
Sepeninggal ketiga pria Jeon itu, aku berniat menyusul appa dan Yongju ke kamarnya, tapi Daehyun menahanku dengan menangkap tanganku ketika melintas di depannya. "Kau mau ke mana?" tanyanya. "Lepaskan! Aku harus menenangkan oppa," jawabku seraya melepaskan tangannya dan langsung berlari menuju kamar Yongju. Seandainya saja saat ini, tidak ada eomma di sini, aku yakin, Daehyun tidak akan melepaskan genggamannya.
"Appa tahu, kau tidak bermaksud membuat masalah. Appa juga tahu, kau juga tidak bermaksud menyakiti hati appa dan eomma, tapi mereka tetap saja tamu. Tidak seharusnya kau bersikap kasar pada tamu," kata appa pada Yongju yang duduk di sisi tempat tidur. Appa melihat ke arahku yang baru memasuki kamar Yongju, lalu berkata "sekarang tenangkan dirimu dulu baru kau boleh keluar. Biar Hana yang menemanimu di sini." Yongju hanya diam sambil mendengus kesal, tanpa mau melihat ke arah appa. Setelah appa keluar kamar, meninggalkan aku dan Yongju, suasana kembali terasa begitu mencekam, terlebih saat sepupuku itu berkata dengan sangat dingin, "oppa bahkan tidak tahu dari mana atau sejak kapan semua ini berawal?"
Deg! Yongju tiba-tiba menatapku dengan tajam dan melanjutkan perkataannya, "oppa pikir, kita berlayar di kapal yang sama dan semua ini benar-benar mengejutkan oppa. Apa perlu oppa katakan bagaimana perasaan oppa sekarang?" Dengan tangan gemetar, aku meraih wajah Yongju dan membawanya ke dalam pelukanku. Hening, tak ada dari kami berdua yang mengeluarkan kata-kata. Hanya saling memeluk dalam diam. "Oppa..." lirihku pada akhirnya seraya melonggarkan pelukanku dan berniat menatap langsung matanya untuk mengatakan semuanya, tapi Yongju malah mengeratkan pelukannya di pinggangku.
__ADS_1
"Sstt... Diamlah! Jangan katakan apapun! Oppa baik-baik saja. Oppa hanya akan merasa hancur sebentar dan besok pasti hanya akan merasa menjadi sedikit sial atau mungkin setidaknya sampai seminggu ke depan," kata Yongju yang menyenderkan kepalanya di perutku. Aku sontak mengelus lembut pucuk kepalanya karena sangat jarang sepupuku yang tsundere ini mau menunjukan sifat manjanya pada siapapun, tapi tanganku terhenti saat mendengar perkataannya. "Oppa tahu, hubungan kita memiliki kekurangan, tapi oppa akan mengakuinya pada eomma dan appa, lalu kita bisa berjuang untuk berkomitmen," katanya seraya menengadahkan wajah tampannya ke arahku.
Aku sontak melepaskan lingkaran tangannya dengan kasar. Beberapa langkah aku mundur menjauh darinya sambil menggelengkan kepalaku, "Tidak. Jangan lakukan itu," pintaku. "Kenapa?" tanyanya yang langsung berdiri dari duduknya. "Kau tidak mencintai oppa lagi? Apa perasaanmu sudah berubah?" tanyanya seraya melangkah maju ke arahku. "Bukan itu. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana jika eomma dan appa tahu. Membayangkannya saja sudah suram!" jawabku seraya bergidik ngeri. "Oh, benarkah itu suram?" tanyanya lagi yang perlahan semakin dekat denganku. "Atau menurutmu, bertunangan dengannya lebih indah dari pada dengan oppa?" lanjutnya saat ia berhasil menangkap tanganku dan meremasnya kuat.
Cekrek! Pintu kamar Yongju terbuka dan membuat kami berdua menoleh ke arah pintu bersamaan. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan Hana!" kata Daehyun yang baru saja masuk ke kamar Yongju, tanpa izin. "Kau!" ucap Yongju dengan rahang yang mengeras, "apa yang kau lakukan di sini, hah?! Keluar kau dari kamarku, sekarang juga!" bentaknya emosi lagi, tanpa melepaskan tanganku yang sudah terasa sakit. "Baiklah, tapi Hana ikut denganku!" jawab Daehyun seraya menarik satu tanganku yang lainnya dan tarik menarik pun terjadi antara Yongju dan Daehyun, tanpa memperdulikan aku yang menjadi objek rebutan, meringis kesakitan. "Lepaskan!" teriakku seraya menghempas kuat kedua tanganku dan membuat keduanya terlepas dari genggaman kuat kedua pemuda ini.
