dengar, kau mencintai Hana?" tanya appa seraya maju melangkah mendekati Yongju yang mematung. "Jawab pertanyaan appa, Yongju!" bentak appa dan Yongju pun mengangguk. "Iya, appa, aku mencintai Hana," jawab Yongju dengan wajah yang ia angkat dengan berani. Plakk! Satu tamparan keras dari tangan appa, mendarat di pipi Yongju untuk yang pertama kalinya. "Anak tidak tahu diri! Hana adikmu, Yongju!" bentak appa. Aku yang tidak sanggup melihatnya, semakin merasa lemas sampai terduduk di lantai dan akhirnya jatuh pingsan. "Noona!" ucap Junghwa panik melihatku yang tidak sadarkan diri dan langsung membantu Seojun menahan tubuhku. "Hana!" ucap semua orang yang ada di kamar itu dan langsung menghampiriku.
Begitu pula, Yongju yang langsung berlari ke arahku dan lebih dulu sampai. Yongju berniat memindahkan aku ke tempat tidur, tapi eomma memukul tangannya. "Seojun, tolong bawa Hana ke kamarnya," kata eomma pada Seojun yang langsung menurutinya dibantu oleh Junghwa. "Yongju, kau mau ke mana? Tetap di sini! Kita harus bicara," kata Tuan Jeon seraya menahan bahu Yongju yang berniat mengikuti dua saudaranya itu. "Tidak perlu, Sungjin! Kami akan kembali ke Korea sekarang juga. Biar Yongju yang tetap tinggal di sini," kata appa seraya menatap tajam Yongju yang terperangah.
__ADS_1
Sekalipun tatapan appa tajam menusuk, tapi Yongju sadar bahwa hati kedua orang yang sudah membesarkannya itu jauh lebih tertusuk karena ulahnya ini. "Tapi, ada dua hal yang harus aku katakan pada Yongju. Pertama, hapus semua perasaanmu pada Hana karena semua itu tidak akan pernah kami biarkan terwujud," kata eomma. "Kedua, mulai hari ini jauhi Hana karena Hana akan menikah dengan Daehyun. Itu pun kalau kau masih menganggap kami sebagai keluargamu!" lanjut eomma sebelum keluar dari kamar itu. Sepeninggal appa dan eomma dari kamarnya, Yongju terduduk lemas di sisi tempat tidurnya seraya menutup wajahnya dengan tangannya. "Maafkan aku..." lirihnya dengan air mata yang luruh seketika. Tanpa mengatakan apa-apa, Tuan Jeon menepuk bahu putranya itu, lalu keluar bersama istrinya, menyusul orang tuaku.
Tidak lama setelah itu, Seojun dan Junghwa kembali ke kamar Yongju. "Hyung, noona dibawa pulang," kata Junghwa yang langsung disikut oleh Seojum. "Aish, dasar bocah tidak peka!" gerutu Seojun pelan dan membuat Junghwa membungkam mulutnya seketika. Dengan posisi kepala tertunduk, Yongju menangis tanpa suara. Seojun memilih duduk di sampingnya, lalu perlahan tangannya merangkul bahu sang adik. Seojun yang merasakan punggung Yongju bergetar, menurunkan tangannya dan menepuk pelan punggung Yongju. "Tidak apa-apa. Ada hyung di sini. Menangis lah, jika kau tidak malu hyung melihatnya, tapi jika kau malu, berhentilah menangis," ucap Seojun.
Bagi Junghwa, kalimat itu adalah kalimat mantra yang Seojun katakan setiap kali Junghwa kecil menangis. Junghwa mengingat bagaimana dulu Seojun menenangkan tangisnya, turut melakukan hal yang sama. Junghwa duduk di samping Yongju dan langsung memeluk hyung-nya itu sambil berkata, "Kalau hyung tidak bisa berhenti menangis, sembunyikan saja wajah cengeng hyung di sini." Junghwa melakukan hal yang sama dengan Seojun lakukan dulu, memeluk Junghwa kecil sampai ia berhenti menangis dan tertidur. Entah kenapa, mendapat perlakuan hangat dari dua saudaranya, Yongju tersenyum di sela tangisnya dan mulai menghentikan isakannya.
