The Ultimate Soulmate

The Ultimate Soulmate
Di Antara Senyuman Manis, Senyumam Imut Dan Senyuman Hangat


__ADS_3

Saat bulan datang menggantikan matahari, Yongju menampakan senyum termanisnya saat membuka pintu kamarku dan melihatku yang duduk bersandar di atas tempat tidur pasien. Bukannya membalasnya dengan senyuman, aku malah menangis menerima senyuman tulusnya itu. "Aku mohon, jangan tersenyum semanis dan setulus itu... Jangan membuatku malu dengan diriku sendiri karena sudah berkali-kali aku mencoba menghapus senyuman itu, tapi oppa tetap saja selalu memberikanku senyum yang sama," ucapku dalam hati seraya memalingkan wajahku.


"Kenapa menangis? Apa oppa juga tidak boleh menemuimu?" tanya Yongju seraya berdiri di sampingku. Karena aku tidak meresponnya, ia meletakan bunga anyelir merah yang ia bawa di atas meja yang ada di sampingku. Cup! Ia mengecup pucuk kepalaku dari belakang, "Baiklah, oppa pulang. Istirahatlah agar cepat pulih," katanya seraya berbalik dan berniat pulang. Grab! Aku menangkap ujung hoodie yang ia pakai. Yongju pun berbalik untuk melihatku dan terdiam saat aku tiba-tiba memeluk pinggangnya dan mulai menangis.


"Maaf..." ucapku lirih. Hanya satu kata itu yang dapat aku ucapkan karena aku tidak tahu harus bagaimana aku menjelaskan perasaanku saat ini. Yang jelas, sekarang aku benar-benar merasa sudah melakukan kesalahan dan meminta maaf adalah satu-satunya yang bisa aku lakukan saat ini. Yongju diam seribu bahasa, hanya tangannya yang bermain membelai lembut suraiku. Diamnya Yongju semakin membuatku merasa bersalah dengan semuanya yang sudah aku lakukan. Aku sadar, aku sudah menyakitinya dan sekarang saat aku tersakiti seperti ini, pria ini tetap bersedia tersenyum seperti tadi.


"Tiga tahun telah berlalu sejak kau mengatakan kalau kau mencintai oppa..." ucap Yongju pada akhirnya dan aku hanya terdiam menunggu kelanjutannya. "Jujur, oppa tidak tahu berapa banyak usaha yang sudah oppa lakukan untuk menghindarimu dan hanya menjagamu dari jauh, tapi apa yang kau lakukan?" lanjutnya pelan. "Apa usaha oppa salah? Seharusnya, oppa tidak menyerah padamu. Seharusnya, oppa melindungimu dari dekat. Iya, ini salah oppa. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu. Salahkan saja oppa," ucapnya dengan penuh penyesalan. "Hana, berhentilah menangis. Tak apa, ini bukan akhir atau permulaan yang buruk. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Anggap saja semua ini hanya mimpi buruk. Sekarang, kau harus bangun dari mimpi buruk ini dan mulai menata hidupmu lagi," pinta Yongju seraya mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Kemudian, Yongju melepaskan pelukannya, "kau sudah makan, hmm?" tanyanya seraya menyeka air mataku. Aku mengangguk pelan. Yongju tersenyum kecil, "Apa di sini membosankan?" tanyanya lagi. Aku menatapnya bingung dengan alis mengerut. "Karena mukamu terlihat pahit dari tadi!" katanya seraya menyentil hidungku. Aku menjauhkan wajahku dan menatapnya kesal. Yongju tersenyum melihat reaksiku itu. "Ini baru Hanaku!" ucapnya seraya mencubit gemas kedua pipiku. "Lebih baik cemberut dari pada menangis, jelek!" katanya, meledekku. Aku pun langsung menepis kedua tangannya sambil berkata, "oppa, sakit!"