__ADS_1
"Seperti yang oppa katakan tadi, kita hanya akan merasa sedikit hancur atau sedikit sial. Oppa juga pernah bilang, kita akan menemukan kekuatan kita saat lemah. Oppa juga akan menemukan cinta yang lain dan itu bisa kapan saja," ucapku dengan seraya mulai terisak. "Bodoh!" ucap Yongju dengan tatapannya yang sulit diartikan. Ia melangkah dan langsung menyeka air mataku. "Kau mengatakan itu sambil menangis, hah?" katanya yang malah membuatku semakin menangis. "Dan aku tidak tahu, kenapa aku tidak bisa berhenti menangis?" ucapku pelan seraya menyeka air mataku dengan kepala tertunduk. Yongju kembali ingin mengangkat wajahku dengan kedua tangannya, tapi Daehyun menahannya. "Dan aku tidak tahu, berapa banyak lagi adegan romantis yang harus aku lihat antara tunanganku dengan kakak sepupunya!" kata Daehyun dengan rahangnya yang mulai mengeras karena rasa cemburu. "Untuk ke depannya, aku harap aku tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua," lanjutnya seraya menatapku tajam.
Melihat aku yang hanya diam tersedu, Daehyun jadi semakin merasa kesal. "Astaga! Aku harap aku tahu dari awal hubungan kalian!" ucapnya seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi. "Apa kau gila? Sadarlah, kalian sepupu!" bentak Daehyun pada Yongju. "Sialan! Kau benar-benar cari mati rupanya!" sahut Yongju seraya mulai menyerang Daehyun lagi. "Hentikan!" teriakku seraya memisahkan mereka berdua sebelum mulai berkelahi lagi karena hampir saja satu tinju mendarat di wajah Daehyun. "Kau! Dan kau juga!" bentakku seraya menunjuk Yongju dan Daehyun bergantian, "Jika kalian berkelahi lagi, aku tidak akan menganggap kau sebagai oppa-ku lagi dan aku juga akan membatalkan pertunangan ini!" ancamku. Yongju dan Daehyun menurunkan tangan mereka yang masing-masing sudah terangkat untuk memukul lawan di depannya. Yongju tersenyum getir menatap ekspresi marahku yang menurutnya tidak main-main.
"Aku tidak suka hal klise. Oppa, Namgil dan kau. Akhir-akhir ini, aku akui, aku berhubungan dengan kalian bertiga. Walaupun diantara kita berempat, ada cerita yang berbeda, tapi tetap kalian semua sama saja membuatku menangis," kataku lagi. "Apapun yang kalian katakan atau mau itu pacar, mau itu kakak sepupu atau mau itu tunangan, tetap saja kalian membuatku menangis! Jadi, berhentilah membuat keributan dan biarkan aku hidup tenang. Terutama kau!" ucapku seraya menunjuk Daehyun di akhir kalimatku. "Kenapa aku?" tanya Daehyun bingung. "Bukankah kau sendiri yang berjanji akan merahasiakan pertunangan ini dan tidak akan mendekatiku sampai pesta pertunangan kita nanti?" tanyaku balik padanya. "Ah, itu! Tapi bukankah itu terlalu lama? Dua tahun..." sahutnya dengan wajah cemberutnya dan terpotong oleh perkataanku. "Dua tahun cukup untuk menilaimu. Jadi, kelanjutan pertunangan kita tergantung pada sikap baikmu!" kataku.
__ADS_1
Yongju diam menyimak percakapanku dengan Daehyun. Dari yang Yongju dengar, ia menyimpulkan, "Ya, dua tahun cukup untuk merubah keadaan! Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi dalam hidup ini, selama dua tahun ke depan?" pikirnya. "Baiklah, kali ini oppa mengalah, tapi kita harus sepakati ini, kalian berdua akan jaga jarak sampai pesta pertunangan itu!" kata Yongju yang sontak menghentikan percakapanku dengan Daehyun. "Tidak bisa!" sahut Daehyun cepat. "Lalu apa maumu, bocah? Kau ingin Hana membatalkan pertunangan kalian?" tanya Yongju dengan tersenyum evil. Sedangkan aku menatap Daehyun dengan mata yang menyipit. "Maksudku, bukan hanya kami berdua, tapi kita bertiga! Mulai sekarang, kau juga harus jaga jarak dengan Hana!" jawab Daehyun seraya membalas senyum evil Yongju. "Kena kau!" ucap pikir dalam hati.
Karena ingin bersikap adil, aku pun mengiyakan usulan Daehyun itu. "Bocah sialan!" umpat Yongju dalam hati seraya menatap tajam Daehyun yang tersenyum penuh kemenangan. "Apa? Kau keberatan?" tanya Daehyun dengan lagak menantang. Kali ini, giliran aku menatap Yongju dan menunggu jawabannya. Yongju mengepalkan kedua tangannya dengan geram sampai akhirnya terpaksa mengatakan, "baiklah!". "Meskipun aku tidak mengatakan kapan, aku tahu, cinta akan menemukan jalannya lagi, walaupun jalan itu masih jauh," pikir Yongju saat itu, sebelum kami bertiga berpisah dan mulai menjalani kesepakatan yang kami buat.