Yongju menyapu wajahnya dan membiarkan adik dan hyung-nya itu memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Setelah Seojun rasa Yongju sudah tenang, Seojun pun berujar, "Cinta? Aku saja belum pernah jatuh cinta! Kata eomma, mereka yang hidup, mereka yang kau cintai dan mencintaimu, mereka akan hilang, lalu saling terlupakan. Semua orang bisa berubah. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semua yang terjadi, hanya akan berlalu seperti angin. Begitu pula kau. Kau sendiri tahu betul kalau hubunganmu dan Hana tidak akan pernah bisa melebihi hubungan kalian sebagai sepupu. Jadi, lebih baik kau lupakan saja perasaan itu. Maaf, jika aku mengatakan ini, tapi ini adalah kenyataan yang harus kau terima."
"Iya, tidak ada yang abadi, baik bahagia maupun luka. Bagaimana jika semua orang hanyalah angin yang akan berlalu, bukan hanya aku, tapi Daehyun, sepupu hyung itu juga? Bagaimana jika orang pilihan itu menyakitkan untuk Hana?" sahut Yongju parau. "Entahlah. Siapa yang tahu masa depan! Kalau pun yang kau khawatirkan itu, benar terjadi, mungkin itu benar akan menyakitkan. Terkadang, siapapun mungkin akan merasa kecewa dan menangis jika masa depan tidak sesuai yang diharapkan," jawab Seojun.
"Lalu bagaimana?" tanya Junghwa dengan polosnya. Dari tadi, si bungsu itu hanya menyimak pembicaraan dua hyung-nya ini, tanpa terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan. Seojun menghela nafas berat melihat adiknya itu. "Jika hidup memang seperti itu, mau bagaimana lagi?" kata Seojun, "Yongju, seperti yang kau bilang padaku tadi, mengalir saja seperti air. Mungkin di akhir nanti akan ada sesuatu kehidupan yang istimewa menunggu kalian berdua," lanjutnya. "Iya, hyung. Siapa yang tahu, apa yang akan terjadi ke depannya? Mungkin saja Tuhan sudah mengatur dengan caranya masing-masing. Berdo'a saja semuanya akan berakhir indah," sahut Junghwa seraya tersenyum tulus.
"Semua yang terjadi tak selalu berjalan sesuai keinginan. Pasti sulit menghapus perasaan yang sudah terlanjur ada, tapi mulai hari ini, belajarlah untuk menahannya agar tidak semakin besar, meski itu tidak nyaman," saran Seojun. "Kau tidak tahu, hyung. Selama 7 tahun ini, aku terus berulang kali mencoba menahannya, bahkan terkadang perasaan ini juga membuatku lelah," lirih Yongju terdengar putus asa. "Aku memang seperti ini, ketika Hana ada di dekatku, aku berharap aku tidak melewati batas yang ada di antara kami. Tapi sebaliknya, saat tahu Hana akan menjauh, malah aku sendiri yang melewati batas itu," lanjutnya.
"Astaga!" ucap Seojun tidak percaya. "7 tahun, hyung?" ucap Junghwa yang sama terkejutnya. Sedangkan Yongju hanya diam dan memilih merebahkan dirinya di tempat tidur dengan meletakan tangannya di dahinya. Saat ini, kepalanya terasa sangat berat. "Lihat ini! Apa kau kehilangan semangat hidup gara-gara ini? Kemana adikku yang sok bijaksana di depanku kemarin? Siapa bilang manusia ini makhluk yang bijaksana! Sudah jelas di mataku, kalau kau ini egois dan mudah menyesal," kata Soejun yang tiba-tiba mengomel.
__ADS_1
"Hei, Jeon Yongju, semua orang bisa berubah, begitu pula denganmu dan Hana. Kalau kau tidak bisa bersama Hana, masih banyak wanita di luar sana yang mau menjadi kekasihmu. Kenapa kau harus seperti ini hanya karena satu gadis?" omel Seojun lagi. "Sekarang, bangunlah! Kau itu laki-laki, jangan lemah seperti ini. Jangan memalukan nama Jeon, Yongju! Apa perlu hyung-mu ini carikan gadis yang lebih cantik dari Hana? Yang lebih istimewa dari Hana, hah! " katanya seraya menarik tangan adiknya itu.
Yongju menepis tangan Soejun yang memaksanya bangun sambil berkata dengan savage-nya, "yang bagi hyung biasa saja seperti Hana, bagiku istimewa. Sama halnya, dengan posisi hyung sebagai anak pertama yang istimewa di keluarga ini, bagiku biasa saja." Seojun terperangah, "Hei, kau mulai lagi sok bijaksana di depanku?" katanya seraya melepaskan tangan Yongju. "Aigo! Sepertinya, kau sudah kumat! Junghwa, ayo kita tinggalkan saja orang gila ini di sini sendiri!" lanjutnya seraya menarik Junghwa keluar.