Yongju tersenyum lebar melihat aku yang semakin kesal, lalu tiba-tiba memelukku dengan gemas sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan ke kiri. Aku jadi teringat saat kami kecil, ia sering melakukan setiap kali dia berhasil membuatku menangis karena diganggunya. "Hana, oppa mengerti kalau sekarang kau sedang marah dengan kenyataan dan malas melakukan apapun, tapi jangan membenci hidupmu. Apapun yang kau lakukan dan kau sukai, oppa tidak akan bertanya kenapa dan bagaimana karena oppa percaya kau hanya ingin bahagia," ucapnya lembut saat ia menghentikan tubuhnya.


"Tapi semua tidak akan kembali seperti semula lagi. Aku pikir, aku akan mendapatkan kebahagiaan dengan mudah saat bersamanya. Aku pikir, aku benar-benar berjodoh dengannya karena semuanya baik-baik saja, bahkan terlalu indah," sahutku terisak. "Tapi... hiks... apa yang terjadi? Kenapa... hiks... semuanya... hiks... jadi seperti ini? Apa ini... karma... karena sudah menyakiti oppa? Maaf..." ucapku terbata di sela isak tangisku. "Ssttt..." ucap Yongju seraya mengeratkan pelukannya. "Karma apa? Tidak ada karma oppa untukmu. Jangan bicara seperti itu lagi, mengerti!" katanya. "Sudah lebih dari 10 tahun kita bersama, apa kau tidak mengenal oppa dengan baik? Kapan oppa pernah benar-benar marah padamu atau membencimu, apalagi sampai menyumpahimu yang tidak-tidak? Bagi oppa, kau terlalu berharga untuk itu!" katanya sambil mengelus rambutku.


Yongju melepaskan pelukannya dan sedikit mendorongku agar ia bisa melihat wajahku. "Sekarang dengarkan, oppa! Persetan dengan Kim Daehyun. Apapun yang sudah dia lakukan padamu, kau tetap Hanaku yang berharga, mengerti!" katanya penuh penekanan, lalu mengecup pucuk kepalaku dan sekali lagi tersenyum tulus padaku. Senyuman selembut cahaya bulan di kala fajar beranjak. Senyuman yang masih sama tulusnya, meski di antara kami telah banyak berubah dan jelas perubahan itu kini tidak bisa dihindari lagi.

__ADS_1


"Daripada kau berisik di sini, lebih baik kau pulang saja! Malam ini, aku saja yang akan menjaga Hana. Ajak Hyunwo ke apartemenku. Kasihan dia tidur di luar terus," kata Yongju. "Hyung mengusirku? Aku baru saja datang!" tanya Junghwa pura-pura terkejut. Yongju pun makin menatap tajam sang adik. "Mau apa lagi?" tanya Yongju. "Ck, bilang saja ingin berduaan dengan noona!" gerutu Junghwa pelan. Yongju hanya memasang wajah datarnya dan memilih mengabaikan sang adik. "Astaga! Setidaknya, biarkan aku duduk dulu baru mengusirku!" kata Junghwa kesal karena diabaikan. "Tidak perlu, pulang saja sana! Siapa yang menyuruhmu ke sini? Bukankah sudah aku katakan, tidak usah ke sini?" sahut Yongju seraya menyuruhku duduk bersandar di tempat tidur.


"Tapi aku bosan di apartemen!" sahut Junghwa cemberut. "Kalau bosan, jalan-jalan sana!" sahut Yongju yang memunggungi Junghwa. "Capek!" sahut Junghwa singkat. "Latihan vokal?" kata Yongju. "Malas!" sahut Junghwa lagi. "Latihan dance?" kata Yongju lagi. "Malas!" ulang Junghwa. Yongju pun berbalik menatap jengah sang adik. "Kalau begitu, belajarlah menulis lagu!" perintahnya. Junghwa mendelikan matanya, "Aku bukan hyung! Meskipun aku belajar menulisnya, isi kepalaku tidak akan keluar!" katanya. "Sama saja! Kau hanya belum pernah mencobanya!" sahut Yongju. "Oppa, sudahlah! Biarkan Junghwa di sini. Lagipula, dia masih bayi untuk membuat lagu," kataku seraya menahan tawaku sejak tadi melihat perdebatan kakak beradik ini.


Yongju tertegun melihatku akhirnya mau tersenyum. Sedangkan Junghwa malah protes denganku. "Siapa yang bayi?" tanyanya tidak terima. "Siapa coba yang semalam menangis sambil memelukku seperti bayi!" gerutu Junghwa pelan. "Ini tidak ada hubungan dia masih bayi atau tidak, tapi ini masalah pilihan, dia mau berkembang atau tidak!" kata Yongju. "Wah, kalau aku berkembang, hyung akan kalah denganku!" celetuk Junghwa asal. "Baguslah, kalau begitu, buktikan!" tantang Yongju. "Astaga, menyebalkan!" gerutu Junghwa lagi. "Iya, nanti aku akan jadi idol hebat melebihi hyung! Namaku akan abadi menjadi legenda! Hyung, lihat saja nanti!" balasnya seperti anak kecil yang tidak mau kalah. Aku tertawa kecil dibuatnya. "Ah, noona tertawa! Apa aku lucu?" tanya Junghwa ragu. "Kau badut!" jawab Yongju. Junghwa menatap kesal Yongju. "Abadi, katamu? Kau belum tahu saja, betapa beratnya posisi itu!" lanjut Yongju seraya terkekeh. "Terserah hyung dan noona sajalah!" sahut Junghwa malas.


"Junghwa, boleh aku pergi sekarang?" tanya Hyunwo. "Ah, hyung ingin pergi sekarang?" tanya Junghwa balik seraya menoleh pada Hyunwo yang membuka pintu. "Iya, kalau bisa," jawab Hyunwo seraya masuk dan tersenyum padaku dan Yongju. "Mau ke mana?" tanyaku dengan suara yang masih terdengar parau. Hyunwo seperti ragu untuk menjawabnya. "Hyunwo hyung mau latihan dance dengan teman-temannya di sini!" jawab Junghwa santai, sedangkan Hyunwo langsung tersipu malu. "Kau bisa dance?" tanya Yongju terkejut. "Tidak juga. Aku hanya suka, seperti kalian suka musik. Aku juga jarang latihan. Hanya saat ada waktu luang saja," jawab Hyunwo, merendah.

__ADS_1


"Ah, begitu. Hana juga suka dance. Dia jago!" kata Yongju lagi. "Oppa!" kataku seraya memukul pelan lengan Yongju karena malu. "Benarkah?" kata Hyunwo dan Junghwa bersamaan. "Bohong!" tambah Junghwa yang tidak percaya. "Tidak percaya, ya sudah!" kata Yongju cuek. "Kalau begitu, kalau kau sudah baikan, kita bisa latihan bersama," ajak Hyunwo seraya tersenyum. Yongju dan Junghwa yang mendengarnya, tiba-tiba melirik tajam ke arah Hyunwo yang tidak memperhatikan keduanya karena tengah tersenyum hangat padaku.


"Ehm!" Yongju mendehem keras, membuat Hyunwo mengalihkan perhatiannya dariku. "Hyunwo hyung!" panggil Junghwa juga. "Ya? Apa ada yang harus aku lakukan?" tanya Hyunwo yang tidak mengerti keduanya tengah cemburu melihat senyuman Hyunwo padaku. "Ayo, kita jalan!" ajak Junghwa seraya beranjak dari duduknya. "Hah? Kau ikut?" tanya Hyunwo bingung. "Kenapa? Tidak boleh? Kalau hyung pikir, cuma hyung yang bisa dance, hyung harus latihan lebih keras untuk mengalahkanku!" jawab Junghwa ketus. Sedangkan Hyunwo semakin bingung dibuatnya.


__ADS_2